Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

Materi Stage Manager (Manager Panggung)

Stage Manager/manager panggung adalah orang di belakang panggung yang bergelut dengan dunia pemanggungan (termasuk Lighting, setting, meke up costum, dan musik)

apa yang dilakukan?

>Sutradara galak- Pemain nyaman

>Pemain tepat waktu

>Artistik tepat waktu

Stage manager harus paham kondisi , arif, diplomatis, percaya diri, terbuka, mengungkapkan diri, riang, tahu membawa diri, terbuka, suka kebersamaan, canda, punya daya humor, kebiasaan melucu, membuat orang lain ceria/ senang.

selain itu, ia juga harus efektif (terampil berkomunikasi dengan orang-orang di segala lapisan, menggunakan akal, tidak pelupa, ramah, mengindahkan orang lain, wajar, menjadi diri sendiri, jeli melihat ke depan, waspada, tetap tenang, punya Plan A dan Plan B jika keadaan darurat, berkembang (belajar dari pengalaman terdahulu), giat, bertenaga, penuh semangat, tunjukan gairah, hormat pada diri sendiri, hormat pada orang lain.

Tunjukan bahwa teman-teman adalah satu tim, jika salah satu hilang pertunjukan tidak terjadi. yang terpenting adalah: tidak takut memikul tanggung jawab.

Stage manager bekerja pada saat sutradara bertemu dengan para pemainnya untuk pertama kali. termasuk juga membuat jadwal latihan. Jadi ada kesepakatan dan kepercayaan dari sutradara dan stage manager.

Stage manager punya naskah pemandu yang dikenal dengan prompt Book, yaitu catatan yang diperbaharui secara berkesinambungan tentang latihan dan pementasan serta memuat informasi untuk penyelenggaraan latihan dan pementasan dari hari ke hari.

Sebelumnya ada pertemuan antara Pimpinan produksi, Stage manager, dan sutradara.

Stage manager juga membuat working diffision, membantu memanage kejadian/adegan -adegan. ia punya pegangan naskah yang telah ia bedah yang nantinya juga akan membantunya memenage kejadian/ adegan.

pada umumnya, stage manager juga menjadi Superman, alias orang yang bekerja sendiri dan menjadi segala-galanya. maka dalam hal ini adalah keliru. stage manager memanage orang-orang yang bekerja dalam artistik dan menyatukan mereka. ia harus memotivasi dan memberi masukan kepada kru agar dapat bekerja dan selesai tepat waktu dalam menjalankan pekerjaannya.

hubungannnya dengan pimpro? Pimpro/ pimpinan produksi mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan pemroduksian. Nah, stage managerlah yang mengubungkan pimpinan prosuksi dengan sutradara.

jadi penting sekali bagi stage manager untuk mengetahui naskah. setelah membaca naskah, ia mempresentasikannya kepada pemain, sutradara, dan kru artistik.

pada saat pementasan, stage manager lah yang berwenang mengatur jalannya acara, termasuk juga membuat Run Down/ susunan acara yang telah menjadi dan diketahui oleh semua kru, pemain, dan sutradara. di tempat pementasan ia lah yang paling mengetahui detail acara, apa yang harus dilakukan, dan mengerti setiap detail tempat/ area pementasan.

*catatan ini aku dapat dari workshop Stage manager Oleh Sari Madjid “teater Koma”. Mbak sari madjid ini adalah Stage manager terbaik di Indonesia dan sering bekerja pada setiap event pementasan teater koma.

November 30, 2008 Posted by | Teater | 1 Komentar

RPP

RPP

(RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN)

Sekolah : SMP Islam Diponegoro Surakarta

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

Kelas/ semester : VIII/ I

Aspek : 3. Membaca

Standar Kompetensi : Kemampuan membaca memindai ensiklopedi/ buku telepon, membaca cepat, membaca intensif petunjuk/ denah, dan membaca intensif buku biografi

Kompetensi Dasar : Peserta didik mampu membaca memindai ensiklopedi/buku telepon untuk menemukan informasi secara cepat

Indikator : 1. Mampu membaca memindai buku telepon

2. Mampu menemukan informasi dari buku telepon secara cepat

3. Mampu menemukan informasi dari Halaman Kuning (Yellow pages)

Alokasi Waktu : 1 x 40 menit ( 1 kali pertemuan)

A.Tujuan Pembelajaran

Siswa mampu memindai buku telepon untuk menemukan informasi secara cepat

B. Materi Pembelajaran

Membaca buku telepon memerlukan strategi yang tepat. Jumlah nomor telepon yang tertera dalam buku telepon bisa berjumlah ratusan, bahkan ribuan. Untuk menemukan nomor secara tepat, teknik yang dapat digunakan adalah tekinik membaca memindai. Buku telepon memuat daftar nomor-nomor telepon dalam wilayah tertentu. Karena nomor telepon dalam suatu wilayah jumlahknya banayak, penyususnannya dilakukan secara alfabetis. Artinya, nama-nama yang memiliki nomor telepon diurutkan berdasarkan abjad, baik dalam urutan vertikal maupun horisontal. Di belakang nama tersebut diikuti alamat dan nomor teleponnya.

Membaca memindai

Adalah membaca cepat untuk menemukan informasi tertentu. Membaca memindai buku telepon berarti membaca cepat buku telepon untuk mencari nama dan nomor telepon tertentu. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

  1. Lihatlah dahulu huruf pertama nama yang kamu cari!
  2. Bukalah lembaran buku telepon sesuai dengan huruf pertama nama yang kamu cari
  3. Carilah nama yang kamu cari
  4. Jika ada nama ang huruf pertamanya sama, lihatkah huruf kedua, ketiga, dan seterusnya
  5. Seandainya ada kesamaan nama, lihatlah alamatnya

Dalam buku telepon juga terdapat bagian buku telepon yang khusus memuat informais bisnis. Halaman tersebut terletak di bagian belakang. Di dalam halaman kuning ini terdapat nama, alamat, dan nomor telepin bidang usaha. Jika seseorang ingin mencari alamat dan nomor telepon suatu perusahaan, dia dapat mencarinya di halaman tersebut.

Daftar nama instansi dibuat berdasarkan jenis usahanya, misalnya usaha yang bergerak di bidang mebel, telekomunikasi, dan percetakan. Cara ini memudahkan pengguna buku menemukan alamat dan nomor telepon dengan cepat.

C. Metode Pembelajaran

a. Tanya jawab

b. Ceramah

c. Inkuiri

D. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran

1. Kegiatan awal

a. Guru melakukan apersepsi

b. Guru menampilkan materi membaca memindai dalam tampilan OHP

2. Kegiatan Inti

a. Siswa diberi pertanyaan tentang informasi dalam buku telepon

b. Siswa mencari informasi dalam halaman kuning

c. Siswa diberi pertanyaan yang berkaitan dengan informasi dalam halaman kuning

3. Kegiatan Akhir

Guru dan siswa melakukan kesimpulan dan refleksi

E. Sumber Belajar

1. Daftar telepon dan Yellow Pages/ halaman kuning

2. Buku Paket Bahasa Indonesia

F. Penilaian

1. Teknik : Tes Unjuk kerja

2. Bentuk Instrumen : Uji petik kerja

3. Soal/ instrument

1. Bacalah pertanyaan di bawah ini dan temukan jawabannya dalam buku telepon dan Yellow pages yang telah dibagikan!

Soal

  1. Malam itu hujan lebat. Besok senin kamu akan menghadap ujian semesteran. Kamu harus belajar dua mata pelajaran sekaligus. Seketika itu juga lampu padam. Di luar sana hampir tak ada penerangan. Kamu sibuk mencari lilin, lalu mengidupkannya untuk belajar. Tetapi ruangan tak jua terang. Kamu punya inisiatif meminjam HP kakak kamu untuk menelepon PLN terdekat. Nomor manakah yang dapat kau hubungi??
  2. Seorang teman kamu pingsan karena seharian belum makan. Ternyata ia punya penyakit maagh yang cukup serius. Lalu kamu membawanya ke UKS, tetap ia tak kunjung sembuh. Ke manakah kamu harus menghubungi ambulance nya??
  3. Saudara kamu akan pulang ke daerahnya setelah seminggu berada di rumahmu. Saudaramu berencana akan pulang pagi dini hari agar sampa di rumah tidak kemalaman. Kamu pun tidak tahu bis apa yang akan berangkat pag dini hari. Nomor mana yang harus kamu hubungi untuk mengetahui jadwal keberangkatan bus tersebut?

No

Aspek

Skor

1.

Ketepatan jawaban

10

2.

Kecepatan menemukan jawaban

10

Jumlah Skor

20

Skor maksimum

Nomor 1 = 15

Nomor 2 = 20

Jumlah skor = 35

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:

Nilai akhir = perolehan skor X skor ideal (100)=……

Guru Praktikan

Ari Setyaningsih

K 1205007

November 17, 2008 Posted by | Bahasa | Tinggalkan komentar

pedoman penulisan tanda baca

Pedoman Penulisan Tanda Baca

Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan

contoh: Saya suka makan nasi.

Sebuah kalimat diakhiri dengan titik. Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan. Cara ini dilakukan dalam penulisan karya ilmiah.

2. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.

contoh:

• Irwan S. Gatot

• George W. Bush

Tetapi apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.

Contoh: Anthony Tumiwa

3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.

Contoh:

• Dr. (Doktor)

• Ny. (Nyonya)

• S.E. (Sarjana Ekonomi)

4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.

Contoh:

• dll. (dan lain-lain)

• dsb. (dan sebagainya)

• tgl. (tanggal)

Dalam karya ilmiah seperti skripsi, makalah, laporan, tesis, dan disertasi, dianjurkan tidak mempergunakan singkatan.

5. Tanda titik dibelakang huruf dalam suatu bagian ikhtisar atau daftar.

contoh:

I. Penyiapan Ulangan Umum.

A. Peraturan.

B. Syarat.

Jika berupa angka, maka urutan angka itu dapat disusun sebagai berikut dan tanda titik tidak dipakai pada akhir sistem desimal.

Contoh:

• 1.1

• 1.2

• 1.2.1

6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Contoh: Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)

7. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.

contoh:

• Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.

• Nomor Giro 033983 telah saya kasih kepada Michael.

8. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga- lembaga nasional di dalam akronomi yang sudah diterima oleh masyarakat.

contoh:

• Sekjen : (Sekretaris Jenderal)

• UUD : (Undang-Undang Dasar)

• SMA : (Sekolah Menengah Atas)

• WHO : (World Health Organization)

9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.

contoh:

• Cu (Kuprum)

• 52 cm

• l (liter)

• Rp 350,00

10. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya.

contoh:

• Latar Belakang Pembentukan

• Sistem Acara

11. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.

contoh:

• Jalan Kebayoran 32

• Jakarta, 3 Mei 1997

• Yth.Sdr.Ivan

Jalan Istana 30

Surabaya

Tanda Koma (,)

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.

contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan.

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.

contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.

3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.

contoh:

• Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

• Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.

contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.

contoh:

• Oleh karena itu, kamu harus datang.

• Jadi, saya tidak jadi datang.

5. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.

contoh:

• O, begitu.

• Wah, bukan main.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

contoh: Kata adik, “Saya sedih sekali”.

7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan tanggal, (ii) bagian-bagian kalimat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

contoh:

• Medan, 18 Juni 1984

• Medan, Indonesia.

8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.

9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.

10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

contoh: Rinto Jiang,S.E.

11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

contoh:

• 33,5 m

• Rp 10,50

12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.

Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.

13. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

contoh: dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.

Bandingkan dengan: Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

contoh: “Di mana Rex tinggal?” tanya Stepheen.

Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

contoh: malam makin larut; kami belum selesai juga.

2. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

contoh: Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur, adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.

Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.

contoh:

• yang kita perlukan, sekarang ialah barang-barang yang berikut: kursi, meja, dan lemari.

• Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.

2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

contoh:

Ketua : Borgx

Wakil Ketua : Hayabuse

Sekretaris : Ivan Lanin

Wakil Sekretaris : Irwan Gatot

Bendahara : Rinto Jiang

Wakil bendahara : Rex

3. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

contoh:

Borgx : “Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!”

Rex : “Siap, Boss!”

4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan.

contoh:

(i) Tempo, I (1971), 34:7

(ii) Surah Yasin:9

(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi sudah terbit.

5. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.

contoh:

….dia beli ba-

ru juga.

-Suku kata yang terdiri atas satu huruf tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris.

contoh:

…. masalah i-

tu akan diproses.

2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dan belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya ada pergantian baris.

contoh:

…. cara baru meng-

ukur panas

akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

contoh:

………mengharga-

i pendapat.

3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

contoh: anak-anak

tanda ulang singkatan (seperti pangkat 2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.

4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

contoh: p-e-n-g-u-r-u-s

5. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.

bandingkan:

• ber-evolusi dengan be-revolusi

• dua puluh lima-ribuan (20×5000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (1×25000).

• Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah

• PN dengan di-PN-kan.

6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, dan (d) singkatan huruf kapital dengan imbulan atau kata.

contoh:

• se-Indonesia

• hadiah ke-2

• tahun 50-an

• ber-SMA

• KTP-nya nomor 11111

• bom-V2

• sinar-X.

7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Contoh:

• di-charter

• pen-tackle-an

Sebagai lambang matematika untuk pengurangan (tanda kurang).

Tanda Pisah (—)

1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di luar bangun kalimat.

contoh: Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar

-Dalam pengetikan karangan ilmiah, tanda pisah dinyatakan dengan 2 tanda hubung tanpa jarak.

contoh: Medan—Ibu kota Sumut—terletak di Sumatera

2. Tanda pisah menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih tegas.

contoh:

Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau di antara dua nama kota yang berarti ‘ke’, atau ‘sampai’.

contoh:

• 1919—1921

• Medan—Jakarta

• 10—13 Desember 1999

Tanda Garis Bawah (_)

Tanda Elipsis (….)

Tanda Tanya (?)

Tanda Seru (!)

Tanda Kurung ((…))

Tanda Kurung Siku ([...])

Digunakan untuk tambahan komentar yang bukan berasal dari penulis asli. Contoh:

• Katanya, “[Adam] tidak datang ke sekolah hari ini”.

Tanda Kurung Lancip (<…>)

Biasa digunakan di bahasa komputer HTML

Tanda Kurung Kurawal ({…})

Tanda Kurung Ganda («…»)

Biasa digunakan di bahasa pemrograman komputer

Tanda Petik (“…”)

1. Tanda petik digunakan untuk menyatakan suatu kalimat langsung atau kadang juga sebagai penegasan.

contoh: kata Ketua, “Kita akan segera berangkat besok.”

Tanda Petik Tunggal (‘…’)

Tanda petik tunggal biasa digunakan untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain. Misalnya, seperti di bawah ini.

“Aku mendengar seseorang memanggil, ‘Nori, Nori’, dari hutan itu,” ujar Ramon.

Tanda petik tunggal juga digunakan untuk mengapit terjemahan, ungkapan asing, atau penjelasan kata. Kalau dalam linguistik, tanda petik itu disebutkan mengapit makna.

Tanda Ulang (…2)

Ditulis dengan menambahkan angka 2 (atau 2) di akhir kata yang seharusnya diulang, menandakan kata tersebut diulang dua kali. Tanda penyingkatan ini tidak resmi. Kata yang berulang harus ditulis penuh. Contoh:

• Buku-buku (bukan “buku2″)

• Saudara-saudara (bukan “saudara2″)

Tanda Garis Miring (/)

Biasa digunakan untuk menyatakan “atau”, biasanya untuk dua kata yang bersinonim. Contoh:

• Membuat / melakukan. (dibaca: membuat atau melakukan)

Untuk dua hal yang hampir serupa bunyinya, dalam hal ini tanda “/” tidak dibaca. Contoh:

• RT/RW

• AC/DC

Sebagai lambang matematika untuk pembagian (tanda bagi).

Tanda Garis Miring Terbalik (\)

Tanda Penyingkat (Apostrof)(`)(‘)

Bagaimana Memakai Konjungsi (2 habis)

Konjungsi atau kata hubung adalah kata yang mempunyai fungsi menghubungkan kalimat dengan kalimat lain. Contohnya kalimat berikut:

- Saya bertemu dia ketika kami belajar di Wisma Bahasa.

Kata ketika adalah kata hubung yang menghubungkan kalimat pertama dengan kalimat kedua.

- Kalimat pertama = Saya bertemu dia.

- Kalimat kedua = Kami belajar di Wisma Bahasa.

Dalam bahasa Indonesia ada banyak konjungsi : sementara, sambil, ketika, supaya, sehingga, dan lain-lain. Bagaimana memakai konjungsi itu ?

1. Sementara

- Mempunyai dua subjek yang berbeda.

- Mempunyai aktivitas sama waktu.

Contoh :

Kalimat pertama = Bapak memasak di dapur.

Kalimat kedua = Ibu membaca koran. (pada waktu sama)

Kalimat gabung = Bapak memasak di dapur sementara ibu membaca koran.

2. Sambil

- Mempunyai satu subjek sama.

- Mempunyai aktivitas sama waktu.

Contoh :

Kalimat pertama = Saya membaca koran

Kalimat kedua = Saya medengarkan musik.(pada waktu sama)

Kalimat gabung = Saya membaca koran sambil mendengarkan musik.

3. Ketika

- Mempunyai satu atau dua subjek.

- Mempunyai aktivitas yang tidak sama waktu.

Contoh :

Kalimat pertama = Saya sedang mandi.

Kalimat kedua = Dia datang.(beberapa waktu sesudah saya mulai aktivitas mandi)

Kalimat gabung = Dia datang ketika saya sedang mandi.

4. Supaya

- Mempunyai satu atau dua subjek.

- Kalimat kedua adalah tujuan (goal/aims) kalimat pertama.

Contoh :

Kalimat pertama = Saya belajar keras.

Kalimat kedua = Saya bisa berbicara dalam bahasa Indonesia (kalimat ini adalah tujuan dari ‘ Saya belajar keras ‘, pada saat sekarang saya belum bisa berbicara dalam bahasa Indonesia)

Kalimat gabung = Saya belajar keras supaya saya bisa berbicara dalam bahasa Indonesia.

5. Sehingga

- Mempunyai satu atau dua subjek.

- Kalimat kedua adalah hasil/akibat (effect/result) kalimat pertama.

Contoh :

Kalimat pertama = Tadi malam saya menonton tv sampai jam 12 malam.

Kalimat kedua = Saya terlambat bangun pagi.(kalimat ini adalah akibat atau hasil ‘Tadi malam saya menonton tv sampai jam 12 malam’)

Kalimat gabung = Tadi malam saya menonton tv sampai jam 12 malam sehingga terlambat bangun pagi.

Latihan

Gabungkan dua kalimat ini dengan memakai kata hubung yang tepat !

1.Guru saya menjelaskan tatabahasa. Saya menulis.

2.Saya menyanyi. Saya bermain gitar.

3.Tadi pagi saya tidak makan pagi. Sekarang saya merasa lapar sekali.

4.Saya mau tidur lebih awal. Besok pagi saya bisa bangun pagi-pagi.

5.Dia berolah raga setiap pagi. Dia mau menjadi sehat.

6.Ibu menonton tv. Bapak membersihkan rumah.

7.Saya sedang jalan-jalan di Malioboro. Saya bertemu teman saya.

8.Pieter bekerja keras sekali hari ini. Sekarang dia merasa capai sekali.

9.Dia membaca koran. Dia makan pagi.

10. Saya bekerja di Indonesia. Saya belajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa

Posted on 17 September, 2007 by wismabahasa

Sebelum menjelaskan konjungsi yang lainnya, di bawah ini adalah kunci jawaban latihan tatabahasa untuk edisi yang lalu.

1.Guru saya menjelaskan tatabahasa sementara saya menulis.

2.Saya menyanyi sambil bermain gitar.

3.Tadi pagi saya tidak makan pagi sehingga sekarang saya merasa lapar sekali.

4.Saya mau tidur lebih awal supaya besok pagi saya bisa bangun pagi-pagi.

5.Dia berolah raga setiap pagi supaya menjadi sehat.

6.Ibu menonton tv sementara bapak membersihkan rumah.

7.Ketika saya sedang jalan-jalan di Malioboro saya bertemu teman saya.

8.Pieter bekerja keras sekali hari ini sehingga sekarang dia merasa capai sekali.

9.Dia membaca koran sambil makan pagi.

10. Ketika saya bekerja di Indonesia saya belajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa.

Sekarang perhatikan konjungsi di bawah ini:

1. Karena

Kata hubung ”karena” mempunyai arti alasan (reason).

Contoh:

Kalimat pertama : Hari ini dia tidak belajar di kelas.

Kalimat kedua : Dia sakit perut. (kalimat ini adalah alasan bahwa Hari ini dia tidak

belajar di kelas)

Kalimat gabung : Hari ini dia tidak belajar di kelas karena sakit perut.

2. Kalau, seandainya

Kata hubung ”kalau” dan ”seandainya” mempunyai arti syarat (condition).

Contoh:

Kalimat pertama : Saya akan datang di pestamu nanti malam.

Kalimat kedua : Nanti malam tidak ada hujan. (kalimat ini adalah syarat bahwa Saya

akan datang di pestamu nanti malam)

Kalimat gabung : Saya akan datang di pestamu nanti malam kalau nanti malam tidak

ada hujan.

Kata hubung ”seandainya” kadang-kadang mempunyai makna bahwa syarat dalam kalimat kedua hampir tidak mungkin (imposible) terjadi.

Contoh:

Kalimat pertama: Saya akan terbang ke semua tempat di dunia.

Kalimat kedua: Saya punya sayap. (kalimat kedua adalah syarat (yang tidak mungkin

terjadi) bahwa Saya akan terbang ke semua tempat bagus di dunia)

Kalimat gabung: Saya akan terbang ke semua tempat bagus di dunia seandainya

saya punya sayap.

3. Tetapi

Kata hubung ”tetapi” mempunyai arti pertentangan (contrastif).

Contoh:

Kalimat pertama : Dia memang bodoh

Kalimat kedua : Dia rajin.

Kalimat gabung : Dia memang bodoh, tetapi rajin.

4. Sejak

Kata hubung ”sejak” mempunyai arti ”awal waktu mulai aktivitas”

Contoh:

Kalimat pertama : Dia belajar bahasa Indonesia.

Kalimat kedua : Dia bekerja di perusahaan Indonesia. (aktitivitas dalam kalimat kedua

adalah awal dia mulai belajar bahasa Indonesia)

Kalimat gabung: Dia belajar bahasa Indonesia sejak dia bekerja di perusahaan

Indonesia.

5. Meskipun

Kata hubung ”meskipun” mempunyai arti ”ada kesungguhan”

Contoh:

Kalimat pertama: Dia belum sembuh dari sakitnya.

Kalimat kedua: Dia sudah minum banyak obat. (kalimat kedua menyatakan bahwa dia

sungguh-sungguh dengan usaha keras sudah minum obat)

Kalimat gabung: Dia belum sembuh dari sakitnya meskipun sudah minum banyak obat)

penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.

1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.

2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola [1].

2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi

3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.

4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.

5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.

3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur mayur).

4. Gabungan kata atau kata majemuk

1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.

3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.

5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.

6. Kata depan atau preposisi (di [1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.

7. Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.

8. Partikel

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.

2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.

3. Partikel per- yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.

9. Singkatan dan akronim. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan singkatan dan akronim.

10. Angka dan bilangan. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan tanggal dan angka.

Kata turunan

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.

1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-

2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya

2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.

1. ber-an dan ber-i

2. di-kan dan di-i

3. diper-kan dan diper-i

4. ke-an dan ke-i

5. me-kan dan me-i

6. memper-kan dan memper-i

7. pe-an dan pe-i

8. per-an dan per-i

9. se-nya

10. ter-kan dan ter-i

3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).

1. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.

2. Sisipan: -en-, -el-, dan -er-.

[sunting] Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.

2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.

4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.

5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.

6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.

2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.

3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Aturan khusus

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:

1. ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)

2. ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)

Konsensus penggunaan kata

Tiongkok dan tionghoa

Cina adalah bentuk dan penggunaan baku menurut KBBI. Ada himbauan untuk menghindari kata ini atas pertimbangan kesensitifan penafsiran. Sebagai alternatifnya diusulkan menggunakan kata China. Ini sebuah argumen yang tidak bisa didiskripsikan dan dijelaskan secara ilmiah bahasa, apalagi bunyi ujaran China – Cina adalah hampir sama (China dibaca dengan ejaan Inggris). Padanan untuk kata Cina yaitu Tiongkok (negara), Tionghoa (bahasa dan orang).

Mayat dan mati

mati: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata wafat, meninggal, gugur, atau tewas (tergantung konteks).

mayat: hindari penggunaannya dalam biografi. Gunakan kata jasad atau jenazah.

Pranala ke situs luar

Sebisa mungkin hindari penggunaan kalimat seperti “Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi situs ini.” pada artikel yang belum lengkap. Sebaiknya pranala ke situs tersebut dimasukkan ke bagian Pranala luar dan menambahkan Templat:Stub dengan mengetik:

{{stub}}

atau

{{rintisan}}

di bagian akhir artikel.

Penggunaan “di mana” sebagai penghubung dua klausa

Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia TIDAK mengenal bentuk “di mana” (padanan dalam bahasa Inggris adalah “who”, “whom”, “which”, atau “where”) atau variasinya (“dalam mana”, dengan mana”, dan sebagainya). Penggunaan “di mana” sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata “yang” sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, HINDARI PENGGUNAAN BENTUK “DI MANA”, apalagi “dimana”, termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Sebenarnya selalu dapat dicari struktur yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia.

Contoh-contoh:

(1) Dari artikel Kantin: … kantine adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para pengunjung dapat makan … .

Usul perbaikan: … kantine adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan … .

(2) Dari artikel Tegangan permukaan: Teganganpermukaan = F / L dimana :

F = gaya (newton)

L = panjang m).[sic]

Usul perbaikan: Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), tegangan permukaan S dapat ditulis sebagai S = F / L.

Di sini tampak bahwa “apabila” menggantikan posisi “di mana” (ditulis di kalimat asli sebagai “dimana”).

(3) Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice … .

Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja … .

Contoh-contoh lain silakan ditambahkan.

[sunting] Kata penghubung “sedangkan”

Kesalahan penggunaan kata penghubung yang juga sering kali terjadi adalah yang melibatkan kata “sedangkan”. “Sedangkan” adalah kata penghubung dua klausa berderajat sama, sama seperti “dan”, “atau”, serta “sementara”. Dengan demikian secara tata bahasa ia TIDAK PERNAH bisa mengawali suatu kalimat (tentu saja lain halnya dalam susastra!). Namun justru di sini sering terjadi kesalahan dalam penggunaannya. “Sedangkan” digunakan untuk mengawali kalimat, padahal untuk posisi itu dapat dipakai kata “sementara itu”.

Contoh: Dari harian Jawa Pos:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini, 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

Usulan perbaikan 1:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

Usulan perbaikan 2:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sementara itu, jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

[sunting] Daftar kata

Untuk daftar yang lebih lengkap, lihat pula halaman utamanya.

Gabungan kata yang ditulis serangkai

1. acapkali

2. adakalanya

3. akhirulkalam

4. alhamdulillah

5. astagfirullah

6. bagaimana

7. barangkali

8. bilamana

9. bismillah

10. beasiswa

11. belasungkawa

12. bumiputra

13. daripada

14. darmabakti

15. darmasiswa

16. dukacita

17. halalbihalal

18. hulubalang

19. kacamata

20. kasatmata

21. kepada

22. keratabasa

23. kilometer

24. manakala

25. manasuka

26. mangkubumi

27. matahari

28. olahraga

29. padahal

30. paramasastra

31. peribahasa

32. puspawarna

33. radioaktif

34. sastramarga

35. saputangan

36. saripati

37. sebagaimana

38. sediakala

39. segitiga

40. sekalipun

41. silaturahmi

42. sukacita

43. sukarela

44. sukaria

45. syahbandar

46. titimangsa

47. wasalam

[sunting] Kata yang sering salah dieja

Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI (kecuali ada keterangan lain) dan dianjurkan digunakan, sedangkan kata-kata selanjutnya adalah variasi ejaan lain yang kadang-kadang juga digunakan.

1. aktif, aktip

2. aktivitas, aktifitas

3. al Quran, alquran

4. analisis, analisa

5. Anda, anda

6. apotek, apotik (ingat: apoteker, bukan apotiker)

7. asas, azas

8. atlet, atlit (ingat: atletik, bukan atlitik)

9. bus, bis

10. besok, esok

11. diagnosis, diagnosa

12. ekstrem, ekstrim

13. embus, hembus

14. Februari, Pebruari

15. frekuensi, frekwensi

16. foto, Photo

17. gladi, geladi

18. hierarki, hirarki

19. hipnosis (nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva)

20. ibu kota, ibukota

21. ijazah, ijasah

22. imbau, himbau

23. indera, indra

24. indragiri, inderagiri

25. istri, isteri

26. izin, ijin

27. jadwal, jadual

28. jenderal, jendral

29. Jumat, Jum’at

30. kanker, kangker

31. karier, karir

32. Katolik, Katholik

33. kendaraan, kenderaan

34. komoditi, komoditas [2]

35. komplet, komplit

36. konkret, konkrit, kongkrit

37. kosa kata, kosakata

38. kualitas, kwalitas, kwalitet [2]

39. kuantitas, kwantitas [2]

40. kuitansi, kwitansi

41. kuno, kuna [3]

42. lokakarya, loka karya

43. maaf, ma’af

44. makhluk, mahluk, mahkluk (salah satu yang paling sering salah)

45. mazhab, mahzab

46. metode, metoda

47. mungkir, pungkir (Ingat!)

48. nakhoda, nahkoda, nakoda

49. narasumber, nara sumber (berlaku juga untuk kata belakang lain)

50. nasihat, nasehat

51. negatif, negatip (juga kata-kata lainnya yang serupa)

52. November, Nopember

53. objek, obyek

54. objektif, obyektif/p

55. olahraga, olah raga

56. orang tua, orangtua

57. paham, faham

58. persen, prosen

59. pelepasan, penglepasan

60. penglihatan, pelihatan; pengecualian

61. permukiman, pemukiman

62. perumahan, pengrumahan; baik untuk arti housing maupun PHK

63. pikir, fikir

64. Prancis, Perancis [4]

65. praktik, praktek (Ingat: praktikum, bukan praktekum)

66. provinsi, propinsi

67. putra, putera

68. putri, puteri

69. realitas, realita

70. risiko, resiko

71. saksama, seksama (Ingat!)

72. samudra, samudera

73. sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah)

74. saraf, syaraf

75. sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi)

76. sekretaris, sekertaris

77. sekuriti, sekuritas [2]

78. segitiga, segi tiga

79. selebritas, selebriti

80. sepak bola, sepakbola

81. silakan, silahkan (Ingat!)

82. sintesis, sintesa

83. sistem, sistim

84. sorga, surga, syurga

85. subjek, subyek

86. subjektif, subyektif/p

87. Sumatra, Sumatera

88. standar, standard

89. standardisasi, standarisasi [5]

90. tanda tangan, tandatangan

91. tahta, takhta

92. teknik, tehnik

93. telepon, tel(f/p)on, telefon, tilpon

94. teoretis, teoritis (diserap dari: theoretical)

95. terampil, trampil

96. ubah (=mengganti), rubah (=serigala) — sepertinya kedua-duanya berlaku

97. utang, hutang (Ingat: piutang, bukan pihutang)

98. wali kota, walikota

99. Yogyakarta, Jogjakarta

100. zaman, jaman

Lihat pula

Diskusi komunitas Wikipedia mengenai penggunaan bahasa Indonesia – sudah tidak aktif, namun masih bisa diakses.

Wikipedia:Pedoman alihaksara Arab ke Latin

Wikipedia:Pedoman alihaksara Sirilik ke Latin

Catatan kaki

1. ^ a b di dapat juga berfungsi baik sebagai imbuhan yang harus dirangkai penulisannya maupun kata depan yang harus dipisah penulisannya. Kesalahan penulisan di merupakan salah satu kesalahan yang sangat umum ditemukan.

2. ^ a b c d Tidak semua akhiran -ty dalam bahasa Inggris dialih-bahasakan menjadi -tas walaupun tak dimungkiri bahwa mayoritasnya demikian, dalam hal ini berlaku kata-kata seperti sekuriti dan komoditi yang menggunakan sistem kedua (-ti bukan -tas), hal yang sama berlaku pada kata properti (bukan propertas). Kata-kata lainnya misalnya kuantitas memang menggunakan penerjemahan -tas. Lihat Wikipedia:Pedoman penyerapan istilah.

3. ^ Lihat bagian diskusi halaman ini

4. ^ Walaupun “Prancis” lebih dianjurkan, Wikipedia bahasa Indonesia menggunakan ejaan “Perancis” sesuai konsensus.

5. ^ Kata standardisasi memang dieja tanpa mengesampingkan huruf d antara standar dan -isasi, seperti halnya di kata implemen yang menjadi implementasi.

Pedoman penulisan huruf kapital

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Berikut adalah pedoman penulisan tanda baca sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Huruf kapital atau huruf besar sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Dia mengantuk

Kita harus bekerja keras

Apa maksudnya?

Selamat pagi.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

Bapak menasihati, “Berhati-hatilah, Nak!”

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.;

Allah

Yang Maha Pengasih

..dan Kami turunkan kepadamu..

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dari nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Haji Agus Salim

Presiden Soekarno

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, instansi, atau nama tempat.

Gubernur Ali Sadikin

Menteri Hari Sabarno

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

“Siapakah gubernur yang baru saja dilantik itu?”

Brigadir Jendral Sugiarto baru dilantik menjadi mayor jendral.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama orang.

Ricky Setiawan

Vieta Fitria Diani

Muhammad Alif Atma Ain Azza

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

suku Sasak

bangsa Indonesia

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

mengindonesiakan kata asing

keinggris-inggrisan.

Catatan: Huruf kapital tidak dipakai untuk kata ‘bangsa’, ‘suku’, dan ‘bahasa’ yang mengawali sebuah nama.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Bandung Lautan Api

Proklamasi Kemerdekaan

hari Minggu

Iedul Fitri.

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

memproklamasikan kemerdekaan

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi

Asia Tenggara

Jazirah Arab

Selat Sunda

Kota Bogor.

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

Berlayar ke teluk.

Pada hari minggu ku turut ayah ke kota.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama negara, badan, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali konjungsi.

Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

Menurut undang-undang dasar kita

Menjadi sebuah republik

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel, seperti: di, ke, dari, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.

Dari Ave Maria ke Jalan Lain Menuju Roma

Pelajaran Ekonomi untuk Sekolah Menengah Umum

Huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Dr. = Doktor

dr. = Dokter

Sdr. = Saudara

S.Sos. = Sarjana Sosial

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.

Kapan Bapak berangkat?

Surat Saudara sudah saya terima.

Catatan: Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Huruf kapital dipakai untuk menyebutkan judul karya ilmiah (bukan judul buku).

PENELITIAN BAWANG GORENG

Catatan: Jika judul karya ilmiah itu memiliki kata konjungsi (kata penghubung), maka huruf kapital hanya diberikan di huruf pertama setiap kata, sementara huruf pertama kata konjungsi tetap menggunakan huruf kecil.

Penelitian Tentang Gempa Aceh dan Yogyakarta.

Penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.

1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.

2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola [1].

2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi

3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.

4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.

5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.

3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur mayur).

4. Gabungan kata atau kata majemuk

1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.

3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.

5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.

6. Kata depan atau preposisi (di [1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.

7. Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.

8. Partikel

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.

2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.

3. Partikel per- yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.

[sunting] Kata turunan

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

[sunting] Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.

1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-

2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya

2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.

1. ber-an dan ber-i

2. di-kan dan di-i

3. diper-kan dan diper-i

4. ke-an dan ke-i

5. me-kan dan me-i

6. memper-kan dan memper-i

7. pe-an dan pe-i

8. per-an dan per-i

9. se-nya

10. ter-kan dan ter-i

3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).

1. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.

2. Sisipan: -en-, -el-, dan -er-.

[sunting] Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.

2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.

4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.

5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.

6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.

2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.

3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

November 17, 2008 Posted by | Bahasa | Tinggalkan komentar

Analisis Naskah Tripama

Analisis Naskah Tripama

(Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra)

  1. Deskripsi Data

Membaca naskah/serat tripama adalah membaca keteladanan dari sikap luhur para tokoh/manusia di masa lalu. Dalam naskah tersebut tersirat pesan moral yang amat kompleks dan jelas. Peneliti telah membaca naskah ini, terutama dari segi sifat dan sikap para tokoh di dalamnya. Di antara sifat-sifat tersebut ada beberapa yang merupakan kelebihan dan kelemahan para tokoh yang tampaknya jarang kita temui saat ini. Wujud keteladanan dan sikap para tokoh dalam naskah Tripama dalam naskah antara lain:

  1. Seyogyanya para prajurit, bila dapat engkau meneladan cerita pada masa lalu, andalan Sang prabu, Sasrabahu di Maespati, bernama patih Suwanda, jasanya ialah, yang terangkum dalam tiga hal, pandai, mampu dan berani yang diyakini, gagal layaknya keturunan mulia
    1. Yang dimaksud tiga amal baktinya, ia dapat menyelesaikan tugas, berusaha untuk dapat unggul mampu, maksudnya, ketika membantu perang negeri Magada, memboyong delapan ratus putri, dipersembahkan kepada rajanya, keberaniannya sudah jelas, berperang melawan raja Alengka, Suwanda gugur di medan perang.
    2. Ada lagi teladan yang baik, satria besar di negeri Alengka, sang kumbakarna namanya, walaupun berkecamuk perang di Alengka, dia mengajukan usul/saran kepada kandanya demi keselamatan, Dasamuka tidak terpengaruh usul itu, karena hanya melawan pasukan kera.
    3. Kumbakarna ditugaskan untuk berperang, kepada kakaknya dia tidak menolak, karena sebagai satria, dalam tekadnya tidak setuju /, hanya berpikir dan teringat ayah ibunya, dan segenap leluhurnya merasa sejahtera di Alengka, kini akan diserang oleh pasukan kera, bersumpah mati di depan laga.
    4. Ada lagi contoh lainnya, Suryaputra raja Awangga, dan dia adalah saudara pandawa lain ayah satu ibu, mengabdi pada raja kurupati, di negeri Hastina, dijadikan penglima perang, memimpin regu tempur peperangan, baratayuda dijadikan senapati, bala pasukan kurawa.
    5. Dimasukkan dengan saudaranya sendiri, berperang tanding melawan Danajaya, Sri karma sangat senang hatinya, karena mendapat jalan untuk membalas budi, kepada sang kurupati/duryudana, maka dia berusaha mati-matian,mengeluarkan segala kesaktiannya, berperang ramai dia mati terkena panah, sebagai satria yang gagah berani.
    6. Ketiga itu patut diteladani orang jawa, khususnya semua para perwira, perhatikanlah sekadarnya, terhadap jasa pengabdiannya, jangan sampai mengabaikan teladan, bila nanti akan memiliki keinginan walau tekad raksasa, tidak berbeda dengan budi makhluk lain, untuk mencapai keutamaan/kemuliaan.

Sifat-sifat luhur yang dapat dipetik dari naskah tersebut, antara lain:

a. Sumantri

Sifat mulia yang dimiliki:

1. menempuh jalan yang benar

2. taat perintah dan sadar kewajiban

3. penghayat budi luhur

4. menjunjung tinggi moral prajurit

5. tetap siaga bela Negara

6. rela berkorban jiwa raga

Kelemahannya:

  1. Belum mencapai kemandirian sejati
  2. tinggi hati
  3. buta hati tak tahu budi

b. Kumbakarna

Sifat mulia yang dimiliki:

  1. pembela kebenaran dan keadilan
  2. penyelamat lingkungan
  3. cinta bangsa dan tanah air
  4. taat perintah

kelemahannya:

  1. prajurit tidak cepat tanggap
  2. penakut yang egoistis, ragu-ragu, tidak gigih
  3. kurang pendekatan diri dengan penguasa agung

C. Basukarna

Sifat luhur yang dimiliki:

  1. membalas budi kebaikan
  2. ksatria cinta tanah air
  3. teguh dalam pendirian
  4. setia menepati janji
  5. berjuang menegakkan kebenaran dan melumpuhkan kemunkaran

Sikap tegasnya dilandasi tujuan luhur (tata luhur: menjadi kepercayaan), (tata batin: menegakkan kebenaran untuk melumpuhkan kemunkaran)

Kelemahannya:

1. Tinggi hati dan gila hormat

Sikap tidak terpuji tersebut ditampilkan dalam (1) dalam segala urusan kekeluargaan, kemanusiaan. Karna sukar diajak temu-pendapat sehingga tidak terjadi hubungan timbal balik antara dia dengan pihak lain. (1) Adipati karma tergolong tokoh yang sukar menerima pendapat orang lain termasuk sahabat, saudara, dan keluarganya. Sebaliknya semua pendiriannya tidak dapat dikalahkan dan sikap pribadinya harus dihormati pihak lain.

2. Pendendam dan pahlawan kebencian

Sifat jantan dan sikap tegas Adipati Karna tidak dilandasi cinta kasih yang manusiawi

3. Kesetiaan membuta

Kesetiaannya tidak disertai kearifan, kebijakan, dan kebajikan.

  1. Pembahasan

Sebelum mengarah ke pembahasan yang lebih dalam, kita sebaiknya melihat sekelumit tentang profil manusia Indonesia saat ini. Dampak dari sikap mental itu nantinya akan terakumulasi dan menjadi satu rangkaian potret kehidupan manusia Indonesua seluruhnya. Penulis berusaha mencoba mengungkapkan beberapa ciri masyarakat Indonesia saat ini yang diambil dari buku ”Manusia Indonesia” yang ditulis oleh Mochtar Lubis (2001).

Dimulai dari ciri pertama manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah Hipokratis alias Munafik. Berpura-berpura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah cirri utama manusia Indonesia yang sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya. Sikap ini telah mendorong terjadinya pengkhianatan intelektual di negeri kita. Jika direpresentasikan dengan keteladanan tokoh-tokoh dalam serat Tripama, maka sikap ini bertentangan dengan sikap Kumbakarna yang berani membela kebenaran dan keadilan. Ia berani karena benar, dan takut karena salah. Segala sesuatu yang baik ia ungkapkan dan yang buruk juga diungkapkan. Apabila terjadi kesalahan, maka ada kemauan untuk memperbaikinya.

Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. “Bukan Saya” adalah kalimat yang cukup populer pula di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab  tentang sesuatu kesalahan, sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak baik, satu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.  Dalam sejarah kita dapat hitung dengan jari pemimpin-pemimpin yang punya keberanian dan moralita untuk tampil ke depan memikul tanggung jawab terhadap sesuatu keburukan yang terjadi di dalam lingkungan tanggung jawabnya.

Ciri ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tata upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya, jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi istri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan istri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Istri komandan, istri menteri otomatis menjadi ketua, bukan berdasarkan kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya, atau perhatian dan pengabdiannya. Keadaan seperti ini sangat mempersulit proses-proses perkembangan manusia dan masyarakat dalam dunia kita kini, di mana keselamatan satu bangsa atau satu masyarakat tergantung sekali pada lamban atau derasnya arus informasi yang dapat diterimanya mengenai keadaan dan perkembangan ekonomi, politik, pengtahuan, teknologi, dan sebagainya di dunia ini.

Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua.

Ciri kelima utama manusia Indonesia adalah artistik. Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah, dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat dengan alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasaan-perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan dayaartistik yang besar dalam dirinya yang dituankan dalam segala rupa ciptaan artistic dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serba aneka maamnya, variasinya, warna-warninya.

Ciri keenam manusia Indonesia adalah punya watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk “survive” bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektual amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia. Kegoyahan watak serupa ini merupakan akibat dari cirri masyarakat dan manusai feodal pula. Dia merupakan akibat dari cirri masyarakat dan manusia feodal pula. Dia merupakan segi lain dari sikap ABS (asal bapak senang)-untuk menyenangkan atasan dan menyelamatkan diri.

Ciri lainnya adalah dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau tepaksa. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang amerika membuat instant tea. Manusia Indonesia sekarang jadi orang kurang sabar. Ciri lain adalah manusia Indonesia kini tukang menggerutu. Tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.

Manusia Indonesia juga cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia. Orang kurang senang melihat orang lebih maju, lebih kaya, lebih berpangkat, lebih berkuasa, lebih pintar, lebih terkenal dari dirinya. Gampang senang dan bangga, pada yang hampa-hampa merupakan juga sebagian dari kesenangan kita pada segala rupa lambing dan semboyan yang tidak diisi. Kata-kata mutiara dalam nilai-nilai yang bijaksana, tetapi sayang sekali tidak diamalkan, dihayati, dahulu maupun sekarang.

Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia-sok. Kalau berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk –harta jadi rakus. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru. Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang memesonakan kita. Sifat manusia yang lain adalah juga bahwa kita cenderung bermalas-malasan, akibat alam kita yang begini murah hati, untuk hidup dan memerhitungkan hidup hanya dari hari ke hari. Kita masih kurang rajin menyimpan untuk hari depan, dan berhitung jauh ke depan.

Masyarakat kita hari ini,masih dipengaruhi oleh sisa-sisa sikap serupa itu, maka juga manusia Indonesia masih lemah dalam mengaitkan antara sebab dan akibat. Ditambah pula dengan sikap nrima, percaya pada takdir, pada kismet, semua ini sudah begitu ditakdirkan Tuhan, maka tambah kendorlah proses logika manusia Indonesia. Ciri lain dari masyarakat kita adalah sikap tidak atau kurang peduli dengan nasib orang, selama tidak mengenai dirinya sendiri.

Era globalisasi yang sedang melanda masyarakat dunia, cenderung melebur semua identitas menjadi satu, yaitu tatanan dunia baru. Masyarakat Indonesia ditantang untuk makin memperkokoh jati dirinya. Bangsa Indonesia pun dihadapkan pada problem krisis identitas, atau upaya pengaburan (eliminasi) identitas. Hal ini didukung dengan fakta sering dijumpai masyarakat Indonesia yang dari segi perilaku sama sekali tidak menampakkan identitas mereka sebagai masyarakat Indonesia. Padahal bangsa ini mempunyai identitas yang jelas, yang berbeda dengan kapitalis dan komunis, yaitu Pancasila.

Bangsa Indonesia menetapkan Pancasila sebagai azas. Maka, seluruh perilaku, sikap, dan kepribadian adalah pelaksanaan dari nilai-nilai Pancasila. Perilaku, sikap, dan kepribadian yang tidak sesuai dengan Pancasila berarti bukan perilaku, sikap, dan kepribadian masyarakat Indonesia.

Masyarakat yang melaksanakan perbuatan bertentangan dengan Pancasila, seperti korupsi, KKN, nepotisme, merampok, mempermasalahkan poligami tapi membiarkan perselingkuhan, melakukan perjudian, berzina, minum-minuman keras, dan lain-lain, baik yang dilaksanakan oleh individu maupun gerombolan (jamaah). Semua itu perbuatan yang sangat bertentangan dan tidak berpihak kepada Pancasila. Dengan kata lain, Pancasilanya lepas saat mereka sedang melakukan perbuatan terlarang itu.

Penetapan Pancasila sebagai azas selayaknya didukung oleh masyarakat Indonesia dengan menampilkan jati dirinya yang khas, yaitu identitas bangsa. Manakala masyarakat tidak menampilkan identitas ini sesungguhnya berarti Pancasila tidak dilaksanakan dalam berkehidupan di masyarakat. Sebenarnya Pancasila akan mengangkat bangsa ini sebagai salah satu warna dari berbagai identitas yang ada di masyarakat dunia, baik dalam bermasyarakat maupun bernegara. Bangsa ini malah bangga mempunyai identitas “baru” yang bila diperhatikan merupakan perwujudan antara identitas kapitalis dan komunis. Di bidang perekonomian, misalnya, banyak pergeseran ke arah kapitalis dimana swastanisasi dari sektor usaha yang melayani hajat hidup masyarakat kini sudah banyak. Atau, pengalihan sektor informasi ke swasta, yang merupakan pergeseran identitas Pancasila ke Kapitalis/Liberalis.

Di era reformasi Pancasila tenggelam, baik dalam tataran pelaksanaan maupun pembicaraan di kedai-kedai kopi pinggir jalan. Para pemimpin tidak bangga membawa/membicarakan Pancasila. Bahkan, membawa/membicarakan Pancasila dianggap menjadi beban psikologis dalam pentas reformasi yang hingga kini belum menunjukkan perubahan jelas seperti yang diinginkan masyarakat. Maka, lahirlah istilah-istilah orde baru, orde reformasi, dan sebagainya, di masyarakat. Bagi sebagian pemimpin, masyarakat yang membicarakan Pancasila takut dijuluki pengikut/penerus orde baru.

Pemimpin besar Bung Karno pernah mengatakan, bangsa Indonesia harus mandiri dan tidak ikut-ikutan pada budaya bangsa lain. Sekarang justru masyarakat kita telah berperilaku kapitalis/liberalis, yang artinya telah mengubah budaya kita sendiri. Lihat saja, kontes ratu kecantikan dengan dalih macam-macam. Serta, penafsiran yang salah terhadap perempuan dan poligami, pornografi yang dianggap seni, dan lain-lain. Itu semua menjauhkan gagasan suatu negeri dari cita-cita masyarakat madani atau masyarakat adil dan makmur, adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.

Apalagi, untuk menuju masyarakat ini kita harus membangun masyarakat yang rabbani, insani, akhlaqi, dan tawazun. Hablumminannas wa hablumminallah. Masyarakat yang jauh dari keempat hal diatas berarti jauh pula dari perwujudan cita-citanya, serta akan kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia. Kaum kapitalis/liberalis gencar mengekspor tatanan yang menjadi identitasnya, melalui bantuan-bantuan dan pinjaman, baik program pembangunan masyarakat, pendidikan, kesehatan. Dengan isu demokrasi gender, dan lain-lain. Di sini, bukan berarti pancasila paham yang tertutup. Justru Pancasila mengajarkan sikap supel, luwes, dan saling menghargai kemerdekaan bangsa lain. Dalam pergaulan dunia pun paham Pancasila menganut sistem politik bebas aktif. Ini menujukkan Indonesia memiliki identitas sendiri dalam percaturan dunia.

Guna mewujudkan identitas yang khas, masyarakat Indonesia hendaknya berupaya sungguh-sungguh dalam mengarahkan akal pikiran dan kecenderungan dengan satu arah yang dibangun di atas satu azas, yaitu Pancasila. “Azas tunggal” yang digunakan dalam pembentukan identitas merupakan hal yang penting diperhatikan. Kelalaian dalam hal ini akan menghasilkan identitas yang tidak jelas warnanya.

Mengembangkan identitas ini bisa dilakukan dengan cara membakar semangat masyarakat untuk serius dan sungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan nilai-nilai Pancasila, serta mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dan, awas propaganda kapitalisg dekat padanya.

Kita juga telah membaca dan mendengar bahwa Indonesia termasuk negara terkorup di dunia. Dan ketika kita melihat sendiri kenyataan yang ada di depan kita, ternyata korupsi telah melibatkan banyak kalangan, baik di pusat maupun di daerah, di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan tokoh masyarakat. Kita pun jadi makin prihatin dan cemas, adakah pengusutan dapat dilakukan dengan tuntas dan adil? Cukup tersediakah aparat penegak hukum yang bersih untuk mengusutnya dengan adil, tepat, dan benar? Dan sampai kapan akan selesai?

Penegakan hukum serta pengusutan secara tuntas dan adil terhadap tindak korupsi memang harus dilaksanakan dan ditegakkan tanpa pandang bulu. Akan tetapi, kita pun harus memahami persoalannya secara lebih fundamental, agar menumbuhkan sikap arif untuk bersama-sama tak mengulang dan membudayakan korupsi dalam berbagai aspek kehidupan kita, sehingga tidak terjadi apa yang dikatakan “patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu” seperti sel kanker ganas karena akarnya yang telah meluas, maka semakin dibabat semakin cepat penyebarannya.

Indonesia adalah negara yang kaya, tetapi pemerintahnya banyak utang dan rakyatnya pun terlilit dalam kemiskinan permanen. Sejak zaman pemerintahan kerajaan, kemudian zaman penjajahan, dan hingga zaman modern dalam pemerintahan NKRI dewasa ini, kehidupan rakyatnya tetap saja miskin. Akibatnya, kemiskinan yang berkepanjangan telah menderanya bertubi-tubi sehingga menumpulkan kecerdasannya dan masuk terjerembap dalam kurungan keyakinan mistik, fatalisme, dan selalu ingin mencari jalan pintas.

Kepercayaan terhadap pentingnya kerja keras, kejujuran, dan kepandaian semakin memudar karena kenyataan dalam kehidupan masyarakat menunjukkan yang sebaliknya, banyak mereka yang kerja keras, jujur dan pandai, tetapi ternyata bernasib buruk hanya karena mereka datang dari kelompok yang tak beruntung, seperti para petani, kaum buruh, dan guru. Sementara itu, banyak yang dengan mudahnya mendapatkan kekayaan hanya karena mereka datang dari kelompok elite atau berhubungan dekat dengan para pejabat, penguasa, dan para tokoh masyarakat.

Akibatnya, kepercayaan rakyat terhadap rasionalitas intelektual menurun karena hanya dipakai para elite untuk membodohi kehidupan mereka saja. Sebaliknya, mereka lebih percaya adanya peruntungan yang digerakkan oleh nasib sehingga perdukunan dan perjudian dalam berbagai bentuknya semakin marak di mana-mana. Mereka memuja dan selalu mencari jalan pintas untuk mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat, baik kekuasaan maupun kekayaan. Korupsi lalu menjadi budaya jalan pintas dan masyarakat pun menganggap wajar memperoleh kekayaan dengan mudah dan cepat.

Budaya korupsi seakan memperoleh lahan yang subur karena sifat masyarakat kita sendiri yang lunak sehingga permisif terhadap berbagai penyimpangan moral dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, korupsi dianggap sebagai perkara biasa yang wajar terjadi dalam kehidupan para penguasa dan pengelola kekuasaan yang ada. Sejak dahulu kala, para penguasa dan pengelola kekuasaan selalu cenderung korup karena bisnisnya ya kekuasaan itu sendiri. Penguasa bukanlah pekerja profesional, yang harus pintar, cerdas, dan rajin, tidak digaji pun mereka mau asal mendapatkan kekuasaan karena kekuasaan akan mendatangkan kekayaan dengan sendirinya.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada tekad presiden pilihan rakyat yang hendak melakukan percepatan pemberantasan korupsi, kita perlu merenungkan kembali dengan jernih apakah pemberantasan korupsi dapat dilakukan tanpa dekonstruksi sosial? Jangan sampai upaya pemberantasan korupsi seperti terperosok dalam sumur tanpa dasar yang tidak pernah dapat menyentuh landasannya dengan tepat dan benar. Jangan sampai kita terperosok dalam kebencian dan konflik tanpa ujung pangkal. Semua proses hukum memang perlu ditegakkan tanpa pandang bulu, tetapi tak akan pernah cukup karena kompleksnya persoalan korupsi itu sendiri. Semua orang tahu korupsi ada dan besar, tetapi betapa sulitnya mencari bukti dan definisi, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Korupsi bukanlah hanya persoalan hukum saja, tetapi juga merupakan persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama. Realitas sosial yang timpang, kemiskinan rakyat yang meluas serta tidak memadainya gaji dan upah yang diterima seorang pekerja, merebaknya nafsu politik kekuasaan, budaya jalan pintas dalam mental suka menerabas aturan, serta depolitisasi agama yang makin mendangkalkan iman, semuanya itu telah membuat korupsi semakin subur dan sulit diberantas, di samping karena banyaknya lapisan masyarakat dan komponen bangsa yang terlibat dalam tindak korupsi. Karena itu, dekonstruksi sosial tak bisa diabaikan begitu saja dan kita perlu merancang dan mewujudkannya dalam masyarakat baru yang antikorupsi.

Dekonstruksi sosial memerlukan tekad masyarakat sendiri untuk keluar dari jalur kehidupan yang selama ini telah menyengsarakannya. Perlu ada tobat nasional untuk memperbarui sikap hidup masyarakat yang antikorupsi karena ko- rupsi ternyata telah menyengsarakan bangsa ini secara keseluruhan. Tobat dalam agama adalah kesadaran total untuk tak mengulangi lagi perbuatannya karena memang perbuatan itu telah mencelakakan dirinya dalam dosa. Dengan tobat, dia akan menjadi manusia baru yang bebas dari pengulangan dosa-dosa lama yang telah diperbuatnya.

Tobat bukanlah basa-basi, tetapi komitmen transendental untuk menembus dan memasuki kehidupan baru yang lebih baik. Dan tanpa tobat nasional, rasanya pemberantasan korupsi seperti benang kusut yang sulit mengurainya. Tobat nasional diperlukan untuk memotong budaya korupsi yang selama ini telah menjadi cara hidup, berpikir, dan berperilaku masyarakat untuk mendapatkan kekayaan. Tobat nasional harus dimulai dari imamnya, yaitu para pemimpin yang berada di puncak kekuasaan. Pemimpin yang bersih dan berketeladanan dapat menjadi rujukan perilaku rakyatnya. Pemimpin yang satunya kata dengan perbuatan, yang dengan rendah hati bersedia melayani rakyatnya, karena sesungguhnya seorang pemimpin adalah pelayan rakyatnya. Pemimpin yang cerdas, yang mampu membaca tanda-tanda zaman untuk membawa rakyatnya ke arah masa depan yang lebih baik, jelas, dan terukur. Pemimpin yang tidak bertopeng atas kekuasaannya sehingga denyut dan jeritan rakyatnya segera tertangkap oleh hati nuraninya yang tidak bertopeng.

Topeng kekuasaan harus dibuka melalui mekanisme sistemik yang inheren dalam kehidupan masyarakat baru yang sudah bertobat, yang dibangun dan dikawal oleh kepemimpinan yang berkeladanan dan visioner. Mekanisme sistemik yang menyerap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kesejahteraan, kebebasan, dan kemandirian menjadi kekuatan spiritual yang akan bekerja secara otomatis untuk melakukan kontrol atas keseimbangan mekanisme internalnya sendiri. Sesungguhnya kehidupan masyarakat adalah suatu mesin hidup yang mekanismenya otonom dan sistemik. Kehidupan masyarakat akan sehat jika mekanisme internalnya terkendali oleh spiritualitas kemanusiaan universal yang melandasi kehidupan manusia itu sendiri.

Dekonstruksi sosial bukanlah antitesis dari tesis yang ada, tetapi suatu sintesis dari keunggulan-keunggulan kemanusiaan dan bersifat dinamis melalui proses dialektik yang akan terus-menerus memperbarui dirinya. Sebagai sintesis, dekonstruksi sosial merupakan rajutan-rajutan baru yang terbuka secara terus-menerus, dan keterbukaan merupakan prasyarat utama dalam proses pembaruan itu sendiri. Dekonstruksi sosial harus melahirkan sistem kehidupan masyarakat baru yang terbuka dan semua urusan publik tidak lagi bertopeng. Rasanya korupsi hanya bisa dikendalikan jika semua urusan publik dilepaskan dari pemujaan atas topeng-topeng kekuasaan yang ada.

Dari banyak kasus tersebut kita tentu telah mampu menyimpulkan betapa rendahnya sikap mental manusia Indonesia, namun terkadang kita tidak menyadarinya. Berkaca dari sikap-sikap buruk yang dimiliki masyarakat Indonesia dan adanya keteladanan dari para tokoh dalam naskah Tripama, maka masyarakat Indonesia diharapkan mampu:

  1. selalu menyadari dan dengan penuh kesadaran mengurangi sifat-sifat kita yang buruk, dan mengembangkan yang baik-baik
  2. menciptakan kondisi masyarakat yang dapat mendewasakan diri dan melepaskan diri dan melepaskan dirinya dari lingkungan masyarakat semi atau neofeodalistis
  3. belajar memakai bahasa Indonesia secara lebih murni, lebih tepat dalam hubungan kata dengan makna, yang mengandung pengertian kita harus belajar menyesuaikan perbuatan kita dengan perkataan kita.
  4. meneladani sikap para tokoh yang terdapat dalam serat Tripama, terutama dari sifat-sifat yang baik.

Diharapkan pula naskah Tripama ini bukan hanya sekadar bacaan ringan bagi segelintir orang yang mengerti maknanya, namun lebih ditekankan pada para pemuda Indonesia yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Dalam dunia pendidikan khususnya, naskah ini patut diajarkan dan diterapkan dalam keseharian siswa. Paling tidak nantinya siswa akan menemukan dan membedakan antara sifat yang baik dan buruk. Ini akan menjadi langkah awal mengubah sikap mental manusia Indonesia yang buruk menjadi lebih baik.

Bahan Referensi:

Mochtar Lubis. 2001. Manusia Indonesia. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta

Budaya Korupsi dan Dekonstruksi Sosial oleh Musa Asyárie. Kompas, Jumat, 28/1/05. http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=1135. Diakses 9 April 2008, pukul 0:56

Identitas Khas Bangsa Indonesia. http://www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp?mid=1605&catid=2&. Diakses 9 April 2008, pukul 1: 02

Mei 19, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Jurnal Skripsi Kuantitatif

PENGARUH METODE HERMENEUTIK DAN PENGUASAAN BAHASA FIGURATIF TERHADAP KEMAMPUAN MENGAPRESIASI PUISI

(Eksperimen pada Siswa Kelas 10 SMA N 1 Karanganom, Klaten

Tahun 2008/2009)[1]

Oleh:

Arief Rahmawan[2]

ABSTRACT

This research uses quantitative method with the simply of factorial design 2 x 2. And then, population in this research is students 10th class SMA N 1 Karanganom, Klaten 2008/2009 academic years that 325 students. The sample include involves 2 classes, the first class as control group is 10 C and the other class as experiment is 10 G. Based on the result of the research with Anava Two Ways can be concluded: (1) There are differencials of average that significant among learning with hermeneutics method and conventional method (structural method) to the skill of poem appreciation (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 7,82 > 3,96); (2) There are differencials of average that significant among students who have the high mastery of figurative language and students that have the low mastery of figurative language to the skill of poem appreciation (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 8,24 > 3,96); (3) There is interaction among teaching methods and the mastery of figurative language with the skill of poem appreciation (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 4.46 > 3,96).

Keyword: hermeneutics, poem, appreciation, figurative language.

Pendahuluan

1

Selama ini, pengajaran apresiasi sastra dinilai masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Kualitas pengajaran sastra dinilai rendah karena sastra hanya diajarkan dalam definisi-definisi seperti ilmu fisika, dalam rumus-rumus mirip rumus kimia (Taufik Ismail, 2007: 3). Pendapat senada tentang kualitas pengajaran sastra saat ini rendah adalah pendapat yang dikemukakan oleh Atar Semi. Atar Semi (2002: 134) mengatakan bahwa kualitas pengajaran sastra dinilai rendah karena berbagai faktor seperti kurikulum, sarana belajar, dan guru. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah menekankan aspek afektif dan psikomotor selain juga kognitif dalam setiap evaluasinya. (Baedhowi, 2006: 812).

Problem pengajaran sastra di sekolah memang sudah menjadi hal yang perlu segera diselesaikan. Permasalahan yang menyebabkan kualitas pembelajaran sastra tersebut menjadi rendah pada hakikatnya adalah permasalahan yang klasik. Sebagaimana yang juga diungkapkan oleh Suwardi Endraswara (2002: 59) bahwa problem pengajaran di sekolah selalu terkait dengan ketersediaan karya sastra, sistem pengajaran, kurikulum yang kurang memberi ruang terhadap sastra dan kemampuan guru. Bahkan dikatakan bahwa pengajaran sastra di sekolah terkena infeksi, terjangkit virus kronis, suram, dan hampir gagal.

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang juga perlu diapresiasi. Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia (Herman J. Waluyo, 2002: 1). Seperti halnya pendapat Taufik Ismail (2007: 3) di atas, puisi juga termasuk salah satu karya sastra yang pengajarannya dinilai rendah di sekolah-sekolah.

Banyak siswa mengalami kegagalan dalam memahami puisi dan lebih memilih sastra dalam bentuk prosa (Geisler: 1985:76). Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya pengajaran apresiasi puisi tersebut. Sebagaimana permasalahan dalam pengajaran genre sastra yang lain, cara penyajian materi yang tidak tepat sasaran, sarana belajar yang kurang mendukung, variasi materi puisi yang belum dilakukan, dan guru yang kurang memahami akan hakikat apresiasi puisi merupakan faktor kendala yang cukup dominan dalam pembelajaran apresiasi puisi.

Salah satu upaya yang dapat diusahakan guru agar dapat meningkatkan minat dan daya apresiasi puisi adalah dengan variasi metode dalam pembelajaran. Metode pembelajaran yang dirasa cukup efektif menurut hemat peneliti adalah dengan Metode Hermeneutik. Metode ini berusaha menafsirkan puisi dengan ilmu hermeneutika.

Selain dengan variasi metode, hal lain yang berpengaruh terhadap pembelajaran apresiasi puisi adalah penguasaan bahasa figuratif. Peningkatan kemampuan mengapresiasi puisi dengan metode hermeneutik mustahil dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya penguasaan bahasa figuratif yang cukup. Puisi sebagai wujud kristalisasi makna dan kepadatan bahasa butuh bekal bahasa figuratif yang lebih dalam penafsirannya. Materi ini sangat menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut. Selain untuk mengetahui pengaruh metode hermeneutik dan penguasaan bahasa figuratif dalam pembelajaran apresiasi puisi juga dapat digunakan untuk alternatif metode dalam membelajarkan puisi.

Bertolak dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Ada tidaknya perbedaan kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode hermeneutik dengan siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural); (2) Ada tidaknya perbedaan kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dengan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah; (3) Ada tidaknya interaksi antara metode pembelajaran dan penguasaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi..

Kajian Teori

Apresiasi sastra meliputi seluruh aktivitas seseorang ketika terlibat kontak dengan karya sastra. Kegiatan mengapresiasi dimulai sejak penikmat sastra melakukan pemaknaan terhadap satuan bunyi, pemahaman diksi, pemahaman kalimat, bangunan wacana yang utuh hingga pengungkapan respons atau teks sastra yang telah ia nikmati. Apresiasi berhubungan dengan sikap dan nilai. Wardani (dalam Jabrohim, 1994:16) menyatakan bahwa proses apresiasi dalam kaitannya dengan tujuan pengajaran dapat dibagi (secara sederhana dan global) menjadi empat yaitu tingkat menggemari, tingkat menikmati, tingkat mereaksi, dan tingkat menghasilkan.

Dengan demikian, apresiasi sastra bermula dari individu pembaca itu sendiri. Semakin ia tertarik terhadap karya sastra, tingkat apresiasinya pun semakin meningkat pula. Henry Guntur Tarigan (1993: 60) memberikan batasan indikator yang lebih konkret bahwa seseorang dapat dikatakan menikmati sesuatu pada prinsipnya telah dapat memberi penilaian baik-buruknya, indah tidaknya sesuatu itu dan lebih jauh lagi menjadi kritik.

Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra adalah penikmatan, pemuasan rasa, dan penghargaan terhadap hasil cipta karya sastra yang didasarkan pada pemahaman. Apresiasi memiliki tingkatan dari tahap menggemari, menikmati, mereaksi, dan akhirnya dapat berproduksi.

Puisi merupakan karya sastra paling tua dan pertama kali ditulis oleh manusia. Menurut Herman J. Waluyo (2002: 1) puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Kata-kata dalam puisi benar-benar padat dan terpilih sehingga sangat indah bila dibaca. Puisi menurut Ghazali (2002: 118) berasal dari bahasa Latin, potein yang berarti mencipta. Bahkan Hurt, masih dalam kutipan yang sama, menunjuk sifat hakiki bahasa puisi sebagai bahasa yang tidak lazim. Puisi memiliki bahasa yang khas sehingga bahasan puisi juga bersifat khusus. Puisi merupakan wacana penggunaaaan bahasa yang bersifat khusus.

Selanggam dengan Ghazali, James Smith dalam Furman (2007: 1) mengatakan bahwa puisi adalah sebuah penyaringan atau intisari dari sesuatu. Puisi merupakan sebuah pengalaman subjektif dari seorang individu dan mempersembahkannya ke dalam sebuah cara penggeneralan metafor. Dengan kata lain, puisi merupakan sebuah karya subjektif berdasarkan pengalaman seorang individu yang disajikan dengan bahasa kiasan/metafora) Kosasih (2008: 206) membatasi puisi sebagai bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata yang indah dan kaya makna. Keindahan puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan  irama yang terkandung di dalam karya tersebut.

Sejumlah pengertian puisi yang dikemukakan oleh para pakar di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian puisi sangat beragam dan berbeda-beda antarpakar, bergantung pada sudut mana puisi itu dipandang. Namun demikian, dapat diperikan secara singkat bahwa puisi adalah karya sastra yang memiliki ciri khas mempergunakan bahasa yang dipadatkan, penuh makna dan memiliki unsur-unsur keindahan.

Sekian pendapat berbagai pakar di atas dapat disintesiskan teori tentang kemampuan mengapresiasi sastra dalam hal ini adalah apresiasi puisi. Kemampuan mengapresiasi puisi adalah kemampuan seseorang di dalam usaha untuk mengenal, memahami, menikmati, menafsirkan, mereaksi dan memproduksi puisi sebagai bentuk penghargaan terhadap puisi tersebut yang didasarkan pada pemahaman. Kemampuan mengapresiasai puisi memiliki empat tingkatan, yaitu tahap menggemari, tahap menikmati, tahap mereaksi dan akhirnya tahap memproduksi.

Metode berasal dari kata methodos dalam bahasa Yunani yang berarti cara atau jalan. Sangidu (2004: 12-14) memberikan batasan bahwa metode merupakan cara kerja yang bersistem untuk memulai pelaksanaan suatu kegiatan penelitian guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan kata yang sederhana, metode merupakan cara yang harus dikerjakan sedangkan teknik merupakan cara melaksanakan metode tersebut (Sudaryanto dalam Sangidu, 2004: 14). Keduanya digunakan untuk menunjukkan konsep yang berbeda tetapi berhubungan langsung dalam operasionalnya. Simpulan akhirnya adalah metode pembelajaran merupakan cara kerja yang bersistem untuk memulai pelaksanaan proses membelajarkan siswa terhadap suatu objek.

Metode Hermeneutik pada hakikatnya merupakan turunan dari pendekatan sastra pragmatik yang diuraikan oleh Abrams (dalam Tirto Suwondo, 2001: 53). Dalam tulisannya, Tirto Suwondo menjelaskan bahwa Abrams menguraikan empat pendekatan penelitian sastra, yaitu pendekatan ekspresif yang menitikberatkan pada peranan pengarang dalam mencipta karya sastra, pendekatan pragmatik yang menitikberatkan pada peranan pembaca di dalam menghayati karya sastra, pendekatan mimetik yang menekankan pada kemiripan dengan dunia nyata, dan terakhir pendekatan objektif yang menekankan pada strukturalis atau unsur intrinsik karya sastra. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa metode hermeneutik merupakan salah satu langkah operasional dari pendekatan pragmatik yang berusaha mendekati sastra dari aspek peranan pembaca yang menerima puisi. Selanjutnya, metode ini akan dijabarkan dengan beberapa teknik.

Secara sederhana, hermeneutik berarti tafsir. Dalam kamus Webster`s Third New International Dictionary dijelaskan definisi hermeneutik sebagai studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi, khususnya studi tentang prinsip umum interpretasi Bibel (Palmer, 2005:4). Namun demikian, makna tersebut akan memuaskan bagi para penerjemah Bibel. Berbeda dengan pendapat tersebut, Abulad (2007:22) justru menyatakan bahwa hermeneutik sebagai sebuah seni, yaitu seni di dalam menginterpretasikan sebuah teks. Secara lebih lanjut, ia menyimpulkan bahwa hermeneutik bukan usaha mengkontruksi cara berpikir kaku untuk sebuah interpretasi teks yang sahih melainkan keluwesan yang menjadi filosofi utamanya.

Untuk kajian yang lebih luas, perlu definisi yang lebih luas pula. Pada hakikatnya, akar kata hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein yang berarti menafsirkan dan kata benda hermeneia yang berarti interpretasi (Palmer, 2005: 14-15). Palmer mendefinisikan hermeneutik sebagai proses membawa sesuatu untuk dipahami terutama seperti proses ini melibatkan bahasa. Abdul Hadi W. M. (2004: 71) memberikan pula batasan bahwa hermeneutik adalah cara menjelaskan makna tersurat dari sebuah teks. Walaupun luas pengertiannya, secara implisit pendapat ini mendukung pendapat ahli di atas.

Pendapat terakhir yang dapat disajikan adalah pendapat Nyoman Kutha Ratna. Nyoman Kutha Ratna (2005: 90) membatasi hermeneutik memiliki makna hampir sama dengan interpretasi, pemahaman atau retroaktif. Karya sastra memang sangat tepat apabila dianalisis dengan metode hermeneutika. Sejauh ini metode hermeneutika yang menjadi bagian dari pendekatan sastra yaitu pendekatan pragmatik merupakan tindak lanjut dari ketidakpuasan terhadap pendekatan strukturalis yang tidak dapat menjelaskan makna karya sastra secara mendalam (Tirto Suwondo, 2001: 57).

Sekian pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa metode hermeneutik merupakan cara memahami dan manafsirkan sebuah teks dengan merekontruksi proses kreatif  teks tersebut. Dalam hermeneutika, proses pemahaman berlangsung dengan tahapan mengungkapkan kata-kata kunci, menjelaskan kata tersebut kemudian menerjemahkannya ke dalam makna yang lebih jelas. Dalam hermeneutika hendaknya usaha pemahaman tersebut dilakukan dengan cara yang secukupnya dan tidak memonopoli makna dengan unsur subjektivitas (Suwardi Endraswara, 2003: 46)

Langkah kerja dalam metode hermeneutik ini, didasarkan pada pendapat Palmer (2005) dan Suwardi Endraswara (2003). Tahapan yang dilakukan hampir sama dan sependapat. Secara ringkas dapat dirumuskan langkah kerja metode hermeneutik adalah sebagai berikut:

  1. menentukan dan mengungkapkan kata kunci-kata kunci yang sarat makna,
    1. menentukan arti langsung yang primer dari kata kunci yang telah ditentukan,
    2. jika dirasa perlu, dijelaskan pula arti-arti implisit,
    3. menentukan tema,
    4. memperjelas arti simbolik dalam teks,

Selanjutnya, Metode struktural merupakan salah satu langkah dari operasional dari pendekatan objektif yang menekankan ada aspek unsur intrinsiknya (Abrams dalam Tirto Suwondo, 2001: 53). Selanjutnya secara lebih tegas, Tirto Suwondo memberikan batasan bahwa metode Struktural adalah cara memahami karya sastra dengan memahami unsur-unsur  atau anasir yang membangun struktur. Hal ini didasarkan pada pendapat Jeans Peaget yang disimpulkan oleh Tirto Suwondo (2001: 53) bahwa dalam pengertian struktur terkandung tiga hal yakni gagasan keseluruhan dalam arti bahwa bagian-bagiannya menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsik, gagasan transformasi, dan terakhir gagasan mandiri. Pada akhir pembahasan, Tirto Suwondo menegaskan bahwa metode struktural memang tidak dapat dihindari namun risiko gagal akan tetap lebih besar apalagi jika objek yang dihadapi adalah karya-karya yang absurd.

Pendapat selanjutnya adalah pendapat Wiyatmi (2006: 89-91). Wiyatmi menjelaskan bahwa pendekatan Struktural adalah upaya memahami karya sastra secara Close Reading (membaca karya sastra secara tertutup tanpa melihat pengarangnya, hubungannya dengan dengan realitas maupun pembaca). Secara lebih lanjut, dijelaskan bahwa analisisnya difokuskan tetap pada unsur intrinsiknya. Sebagaimana dengan Tirto Suwondo di atas, Wiyatmi juga menutup kajiannya tentang kajian Struktural dengan simpulan bahwa pendekatan atau metode struktural memang mampu menganalisis dan memaknai karya sastra, tetapi memiliki kelemahan pada  kebuntuan analisisnya jika harus memahami karya sastra yang isi dan bahasanya memiliki aspek sosial yang kental.

Sangidu (2004: 16) memerikan teori struktural sebagai suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu struktur yang terdiri atas beberapa unsur yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Pendapat yang sama diungkapkan oleh Rakhmat Joko Pradopo (2005: 140-141). Struktural sebagai pendekatan objektif dirumuskan dengan menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang otonom dan terlepas dari dunia luar, pengarang maupun pembaca. Dalam metode struktural,  hal yang terpenting adalah karya sastra itu sendiri dan khusus yang dianalisis adalah unsur intrinsiknya. Selanjutnya, Sangidu (2004: 16) juga menjelaskan bahwa metode struktural memiliki beberapa  kelemahan yaitu kesubjektivitasan peneliti, analisisnya juga tergoda hanya pada karya ternama saja, karya terasa diasingkan dari relevansi sosialnya.

Berdasarkan sekian pendapat, kiranya sudah cukup untuk merumuskan definisi metode struktural. Pada prinsipnya metode ini mendasarkan aspek unsur intrinsik karya sastra sebagai pisau analisisnya. Simpulan akhirnya, metode struktural adalah sebuah langkah operasional dari pendekatan objektif yang menganalisis karya sastra berdasarkan struktur-struktur pembangun karya sastra tersebut (unsur intrinsik). Berikut simpulan langkah kerja dari metode struktural yang didasarkan pada pendapat Suwardi Endraswara (2003: 52-53):

  1. membangun teori struktur sastra sesuai dengan genre yang diteliti. Dalam penelitan ini teori yang dimaksud adalah teori puisi,
  2. melakukan pembacaan puisi secara cermat, mencatat unsur-unsur struktur yang terkandung dalam puisi tersebut,
  3. unsur tema sebaiknya didahulukan dalam pembedahan isi tersebut. Tema inilah yang secara komprehensif terkait dengan unsur yang lain,
  4. menganalisis unsur intrinsik puisi yang lain, struktur fisik (tipografi, diksi, majas, rima, dan irama) dan struktur batin (amanat, perasaan, nada dan suasana puisi),
  5. menghubungkan penafsiran antarunsur intrinsik yang telah diperoleh menjadi makna struktur yang padu,
  6. menyimpulkan hasil analisis,

Bahasa figuratif menurut Rakhmat Joko Pradopo (1997: 61-62) dipersamakan dengan bahasa kiasan. Bahasa figuratif dirumuskan sebagai bahasa yang menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup dan menimbulkan kejelasan gambaran angan. Selanjutnya pendapat Jabrohim, dkk. (2001: 42-43) mendefinisikan bahasa figuratif pada dasarnya merupakan bentuk penyimpangan dari bahasa normatif, baik dari segi makna maupun rangkaian katanya, dan bertujuan untuk mencapai arti dan efek tertentu.

Herman J. Waluyo dalam Jabrohim (2001: 42) menyebut bahasa figuratif sebagai majas. Bahasa figuratif ini dapat memancarkan banyak makna dan membuat puisi menjadi prismatis. Sementara itu, Panuti Sujiman dalam Jabrohim (2001:42-43) mendefinisikan kiasan dalam bukunya Kamus Istilah Sastra, yaitu majas yang mengandung perbandingan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna. Kenney (1966: 64) menyebut bahasa Figuratif sebagai figurative Images atau kiasan figuratif. Simpulan pengertian bahasa figuratif adalah bahasa yang mempergunakan kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya, yang biasa dengan maksud untuk mendapatkan kekuatan ekspresi.

Bahasa kiasan atau bahasa figuratif pada dasarnya memiliki banyak jenis, meski demikian bahasa figuratif memiliki sifat yang umum, yaitu bahasa figuratif tersebut mempertalikan sesuatu dengan menghubungkannya dengan hal yang lain (Alternbernd dalam Rakhmat Joko Pradopo, 1997: 62). Dengan kata lain, bahasa figuratif memperbandingkan sesuatu dengan yang lain. Jenis-jenis bahasa figuratif menurut Rakhmat Joko Pradopo adalah perbandingan (simile), metafora, perumpamaan epos (epic simille), personifikasi, metonimi, sinekdok, dan alegori.

Berikutnya, Gorys Keraf (2004: 138-145) membagi bahasa kiasan menjadi 16, yaitu: simile, metafora, alegori/parabel/fabel, personifikasi, alusi, eponim, epitet, sinekdok, metonimia, antonomasia, ironi/sinisme/sarkasme, satire, inuendo, antifrasis, pun atau paronomasia. Pendapat yang lebih lengkap adalah pendapat yang disampaikan oleh Gorys Keraf.

Beberapa definisi ini dapat disimpulkan bahwa bahasa figuratif dapat dikatakan sebagai unsur yang menghidupkan puisi dan menjadi daya beda puisi dengan karya sastra yang lain. Puisi menjadi menarik dikaji juga akibat dari adanya bahasa figuratif ini. Jadi, bahasa figuratif adalah bahasa kiasan atau bahasa yang disimpangkan dari kaidah lazim untuk menciptakan efek tertentu dan mengaburkan makna.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di SMA N 1 Karanganom, Klaten yang beralamatkan di Jalan Raya Penggung-Jatinom 03 Karanganom, Klaten. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2008 sampai dengan April 2009.

Penelitian  ini merupakan penelitian eksperimen kuasi yang melibatkan dua variabel, yaitu 2 variabel  bebas Metode pembelajaran yang dikategorikan menjadi metode hermeneutik dan metode konvensional (metode struktural). Variabel atributif, yaitu penguasaan bahasa figuratif yang dikategorikan menjadi dua, penguasaan bahasa figuratif tinggi dan penguasaan bahasa figuratif rendah. Adapun  variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan mengapresiasi puisi oleh siswa yang diukur setelah perlakuan diberikan.

Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain faktorial sederhana 2 x 2. Desain faktorial yang digunakan tampak  pada tabel berikut.

Tabel 1. Rancangan Faktorial  2 x 2


B
A

Metode Pembelajaran

A1

Hermeneutik

A2

Struktural

Penguasaan Bahasa Figuratif

B1

Tinggi

A1B1

A2B1

B2

Rendah

A1B2

A2B2

Penerapan metode hermeneutik pada penelitian ini disebut variabel bebas A1 dan metode konvensional (metode struktural) disebut variabel bebas A2. Variabel bebas sekundernya adalah dua kategori penguasaan bahasa figuratif yaitu penguasaan bahasa figuratif tinggi (B1) dan penguasaan bahasa figuratif rendah (B2).

Populasi  dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 10 SMA Negeri  1 Karanganom tahun ajaran 2008/2009. Adapun sampel penelitian ini terdiri dari dua kelas, satu kelas sebagai kelompok kontrol yaitu 10 C dan satu kelas sebagai kelompok eksperimen yaitu kelas 10 G. Pengambilan sampel ini dengan menggunakan teknik Cluster Random Sampling.

Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan mengapresiasi puisi siswa adalah tes psikomotorik. Adapun instrumen yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan bahasa figuratif siswa, yaitu teknik tes pilihan ganda. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah postes only nonequivalent control group design. Teknik dilakukan dengan cara sesudah perlakuan akan diberi tes. Tes akhir ini yang akan menjadi data untuk dianalisis. Namun sebelum perlakuan, terlebih dahuhlu seluruh sampel diberi tes penguasaan bhasa figuratif untuk menentukan pengelompokkan siswa dalam kelas.

Analisis data yang dilakukan terbagi dua, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif meliputi tendensi sentral (untuk mengetahui harga mean, median, modus), tendensi penyebaran (untuk mencari varians, standar deviasi, simpangan), membuat daftar distribusi frekuensi absolut dan distribusi frekuensi relatif  serta histogramnya.

Sementara itu, statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis. Teknik yang digunakan adalah teknik anava dua jalan. Prinsip dan prosedur penggunaan teknik tersebut didasarkan pada pendapat Ary (1982:228-230), sedangkan untuk uji lanjut digunakan uji Scheffe`.

Pembahasan

Setelah melalui tahapan pemeriksaan data dengan pengujian persyaratan data yang meliputi uji normalitas (lampiran 3) dan homogenitas varians (Lampiran 4) maka dapat dilanjutkan dengan tahapan selanjutnya. Data sudah dinyatakan berdistribusi normal dan variansnya berasal dari varians yang homogen maka dapat dilanjutkan dengan pengujian hipotesis. Berikut ini dijabarkan pengujian setiap hipotesis yang telah dikemukakan.

  1. 1. Pengujian Hipotesis I

Hipotesis pertama dinyatakan bahwa, Ho tidak ada perbedaan antara kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode hermeneutik dan metode konvensional (struktural) melawan H1, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemapuan mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode hermeneutik  dan metode konvensional (struktural). Selanjutnya untuk menguji hipotesis tersebut, digunakan teknik analisis varians (Anava) dua jalan.

Berdasarkan penghitungan dengan teknik Anava dua jalan sebagaimana yang terlampir (lampiran 5) didapat Fobs = 7,82. Dengan tabel distribusi F pada taraf signifikansi α = 0,05 dan dk (derajat kebebasan) pembilang 1 dan dk penyebut 77, diperoleh Ft = 3,92. Hal ini berarti bahwa Fobs > Ft sehingga Ho ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa H1 diterima atau tedapat perbedaan rataan yang signifikan antara metode hermenutik dan konvensional (stuktural) terhadap kemampuan mengapresiasi puisi siswa.

  1. 2. Pengujian Hipotesis II

Dalam hipotesis kedua dinyatakan bahwa Ho tidak ada perbedaan pengaruh antara kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dengan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah. Hipotesis nol ini melawan H1 yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara  kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa  figuratif dan kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.

Berdasarkan analisis data inferensial dengan teknik Anava dua jalan diperoleh harga Fobs = 8,24 (lihat lampiran 5). Berdasarkan tabel distribusi frekuensi F dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut 77 pada taraf signifikansi  α = 0,05, dapat dilihat bahwa Ft seharga 3,92. Berdasarkan  harga-harga tersebut dapat dikatakan bahwa Fobs > Ft. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Hob ditolak. Simpulannya adalah H1 diterima atau terdapat perbedaan rataan yang signifikan antara siswa yang memiliki penguasaan bahasa  figuratif tinggi dan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah terhadap kemampuan mengapresiasi puisi.

  1. 3. Pengujian Hipotesis III

Hipotesis ketiga dinyatakan bahwa Ho, tidak terdapat interaksi antara  metode pembelajaran dan penguasaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi. Hipotesis nol ini melawan H1 yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan penguasaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi.

Sebagaimana pada pengujian hipotesis pertama dan kedua di atas, pengujian hipotesis ketiga ini juga menggunakan teknik Anava dua jalan. Berdasarkan penghitungan pada lampiran 5, diperoleh harga Fobs = 4,46. Berdasarkan tabel distribusi F dengan dk pembilang sama dengan 1 dan dk penyebut sama dengan 77 pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh Ft seharga 3,92. Berdasarkan harga-harga ini dapat dikatakan bahwa Fobs > Ft. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Hob ditolak. Simpulannya adalah H1 diterima atau terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan pengusaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi.

Berdasarkan ketiga pengujian hipotesis tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi populasi, dalam hal ini siswa kelas 10 SMA Negeri 1 Karanganom, Klaten terdapat perbedaan kemampuan mengapresiasi puisi jika ditinjau dari perbedaan metode pembelajaran (metode hermeneutik dan konvensional/struktural), penguasaan bahasa figuratif yang dikategorikan tinggi dan rendah, dan interaksi keduanya. Pengujian hipotesis ini masih sebatas untuk mengetahui signifikansi antarvariabelnya. Secara lebih lanjut belum diketahui dari setiap variabel manakah yang memiliki derajat perbedaan lebih tinggi.

Pertama, pengujian variabel metode pembelajaran belum diketahui metode pembelajaran manakah yang memiliki tingkat lebih baik antara metode hermeneutik atau konvensional (struktural). Kedua, pengujian variabel penguasaan bahasa figuratif  belum diketahui kemampuan mengapresiasi puisi kelas manakah yang lebih tinggi antara siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan rendah. Terakhir, pengujian interaksi antara metode dengan penguasaan bahasa  figuratif. Berdasarkan pengujian, interaksinya memang dapat diterima bahwa antarvariabel memiliki efek gabung yang signifikan. Namun demikian, belum dapat diketahui kemampuan mengapresiasi puisi siswa kelas mana yang lebih baik, kelas eksperimen ataukah kontrol. Secara lebih lanjut efek gabung yang bagaimana dari interaksi keduanya.

Berdasarkan pemerian di atas, perlu dilakukan pengujian lanjut pascaanava. Untuk melakukan pengujian pascaanava, dalam penelitian ini digunakan metode Scheffe` pada setiap hipotesis. Berikut hasil pengujian pascaanava. Adapun hasil penghitungannya dapat dilihat pada lampiran 6.

Pertama, pengujian pada variabel metode pembelajaran. Berdasarkan pengujian signifikansi dengan metode Scheffe`, diperoleh harga Fh = 13,07. Harga ini lebih besar daripada Ft dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut 77 pada taraf nyata α = 0,05 yang seharga 3,92. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan mengapresiasi puisi siswa pada kelas hermeneutik dan konvensioanl (struktural) menunjukkan perbedaan yang signifikan. Simpulannya adalah metode hermeneutik lebih baik daripada metode konvensioanl (struktural).

Kedua, komparasi antarkolom, dalam hal ini pengujian variabel penguasaan bahasa  figuratif. Dengan metode pengujian yang sama, dapat diperoleh harga Fh = 5,11. Harga ini lebih besar daripada Ft dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut 77 pada taraf nyata α = 0,05 yang seharga 3,92. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan mengapresiasi puisi siswa memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Simpulannya adalah siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki penguasaan bahasa  figuratif rendah dalam hal mengapresiasi puisi

Ketiga, komparasi antarsel dalam hal ini adalah interaksi antara metode dan penguasaan bahasa figuratif. Dengan metode pengujian yang sama, yaitu dengan metode Scheffe` (lampiran 6, dapat disimpulkan interaksinya sebagai berikut:

  1. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi pada kelas hermeneutik dan kelas konvensional (struktural) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dalam lampiran bahwa Fh = 0,256807 yang lebih kecil dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf signifikansi α = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik maupun kelas konvensional (struktural) tidak jauh berbeda jika ditinjau dari penguasaan bahasa figuratif tinggi.
  2. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah pada kelas hermeneutik dan kelas konvensional (struktural) menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dapat dilihat dalam lampiran bahwa Fh = 14,0822 yang lebih besar dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf signifikansi α = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.
  3. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa pada kelas hermeneutik yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan rendah tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Berdasarkan penghitungan dapat dilihat bahwa Fh = 0,28969 yang lebih kecil dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf signifikansi α = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi tidak jauh berbeda dengan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.
  4. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa pada kelas konvensional (struktural) yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan rendah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dalam lampiran bahwa Fh = 13,65748 yang lebih besar dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf signifikansi α = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.
  5. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah pada kelas hermeneutik dan kelas konvensional (struktural) dengan penguasaan bahasa figuratif tinggi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Berdasarkan penghitungan, dapat dilihat bahwa Fh = 23,11601 yang lebih besar dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf signifikansi α = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah tidak jauh berbeda dengan siswa pada kelas konvensional (struktural) yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi.
  6. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi pada kelas hermeneutik dan kelas konvensional (struktural) dengan penguasaan bahasa figuratif rendah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dalam lampiran bahwa Fh = 0,002199 yang lebih kecil dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf signifikansi α = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.

Bertolak dari hasil analisis data terlihat jelas bahwa ketiga hipotesis yang diajukan diterima. Seluruh hipotesis nol (Ho) ditolak. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode hermeneutik lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural). Selanjutnya, kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah. Sementara itu, terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan penguasaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi.

Pada hipotesis ketiga, interaksi digolongkan menjadi enam, yaitu interaksi antarsel. Interaksi antarsel secara lebih perinci  dapat dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 2. Interaksi antara Metode Pembelajaran dan Penguasaan Bahasa Figuratif.

No. Interaksi
1 A1B1 = A2B1
2 A1B2 ≠ A2B2
3 A1B1= A1B2
4 A2B1 ≠ A2B2
5 A1B2 = A2B1
6 A1B1 ≠ A2B2

Keterangan:

A1 :   Metode hermeneutik.

A2 :   Metode konvensional (struktural).

B1 :   Penguasaan bahasa figuratif tinggi.

B2 :   Penguasaan bahasa figuratif rendah.

Keterangan interaksi antarsel:

  1. kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik maupun kelas konvensional (struktural) tidak jauh berbeda jika ditinjau dari penguasaan bahasa figuratif tinggi.
  2. kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode Konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.
  3. kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi tidak jauh berbeda dengan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.
  4. kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional  (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.
  5. kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah tidak jauh berbeda dengan siswa pada kelas konvensional (struktural) yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi.
  6. kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.

Berdasarkan simpulan analisis di atas, ada beberapa interaksi antarsel empiris tersebut yang tidak sejalan jika dikorelasikan secara teoretis. Interaksi antarsel tersebut adalah interaksi sel 1 dan sel 2 (simpulan kesatu) dan Interaksi pada sel 1 dan sel 3 (simpulan ketiga). Interaksi sel 1 dan sel 2 (simpulan kesatu), secara empirik, justru kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode hermeneutik dan penguasaan bahasa figuratif tinggi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode konvensional  (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi. Hal ini akan membantah teori keunggulan metode hermeneutik dibanding dengan metode konvensional (struktural) yang sama-sama ditinjau dari penguasaan bahasa figuratif tinggi. Seharusnya, kemampuan mengapresiasi puisi siswa dengan penggunaan metode hermeneutik apalagi ditunjang dengan penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi.

Demikian pula pada interaksi pada sel 1 dan sel 3 (simpulan ketiga) secara konseptual, kemampuan mengapresiasi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan rendah jika ditinjau dengan penggunaan metode hermeneutik seharusnya lebih baik  siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi. Namun, secara empirik justru tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini bertolak belakang dengan teori yang mengatakan bahwa metode hermeneutik membutuhkan penguasaan bahasa figuratif tinggi. Seharusnya siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan diajar dengan metode hermeneutik akan mendukung kemampuan mengapresiasi puisinya.

Ketidaksejalanan antara teori dengan empris di atas dapat dijelaskan dengan beberapa sebab. Padahal secara konsep penelitian ini sudah diusahakan sesahih mungkin dengan validitas perlakuan yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya. Salah satu usaha untuk menjaga kesahihan hasil penelitian tersebut adalah dengan berbagai upaya pengontrolan terhadap variabel ekstra yang dapat berpengaruh terhadap hasil penelitian. Namun, keterbatasan dalam penelitian ini menyebabkan masih terdapatnya beberapa faktor yang sulit dikendalikan. Dampak  akhirnya adalah tidak adanya perbedaan yang signifikan secara empiris terhadap interaksi-interaksi yang telah dijelaskan di atas. Kelemahan-kelemahan tersebut di antaranya disebabkan oleh:

  1. sampel yang tidak mungkin untuk diisolasi dalam suatu tempat sehingga tidak dapat dibatasi ruang geraknya. Dampaknya adalah adanya kontaminasi antarsubjek/variabel yang ikut memengaruhi hasil penelitian,
  2. perbedaan latar belakang sampel sehingga muncul variasi latar belakang seperti, jarak tempat tinggal, kemampuan awal siswa, maupun prestasi siswa. Padal penelitian eksperimen mempersyaratkan penyeragaman kemampuan awal sampel sehingga pada akhir penelitian dapat diukur keberpengaruhan variabel yang diujikan, bukan karena faktor lain,
  3. perlakuan hanya dapat dilakukan saat proses belajar mengajar berlangsung sehingga tidak mungkin dikontrol efek variabel lain,
  4. guru yang bertugas dalam kelas ekperimen dan kontrol berbeda sehingga kemampuan guru yang bertugas pun berbeda. Kemampuannya hanya diasumsikan sama padahal kenyataannya belum tentu demikikan. Hal ini berkorelasi dengan kualitas perlakuan yang diberikan,
  5. simpulan hanya berlaku untuk populasi dalam hal ini siswa kelas 10 SMA N 1 Karanganom dan tidak dapat digeneralisasikan pada seluruh siswa kelas 10 SMA,
  6. pengelompokan sampel tidak didasarkan pada keseragaman kemampuan awal subjek penelitian.

Berbeda dengan interaksi sel 1 dan sel 2 (simpulan kesatu) dan Interaksi pada sel 1 dan sel 3 (simpulan ketiga) di atas, simpulan interaksi antarsel yang lain sudah membuktikan keberpengaruhan interaksi antara penggunaan metode dan penguasaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi..

Pada simpulan interaksi kedua (interaksi sel 3 dan sel 4) dinyatakan bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah. Hal ini membuktikan teori bahwa metode hermeneutik lebih baik daripada metode konvensional (struktural) yang ditinjau dari penguasaan bahasa figuratif rendah. Pada siswa yang berpenguasaan bahasa figuratif rendah dapat membedakan penggunaan metode pembelajaran.

Selanggam dengan interaksi kedua, interaksi keempat (sel 2 dan sel 4) juga membuktikan bahwa penguasaan bahasa figuratif dapat membedakan kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang ditinjau pada penggunaan metode konvensional (struktural). Kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah. Pada penggunaan metode konvensional  (struktural), penguasaan bahasa figuratif yang tinggi akan lebih baik daripada  penguasaan bahasa figuratif rendah.

Hal senada juga terjadi pada interaksi kelima (sel 3 dan sel 2), kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah tidak jauh berbeda dengan siswa pada kelas konvensional (struktural) yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kelas hermeneutik membutuhkan penguasaan bahasa figuratif yang tinggi. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan bahwa kelas hermenutik yang penguasaan bahasa figuratifnya rendah hasil kemampuan mengapresiasi puisinya tidak jauh berbeda dengan kemampuan mengapresiasi puisi dengan metode konvensional (struktural) dengan penguasaan bahasa figuratif tinggi. Dengan kata lain, metode konvensional atau struktural (yang notabene kurang unggul dari metode hermeneutik) yang  didukung dengan penguasaan bahasa figuratif tinggi hasilnya tidak jauh berbeda. Hal ini juga membuktikan keberpengaruhan dan keterkaitan penguasaan bahasa figuratif yang tinggi terhadap kemampuan mengapresiasi puisi.

Pembahasan terakhir pada interaksi keenam (sel 1 dan sel 4) yang menyatakan bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah. Hal ini membuktikan teori tentang keunggulan metode hermeneutik sekaligus keberpengaruhan penguasaan bahasa figuratif. Metode hermeneutik terbukti lebih unggul apalagi didukung dengan penguasaan bahasa figuratif yang tinggi daripada metode konvensional (struktural) yang juga diperparah dengan penguasaan bahasa figuratif rendah.

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa metode hermeneutik terbukti lebih baik daripada metode konvensional (struktural). Selanjutnya, semakin tinggi penguasaan bahasa figuratif siswa, semakin tinggi pula tingkat kemampuan mengapresiasi puisinya. Berdasarkan sejumlah simpulan tersebut, terlihat keberpengaruhan kedua variabel, yaitu penggunaan metode pembelajaran dan penguasaan bahasa figuratif.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dengan Anava Dua Jalan dapat disimpulkan: (1) terdapat perbedaan rataan yang signifikan antara pembelajaran mengapresiasi puisi dengan metode hermeneutik dan metode konvensional (stuktural) terhadap kemampuan mengapresiasi puisi siswa (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 7,82 > 3,96);

(2) Terdapat perbedaan rataan yang signifikan antara siswa yang memiliki penguasaan bahasa  figuratif tinggi dan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah terhadap kemampuan mengapresiasi puisi (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 8,24 > 3,96); (3) Terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan pengusaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 4.46 > 3,96).

Daftar Pustaka

Abdul Hadi W. M.. 2004. Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esei-Esei Sastra Sufistik dan Seni Rupa. Yogyakarta: Matahari.

Abulad, Romualdo E.. 2007. “What is Hermeneutics?”. Kritike. Vol. 1 No. 2  December 2007

Ary, Donald, dkk.. 1982. Pengantar Penelitian Sosial dan Pendidikan (terjemahan Arief Furchan). Surabaya: Usaha Nasional.

Atar Semi, M. 2002. Sastra Masuk Sekolah (Editor: Riris K. Toha Sarumpaet. Magelang: Indonesiatera.

Baedhowi. 2006. “Kebijakan Asessment dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 063 Tahun ke-12 Edisi November 2006 hal. 810-818

Furman, Richard. 2007. “Poetry Narrative as Qualitative Data: Exploration into Existential Theory”.   Indo-Pacific Journal of Phenomenology, Volume 7, Edition 1 May 2007 page 1-9

Geisler, Deborah M. 1985. “Modern Interpretation Theory and Competitive Forensics: Understanding Hermenutics Text”. The National Forensics Journal. Vol. III (Spring 1985) page. 71-79

Ghazali, A. Syukur. 2002. Sastra Masuk Sekolah. (Editor: Riris K. Toha Sarumpaet). Magelang: IndonesiaTera.

Gorys Keraf. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa: Komposisi Lanjutan I. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Henry Guntur Tarigan. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Herman J. Waluyo. 2002. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jabrohim. 1994. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jabrohim, dkk.. 2001. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Kenney, William. 1966. How to Analyze Fiction. New York: Monarch Press.

Kosasih, E.. 2008. Ketatabahasaan dan Kesusastraan: Cermat Berbahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya.

Nyoman Kutha Ratna. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Palmer, Richard E.. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenal Interpretasi (terjemahan: Musnur Hery dan Damanhuri Muhammad). Yogyakarta: Hanindita Graha W.

Rakhmat Joko Pradopo. 1997. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

____________________. 2005. Beberapa Teori Sasatra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Sangidu. 2004. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik dan Kiat. Yogyakarta: Unit Penelitian Sastra Asia Barat FIB UGM.

Suwardi Endraswara. 2002. Sastra Masuk Sekolah. (Editor: Riris K. Toha Sarumpaet). Magelang: IndonesiaTera.

________________. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Taufik Ismail. 2007. Makalah: Mengasah Ketajaman Intuisi dan Kepekaan Sosial melalui Kegemaran Membaca Karya Sastra. Surakarta: Tanpa Penerbit.

Tirto Suwondo. 2001. Metodologi Penelitian Sastra (Editor: Jabrohim dan Ari          Wulandari). Yogyakarta: Hanindita Graha W.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.


[1] Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, April 2009.

[2] Penulis adalah mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan PBS FKIP UNS Semester VIII dengan NIM K1205001.

Mei 19, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Cerpen Saya….

MIMPI KITA TERTUNDA DISAPU PAGI

Sudut kampus itu sepi. Halaman kotor karena timbunan daun-daun yang gugur semalam tadi. Beberapa burung tampak asyik bertengger di kelopak daun-daun muda yang mulai tumbuh. Suasana masih lengang. Ku sengajakan datang pagi-pagi sekadar untuk melihat sekawanan pekerja yang mulai giat membersihkan dedaunan di halaman kampus. Ah, betapa bersemangatnya mereka. Bahkan seorang tua renta pun tak mau kalah dengan kaum muda. Begitu trengginasnya ia mengayunkan kumpulan lidi itu hingga dedaunan nyaris tak terlihat lagi.

Pagi yang lengang, batinku. Tak ku dapati siapa-siapa. Siang beranjak. Satu per satu orang datang. Ada yang berjalan kaki, tak sedikit pula yang menaiki sepeda motor. Aku termangu di balik tembok dekat parkir. Seorang wanita menghampiriku. Matanya sayu, parasnya seperti paras dewi dari timur tengah, semampai, namun satu hal yang tak ku suka darinya. Wajahnya sendu, matanya sembab, dan tak ku lihat sesungging senyum di wajahnya. Wanita itu tak lain adalah kawan sekelasku. Mayuti namanya. Wanita kelahiran tanah Sunda itu adalah kesekian wanita yang membuatku tergetar tatkala bercakap dengannya. Mayuti, aku kenal dia lima tahun yang lalu. Kami berkenalan sejak pertama kali memasuki kampus ini. Entah apa yang membuat kami akrab, padahal jelas sudah perbedaan kami. Aku terlahir dari keluarga Jawa Timur, hampir berbatasan dengan pulau Bali. Aku ingat sekali ketika pertama kali bertemu dengannya, aku tak paham apa yang ia katakan, begitu pula dengan ia. Tapi latar belakang tak pernah menyurutkan kami untuk berbagi, bahkan untuk sebuah mimpi.

Aku dan Mayuti punya satu idealisme yang sama-sama kuat., membahagiakan keluarga dan orang-orang tercinta Aku kagum pada satu sosok wanita sepertinya. Sejak menjadi mahasiswa, mayuti tak pernah absen ikut kegiatan kampus. Yang membuatku heran darinya adalah keseriusuannya dalam membagi waktu dengan kuliah. Aku yang tak lain adalah mahasiswa sejati yang selalu bergelut dengan buku-buku tebal pun heran kenapa wanita sepertinya bisa melakukan hal-hal demikian. Mayuti tak pernah tahu kalau sebenarnya ada perasaan berbeda yang ku taruh padanya. Aku selalu menantikan saat yang tepat untuk ungkapkan persaaan hatiku. Mayuti bukan wanita kebanyakan yang agresif dan pandai merubah penampilan sebagai kamuflase diri, namun hatinya amat sulit aku tebak.

Mayuti selalu bercertia padaku, tentang suasana kampung halamannya, yang saat ia tinggalkan, telah tergilas modernisasi dan kebiadaban zaman. Anak-anak tak lagi senang berjemur di bawah matahari dan berbasah dalam lumpur. Mereka duduk tenang di atas sofa sambil memegang benda-benda yang dialiri listrik. Mereka berteriak-teriak, kegirangan, lalu menghabiskan lelahnya di atas kasur, dan paginya mereka berangkat ke sekolah dengan mata terkatup karena semalaman begadang. Mayuti juga tak lagi menjupai kaum muda memikul cangkul ke sawah dan ladang. Mereka lebih suka duduk-duduk di atas jembatan sambil menuntun sepeda motor barunya. Tak ia dapati lagi mereka meminum jejamuan guna memulihkan tubuh, tapi yang ada adalah kumpulan botol beralkohol dan racun. Mayuti selalu bercerita tentang kekecewaan hatinya pada tanah kelahirannya. Ia benci dengan leluhur yang telah melahirkannya di daerah itu. Dari sikapnya aku tahu, Mayuti ingin berontak, ia ingin kalahkan semua orang di desanya demi sebuah kebaikan. Tapi, aku tahu, mayuti belum kuat. Banyak hal yang perlu ia pelajari.

”Ia duduk lemas di sampingku, matanya mencoba menyimpan kebohongan bahwa hatinya sedang berkecamuk dengan bimbang.

“Kenapa? Tanyaku pelan.

“Tak ada apa-apa. Kapan kau selesaikan skripsi? Bagaimana pembimbingmu? Ia berbalik tanya, namun aku tahu, kalimat itu terlontar hanya untuk menutupi air mukanya.

“Barangkali setengah tahun lagi, Yut! Aku masih menyelesaikan tawaran kerja dari teman. Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja bukan? Tanyaku serabutan

“Tak tahu, sepertinya tak sebaik nasibmu, kawan? Matanya menerawang ke mentari yang mulai menyembul dari tempat tidurnya.

“Kau berhenti di tengah jalan? Kau urungkan cita-citamu, Yut? Tanyaku menggebu

“Waktu menjawab lain. Aku telah berkeputusan lain, dan aku tahu apa yang terbaik untuk diriku. Untuk kehidupanku.”

Mayuti beringsut pergi. Tubuhnya hilang ditelan kabut pagi yang beranjak hilang karena sinar matahari. Kata-katanya tadi membuatku merinding. Bagaimana mungkin seorang mayuti, kawan seperjuanganku yang telah bersatu janji denganku, kini menyerah pada keadaan. Mayuti tentu tahu, kenapa aku selalu membelanya ketika dulu ia sering sekali gagal ikut ujian hanya karena jarang mengikuti kuliah. Aku tahu, mayuti seorang pekerja keras, proses belajar yang ia lakoni amat berbeda dengan orang cerdas kebanyakan.  Mayuti selalu belajar dari pengalaman. Tak jarang ia melanglang buana entah kemana.

Hampir satu bulan ini mayuti tak pernah ku temui lagi. ia memilih berdiam atau menjauh dariku. Nomor ponselnya tak pernah aktif. Aku kunjungi asramanya namun tak jua kutemui dirinya. Aku hampir saja kehilangan pegangan, satu orang pergi dari sisiku, biasanya aku selalu yakin kalau ia akan kembali, tapi tidak untuk mayuti. Hati kecilku berkata, ia tak akan kembali. Aku tepis perasaan itu berulang kali, namun yang terjadi justru sebaliknya. Mayuti hilang ditelan bumi. Alamat rumah yang pernah ia beri dulu pun tak sanggup menjawab keberadaanya. Berulang kali aku kirimi surat sekedar untuk mencari tahu bagaimana keadaanya, namun surat itu kembali lagi ke tangan.

Waktu terus beranjak, ujian skripsiku terlewat sudah. Rasanya lega sekali ketika semua sudah dipersiapkan matang oleh seorang yang amat mencintai diriku. Rima, wanita inilah yang selalu memberiku semangat. Ia tak henti-hentinya berjuang untuk menggapai hatiku. Tentu dapat dibayangkan betapa beruntungnya aku. Rima tak pernah marah ataupun lelah mendampingi aku yang berwatak keras. Sering aku maki dia, sering pula aku acuhkan dirinya ketika pikiranku diliputi kacau. Tapi Rima adalah wanita Jawa yang sabar, lembut, dan mau menerima apa adanya diriku. Ia juga berasal dari keluarga berkedudukan, orang tuanya selalu memberikan apa yang ia pinta, bahkan untuk seorang yang ia cintai. Aku sendiri heran ketika ia katakan bahwa ayahnya telah menyiapakan kedudukan untukku selepas aku wisuda nanti. Rima lah yang membangunkan aku dari mimpi-mimpiku. Dari harapan hampa dan lamunan kosong yang dulu selalu berdengung di dada. Juga tentang Mayuti, gadis ku yang hilang ditelan ruang dan waktu.

“Kenapa? Kau tampak kusut masau hari ini? Rima membangunkan aku dari lamunan

“Tidak, hanya teringat seseorang”, jawabku kacau

“Laki-laki atau perempuan?”, Rima mencoba menggoda

“Perempuan. Kau ingat Mayuti?” tanyaku datar

“Iya, wanita itu selalu menganggu pikiranmu, bukan? Nada bicaranya mulai sinis dan meninggi. Tak ku jawab pertanyaan terakhir Rima. Aku tak berani katakan bahwa diam-diam aku masih mencari Mayutiku. Bahwa diam-diam aku berencara mencari Mayuti sehabis wisuda nanti. Aku tahu itu akan menyakitkan sekali jika terdengar oleh Rima. Maka aku biarkan rencana ini tak diketahui siapapun, termasuk oleh orang tua Rima.

***

Kereta itu melaju menembus rerimbunan hutan tropis di daerah Jawa bagian barat. Jurang-jurang berdiri tegak. Ada kengerian tersendiri saat kereta melintasinya. Angin menyusup perlahan lewat celah-celah jendela. Aku raba suasana di luar sana, ada sedikit bintang, dan rembulan cekung bertengger di dekatnya. Aku jadi teringat Rima, wajah Rima mirip rembulan. Matanya cekung, putih wajahnya selalu memberikan kerinduan tersendiri bagi orang yang melihatnya. Khas gadis Jawa, rambutnya terurai sebahu. Sayang, Rima tak diajari berjilbab oleh keluarganya. Lain dengan Mayuti, tubuhnya tak pernah dipamerkan pada siapapun. Meski aku tahu, dibalik pakaian itu Mayuti menyimpan keindahan yang lebih dari wanita kebanyakan. Aku mencoba kembali mengingat-ingat tentang wajahnya yang putih terlindung kerudung hitam yang selalu ia kenakan jika bertemu denganku.

Kereta itu tiba di sebuah stasiun kecil. Hanya ada beberapa orang yang turun di situ. Kedatanganku disambut riuh oleh tukang ojek dan becak yang sedari tadi nampaknya menantikan penumpang. Aku tunjukkan alamat lengkap Mayuti, lengkap dengan fotonya.

“Tahu alamat ini, Pak? Saya dari Jogja, mau cari alamat teman kuliah saya dulu.”

iye teh awewekna nyak? Logat bahasa Sunda tukang ojek ini membuatku bingung.

“Pak maaf, saya tidak paham bahasa bapak”, timpalku rikuh

“Oh maaf, sayah terbiasah keceplosan kalau samah penumpang. Benar kamu mau ke tempat ini? Tanyanya heran

“Iya, pak. Saya sudah hampir setahun tidak bertemu kawan saya. Dulu kami sama-sama kuliah di Jogja. Bapak kenal dengan wanita ini, tidak?

“Tidak kenal, tapih kalau boleh sayah tahu, kamu ke sanah samah siapah? kalau sendirian mending tidak usah sajah. Soalnya tempatnyah sepih. Malam-malam beginih mending tidur sajah dulu di sinih samah sayah.

“Kenapa harus begitu, pak? Ini kan juga masih sore. Kalau boleh saya tahu, ada apa dengan daerah ini, pak? Sepi, atau banyak perampok?

“Ah sudah, tidak usah banyak tanya lah kamu. Besok pagih sajah saya anter, separuh harga gak papah”, lelaki itu kemudian berlalu dan kembali ke kursi panjang di pinggir stasiun.

Dingin pagi membuatku menggigil. Aku ambil handuk dan bergegas ke kamar mandi dekat stasiun. Kamar mandinya kecil tak terurus. Hanya ada satu buah ember dan gayung itu pun nampaknya sudah lama tak diganti. Aku harus membayar dua ribu rupiah untuk itu. Tukang ojek yang semalam berbincang denganku telah bangun, aku hampiri dia dan memintanya untuk mengantarkan ke alamat yang akan ku tuju.

Jalanan yang ditempuh cukup jauh, sawah-sawah masih tertutup basahan embun. Kabut pun masih betah menyelimuti ruangan. Aku dekatkan tubuhku pada tukang ojek itu. Lima kilometer dari stasiun ada sebuah daerah yang berbeda dengan daerah sebelumnya. Jantungku berdegup keras, inikah rumah Mayuti? Inikah daerah yang sering ia sebut-sebut daerah bencana?

Orang-orang sudah terbangun, sedikit dari mereka sudah ada yang beraktifitas. Berbeda sekali dengan yang diceritakan Mayuti. Orang muda sudah banyak yang memanggul cangkul ke ladang, anak-anak kecil sudah mulai bergegas ke sekolah. Berkebalikan sekali dengan cerita mayuti dulu padaku.

“Pak, saya mau tanya alamat ini, bapak tahu tidak? Mayuti ini teman kuliah saya, Pak!”, tanyaku pada seorang bapak tua yang ku temui di ujung jalan desa Mayuti.

“Oh, ya Mayuti? Kamu teman Mayuti? Kok Bapak tidak pernah melihat?”

”Iya, Pak! Saya teman kuliah dia waktu di Solo dulu. Sekarang dimana Mayuti, Pak?”

”Mayuti ada di rumah Bapak. Tengoklah dia!”

Aku segera bergegas mengikuti langkah bapak tua itu. Langkahku terhenti di sebuah rumah tua. Rerimbunan pohon mangga manalagi menutupi halaman itu. Aku segera masuk dan menyalami istri bapak tua itu. Tak banyak yang mereka katakan padaku.

”Kapan kau terakhir bertemu Mayuti, Nak?”, tanya bapak tua itu sembari menghisap pipa rokoknya.

”Sudah hampir satu setengah tahun, Pak!”

”Mayuti punya banyak teman, tapi semenjak keadaannya yang sekarang, tak ada lagi yang mau bergaul dengan dia.”

”Ada apa dengan Mayuti, Pak? Dan siapa bapak ini sebenarnya?”. Aku semakin terheran dengannya.

Tak sepatah katapun ia ucapkan padaku. Diseretnya aku ke sebuah kamar yang berada paling depan dari rumah itu. Sebuah kamar, tak terlalu besar, bercat putih agak kusam. Kupandangi isi di dalamnya. Ku sapu semua ruangan, dan kudapati seonggok tubuh terduduk di ujung kamar. Matanya menerawang jauh ke luar. Wajahnya putih pucat. Lamat-lamat ku amati dia. Mayuti. Benar! Wanita itu benar-benar Mayuti. Matanya yang bulat sayu tak pernah aku lupa.

”Mayuti telah hampir setengah tahun terpenjara di sini. Bapak tak mengerti kenapa orang-orang begitu kejam pada gadis baik seperti dia”. Bapak itu bercerita sambil mengusap air matanya yang menetes perlahan di kedua matanya.

”Mayuti tak tahan dengan perlakuan orang-orang yang tak suka dengannya. Ia lelah menghadapi kenyataan hidup yang tak sesuai dengan impiannya.”, tambahnya.

”Mayuti salah apa, Pak? Apa yang ia lakukan sampai semua jadi seperti ini?”

Aku hampir tak kuasa menahan tangisku.

”Mayuti banyak berjuang untuk desa ini. Mayuti tahu apa yang diharapkan oleh desa yang hampir mati ini!”

Bapak itu terus bercerita sambil sesekali menyeka air matanya. Mayuti benar-benar telah melakukan apa yang ia cita-citakan. Bahkan lebih dari yang aku bayangkan. Mayuti telah berhasil membuat pemuda sadar sebagai manusia. Mayuti banyak melakukan perubahan di desa. Ia dirikan taman bacaan, ia adakan perkumpulan kegiatan untuk para pemuda.

Kebaikan memang sulit untuk diperjuangkan. Mayuti dianggap menghasut pemuda untuk memboikot pemimpin desa yang tak suka dengan perubahan. Mayuti sering difitnah, sering diancam. Bahkan, ayah Mayuti yang sudah berpenyakit paru-paru sejak lama pun akhirnya tak kuat menahan terpaan anacaman dan cerca dari masyarakat. Ayah Mayuti meninggal dan disusul ibunya yang juga tak kuat menahan kepergian suaminya dua bulan kemudian.

Aku benar-benar tak mempercayai kenyataan yang menimpa Mayuti, seseorang yang telah lama bersemayam di hatiku. Mayuti yang ku kenal gigih sekarang hanya meratapi hidupnya yang kosong. Bapak tua itulah yang masih mau mengurus Mayuti dan memperbolehkannya tinggal di rumahya. Bapak tua itu tahu, Mayuti hanya seorang gadis polos tapi berpendidikan, yang berusaha mengembalikan desanya seperti sedia kala, meskipun dengan tentangan dari berbagai pihak.

Hampir satu bulan aku sengaja tinggal di rumah bapak tua. Untuk apa? Aku berharap Mayuti sadar bahwa aku telah datang untukya. Tapi kenyataan lain. Mayuti tak jua sadar. Ia tak lagi mau makan. Badannya kian kurus. Hingga akhirnya, ia tak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya. Mayuti menghadap ilahi.

Aku pun pulang dengan membawa mimpiku yang aku titipkan untuk Mayuti. Aku memang tak bisa memiliki Mayuti, tapi aku bangga bisa menyaksikan saat-saat terakhir hidupnya. Mimpi Mayuti benar-benar terwujud. Orang-orang desanya telah ia buat sadar, meski dengan taruhan nyawa Mayuti sendiri. Kepulanganku dari rumah Mayuti benar-benar membuatku sadar, betapa cinta itu memang benar adanya. Aku telah merelakan kepergiannya. Sekarang tibalah aku melanjutkan hidupku, bersama Rima, seseorang yang tentu telah menantiku sekian lama.

Rupanya takdir juga berkata lain terhadapku. Rima telah menikah dengan seseorang yang ia pilih. Rima tak tahan dengan segala perlakuanku yang selalu mengacuhkan dirinya. Ia menikah denga persetujuan orang tua. Aku tak bisa menyalahkan atau mencaci Rima karena akulah yang pertama kali memulai. Aku tak pernah mencintai dia seperti aku mencintai Mayuti. Aku selalu membadingkan Rima dengan Mayuti.

Kutatap pagi yang berkabut hari ini. Ada yang lain. Mimpiku telah hilang disapu pagi. Semalam aku bermimpi apa sebenarnya?

*******

Solo, 18 Mei 2009

April 12, 2010 Posted by | Bahasa | Tinggalkan komentar

jurnal Skripsi Penelitian Tindakan Kelas

PENGGUNAAN MEDIA IKLAN LAYANAN MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MENULIS PERSUASI PADA SISWA KELAS X-1 SMA NEGERI I MOJOLABAN

(Penelitian Tindakan Kelas)[1]

Oleh:

Ari Setyaningsih            Drs. Swandono,  M. Hum.        M. Rohmadi, S. S., M. Hum.

ABSTRACT

The approach of this research is a classroom action research. The subject of the research is the students of SMA N I Mojolaban class X-1. The aims of the research are; (1) to improve the quality of teaching process of writing persuasion by using media public service advertising of class X-1 of SMA N I Mojolaban, (2) to improve the quality of students’ writing persuasion by using media public service advertisement of the class X-1 of SMA N I Mojolaban. The technique of collecting data is conducted through the observation, writing test, questionare, interview, and document analysis. Each cycle consist of four steps; (1) planning the action, (2) the action, (3) the observation and interpretation, (4) the analysis and reflection. The improvement of quality of result study is going on the process and the students’ writing persuasion. The percentage of the completion of the study is increasing from one cycle to the next cycle, that’s, 55 % I cycle 1, 97 % in cycle 2, and 100 % in cycle 3.

Keyword: media, public service advertising, writing, persuasion.

Pendahuluan

Selama ini pembelajaran menulis di sekolah belum mendapat tempat yang cukup. Pembelajaran menulis di sekolah hanya mendapat porsi waktu yang sedikit dibandingkan dengan pembelajaran kebahasaan lainnya. Selain itu, guru hanya berorientasi untuk melihat hasil tulisan siswa tanpa membelajarkan proses menulis pada siswa. Akhirnya, tujuan pembelajaran menulis hanya mengarah pada pencapaian kemampuan menulis siswa. Dengan kata lain, siswa hanya dituntut untuk cerdas secara intelektual. Hal inilah yang menjadikan menulis sebagai suatu beban (Ari Kusmiatun, 2005).

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Achmad Alfianto (2006) bahwa kegiatan belajar-mengajar belum sepenuhnya menekankan pada kemampuan berbahasa namun lebih pada penguasaan materi. Hal ini terlihat dari porsi materi yang tercantum dalam buku paket lebih banyak diberikan dan diutamakan oleh para guru Bahasa Indonesia, sedangkan pelatihan berbahasa yang sifatnya lisan ataupun praktik hanya memiliki porsi yang jauh lebih sedikit.

Menurut Bobbi De Porter (dalam Didik Komaidi, 2007: 29) menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Jadi, tulisan yang baik memanfaatkan kedua belahan otak tersebut. Dorongan untuk menulis sama dengan dorongan untuk berbicara. Hal ini dimaksudkan agar pikiran dan pengalaman kita dapat dikomunikasikan dan diketahui oleh orang lain. Menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan dalam lambang-lambang bentuk bahasa (M. Atar Semi, 1990: 8).

Pembelajaran menulis ini tidak lepas dari peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, dilaporkan bahwa guru merupakan faktor determinan penyebab rendahnya mutu pendidikan di suatu sekolah. Penelitian yang dilakukan International Association for the Evaluation of Education Achievement (2006) menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara tingkat penguasaan guru terhadap bahan yang diajarkan dengan pencapaian prestasi para siswanya. Penguasaan meteri tersebut sebenarnya dapat ditunjang oleh beberapa faktor sehingga tingkat penguasaan materi meningkat.

Berdasarkan kenyataan di lapangan, kemampuan menulis, terutama tulisan jenis persuasi siswa kelas X-1 SMA N 1 Mojolaban masih rendah. Dari hasil pengamatan, keaktifan siswa dalam pembelajaran menulis hanya mencapai 12 % (5 orang, dari 38 siswa yang hadir). Hal ini terjadi karena siswa tidak mempunyai kegairahan menulis dan guru lebih menekankan pada teori tentang menulis dengan metode ceramah. Nilai ketuntasan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia (65) yang ditetapkan sekolah hanya dicapai oleh 8 siswa dan nilai rata-rata kelas hanya mencapai 57,18 dari keseluruhan siswa yang hadir (38).

Untuk mengatasi masalah pembelajaran menulis persuasi, salah satu media yang dapat digunakan adalah media layanan masyarakat atau yang dikenal dengan Public Service Advertising. Iklan ini biasanya dikeluarkan oleh instansi, badan, atau departemen, misalnya iklan budaya membaca oleh Departemen Pendidikan Nasional dan iklan bahaya merokok oleh Departemen Kesehatan. Bentuk iklan layanan masyarakat dapat berupa poster, drama, film, musik, maupun kalimat yang mengarahkan pemirsa atau khalayak kepada sasaran agar berbuat atau bertindak seperti dianjurkan iklan tersebut.

Melalui penggunaan media iklan layanan masyarakat siswa akan menemukan poin-poin penting karena dalam iklan tersirat permasalahan, upaya penanggulangan, beserta pernyataan yang bersifat mempengaruhi pembaca/pemirsanya. Dari iklan ini siswa juga dapat menangkap pesan-pesan moral yang bersifat mendidik serta relevan dengan kondisi di sekitar siswa. Hal ini akan memberi dampak yang baik bagi kepekaan siswa terhadap masalah yang sedang terjadi di sekitar mereka.

Bertolak dari latar belakang masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis persuasi pada siswa kelas X.1 SMA N 1 Mojolaban, 2) meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis persuasi pada siswa kelas kelas X.1 SMA N 1 Mojolaban.

Kajian Literatur

Nurudin (2007: 4) mengemukakan bahwa menulis adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami. Menurut Bobbi De Porter (dalam Didik Komaidi, 2007: 29) menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika).

Menurut Hanim (2006) disebutkan bahwa menulis adalah sebuah proses yang dapat dikembangkan kemampuan dalam berpikir dinamis, kemampuan analitis, dan kemampuan membedakan berbagai hal secara akurat dan valid. Menulis bukan hanya sebuah cara untuk mendemonstrasikan hal yang telah diketahui, lebih dari itu menulis adalah cara untuk memahami hal yang telah diketahui tersebut. Selanjutnya, disebutkan pula bahwa menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh proses belajar yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Menulis memerlukan keterampilan karena diperlukan latihan-latihan yang berkelanjutan.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan gagasan, ide, atau pikiran ke dalam tulisan. Melalui tulisan tersebut segala pesan ataupun maksud dari penulis akan dapat dipahami oleh pembaca.

Persuasi adalah suatu bentuk wacana yang menyimpang dari argumentasi dan khusus berusaha mempengaruhi orang lain (para pembaca atau pendengar) agar melakukan sesuatu bagi orang yang mengadakan persuasi (Gorys Keraf, 1995: 14). Dalam buku lain, Gorys Keraf mengartikan persuasi sebagai suatu seni verbal yang bertujuan meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang (Gorys Keraf, 2000: 18).

Nurudin (2007: 82) menyatakan bahwa melalui persuasi, seseorang penulis mencoba mengubah pandangan pembaca tentang sebuah permasalahan tertentu. Penulis mempersembahkan fakta dan opini yang bisa didapatkan pembacanya untuk mengerti, menggapai sesuatu itu adalah benar, salah, atau di antara keduanya. Tajuk rencana, iklan berbentuk advetorial, surat pembaca dalam surat kabar dan majalah, dan naskah pembicaraan politik adalah contoh tulisan persuasif.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa persuasi  hampir sama dengan argumentasi. Persuasi merupakan jenis wacana yang bersifat mempengaruhi dan meyakinkan pembacanya dengan cara memberikan data dan alasan yang logis.

Media adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pebelajar untuk menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dengan pengertian itu, guru atau dosen, buku ajar, dan lingkungan adalah media. Setiap media merupakan sarana untuk menuju ke suatu tujuan. Di dalamnya terkandung informasi yang dapat dikomunikasikan kepada orang lain (Sri Anitah, 2008: 11)

Arif S. Sadiman, dkk.(2007: 7) juga memberi batasan mengenai media. Menurutnya, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat, serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu baik benda maupun lingkungan yang dapat digunakan oleh guru sebagai pengajar untuk menyampaikan pesan berupa bahan ajar atau meteri yang akan disampaikan pada siswa.

Bermacam-macam media dapat digunakan sebagai sarana penunjang pembelajaran. Menurut Sri Anitah (2008: 12), secara umum ada tiga klarifikasi media pembelajaran, antara lain sebagai berikut.

1.  Media visual, yang terdiri dari:

a.  media visual yang tidak diproyeksikan, antara lain: gambar diam, karikatur, poster, bagan, grafik, peta, bagan, papan, dan diagram;

b. media visual yang diproyeksikan, antara lain: OHP, film bingkai (slide), filmstrip (film rangkai), dan opaque projektor.

2.  Media audio, antara lain: program wicara, wawancara, diskusi, buletin   berita, drama audio, dan lain-lain.

3.  Media audio visual, antara lain: televisi, video, film, slide suara.

Beberapa penggolongan media pembelajaran di atas sekiranya hampir sama. Masing-masing pakar menyederhanakan jenis media pembelajaran menjadi; 1) media visual (ditangkap dengan indera penglihatan); 2) media audio (ditangkap dengan indera pendengar); dan 3) media audio visual (ditangkap dengan indera pendengar dan penglihat).

Media pembelajaran tentunya memiliki manfaat bagi proses pembelajaran. Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001: 153), secara khusus media pembelajaran digunakan dengan tujuan: 1) memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut karakteristik bahan, 2) memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk belajar, 3) menumbuhkan sikap dan keterampilan tertentu dalam teknologi karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu.

Curzon (dalam Abdelraheem dan Al-Rabane, 2005: 2) menjelaskan bahwa media pembelajran di kelas dapat memperlebar saluran komunikasi antara guru dengan murid. Media menumbuhkan kemampuan tertentu dalam pembelajaran dan mempertinggi kecakapan intelektual dan kecakapan gerak. Penggunaan media memungkinkan guru untuk menghadirkan banyak fenomena fisik dan isu-isu dengan mudah, serta menarik siswa untuk fokus dalam memperhatikan karakter objek yang disajikan.

Dengan demikian, dapat diambil simpulan bahwa kegunaan dan manfaat media pembelajaran adalah membantu guru dalam mengajarkan pesan atau materi ajar dengan mudah kepada peserta didik sehingga dapat memahami dan menguasai pesan-pesan tersebut dengan tepat dan akurat. Selain itu, media juga bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti penjelasan dari guru.

Menurut Thomas Wibowo Agung Sutjiono (2005) secara operasional ada sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat, antara lain sebagai berikut.

1. Acces, yaitu pertimbangan kemudahan dan ketersediaan media yang diperlukan.

2.  Cost, yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk menyediakan media.

3. Technology, yaitu kemudahan dan ketersediaan teknisi yang mengoperasikannya.

4. Interactivity, yaitu media yang memunculkan komunikasi dua arah/ interaktivitas.

5. Organization, yaitu daya dukung atau sarana dari pihak kantor/institusi yang bersangkutan.

6. Novelty, yaitu kebaruan dari media yang dipilih. Media yang lebih baru akan lebih baik dan menarik bagi murid.

Pembelajaran merupakan situasi yang memungkinkan terjadinya kegiatan belajar dan terjadi interaksi antara siswa dengan guru (Gino, dkk., 1998: 30). Discroll (dalam Siemens, 2005: 4) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu perubahan yang permanen dalam potensi tingkah laku yang berasal dari hasil pengalaman pebelajar dan interaksi dengan dunia. Batasan tersebut memberikan pengertian bahwa pembelajaran tidak terbatas di dalam ruang saja tetapi juga dapat diselenggarakan di luar kelas bahkan luar sekolah.

Dari pengertian tersebut dapat diambil simpulan bahwa pembelajaran merupakan satu kesatuan integral yang terjadi dalam kelas antara guru dengan siswa. Hal ini berarti, pembelajaran memerlukan komunikasi. Komunikasi tersebut dapat terjadi di dalam kelas maupun luar kelas.

Rhenald Kasali (1995: 201) menyatakan bahwa iklan layanan masyarakat (ILM) merupakan iklan yang tidak semata-mata mencari keuntungan. Dalam iklan tersebut disajikan pesan-pesan sosial yang dimaksudkan untuk membangkitkan kepedulian amsyarakat terhadap sejumlah masalah yang harus mereka hadapi, yakni kondisi yang bisa mengancam keserasian dan kehidupan umum.

Senada dengan pengertian tersebut, Moore (2007: 255) iklan layanan masyarakat merupakan iklan yang dikeluarkan oleh bidang Humas dari sebuah organisasi atau institusi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan publik eksternal dan internal. Periklanan semacam ini dapat mempromisikan ketertiban lalu lintas, hubungan antarras yang lebih baik, kesempatan kerja yang sama, program ekologi, pencegahan kebakaran hutan, kesegaran jasmani, dan tujuan-tujuan lain untuk kebaikan masyarakat.

Sejumlah masalah yang sangat merisaukan dan dapat disampaikan lewat iklan layanan masyarakat, antara lain masalah kebakaran hutan dan penebangan hutan secara liar, kesadaran yang masih rendah di kalangan produsen untuk memasang peralatan untuk mencegah bahaya polusi, kriminalitas, mutu lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi serta minat menjadi tenaga pengajar, penyalahgunaan narkotika, korupsi, penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, pentingnya bahasa Inggris dalam pergaulan internasional, produk-produk yang tidak bermutu dan membahayakan umum, perkelahian antarpelajar, dan lain sebagainya (Rhenald Kasali, 1995: 206).

Dengan melihat permasalahan yang dapat diiklankan melalui iklan layanan masyarakat, dapat diketahui bahwa iklan layanan masyarakat berusaha mempengaruhi masyarakat agar mau melihat keadaan sekitarnya, bahwa masih banyak ketimpangan-ketimpangan sosial yang harus dibenahi demi keteraturan dan keseimbangan lingkungan. Ada tiga hal pokok yang dapat dilihat dengan munculnya iklan layanan masyarakat, antara lain: (1) menggugah kesadaran pemirsa untuk berbuat sesuatu, (2) isi pesannya bersifat umum, (3) isi pesannya menggunakan kata imbauan atau anjuran.

Berkaitan dengan media pembelajaran, iklan layanan masyarakat dapat digunakan sebagai media pembelajaran menulis, khususnya menulis persuasi yang bersifat mengajak dan mempengaruhi pembaca atau pemirsa. Hal ini sejalan dengan sifat iklan yang berusaha mempengaruhi dan membujuk pembaca atau pemirsanya. Oleh karena itu, iklan layanan masyarakat tepat digunakan sebagai media pembelajaran menulis persuasi. Apabila dibandingkan dengan iklan jenis lain, iklan layanan masyarakat mempunyai lebih banyak kelebihan. Iklan layanan masyarakat mempunyai tema-tema yang menarik dan dapat dijadikan kerangka oleh siswa ke dalam sebuah tulisan persuasi. Tema tersebut kemudian dapat dikaitkan dengan fenomana/masalah yang ada di sekitar siswa.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 1 Mojolaban. Sekolah ini beralamat di Jalan Batara Surya No. 10, Wirun, Mojolaban, Sukoharjo. Tahap persiapan sampai pada tahap pelaporan hasil penelitian dilaksanakan selama 5 bulan, yakni mulai bulan Desember 2008 sampai dengan April 2009.

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-1 SMA N 1 Mojolaban tahun ajaran 2008/2009. Adapun jumlah siswa di kelas ini adalah 38 siswa dan objek penelitian berupa pembelajaran menulis persuasi di kelas X-1.

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Prinsip utama dalam PTK adalah adanya pemberian tindakan yang diaplikasikan dalam siklus-siklus yang berkelanjutan. Siklus yang berkelanjutan tersebut digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis. Dalam siklus tersebut penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planning) (Suharsimi Arikunto, dkk., 2007: 104). Tahap berikutnya adalah pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Keempat aspek tersebut berjalan secara dinamis. PTK merupakan penelitian yang bersiklus. Artinya, penelitian ini dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.

Penelitian ini menggunakan tiga sumber, yaitu: 1) tempat dan peristiwa, yaitu proses pembelajaran menulis persuasi yang terjadi di kelas X-1 Mojolaban, 2) informan, meliputi siswa kelas X.1 dan guru Bahasa Indonesia yang mengajar di kelas tersebut, 3) dokumen, meliputi: iklan layanan masyarakat, nilai siswa, foto-foto pembelajaran, catatan lapangan hasil observasi selama proses pembelajaran, hasil belajar siswa berupa tulisan persuasi, dan catatan lapangan hasil wawancara yang telah ditranskrip.

Teknik pengumpulan data adalah dengan teknik: 1) observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan proses pembelajaran menulis persuasi untuk melihat perkembangan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan, 2) wawancara, yaitu dilakukan terhadap guru mata pelajaran Bahasa Indonesia serta siswa kelas X.1 SMA N 1 Mojolaban, 3) tes, yaitu dengan memberikan tugas kepada siswa untuk menulis persuasi sebelum dan sesudah tindakan penggunaan media iklan layanan masyarakat guna mengetahui perbedaan dan perkembangan atau keberhasilan pelaksanaan tindakan, 4) angket, yaitu dengan cara meminta informan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian yang digunakan, 5) analisis dokumen, yaitu dengan menganalisis dokumen yang telah didapatkan dari hasil observasi.

Untuk menguji kevaliditasan data maka digunakan teknik triangulasi data, yang meliputi: 1) triangulasi metode, yaitu teknik untuk menguji kebenaran dengan membandingkan data yang diperoleh dari hasil observasi dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara, 2) triangulasi sumber data, yaitu teknik yang digunakan untuk menguji kebenaran dengan mengacu kebenaran data yang diperoleh dari satu informan dengan informan lain. Pada penelitian ini peneliti menggunakan sumber data dokumen yang berupa foto pembelajaran dan catatan lapangan, 3) triangulasi teori, yaitu teknik yang digunakan dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas masalah yang dikaji.

Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif yang ditempuh dengan cara: 1) pengumpulan data, yaitu mengumpulkan semua data dari penelitian, 2) reduksi data, yaitu proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi pengelompokan dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna, 3) paparan data, yaitu suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam paparan naratif, grafik, atau bentuk lainnya, 4) penyimpulan, yaitu pengambilan intisari dari sajian data yang telah diorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat, dan bermakna (Milles dan Huberman dalam H. B. Sutopo, 2002: 96).

Dalam pelaksanaan PTK ini, mekanisme kerjanya diwujudkan dalam bentuk siklus (3 siklus), yang setiap siklusnya tercakup 4 kegiatan, yaltu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus, yang setiap siklusnya selalu dilakukan perbaikan untuk menyempurnakan tindakan selanjutnya.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dari tindakan yang telah dilakukan dalam tiga siklus, ditemukan adanya peningkatan kualitas hasil maupun kualitas proses pembelajaran. Secara rinci diuraikan dalam paparan berikut.

1. Siklus I

Pada siklus I iklan layanan masyarakat berupa poster yang bertema ”Larangan Merokok. Pada pertemuan pertama siswa menyusun karangan persuasi berdasarkan tema iklan layanan masyarakat tersebut. Pertemuan kedua pada siklus I, guru memfokuskan pada kegiatan menyunting tulisan yang telah dibuat siswa. Setelah mengawali pelajaran dengan penguatan materi menulis persuasi, siswa menyunting hasil tulisan teman sebangkunya. Guru juga menentukan aspek-aspek penyuntingan yang harus dijadikan menyunting bagi siswa. Selanjutnya, siswa merevisi dengan menuliskan kembali tulisan yang telah disunting teman sebangkunya.

Secara lebih rinci, observasi yang telah dilakukan mendapatkan beberapa hal sebagai berikut

  1. Siswa yang aktif selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung sebesar 63 %. Hal ini dilihat dari aktifitas siswa dalam memperhatikan apersepsi dan penjelasan guru, mengamati iklan layanan masyarakat dengan saksama, aktif dalam diskusi, dan aktif mengembangkan kerangka karangan ke dalam tulisan persuasi. Penghitungan tersebut berpedoman pada lembar observasi yang telah disusun terhadap jumlah siswa yang tampak aktif selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, yaitu sebanyak 22 siswa. Siswa yang kurang aktif umumnya berada di bagian belakang dan dekat tembok. Mereka tampak kurang memerhatikan dan bercanda dengan teman sebangku.  Hal ini disebabkan guru terlalu sering berada di depan kelas sehingga siswa bagian belakang merasa kurang diperhatikan (lihat lampiran 10, halaman 130).
  2. Siswa yang mampu mengembangkan ide ke dalam tulisan persuasi mencapai 19 % (7 siswa). Hal ini diamati dari hasil tulisan persuasi siswa. Tulisan yang ide dikembangkan dengan dengan baik dilihat dari segi substansi yang cukup, sesuai dengan tema yang diiklankan, menarik, dan mempu mempengaruhi pembaca.
  3. Berdasarkan tugas individu menulis persuasi dapat diidentifikasi bahwa 55 % (20 siswa) mendapat nilai di atas batas ketuntasan yang ditentukan (65). Berdasarkan hasil observasi, penggunaan media iklan layanan masyarakat dengan poster kurang menarik karena poster tersebut kurang baik dari segi cetakannya dan beberapa tulisan tidak tertera dengan jelas. Selain itu, poster tidak dapat bergerak sehingga terkesan monoton untuk dilihat.
  4. Berdasarkan nilai rata-rata kelas, dibandingkan dengan rata-rata pada saat pretes, terjadi peningkatan sebesar 5,1 poin dari 57, 18 menjadi 62, 28. Hal ini juga terjadi karena pada saat pretes, masih ada  beberapa siswa yang belum mampu menulis persuasi dengan benar. Sebagian besar masih menulis argumentasi dan eksposisi. Pada siklus I hampir semua siswa sudah mampu menemukan karakteristik tulisan persuasi meskipun ada yang masih belum tuntas dalam mengolah ide. Adapun nilai tertinggi pada siklus I adalah 86, sedangkan nilai terendah adalah 49.

2. Siklus II

Pada siklus II, guru menampilkan iklan layanan masyarakat dalam bentuk video dengan tema ”Helm Standar”. Hal ini disebabkan pada siklus I, media poster bersifat monoton jika dilihat. Dalam video terdapat gambar dan suara sehingga siswa tidak bosan mengamatinya. Seusai memutarkan iklan dalam layar proyektor LCD, guru memberikan sedikit ulasan dan memberi umpan balik dengan menggali pengalaman siswa yang berkaitan dengan helm standar dalam kehidupan sehari-hari. Siswa lebih banyak yang memberikan respon terhadap umpan yang dilontarkan guru. Untuk menyegarkan suasana, guru kembali memutarkan iklan tersebut dan meminta siswa mempersuasikan ilustrasi iklan tersebut dalam sebuah paragraf.

Secara lebih rinci, observasi yang telah dilakukan mendapatkan beberapa hal berikut ini.

  1. Keaktifan siswa selama pembelajaran menulis persuasi mencapai  70 %. Hal ini diindikasikan oleh hal-hal yang disebutkan di atas. Penghitungan dilakukan dengan lembar observasi yang telah disusun terhadap jumlah siswa yang tampak aktif selama pembelajaran berlangsung, yaitu sebanyak 27 siswa.
  2. Kemampuan siswa dalam mengembangkan ide ke dalam tulisan persuasi mencapai 94 %. Hal ini diamati dari hasil pekerjaan siswa berupa tulisan persuasi dan dihitung dari jumlah siswa yang mampu mengembangkan ide tulisan dengan baik, yaitu sebanyak 36 siswa.
  3. Ketuntasan hasil belajar menulis persuasi mencapai 97 %. Hal ini terlihat dari hasil kerja siswa berupa tulisan persuasi dan dihitung dari jumlah siswa  yang memperoleh nilai 65 ke atas, yaitu sebanyak 35 siswa. Nilai tertinggi siswa, yaitu 93 dan nilai terendah 64. Dalam siklus ini, peningkatan nilai rata-rata kelas terjadi sebesar 16,4 poin, yaitu dari 62,28 menjadi 78,68.

Beberapa kelemahan yang terlihat oleh guru dalam pelaksanaan tindakan siklus II, antara lain guru masih kurang dapat mengondisikan siswa. Pada saat penayangan video guru tidak menepati waktu yang ditentukan. Saat siswa sudah berada di kelas, guru masih mempersiapkan LCD. Guru juga belum mengondisikan siswa untuk tertib di tempat duduk masing-masing.

Dari segi hasil tulisan, siswa sudah mulai  mencantumkan judul karangan dan semua tulisan sudah mengacu pada permasalahan yang diangkat dalam iklan layanan masyarakat. Selain itu, kesalahan penggunaan ejaan dan konjungsi dalam kalimat sudah mulai berkurang. Adapun respon siswa terhadap tindakan pada siklus II adalah siswa menyukai media yang digunakan guru. Berdasarkan wawancara tidak berstruktur dengan siswa seusai pembelajaran, mereka mengatakan bahwa visualisasi video menarik karena terdapat gambar dan suara di dalamnya. Tema yang dipilih juga menarik karena dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini membuat mereka menjadi bergairah untuk menulis.

Berdasarkan analisis di atas, peneliti dapat menarik beberapa pernyataan sebagai refleksi untuk tindakan berikutnya. Refleksi tersebut, antara lain sebagai berikut.

  1. Pelaksanaan pembelajaran menulis persuasi memerlukan media iklan dengan tema yang dekat dengan dunia siswa. Dengan adanya tema tersebut siswa mudah tergali pengalamannya sehingga hasil tulisan lebih berisi.
  2. Guru hendaknya tetap mempertahankan teknik pengelolaan kelasnya, yaitu dengan memberikan seluruh perhatian pada siswa. Pemberian motivasi dari guru terbukti telah dapat meningkatkan kegairahan siswa dalam menulis. Hal ini dapat diamati dari lembar obsevasi yang telah disusun.
  3. Penekanan materi mengenai penggunaan ejaan dan tata tulis yang diberikan pada siklus II meminimalkan kesalahan tulisan siswa. Kemampuan siswa dalam menempatkan tanda baca terbukti lebih baik dengan adanya bimbingan guru selama menulis dan menyuting.

3. Siklus III

Pada tindakan siklus III, guru menampilkan iklan layanan masyarakat dalam bentuk video dengan tema ’’Membaca’’. Tema ini juga dipilih karena amat dekat dengan dunia siswa. di layar proyektor LCD, guru dan siswa mengulas dan mendiskusikan iklan yang telah ditampilkan. Guru kemudian memberikan sedikit informasi tambahan mengenai tema yang diangkat dalam iklan. Kegiatan berikutnya, yaitu  siswa menyusun kerangka karangan dan mengembangkannya dalam tulisan persuasi.

Pada siklus III guru lebih banyak memberikan motivasi dan semangat pada siswa agar bergairah dalam menulis. Hasil pekerjaan siswa pada siklus II dijadikan pedoman agar kesalahan tidak terjadi lagi pada paragraf yang dibuat pada siklus III ini. Karena alokasi waktu pelajaran akan segera habis, guru meminta siswa untuk membaca dan mengecek kembali tulisan yang telah disusun, terutama dari segi ejaan, judul, tanda baca, dan konjungsi.

Secara lebih rinci, observasi yang dilakukan peneliti menghasilkan beberapa hal berikut ini.

  1. Keaktifan siswa selama pembelajaran menulis persuasi mencapai 80 %. Hal ini ditandai oleh hal-hal yang telah disebutkan di atas. Penghitungan dilakukan dengan lembar observasi yang telah disusun terhadap jumlah siswa yang tampak aktif selama pembelajaran berlangsung, yaitu sebanyak 29 siswa. Siswa yang tampak pasif lebih berkurang dari siklus sebelumnya. Hal ini disebabkan guru telah mampu mengondisikan kelas dan memposisikan diri dengan baik. Guru lebih fleksibel dan sering berkeliling untuk membimbing siswa dalam proses menulis.
  2. Kemampuan siswa dalam mengembangkan ide ke dalam tulisan persuasi mencapai 97 %. Hal ini diamati dari hasil kerja siswa berupa tulisan persuasi dan dihitung dari jumlah siswa yang mampu menulis persuasi dengan benar, yaitu sebanyak 35 siswa.
  3. Ketuntasan hasil belajar menulis persuasi mencapai 100%. Hal ini terlihat dari hasil kerja siswa  berupa tulisan persuasi dan dihitung dari jumlah siswa yang mencapai nilai 65 ke atas.

Dilihat dari segi tulisan persuasi siswa, tindakan pada siklus III ini dapat dikatakan berhasil. Hal ini terbukti dengan tuntasnya semua siswa dalam menulis persuasi. Dilihat dari segi hasil pembelajaran, semua siswa dapat mencapai batas ketuntasan minimal, hal ini terlihat dari skor tulisan mereka yang mencapai skor 65 ke atas. Keberhasilan juga dapat dilihat dari tercapainya beberapa indikator yang telah ditetapkan. Seluruh siswa sudah mampu mencapai batas ketuntasan belajar. Oleh karena itu, penelitian dipandang cukup untuk dilaksanakan.

Dari ketiga siklus tindakan yang telah dilakukan tersebut, penggunaan media iklan layanan masyarakat dapat menghasilkan hal-hal berikut.

1. Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran Menulis Persuasi

Tindakan berupa penggunaan media iklan layanan masyarakat yang dilakukan tiap siklus dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis persuasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001: 153) bahwa media pembelajaran bertujuan: (1) memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut karakteristik bahan, (2) memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk belajar, dan (3) menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan peserta didik.

2. Peningkatan Kemampuan Guru dalam Mengelola Kelas

Dengan adanya media iklan layanan masyarakat terbukti guru dapat mengelola kelas dengan baik dibandingkan saat survei awal. Hal ini sependapat dengan Arif S. Sadiman, dkk. (2007: 17) yang menyatakan bahwa media pembelajaran mempunyai manfaat; memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka), mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, menimbulkan kegairahan belajar, memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan, dan memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya. Selain itu, media juga dapat memberikan perangsang yang sama, mempersamakan pengalaman dan  menimbulkan persepsi yang sama.

3. Peningkatan Kualitas Hasil Pembelajaran Menulis Persuasi

Setelah diadakan tindakan selama 3 siklus, ditemukan bahwa tulisan siswa mengalami meningkatan dari segi karakteristik tulisan, substansi, struktur kalimat, dan ejaan. Dari segi karakteristik, tulisan siswa sudah mengarah pada jenis persuasi. Dari segi substansi, tulisan siswa sudah sesuai dengan tema yang terdapat dalam iklan layanan masyarakat. Dari segi struktur kalimat, siswa sudah mampu menempatkan konjungsi pada tempatnya. Dari segi ejaan, siswa sudah tidak banyak melakukan kesalahan dalam hal penempatan tanda baca dan huruf kapital.

Dengan melihat kalimat/slogan maupun visualisasi gambar yang tertera pada iklan, siswa mampu mengumpulkan data untuk dijadikan bahan tulisan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sabarti Akhadiah, dkk. (1994: 7) bahwa topik yang menarik akan meningkatkan kegairahan dalam mengembangkan tulisan. Dengan pemilihan tema iklan yang menarik dan dikenal, siswa menjadi bergairah dalam mengembangkannya dalam paragraf persuasi.

Media iklan layanan masyarakat yang berupa poster dan video membantu siswa dalam menyusun alur kerangka berpikir. Poster mengandung unsur gambar dan kalimat yang mengarahkan siswa pada masalah yang diiklankan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sri Anitah (2008: 18) bahwa poster berfungsi sebagai penggerak perhatian. Dengan gambar yang singkat dan tulisan yang sederhana, isi poster sudah dapat dimengerti maksudnya. Selain itu, poster juga menimbulkan daya tarik jika berwarna, menimbulkan daya tarik dengan maksud menjangkau perhatian, dan mengubungkan pesan-pesannya dengan cepat.

Sementara itu, iklan dalam bentuk video dapat menghasilkan efek suara dan gambar yang bergerak. Hal ini amat membantu siswa dalam mengimajinasikan pesan yang terdapat dalam video sekaligus membuktikan pendapat Arif S. Sadiman, dkk. (2007: 74) bahwa video dapat menarik perhatian untuk periode-periode yang singkat dari rangsangan luar lainnya. Selain itu, demonstrasi yang sulit bisa dipersiapkan dan direkam sebelumnya sehingga pada waktu mengajar guru bisa memusatkan perhatian pada penyajiannya.

Peningkatan kualitas hasil pembelajaran menulis persuasi dapat dilihat dari nilai hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Pembelajaran menulis persuasi dengan menggunakan media iklan layanan masyarakat dapat meningkatkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai ketuntasan belajar siswa yang telah ditentukan guru. Pada siklus I persentase ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 55 % ( 20 siswa dari 36 siswa). Peningkatan tersebut terus meningkat pada siklus berikutnya. Peningkatan secara signifikan terjadi pada siklus II, yaitu sebesar 97 % (37 siswa dari 38 siswa) mampu mencapai batas ketuntasan belajar. Pada siklus III 100 % (semua siswa yang hadir) mampu mencapai ketuntasan belajar (nilai di atas 65). Pernyataan secara rinci dapat dilihat dari persentase peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis persuasi berikut ini.

Tabel 1. Persentase Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Pembelajaran Menulis Persuasi

No. Aktivitas Siswa Persentase
Siklus I Siklus II Siklus III
1. Keaktifan siswa selama proses pembelajaran 63 % 70 % 80 %
2. Kemampuan siswa dalam mengembangkan ide tulisan persuasi 19 % 94 % 97 %
3. Ketuntasan hasil belajar siswa 55 % 97 % 100 %

Berdasarkan data rekapitulasi di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pada indikator yang ditetapkan dari hasil pelaksanaan tindakan siklus I, Siklus II, dan siklus III. Peningkatan yang signifikan terjadi pada indikator ke dua, yaitu dari segi pengembangan ide ke dalam tulisan persuasi. Peningkatan yang tajam mencapai 75 poin pada siklus I ke siklus II. Peningkatan tersebut disebabkan siswa sangat akrab dengan tema iklan yang dipilih guru.

Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan hal-hal berikut ini.

1. Penggunaan media iklan layanan masyarakat dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis persuasi pada siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Mojolaban. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan proses pembelajaran sebagai berikut: (a) jumlah siswa yang aktif dalam kegiatan apersepsi terus mengalami peningkatan dari siklus ke siklus, yaitu 53 % pada siklus I, 65 % pada siklus II, dan 77 % pada siklus III (b) jumlah siswa yang aktif memperhatikan penjelasan materi dari guru mengalami peningkatan, yaitu 66 % pada siklus I, 69 % pada siklus II, dan 83 % pada siklus III; (c) jumlah siswa yang aktif memperhatikan iklan layanan masyarakat mengalami peningkatan, yaitu 83 % pada siklus I, 91 % pada siklus II, dan 97 % pada siklus III; (d) jumlah siswa yang aktif dalam diskusi meningkat, yaitu 28 % pada siklus I, 33 % pada siklus II, dan 41 % pada siklus III; (e) jumlah siswa yang aktif membuat kerangka paragraf dan mengembangkan paragraf persuasi meningkat, yaitu 83 % pada siklus I, 94 % pada siklus II, dan 100 % pada siklus III.

2.   Penggunaan media iklan layanan masyarakat dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis persuasi pada siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Mojolaban. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata kelas yang semakin meningkat dari siklus ke siklus. Pada survei awal nilai rata-rata kelas mencapai 57, 18; siklus I mencapai 62,28; siklus II mencapai 78, 68; siklus III mencapai 79,22. Keefektifan media iklan layanan masyarakat juga terbukti dengan fakta bahwa pada siklus ke III semua siswa dapat mencapai nilai ketuntasan hasil belajar (65). Pada siklus I ketuntasan belajar siswa mencapai 55 %; siklus II sebesar 97 %; dan siklus III sebesar 100 %.

Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi penelitian di atas, peneliti mengajukan saran berikut ini.

a. Kepala Sekolah hendaknya: 1) mendukung segala kegiatan guru dan siswa yang sifatnya inovatif sehingga siswa dan guru mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, 2) hendaknya memberi kesempatan bagi guru untuk melakukan penelitian dan mengikutsertakan guru dalam forum-forum ilmiah, seperti seminar pendidikan, diklat, workshop, dan sebagainya, 3) menyusun manajemen fasilitas di sekolah dengan rapi dan tertib sehingga fasilitas sekolah dapat dimanfaatkan oleh semua warga sekolah terutama guru.

b. Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia hendaknya: 1) dapat menggunakan media iklan layanan masyarakat di kelas dengan lebih terampil dan inovatif, (2) memilih tema iklan layanan masyarakat yang dekat dengan dunia siswa agar siswa lebih antusias dalam menulis persuasi.

c. Siswa hendaknya: 1) lebih banyak membaca bacaan dan memperluas pengetahuan, baik dari sekolah, rumah, maupun media massa, 2) aktif dalam belajar menggali ide tulisan melalui berbagai sumber, salah satu di antaranya adalah iklan layanan masyarakat yang banyak beredar di masyarakat.

d.   Bagi peneliti yang ingin memanfaatkan media iklan layanan masyarakat dalam pembelajaran menulis persuasi dapat bekerja sama dan berkolaborasi dengan guru yang mengalami permasalahan dalam pembelajaran tersebut. Selain itu, peneliti lain juga dapat memodifikasi media iklan layanan masyarakat dengan metode atau teknik lain untuk mengatasi masalah pembelajaran yang berbeda dan pada objek yang berbeda.

Daftar Rujukan

Abdelraheem, Ahmed Yousif dan Ahmed Hamed Al-Rabane. 2005. “Utilisation and Benefits of Instructional Media in Teaching Social Studies Perceived by Omani Students”. Malaysian Online Journal of Instructional Technology dalam http://pppjj.usm.my/mojit/articles/pdf/april05/08-Ahmed-final.pdf.  Diakses pada tanggal 29 Mei 2009 pukul 15. 20WIB.

Achmad Alfianto. 2006. Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah, Metamorfosis Ulat menjadi Kepompong dalam http://re-earchengines.com/0106achmad. html-17k. Diakses pada tanggal 30 April 2009 pukul 15.43 WIB.

Ari Kusmiatun. 2005. “Harmoni Kecerdasan Intelektual, Emosional, dan Spiritual dalam Pembelajaran Menulis” dalam Pangesti Wiedarwati (Editor). Menuju Budaya Menulis (Suatu Bunga Rampai). Yogyakarta: Tiara Wacana.

Arief S. Sadiman, R. Rahardjito, Anung haryono, dan Rahardjito. 2007. Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Didik Komaidi. 2007. Aku Bisa Menulis: Panduan Praktis Menulis Kreatif Lengkap. Yogyakarta: Sabda.

Gino, H. J., dkk. 1998. Belajar Pembelajaran I. Surakarta: FKIP UNS.

Gorys Keraf. 1995. Eksposisi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

__________. 2000. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Hanim. Communication is the Most Important Skill in Life dalam http://h4nim.Blogsome.com/2006/ 01-600k. Diakses pada tanggal 28 Mei 2008 pukul 19.15 WIB.

Moore, H. Frazier. 2007. Humas (Membangun Citra dengan Komunikasi). Bandung: Rosda.

Mulyani Sumantri dan H. Johar Permana. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Maulana.

Nurudin. 2007. Dasar-Dasar Penulisan. Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang.

Rhenald Kasali. 1995. Manajemen Periklanan (Konsep dan Aplikasinya di Indonesia). Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsyad, dan Sakura H. Ridwan. 1994. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Airlangga.

Siemens, George. 2005. Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age. International Journal Of Instructional Technology and Distace Learning dalam http://itdl.org/journal/Ja_05/Jan_05.pdf. Diakses pada tanggal 27 Mei 29 pukul 11.30 WIB.

Sri Anitah. 2008. “Modul Media Pembelajaran”. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 3.

Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Sutopo, H. B. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.

Suwarna, dkk. 2006. Pengajaran Mikro. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Thomas Wibowo Agung Sutjiono. 2005. “Pendayagunaan Media Pembelajaran”. Jurnal Pendidikan Penabur- No.04/ Th.IV/ Juli 2005 tersedia dalam

http: //www.bpkpenabur.or.id/. Diakses 26 Mei 2009 pukul 09.30 WIB.


[1] Hasil Penelitian Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2009.

April 12, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Sekaten, Solo bangetttttt!!!

Laporan Observasi Upacara Sekaten di Surakarta

 

Pengamat                     : Ari Setyaningsih

NIM                            : K 1205007

Informan                       : Muhammad Alif (Kepala TU Masjid Agung Surakarta)

Tempat Observasi        : Masjid Agung Surakarta dan sekitarnya

Hari/tanggal                  : Kamis/ 13 Maret 2008

Pukul                            : 13.30- 15.30

 

Sejarah Perayaan Sekaten dan Tabuh Gamelan Sekaten

Upacara Sekaten merupakan upacara yang diadakan dalam rangka memperingati maulud lahir Nabi Muhammad SAW yang terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun1 Gajah atau tepatnya pada tanggal 13 sampai dengan 20 Maret 2008. Dilihat dari asal katanya, Sekaten berasal dari kata “Shahadat Taen” yang kemudian diucapkan dengan kata sekaten oleh masyarakat Jawa. Upacara ini diselenggarakan di tiga kota sekaligus, masing-masing di kota Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon.

Upacara Sekaten dibuka secara simbolis dengan dibunyikannya Gamelan Sekaten. Gamelan ini diberi nama Kiai Guntur Madu yang diletakkan di bangsal selatan dan Kiai Guntur Sari yang diletakkan di bangsal utara. Gamelan dibunyikan tepat pada pukul 14.00 WIB setelah mendapat perintah dari pihak Keraton Surakarta, demikian halnya dengan gamelan di Jogjakarta dan Cirebon. Gamelan dibunyikan dalam waktu yang bersamaan.

Gamelan dimainkan oleh 13 orang abdi dalem keraton Surakarta dengan lagu wajib sekaligus lagu pembuka yang berjudul “Rambu Rangkung”. Rambu berarti “Rabbuna” artinya Allah yang Aku sembah, “Rangkung” berasal dari bahasa Arab “Raukhun” artinya jiwa yang agung. Gamelan boleh berbunyi hanya pada jam-jam tertentu. Pagi hari pukul 09.00-12.00, berhenti sebentar karena waktu salat Duhur. Siang hari pukul 14.00-15.00 berhenti karena salat asar. Sore hari pada pukul 16.30-17.30 diberi jeda untuk salat magrib, dan malam hari pada pukul 20.00-23.00. Gamelan kembali dibunyikan pada pukul 09.00 di pagi berikutnya. Khusus untuk malam jumat gamelan tidak boleh dibunyikan, hal ini dimaksudkan untuk menghormati umat yang menunaikan Jumatan pada hari jumat. Pembunyian gamelan dilakukan secara bergilir dari gamelan sebelah utara menuju ke bagian selatan dan begitu juga seterusnya. Yang menarik sebelum pembunyian gamelan adalah iriing-iringan gunungan yang diarak dari keraton melewati alun-alun keraton Surakarta. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat sekitar yang percaya bahwa makanan yang ada dalam gunungan akan dapat memberikan keberuntungan.

Tradisi Sekaten sebenarnya merupakan terobosan yang dilakukan oleh para wali pada masa kerajaan Demak, yang merupakan kerajaan islam di pulau jawa. Para wali menggunakan gamelan sebagai sarana untuk menarik masyarakat yang pada umumnya mempunyai banyak aliran atau kepercayaan (animisme dan dinamisme). Ayat-ayat suci dimodifikasikan dengan irama-irama gamelan sehingga menarik perhatian masyarakat. Gamelan itu diletakkan di depan Masjid Agung, dengan maksud agar masyarakat mau memasuki masjid agung. Barang siapa yang ingin melihat gamelan itu dibunyikan maka mereka harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan demikian secara sah mereka masuk ke dalam agama islam dan berkewajiban mengikuti syariat yang diajarkan para wali.

Upacara sekaten mempunyai ciri khas sendiri karena pada saat perayaan berlangsung selama satu minggu, halaman masjid agung dan alun-alun keraton utara surakarta dibanjiri oleh para pedagang. Para pedagang tersebut pada umumnya berjualan berbagai jenis makanan dan barang-barang yang menjadi kebutuhan masyarakat sekitar. Khusus di halaman masjid agung hanya diperbolehkan beberapa jenis barang dan makanan yang menurut mitos masyarakat dapat dijadikan sarana untuk ngalap berkah atau mencari peruntungan. Penjual yang boleh masuk di halaman masjid adalah penjual kinang, telor asin / endhog amal, pecut, gangsingan, cambuk rambak, dan wedang ronde. Masyarakat meyakini dengan mengkonsumsi barang-barang tersebut, maka akan didapat sebuah keberuntungan, awet muda, dan naik pangkat. Hal ini bertentangan dengan ajaran agama islam yang mempunyai keyakinan hanya ada satu Tuhan yang dapat memberikan kemurahan bagi setiap pemeluknya

Menurut para wali terdahulu, barang-barang tersebut dijadikan kiasan. Kinang yang terdiri dari lima macam bahan, yaitu daun sirih, tembakau, buah pinang, kapur, dan buah gambir yang menyimbolkan rukun islam yang bejumlah lima, yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji. Telor asin atau endhog amal mengkiaskan harapan kaum ulama agar manusia harus banyak beramal dalam hidupnya. Gangsing mengkiaskan manusia tidak akan mungkin hidup selamanya, pada waktunya nanti setiap manusia akan mati seperti halnya gangsing yang berputar juga akan berhenti. Pecut mengkiaskan alat pengendali hawa nafsu manusia untuk menjadi manusia yang mencapai hidup sempurna maka ia harus menghindari hawa nafsu yang buruk.

 

Refleksi

Upacara Sekaten merupakan upacara tradisi keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon yang dilaksanakan satu tahun sekali dalam rangka memperingati hari lahir nabi Muhammad SAW. Upacara sekaten di Surakarta banyak dikaitkan dengan mitos jawa kuno yang masih berbau mistis. Padahal sekaten dalam arti yang sebenarnya adalah suatu cara yang ditempuh para wali terdahulu agar masyarakat mau masuk menjadi agama Islam. Pengaitan upacara Sekaten ini terutama pada setiap benda-benda yang sering ada dalam sekaten. Benda-benda tersebut dianggap mempunyai kekuatan gaib yang mampu memberikan keberuntungan bagi kehidupan. Hal ini bertentangan dengan ajaran agama islam namun sampai sekarang masih banyak dipercaya oleh masyarakat terutama pada yang sudah tua.

Pada dasarnya, Sekaten hanya berupa perayaan hari lahir nabi Muhammad SAW, bukan suatu ritual secara besar-besaran sebagai simbol kemenangan atau perayaan atas kelahiran junjungan nabi umat Islam. Hal-hal yang berbau mistis/mitos maka itu hanya sebuah kepercayaan yang keliru dan tidak tepat jika ditiru karena bertentangan dengan ajaran agama Islam.

 

 

 

April 12, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Bali, ada apakah??

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) MAHASISWA BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH SEMESTER V

Hari/tanggal                  : Minggu-Kamis/28-1 November 2007

Tempat             : Pulau Bali

Objek kunjungan          : Objek studi dan objek wisata

1. Pendahuluan

A. Latar Belakang

Tingkat kemajuan suatu bangsa bergantung pada kualitas pendidikan bangsa tersebut. Peran dunia pendidikan sangat berperan dalam perkembangan suatu bangsa untuk menciptakan kehidupan yang modern, damai, serta untuk menciptakan suasana yang kondusif.  Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan zaman, dunia pendidikan pun mulai menyejajarkan dirinya agar dapat berjalan seiring dengan bergolaknya arus globalisasi yang menuntut bangsa untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa tersebut.

Usaha peningkatan pendidikan ini dilakukan secara menyeluruh dari berbagai aspek, mulai dari perubahan kurikulum, hingga sistem atau metode pengajaran yang meliputi seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Peningkatan ini dilakukan secara universal, bertahap, berkelanjutan, dan fleksibel. Pemerintah perlu melakukan pembaharuan penataan sistem pendidikan yang ada untuk mendapatkan mutu pendidikan yang berkualitas.

Berangkat dari fenomena pendidikan di atas, FKIP UNS menyelenggarakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). KKL merupakan salah satu mata kuliah umum semester V. Kuliah ini diadakan sebagai usaha untuk mengatasi permasalahan di bidang pendidikan, khususnya permasalahan yang akan dihadapi para calon guru, yaitu untuk mengetahui perkembangan dan tangtangan yang ada di dunia kerja yang sesungguhnya. Melalui mata kuliah ini mahasiswa dipersiapkan praktik di lingkungan yang nyata, terlepas dari teori-teori yang diberikan dosen di kelas.

KKL yang dilaksanakan tersebut dimaksudkan agar mahasiswa mempunyai wawasan tentang realita dari sedemikian banyak teori yang didapat di bangku kuliah sehingga nantinya mahasiswa tersebut akan cakap dalam menerapkan teori yang telah ia dapatkan selama mengikuti perkuliahan.

Berdasarkan fungsi dan tujuan mata kuliah ini maka mahasiswa program Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah angkatan 2005 mengadakan KKL dengan tujuan Pulau Bali. Objek yang dikunjungi dalam KKL ini adalah objek kunjungan studi dan objek kunjungan wisata. Khusus untuk objek kunjungan studi, kami mengambil Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dalam rangka studi banding, perpustakaan UPTD Gedong Kirtya Singaraja, dan Balai Bahasa Denpasar.

B. Tujuan

Kuliah Kerja Lapangan yang dilaksanakan oleh mahasiswa program Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah FKIP UNS mempunyai beberapa tujuan, antara lain:

  1. Mengetahui berbagai koleksi yang terdapat di perpustakaan UOTD Gedong Kirtya Singaraja
  2. Mengetahui sistem perkuliahan yang diadakan di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)
  3. Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan dan perkembangan bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa daerah, khususnya Bahasa Bali yang dikelola oleh Balai Bahasa Denpasar
  4. Mengetahui berbagai hal yang berkaitan dengan peradaban budaya Pulau Bali perkembangan  serta eksistensinya di dunia pariwisata di Indonesia.

2.  Deskripsi kegiatan

Pemberangkatan rombongan dimulai pada pukul 13.30 WIB, berangkat dari gedung E FKIP UNS dengan didampingi oleh dua orang dosen pembimbing. Rombongan berjumlah 34 orang dengan menggunakan 1 buah bus. Selama di Bali, rombingan menginap di Penginapan Made, Denpasar.

a) Kunjungan Hari Pertama

a. Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA)

Rombongan sampai di tujuan sekitar pukul 11.00 WITA. Kunjungan disambut oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMP) Pendidikan Bahasa Indonesia Undiksha dilanjutkan dengan diskusi yang membahas tentang Sistem kurikulum sekolah oleh perwakilan mahasiswa bahasa Indonesia Undiksha dan UNS. Selain itu, rombongan KKL kami juga mempersembahkan tarian Gambyong, tarian asli dari Jawa Tengah. Acara kemudian dilanjutkan dengan studi banding antara Undiksha dengan UNS khususnya pada jurusan bahasa Indonesia. Kegiatan inti yang dilakukan oleh mahasiswa adalah pembedahan makalah tentang cara memotivasi mahasiswa dalam meraih sukses dengan bahasa, saling melontarkan pendapat, serta bertukar informasi.

Undiksa merupakan satu-satunya Universitas Pendidikan berstatus Negeri di Bali, tepatnya di kota Singaraja. Undiksha yang dahulu bernama IKIP Negeri Singaraja ini mempunyai beberapa fakultas ilmu pendidikan yang tersebar di dua daerah di kota Singaraja, yaitu:

  1. Fakultas Bahasa dan Seni (FBS)
  2. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA),
  3. Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
  4. Fakultas Ilmu Pendidikan (IP), Fakultas Teknologi Pendidikan
  5. Fakultas  Pendidikan Keolahragaan (POK).

Jadi, selain memiliki fakultas keguruan, Undiksha juga memiliki Fakultas non-keguruan/murni.

Objek studi yang kami kunjungi adalah Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Fakultas ini sama halnya dengan jurusan PBS di UNS dan merupakan fakultas tertua di Undiksha. Di Undiksha sendiri terdapat empat jurusan, yaitu Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Bali, dan Pendidikan Seni Rupa. Selain itu, fakultas juga mempunyai program D3 Bahasa Indonesia, D3 Bahasa Inggris, D3 Bahasa Bali, dan Seni rupa murni.

Sama halnya dengan FKIP UNS, Undiksha juga mempunyai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berfungsi untuk mengembangkan minat dan bakat serta pusat kegiatan di luar bidang akademik di Undiksha. Undiksha sendiri sering mengikuti kejuaraan-kejuaraan baik di tingkat provinsi maupun nasional. Pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional Undiksha memenangi beberapa kejuaraan, di antaranya meraih medali emas melalui lomba penulisan cerpen (Jurusan Bahasa Inggris), dan medali perak  lomba melalui lomba penulisan drama pendek (Jurusan Bahasa Indonesia). Selain itu, Undiksha juga menghasilkan banyak penulis baik sastra maupun non-sastra. Hal ini didukung oleh adanya mata kuliah jurnalistik yang menunjang mahasiswa untuk melatih keterampilan menulis. Undiksha mempunyai sarana pendukung/penunjang perkuliahan, diantaranya perpustakaan yang terletak di kampus tengah Universitas Udayana khususnya untuk Fakultas Bahasa Seni.

Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di Undiksha juga mempunyai Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) seperti halnya HIMPROPSI di UNS. HMJ ini digunakan sebagai sarana pendukung kegiatan mahasiswa jurusan bahasa Indonesia dari berbagai angkatan. Bidang kegiatan HMJ ini antara lain adalah pembuatan mading yang diserahkan pada setiap angkatan jurusan bahasa Indonesia.

b. Gedung Kirtya

Tidak jauh dari Undiksha terdapat museum Kirtya. Museum ini dirikan pada tahun 1928 dan diperuntukkan bagi semua pihak khususnya para pelajar dan masyarakat umum.  Museum ini dahulu adalah milik Karon, presiden Belanda, yang kemudian dikelola oleh pemerintah kabupaten Singaraja. Di museum ini dapat kita temui koleksi buku-buku serta naskah sastra Bali kuno yang masih ditulis dalam daun lontar. Naskah ini dahulu ditulis dengan menggunakan penggubrak/pengupil, yaitu semacam pisau kecil yang dilapisi kemiri dan fungsinya sama halnya dengan pensil. Naskah-naskah tersebut disimpan di lorong tersendiri dalam sebuah kotak kayu dan pisahkan menurut tahun dan jenis karya sastranya. Sebagian kotak naskah tersebut kini masih terdapat di Belanda.

Gedung Kirtya ini merupakan museum manuscript, yaitu naskah-naskah yang bertuliskan tangan khusus untuk sastra Bali. Di museum ini bisa ditemui berbagai macam jenis tulisan Bali yang hampir sama jenisnya dengan tulisan Jawa. Huruf Bali ituberjumlah 18 buah, sedangkan huruf Jawa berjumlah 20 buah (ha, na, ca, ra ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga). Huruf bali hanya berjumlah 18 buah karena huruf dha dan ta digabungkan menjadi satu huruf. Naskah yang ada dalam museum ini, antara lain serat Mahabarata V, serat Ramayana yang ditulis oleh Guming, dan serat Baratayuda yang ditulis oleh Karon.

Selain menyimpan naskah-naskah sastra kuno Bali, museum Kirtya juga menyimpan foto kuno dan patung Ken Dedes yang disumbangkan oleh mahasiswa seni rupa Universitas Denpasar. Museum Kirtya juga menyimpan buku-buku kuno dari tahun 1930- sekarang yang diperbolehkan untuk dibaca atau dikopi oleh pengunjung. Museum Kirtya saat ini dikelola oleh I Gusti Bagus Sudiasta.

c. Bedugul

Menempuh perjalanan dengan kendaraan bus sambil menikmati pegunungan, jurang, dan tebing merupakan suguhan tersendiri yang diberikan oleh Pulau Bali dalam perjalanan menuju Bedugul. Danau dengan panorama yang indah ditambah dengan udara yang sejuk ini membawa kenikmatan tersendiri bagi pengunjung. Hanya dengan menaiki Speed Boat seharga 15 ribu, pengujung dapat menikmati kesejukan danau bedugul sekaligus melihat vila yang dikelilingi oleh berbagai macam tumbuhan tropis dan pegunungan di sekelilingnya.

d. Sangeh

Orang mengatakan, jika pergi ke Bali janganlah lupa menengok saudara tuamu. Sangeh, sebuah desa keramat di Bali yang mempunyai ribuan kera dan ribuan pohon pala. Tak sembarang orang bisa masuk ke tempat ini. Wanita yang sedang mengalami haid atau datang bulan tak boleh masuk ke tempat ini. Konon, sang penunggu atau leluhur amat menyukai hal-hal yang suci dan bersih. Satu hal menarik sekaligus aneh yang bisa ditemukan di tempat ini adalah adanya pohon lanang dan pohon wadon. Mengapa bisa dinamakan demikian? Pohon ini memang sangat aneh. Bentuknya menyerupai tubuh laki-laki dan tubuh perempuan. Kedua pohon ini menyatu dan saling membelakangi satu sama lain. Masyarakat mempercayai pohon ini sebagai pohon keramat.

b. Kunjungan Hari ke-2

a. Balai Bahasa Denpasar

Perjalanan menuju ke Balai Bahasa Denpasar menempuh waktu sekitar setengah jam dari penginapan. Di sana rombongan disambut langsung oleh Kepala Balai Bahasa Denpasar dilanjutkan dengan diskusi mengenai profil dan peran serta balai bahasa di Bali. Balai Bahasa Denpasar merupakan 4 dari pusat bahasa tertua di Indonesia. Kantor ini dibangun bersamaan dengan pusat bahasa di Jakarta. Pusat Bahasa merupakan lembaga pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Akan tetapi, saat ini pusat bahasa menjadi lembaga pembinaan dan pengembangan bahasa secara umum tidak terkhusus pada bahasa Indonesia saja.

Pusat Bahasa mempunyai dua bidang kegiatan, yaitu bidang pembinaan dan pengembangan. Bidang pembinaan bertugas untuk meningkatkan pemakaian bahasa. Programnya antara lain:

  1. penyuluhan bahasa
  2. pelatihan karya ilmiah
  3. penyebaran informasi dengan tujuan agar wawasan kebahasaan meningkat melalui penerbitan penyiaran.

Pembinaan bahasa indonesia direalisasikan dengan kegiatan seminar dan lokakarya baik secara langsung maupun melalui media massa dan elektronik. Bidang pengembangan bertugas melakukan penelitian dan pengembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kegiatannya antara lain berurusan dengan korpus bahasa, pengkajian bahasa, sastra, dan pemakaian bahasa.

Tugas utama balai bahasa Denpasar adalah penelitian (pengembangan bahasa, sastra Indonesia, dan bahasa daerah). Kegiatannya meliputi:

1. Bidang Pengembangan

  1. penelitian (masalah bahasa daerah sastra Indonesia dan daerah)
  2. Penyusunan kamus dwibahasa
  3. Pengkajian penyusunan materi ajar untuk BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing)
  4. Uji Kemahiran Berhasa (UKBI)

2. Bidang Pembinaan

a. sesuai masalah yang dihadapi pada saat itu

b. porsinya sama untuk bahasa Indonesia dan daerah

c. jika ada masalah tentang bahasa Daerah dilakukan pembinaan.

Kendala yang dihadapi pusat bahasa dewasa ini semakin besar. Hal ini disebabkan oleh arus globalisasi yang semakin cepat mengalir jika dibandingkan dengan kecepatan melakukan sosialisasi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia juga semakin tergerus peradaban, hal ini diindikasikan dengan banyaknya bahasa asing yang diadopsi maupun diadaptasi oleh bahasa Indonesia sehingga fungsi dari bahasa Indonesia itu semakin kabur.

Rombongan KKL disuguhi pula dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Teater Angin dari SMA N 1 Denpasar. Suguhan dua buah lagu yang dibawakan 7 siswa Bali ini akan dipentaskan dalam festival musikalisasi puisi antarprovinsi di Jakarta.

b. Pantai Tanjung Benoa

Tanjung Benoa terletak di antara pulau Bali dan pulau Lombok. Pantai Tanjung Benoa berbeda dengan pantai-pantai lain di pulau Bali. Di pantai ini pengunjung bisa menikmati berbagai macam permainan pantai, seperti banana boat, motor boat, paraselling, dan lain-lain. Selain itu, pengujung dapat pula melihat taman laut dengan menaiki glass bottom boat menuju ke Teluk penyu (turtle island). Di Teluk penyu pengujung dapat melihat puluhan penyu dan berbagai macam satwa yang dilindungi, seperti burung gagak, ular, dan lain sebagainya.

c. Garuda Wisnu Kencana (GWK)

Patung raksasa Garuda Wisnu Kencana terletak di Denpasar tepatnya di sebelah barat Universitas Udayana. Patung ini dibangun di antara gugusan batu kapur yang tingginya mancapai puluhan meter di atas permukaan laut. Patung ini dibuat dari bahan tembaga dan berbetuk burung garuda yang dinaiki oleh dewa Wisnu. Pembuatan patung raksasa ini memakan waktu bertahun-tahun secara bertahap dan saat ini baru sampai pada bentuk separuh tubuh dewa Wisnu dan separuh tubuh burung garuda. Patung ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2010 dan akan menjadi patung tertinggi di Asia Tenggara. GWK sering digunakan sebagai tempat pertemuan baik acara berskala nasional maupun internasional.

d. Joger

Joger merupakan pusat perbelanjaan barang-barang bermerek Joger khas pulau Bali dan tidak dapat ditemui di kota-kota lain. Untuk menuju tempat ini pengunjung yang menaiki bus besar dan kendaraan yang berukuran lebih dari 5 meter harus berhenti sejenak di parking central area dan dilanjutkan dengan menaiki kendaraan umum yang juga mengantarkan pengujung ke pantai Kuta. Barang-barang merek Joger yang banyak diserbu pengunjung, antara lain kaos, tas, sandal, souvenir, dan pernak-pernik. Joger lebih terkenal juga karena memiliki kekhasan tulisan bernada ironi, aneh, dan lucu yang tertera pada setiap barang merek Joger.

e. Pantai Kuta

Setelah mengunjungi Joger, pengunjung biasanya melanjutkan perjalanan ke pantai Kuta dengan kendaraan umum. Di pantai ini pengunjung dapat menikmati keindahan tenggelamnya matahari (sun set) sekitar pukul empat sampai lima sore. Di sepanjang pantai ini berjejer berbagai macam hotel berbintang dan club/dikotik yang dikunjungi oleh turis mancanegara.

c. Kunjungan Hari Ketiga

a. Pantai Sanur

Pantai Sanur terletak di pulau Bali sebelah utara. Di pantai ini pengunjung dapat menikmati keindahan terbitnya matahari (Sun Raise). Pantai ini memiliki bebatuan karang yang mengelilinginya.

b. Museum La Mayer

Tidak jauh dari pantai ini pengunjung dapat mengunjungi Museum La Mayer. Museum ini berisi lukisan-lukisan karya La mayer, seorang pelukis berkebangsaan Belgia yang tinggal di Indonesia dan menikah dengan seorang gadis Bali yang bernama Ni Nyoman Polok atau Ni Polok. Museum ini dahulu merupakan tempat tinggal La Mayer bersama istrinya. Ia dan istrinya pada waktu itu juga menggunakan rumahnya sebagai galeri lukisan yang banyak dikunjungi wisatawan asing. La Mayer meninggal karena penyakit kanker telinga, kemudian jenazahnya dijemput ke negara Belgia oleh Ratu Belgi. Setelah kepergian La Mayer, istrinyalah yang mengelola kembali galeri lukisan itu. Akan tetapi, setelah istrinya meninggal lukisan tersebut banyak yang hilang dan tersebar di sekitar kota Denpasar. Karena lukisan-lukisan karyanya dianggap sangat berkualitas seni tinggi, presiden Soekarno dan Dinas Pariwisata Denpasar mencari dan mengumpulkan kembali lukisan-lukisan tersebut dan mengabadikan rumah La mayer menjadi sebuah museum lukisan. Di museum tersebut kini terdapat puluhan lukisan asli karya La Mayer dari awal pembuatan hingga akhir hayatnya.

b. Pusat Perbelanjaan Galuh

Tempat ini merupakan pusat perbelanjaan terkenal di Bali  yang menjual berbagai jenis barang, seperti pakaian, kerajinan tangan, souvenir, pernak-pernik, dan lain-lain. Barang- barang yang dijual di sini adalah barang-barang dengan tingkat orisinalitas yang tidak diragukan lagi. Harga yang ditawarkan di sini memang lumayan tinggi. Pengunjung domestik, khususnya pelajar dan mahasiswa akan mendapatkan diskon 50% dari setiap pembelian barang-barang, sedangkan pengunjung mancanegara diberi harga dua kali lipatnya.

b. Pasar Sukowati

Pasar ini merupakan satu-satunya pasar yang paling banyak dikunjungi wisatawan, terutama wisatawan domestik. Di sini dijual berbagai macam pakaian dan kerajinan Bali. Hal yang paling menarik di pasar ini adalah proses tawar-menawar yang disuguhkan oleh penjual. Pembeli yang pandai menawar akan mendapatkan harga yang serendah-rendahnya. Bermacam-macam barang yang dijual di sini adalah barang kerajinan atau souvenir yang dapat dijadikan oleh-oleh. Pengunjung dapat membeli barang dengan jumlah yang banyak karena harga yang ditawarkan tidak terlalu tinggi. Harganya barang berkisar dari Rp.500,- hingga puluhan ribu rupiah.

C. Analisis Hasil Kunjungan

a. Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)

Kunjungan ke Undiksha memberikan banyak manfaat kepada mahasiswa, antara lain:

  1. Kami dapat mendapat banyak pengetahuan tambahan tentang sistem perkuliahan yang ada di Undiksha Singaraja dan mata kuliah apa saja yang diajarkan di Univesitas tersebut
  2. Kami dapat melihat peran mahasiswa untuk meningkatkan kemauan mahasiswa dalam mempelajari bahasa
  3. Kami dapat melihat apresiasi mahasiswa terhadap bahasa
  4. Adanya diskusi antarmahasiswa mengenai kesuksesan yang dapat diraih melalui bahasa.

Meskipun banyak pengalaman menyenangkan, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

  1. setelah diskusi berakhir, kami tidak diajak untuk mengetahui secara langsung kondisi sarana prasarana yang terdapat di Undiksha
  2. Kurangnya tanggapan dan peran serta mahasiswa Undiksha dalam menanggapi makalah dari kami tentang cara meraih sukses dengan bahasa.

b. Perpustakaan UPTD Gedong Kirtya Singaraja

Kunjungan yang kami lakukan di perpustakaan UPTD Gedong Kirtya Singaraja ini berjalan sangat lancar. Akan tetapi, terdapat banyak koleksi yang dapat menambah wawasan kita terhadap sastra Bali. Ternyata masih banyak sekali naskah yang ditulis dalam daun lontar. Usaha yang dilakukan petugas untuk tetap mempertahankan kekhasannya ini adalah dengan menyalin tulisan-tulisan yang ada dalam buku ke dalam daun lontar.

c. Balai Bahasa Denpasar

Kegiatan yang dilakukan di balai bahasa secara umum berlangsung lancar. Pengkondisian yang cukup baik memperlancar kegiatan kami.

D. Penutup

a. Simpulan

Dari laporan yang telah dideskripsikan di atas maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

  1. Mahasiswa melakukan kunjungan di objek wisata dan objek studi. Objek studi tersebut adalah Universitas Pendidikan Ganesha, Gedung Kirtya, dan Balai Bahasa Denpasar
  2. Dari beberapa objek yang kami kunjungi itu banyak sekali hal yang didapat terutama mengenai eksistensi bahasa Indonesia di Indonesia saat ini
  3. Peradaban budaya Bali sangat bagus dan diikuti pula dengan perkembangan pariwisata yang ada
  4. Mahasiswa mendapatkan banyak bertukar pengalaman dengan mahasiswa Undiksha terutama dalam hal mata kuliah Bahasa Sastra Indonesia.

b. Saran

Dari Kuliah Kerja Lapangan yang telah kami laksanakan maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

  1. Kunjungan yang dilaksanakan hendaknya didasarkan atas adanya rasa ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang objek studi, terutama yang berkaitan dengan bahasa Indonesia
  2. Mahasiswa diharapkan dapat berperan aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan pada saat kunjungan sedang beralngsung
  3. Mahasiswa mampu mendapatkan manfaat baik secara teori maupun praktik dari hasil kunjungan yang telah dilaksanakan
  4. Dosen dan mahasiswa lebih dapat saling bekerja sama dalam setiap kegiatan yang dilakukan.

April 12, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ough, I’m Speechless

Buat kamu-kamu yang sedang menghadapi konsultasi dengan dosen atau pembimbing skripsi, makalah, dan sebagainya, ada tips nih biar kita bisa tampil Pede di depan mereka dan gak grogi atau nervous. Kita seringkali gak bisa ngomong kalau berada di depan mereka. alasannya bisa macem-macem, ada yang bilang, dosen itu galak, pinter banger so kita takut untuk membantah dan akhirnya kita speechless alias lost of words atau kehabisan kata-kata. Ada pula yang sampai ngumpet-ngumpet atau mengalihkan pandangan kalau bertemu mereka karena takut atau sungkan dengan dosen itu. Nah, semua itu sebenarnya bisa kita atasi. Ada beberapa tips nih buat kamu-kamu yang menghadapi kendala tersebut. Semoga bisa dijadikan acuan, dan dipraktikan kelak. Gak manjur-manjur amat sih, tapi moga aja bisa tukar pengalaman.

Untuk menghadapi kondisi semacam itu yang bisa kita lakukan:

  1. tunjukin sikap ramah, modal utamanya adalah SENYUM. Senyum bisa membuat hati tenang, selain itu orang yang kita ajak senyum juga merasa kita perhatikan.
  2. jangan lupa menyapa, tundukan kepala atau bungkukin badan. Gunakan bahasa tubuh yang pas.
  3. berjalanlah dengan pelan dan jangan terkesan terburu-buru, karena mereka akan menganggap kita hanya akan bertemu mereka sebentar saja
  4. gunakan bahasa yang sopan, santun, dan jelas. Jangan sampai dosen menanyakan kembali apa yang telah kita ucapkan atau meminta kita mengulang apa yang kita ucapkan
  5. ramah. Itu kunci kedua. Biasakan kita bersikap ramah, dengan cara mengakrabi mereka. apapun yang terjadi, biarkan kita mencoba memberi perhatian dan mengerti aktivitas mereka yang amat padat. Tapi yang perlu diingat, janganlah kita menanyakan hal yang terlalu bersifat pribadi dan terlalu banyak pertanyaan yang tidak perlu.
  6. dosen juga manusia, so jangan merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia. Usahakan kita jangan menyangkal atau membantah jika itu gak bener-bener perlu. Karena, mereka itu lebih berpengalaman dan berpengetahuan lebih tinggi dari kita.
  7. jawablah semua pertanyaan yang dilontarkan ke kita. Jangan sampai kita kehabisan kata-kata. Apapun jawaban kita itu akan lebih dihargai daripada kita diem aja. Karena betapapun jawaban kita salah dan gak nyambung itu menandakan kita mendengarkan dan memperhatikannya.
  8. kalau jawaban kita disalahkan, jangan langsung down. Usahakan jawaban lain yang relevan, atau mintalah dosen menanyakannya sekali lagi. Misalnya, “maaf pak, mohon diulangi sekali lagi pertanyaannya!”
  9. jika telah selesai berkonsultasi, jangan lupa ucapkan TERIMA KASIH. Ucapkan pula permisi sebagai tanda perpisahan.
  10. tutuplah pertemuan dengan senyuman, meskipun yang telah terjadi itu banyak kekurangannya.

Selamat mempraktikan, semoga berhasil!!! (salam senyum)

Februari 25, 2009 Posted by | psikologi | Tinggalkan komentar

Sintaksis: Sebuah Intisari

BAB 1

APAKAH SINTAKSIS?

1.1 Batasan Sintaksis

Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk dalam lingkup sintaksis adalah frasa, klausa dan kalimat. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonprediktif, misalnya rumah mewah. Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah predikat, dam berpotensi menjadi kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat.

1.2 Aspek-Aspek Sintaksis

1.2.1 Kata: Ciri dan Klasifikasi

Kata dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama,kata dilihat dari pemakai bahasa. Menurut pemakai bahasa salah satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang-ulang, dan secara potensial ujaran itu dapat berdiri sendiri. Kedua, kata dilihat secara bahasa. Secara linguistis kata dapat dibedakan atas satuan pembentuknya. Oleh karena itu, kata dapat dibedakan atas:

1) Kata sebagai satuan fonologis

Ciri fonologis kata bahasa Indonesia, misalnya:

  1. mempunyai pola fonotatik suku kata,
  2. bukan bahasa vokalik,
  3. tidak ada gugus konsonan pada posisi akhir,
  4. batas kata tidak ditentukan oleh fonem suprasegmental.

2) Kata sebagai satuan gramatikal

Menurut Lyons(1971) dan Dik (1976), secara gramatikal kata bebas bergerak, dapat dipindah-pindahkan letaknya, tetapi identitasnya tetap.

3) Kata sebagai satuan ortografis

Secara ortografis, kata ditentukanoleh sistem aksara yang berlaku dalam bahasa itu. Bahasa Indonesia misalnya menggunakan aksara latin jadi sebuah kata dituliskan terpisah dari kata lainnya, misalnya terima kasih dan kerja sama.

1.2.2 Frasa: Ciri dan Klasifikasi

Frasa dalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan Samsuri, 1976) atau satu kata konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih.

1.2.3 Klausa : Ciri dan Klasifikasi

Klausa dalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat.

Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya. Berdasarkan distribusi satuannya, klausa dibedakan atas klausa bebas dan klausa terikat. Berdasarkan fungsinya, klausa dibedakan menjadi klausa subjek, klausa objek, klausa keterangan, dan klausa pemerlengkapan.

1.2.4 Kalimat: Ciri dan Klasifikasi

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa. Dilihat dari fungsinya, unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal, kalimat tunggal dan perluasannya, serta kalimat majemuk.

1.3 Hubungan Sintagmatis dan Paradigmatis

1.3.1 Hubungan Sintagmatis

Hubungan sintagmatis adalah hubungan linier antara unsur bahasa yang satu dan unsur bahasa yang lain dalam tataran tertentu. Hubungan itu dapat diuji dengan permutasi atau perubahan urutan satuan unsur-unsur bahasa. Contoh:

  1. Dengan penuh disiplin dan tanggung jawab, saya bekerja keras.
  2. Saya// bekerja keras// dengan penuh disiplin// dan tanggung jawab.

1.3.2 Hubunagn Paradigmatis

Hubungan paradigmatis adalah hubungan sistematis antarunsur bahasa yang memiliki kesesuaian.

1) Tataran Fonemis

Fonem /s/ pada kata sarang mempunyai hubungan paradigmatis dengan fonem yang dapat menggantikannya asalkan penggantian itu menghasilkan kata dalam kategori dan fungsi yang sama, misalnya fonem /s/, /b/, /p/, dan /k/ pada kata /s/arang, /b/arang, /p/arang, dan /k/arang karena kata-kata itu berkelas nomina dan sama-sama dapat mengisi fungsi subjek atau objek.

2) Tataran Morfologis

Pada umumnya, urutan morfem dalam sebuah kata tidak dapat diubah-ubah menurut keinginan seseorang, misalnya sebagai pembentuk kata kerja, awalan meng- dan di- selalu terletak pada awal kata, seperti pada menulis dan melancong serta ditempuh dan dijual.

3) Tataran Sintaksis

Ada kalanya kata di dalam sebuah kalimat dapat diubah-ubah letaknya tanpa mengubah arti. Yang berubah akaibat perubahan letak itu hanya pengutamaan informasi, sepaerti

  1. Saya dan adik pergi kemarin
  2. Kemarin saya dan adik pergi
  3. Saya dan adik kemarin pergi

1.4 Kategori, Fungsi, dan Peran

Beberapa jenis kategori yang dapat menjadi unsur kalimat adalah nomina (kata benda), adjektiva(kata sifat), numeralia(kata bilangan), adverbial, dan kata tugas, seperti preposisi(kata depan), konjungsi(kata penghubung), dan partikel, seperti kah, lah, tah, pun.

Berdasarkan fungsinya, unsur-unsur kalimat ada yang disebut subjek, predikat, objek, pelengkap, serta keterangan.

Peran semantis yang lazim terdapat dalam suatu kalimat adalah pengalam atau penanggap (experiencer), pelaku (agent), pokok,cirri, sasaran, hasil, peruntung atau pemaslahatbeneficiary), ukuran(measure), alat(instrument), tempat(place), sumber(source), jangkauan(range), penyerta, waktu dan asal (Kridalaksana 1991; Alwi dkk.1998)

1.5 Kegramatikalan, Kebermaknaan, dan Keberterimaan

Kegramatikalan atau keapika gramatikal (grammatical wellformedness) adalah konsep yang mengacu pada satuan bahasa yang mengikuti kaidah tata bahasa yang meliputi beberapa tingkatan, yaitu menyangkut kegramatikalan bentuk kata, bentuk klausa, atau bentuk kalimat (cf. Lycons, 1981:101)

Kebermaknaan meliputi kebermaknaan kata, frasa, dan kalimat. Selanjutnya, suatu tuturan, mungkin dapat gramatikal dan bermakana, tetapi tuturan lain mungkin tak gramatikal dan tak bermakna Lycins, 1996:132) keberterimaan (acceptability) berkaitan denga sistem bahasa yang tepat atau keapikan semantis (semantic well-formedness). Sebaliknya, ketakberterimaan (unacceptability) berkaitan dengan sistem bahasa yang tidak tepat atau kerantakan semantis (semanticill-formedness) (Lycons, 1979:379)

1.6 Tafsir Ganda

Suatu ungkapan atau pernyataan kadang-kadang bisa ditafsirkan menjadi dua makna, bahkan bermacam-macam makna karena penyusunan ungkapan atau pernyataan tersebut kurang tertib. Misalnya, kalimat (1) Rumah sang jutawan aneh akan dijual menimbulkan tafsir ganda. Tafsir pertama rumahnya yang aneh dan tafsir kedua sang jutawannya yang aneh. Agar tidak menimbulkan tafsir ganda maka kalimat tersebut direvisi menjadi (1a) Rumah aneh milik sang jutawan aka dijual dan (1b) Rumah milik sang jutawan aneh akan dijual.

1.7 Parafrasa

Parafrasa berarti (1) pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi yang lain dengan tidak mengubah arti; (2) penguraian kembali suatu teks (karangan dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi. Contohnya:

a. 1.Ada beberapa kendala dalam penyelesaian BLBI.

2.Bantuan Likuiditas Banh Indonesia yang dibawa kabur oleh konglomerat ke Singapura dan Cina sulit diselesaikan karena banyak hambatan, antara lain, belum dimilikinya perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Negara tersebut.

1.8 Permutasi

Permutasi adalah perubahan deretan atau urutan unsur-unsur kalimat.

Misalnya, kalimat pada hari Senin minggu depan Menteri Pembangunan Daerah Tertinngal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia dapat dipermutasi menjadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia Senin minggu depan.

BAB 2

KLASIFIKASI FRASA

2.1 Pengantar

Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan samsuri 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih.

2.2 Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris adalah frasa yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi.

2.2.1 Frasa Eksosentris Direktif (Frasa Preposisional)

Frasa preposisional pada umumnya berfungsi sebagai keterangan. Pada dasarnya, frasa preposisional menunjukkkan makna berikut:

  1. tempat, seperti di pasar, ke rumah
  2. asal arah, seperti dari kampong, dari sekolah
  3. asal bahan, seperti cincin( dari emas)
  4. tujuan arah, seperti ke Lampung, ke Kampus
  5. menunjukkkan peralihan, seperti kepada saya
  6. perihal, seperti tentang ekonomi
  7. tujuan, seperti untukmu, buatmu
  8. sebab, seperti karena, lantaran
  9. penjadian, seperti oleh karena itu
  10. kesertaan, seperti denganmu
  11. cara, seperti dengan baik
  12. alat, seperti dengan cangkul
  13. keberlangsungan, seperti sejak kemarin
  14. penyamaan, seperti selaras dengan
  15. perbandingan, seperti seperti dia

2.2.2 Frasa Eksosentris Nondirektif

Frasa eksosentris nondirektif dapat dibedakan menjadi (a) frasa yang sebagian atau seluruhnya memiliki perilaku yang samadengan bagian-bagiannya, seperti si kancil, si terdakwa, para hakim’ (b)frasa yang seluruhnya berperilaku sama dengan salah satu unsurnya. Artinya, terdakwa dan kekasih memiliki perilaku sama dengan si terdakwa dan sang kekasih.

2.3 Frasa Endosentris

Frasa endosentris adalah frasa yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya.

2.3.1 Frasa Endosentris Berinduk Tunggal (Frasa Modifikasi)

Frasa endosentris berinduk tunggal terdiri atas induk yang menjadi penanda kategorinya dan modifikaror yang menjadi pemerinya.

1) Frasa nominal adalah frasa yang terdiri atas nomina (sebagai pusat) dan unsur lain yang berupa adjektiva, verba, numeralia, demonstrativa, pronominal, frasa preposisional, frasa dengan yang, konstruksi dengan yang…-nya, atau frasa lain.

Contoh:meja batu, teman separtai, hadiah untuk ibuku, hati yang luka, orang yang dicintainya, politisi yang ditinngal di Jakarta itu, anak manis, kulit kuning langsat, kolam yang jernih, nasi berbakul-bakul, uang itu, sang raja, anak mereka, banyak mahasiswa, dua buah rumah, batu bertulis, peristiwa yang amat penting yang terjadi kemarin.

2) Frasa Pronominal

Frasa pronominal adalah frasa yang terdiri atas gabungan pronominal dan pronominal atau gabungan pronimina dan adjektiva, adverbial, numeralia, dan demonstrativa.

Contoh: kami berdua, mereka itu, lagi-lagi saya, kamu dengan dia.

3) Frasa Verbal

Frasa verbal adalah frasa yang tediri atas gabungan verba dan verba atau gabungan verba dengan adverbial atau gabungan verba dan preposisi gabungan.

Contoh: pergi kerja, pulang pergi, makan dengan lahap, masuk ke dalam, jalan tanpa arah, coba baca buku, mati kartu, beristri dua, dapat diketahui, dating ke, masuk desa.

4) Frasa Adjektival

Frasa adjektival adalah frasa yang terdiri atas gabungan beberapa kata atau yang terdiri atas induk berkategori apa pun, asalkan seluruhnya berperilaku sebagai adjektiva.

Contohnya: sedikit masam, cantik benar, gagah berani, panas terik, kuat iman, masih belum pasti, agak nakal juga.

5) Frasa Numeral

Frasa numeral adalah frasa yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolong bilangan, dan nomina ukuran.

Contoh: sembilan belas, dua lusin, dua atau tiga, cetakan pertama, ribuan penduduk.

2.3.2 Frasa Endosentris Berinduk Banyak

1) Frasa Koordinatif

Frasa kooordinatif adalah frasa endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel.

Contoh: kaya atau miskin, untuk dan atas nama klien, baik merah maupun biru, entah suka entah tidak, makin tua makin bermutu.

2) Frasa Apositif

Frasa apositif adalah frasa endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada maujud yang sama.

Contohnya:

Ria, anak kakakku yang tinggal di Lampung,

Megawati Soekarno Putri, salah satu mantan Presiden Republik Indonesia.

2.4 Frasa dan Kata Majemuk

Harimurti Kridalaksana (1985) mengemukakan bahwa:

1. kata majemuk harus berstatus kata; kata majemuk bukan frasa;

2. kata majemuk merupakan konsep sintaksis, bukan konsep semantic.

2.5 Kolokasi Kata

Kolokasi disebut juga sanding kata. Kolokasi dibedakan dengan idiom, kata majemuk, dan frasa karena sanding kata dilihat dari kemungkinan adanya beberapa kata dalam lingkungan yang sama atau perasosiasian yang tetap antara kata dan kata-kata tertentu (Kridalaksaan, 1982). Idiom merupakan konstruksi dari unsur-unsur kata yang saling memilih atau konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya, misalnya panjang tangan berarti pencopet atu pencuri.

Secara garis besar kolokasi dalam bahasa Indonesia dibedakan diklasifikasi menjadi dua, yaitu:

  1. Kolokasi kelompok I, yaitu kolokasi yang berkonstruksi [N+A], terbagi menjadi dua belas tipe, sebagai berikut:
  1. Kolokasi tipe I A dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantik +watak atau +perbuatan.

Contoh: anak cerdas, orag sabar, gadis lincah.

  1. Kolokasi tipe I B dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, +terbilang, -bernyawa, +waktu, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: iklan penting, malam aman, hari panas.

  1. Kolokasi tipe I C dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, +terbilang, -bernyawa, +kelompok, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: masyarakat sejahtera, negara makmur, tanah subur.

  1. Kolokasi tipe I D dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, +bagian tubuh, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: wajah bulat, hati lembut, gidung mancung.

  1. Kolokasi tipe I E dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, -terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +kualitas.

Contoh: nasib buruk, cerita pendek, karya baru.

  1. Kolokasi tipe I F dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan diri.

Contoh: bapak gagah, pemuda ganteng, ibu anggun.

  1. Kolokasi tipe I G dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +usia.

Contoh: janda muda, orang tua, gadis manis.

  1. Kolokasi tipe I H dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +warna.

Contoh: angsa putih, kotak hijau, kertas kuning.

  1. Kolokasi tipe I I dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +ukuran.

Contoh: barang berat, bangku panjang, sungai lebar.

  1. Kolokasi tipe I J dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: bibir sumbing, dada bidang, jari lentik.

  1. Kolokasi tipe I K dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, -terbilang, bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: awan mendung, cahaya redup, cuaca buruk.

  1. Kolokasi tipe I L dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +lingkungan.

Contoh: pintu baru, jendela bekas, laut luas.

  1. Kolokasi lelompok II memiliki konstruksi adjektiva ditambah nomina atau [A+N], yang pada dasarnya kolokasi tipe ini merupakan kebalikan dari kolokasi kelompok I.

Contoh: [A] + [N]

Hangat-hangat kuku

Kuning langsat

Merah darah

bab3

KLASIaFIKASI KLAUSA

3.1 Pengantar

Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat.

3.2 Klausa Berdasarkan Distribusi Satuan

Berdasarkan potensinya untuk dibentuk menjadi kalimat, klausa dapat dibagi menjadi klausa bebas dan klausa terikat.

3.3 Klausa Berdasarkan Fungsi

Berdasarkan fungsinya, klausa dapat menduduki fungsi subjek, objek, keterangan, dan pelengkap.

3.3.1 Subjek

Subjek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frasa nominal yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara.

Contoh: Kami sekeluarga bulan lalu berlibur ke Bali.(kami sekeluarga merupakan subjek)

3.3.2 Objek

Objek adalah bagian klausa yang berwujud nomona atau frasa nomina yang melengkapi verba transitif. Objek dapat dibagi menjadi dua yaitu objek langsung dan objek tak langsung.

Contoh objek langsung: bibi sedang menanak nasi.

Contoh objek tak langsung : bibi sedang menanak nasi untuk kita semua.

3.3.3 Klausa Keterangan

Klausa keterangan adalah klausa yang menjadi bagian luar inti, yang berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau makna predikat.

Contoh:

  1. keteranga akibat: penjahat itu dihukum mati
  2. keterangan sebab: karena sakit, ia tidak jadi ikut
  3. keterangan jimlah: bagai pinang dibelah dua
  4. keterangan alat: dinaikkan dengan mesin pengangkat

3.3.4 Klausa Pelengkap

Klausa pelengkap adalah klausa yang terdiri atas nomina, frasa nomina, adjektiva, atau frasa adjektival yang merupakan bagian dari predikat verbal, seperti:

  1. abangku menjadi pilot
  2. kami bermain bola
  3. aku dianggap patung

3.4 Klausa Berdasarkan Struktur

3.4.1 Klausa Verbal

Klausa verbal adalah lausa yang predikatnya verba.

Contoh: saya makan, adik mandi.

Klausa verbal terdiri atas klausa verbal aktif transitif dan klausa verbal aktif taktransitif.

Klausa verbal aktif transitif adalah klausa yang predikat verbalnya mempunyai sasaran dan atau mempunyai objek.Contoh:

Bibi menjual makanan, aku mengirimkan surat, dan lain-lain.

Klausa verbal aktif transitif resiprokal adalah klausa yang subjeknya melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya, tetapi secara berbalasan atau klausa yang subjeknya saling melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya. Contoh: Ia berpandangan dengan ibunya.

Klusa verbal pasif adalah klausa yang menunjukkan bahwa subjek dikenai pekerjaan atau sasaran perbuatan seperti yang disebutkan dalam predikat verbalnya.

Contoh: korban ditembak, kami kehujanan, dan lain-lain.

Klausa verbal aktif taktransitif adalah klausa yang predikat verbalnya tidak mempunyai sasaran dan tidak mempunyai onjek.

Contoh: kelakuannya menjadi-jadi, pengetahuan kita bertambah, dan lain-lain.

3.4.2 Klausa Nonverbal

Klausa nonverbal adalah klausa yang predikatnya berupa nomina, pronomina, adjektiva, numeralia, atau frasa preposisional.

Contoh: adik ke Bandung, ayahku nelayan, dia sedang sakit, dan lain-lain.

3.5 Hubungan Antarklausa

3.5.1 Hubungan Antarklausa yang Koordinatif

Hubungan koordinatif menunjukkan hubungan yang setara.

3.5.1.1 Hubungan Aditif (jumlah)

Hubungan jumlah ditunjukkan oleh klausa kedua berisikan informasi yang menambahkan isi informasi pada klausa pertama.

Contoh:

  1. Saya mencintai dan memahami pekerjaan saya selam ini.
  2. Saya bersama beberapa orang teman ingin mendirikan perpustakaan.

3.5.1.2 Hubungan Adversatif (pertentangan)

Hubungan pertentangan biasanya ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi yang bertentangan dengan isi informasi pada klausa pertama.

Contoh:

  1. Hubungan pertentangan yang menyatakan penguatan

Contoh: Ia tidak hanya rajin dan pandai, tetapi juga teliti dan rendah hati.

  1. Hubungan pertetangan yang menyatakan implikasi

Contoh: Aku sudah lama berdagang, tetapi belum juga punya uang banyak.

  1. Hubungan pertentangan yang menyatakan perluasan

Contoh: Budaya daerah harus dijaga, tetapi budaya luar baik jangan ditolak.

3.5.1.3 Hubungan Alternatif (pilihan)

Hubungan pilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan diantara berbagai kemungkinan yang ada yang ditunjukkan oleh klausa yang dihubungkan itu.

1) Hubungan pilihan yang menyatakan pertentangan

Aku harus bersekolah dengan sengsara atau berhenti, lalu mencari uang.

2) Hubungan pilihan yang tidak menyatakan pertentangan

Dia duduk merenungkan masa lalu ataukah sedang merancang masa depan?

3.5.2 Hubungan Antarklausa Subordinatif

Hubungan antarklausa subordinatif menunjukkan hubungan yang hierarkis.

3.5.2.1 Hubungan Sebab

Kata hubung yang digunakan adalah sebab, karena, dan oleh karena.

Contoh:

a. Mereka berkelahi karena salah paham

b. Saya tidak tahu apa sebab dia tidak mau datang ke pertemuan itu.

3.5.2.2 Hubungan Akibat

Kata hubung yang digunakan adalah akibat, akibatnya, dan hasilnya.

Contoh: Kebakaran itu terjadi akibat kelalaian petugas pada bagian mesin.

3.5.2.3 Hubungan Tujuan

Kata hubung yang digunakan adalah untuk, demi, agar, supaya, dan biar.

Contoh: Saya bekerja keras demi membesarkan anak-anak saya.

3.5.2.4 Hubungan Syarat

Kata hubung yang digunakan adalah jika, kalau, jikalau, dan asalkan.

Contoh: Saya mau datang ke pertemuan penting itu jika anda datang juga.

3.5.2.5 Hubungan Waktu

1) Waktu Batas Permulaan

Ditandai dengan kata hubung sejak atau sedari.

Contoh: Kami terbiasa hidup sederhana sedari kami masih baru saja menikah.

2) Waktu Bersamaan

Ditandai dengan kata hubung ketika, pada waktu, (se)waktu, seraya, serta, sambil, semantara, selagi, selam, dan tatkala.

Contoh: Mereka datang ketika kami sedang duduk-duduk di teras rumah sore hari.

3) Waktu Berurutan

Ditandai dengan kata hubung sebelum, sehabis, setelah, sesudah, seusai, dan begitu.

Contoh: Sesudah pulang sekolah, dia membantu orang tuanya bekerja di ladang.

4) Waktu Batas Permulaan

Ditandai dengan kata hubung sampai dan kepada.

Contoh: Aku harus belajar dan berjuang keras sampai cita-citaku tercapai.

3.5.2.6 Hubungan Kosesif

Ditandai dengan kata hubung sungguh (pun), sekalipun, dan kendati (pun).

Contoh: Dia rela anaknya pergi belajar walaupun harus jauh dari kampung halaman.

3.5.2.7 Hubungan Cara

Ditandai dengan kata hubung dengan atau tanpa.

Contoh:

Petinju itu menang dengan cara mengelakkan setiap pukulan yang datang.

3.5.2.8 Hubungan Kenyataan

Klausa subordinatif pada hubungan kenyataan atau hubungan komplementatif bertugas melengkapi verba atau melengkapi nomina subjek.

Contoh: Sekarang aku baru tahu (bahwa) anak itu ternyata sangat rajin.

3.5.2.9 Hubungan Alat

Ditandai dengan kata hubung dengan, tidak dengan, memakai, dan menggunakan.

Contoh: Petani membalik tanah dengan cangkul.

3.5.2.10 Hubungan Perbandingan

3.5.2.10a Hubungan Ekuatif

Hubungan ekuatif mempersyaratkan persamaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah sama + adjektiva +dengan atau se-+adjektiva, seperti:

Sekarang penghasilan anak-anakku sama banyak dengan penghasilanku.

3.5.2.10b Hubungan Komparatif

Hubungan komparatif mempersyaratkan perbedaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah lebih/kurang +dari atau lebih/kurang + adjektiva +daripada, seperti:

Pesta itu telah menghabiskan biaya lebih dari/kurang dari Rp 50.000.000,00

3.5.2.11 Hubungan Hasil

Ditandai dengan kata hubung sampai, sampai-sampai, sehingga, dan maka.

Contoh: Semburan Lumpur panas itu makin lama makin besar sehingga kami hampir tidak mampu lagi mengatasinya.

3.5.2.12 Hubungan Atributif

Ditandai dengan kata hubung subordinatif yang.

1) Hubungan Atributif Restriktif

Hubungan seperti ini mewatasi makna nomina yang diterangkannya. Akibatnya, keterangan pewatas itu menjadi bagian integral dari nomina yang diterangkannya.

Contoh: Istrinya yang tinggal di Bogor berjualan telur.

2) Hubungan Atributif Takrestriktif

Klausa relatif pada hubungan atributif takrestriktif hanya memberikan tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya.

Contoh: Istrinya, yang tinggal di Bogor, berjualan telur.

3.5.2.13 Hubungan Andaian

Klausa subordinatif pada hubungan pengandaian berisikan andaian atas sesuatu yang terdapat pada klausa utama.

1) Andaian yang tidak mungkin terjadi

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung andaikata dan andaikan.

Contoh: Andaikata saya merpati, tentu sudah aku terbangi laut yang luas itu.

2) Andaian yang mungkin terjadi

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jika, kalau, ikalau, apabila, dan bilamana.

Contoh:Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud Pasal 6, izin perusahaan tersebut dapat dicabut.

3) Andaian yang menggambarka kekhawatiran

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jangan-jangan.

Contoh: Mengapa ayah diam saja sejak tadi? Jangan-jangan ayah marah kepada kita.

4) Andaian yang berhubungan dengan ketidakpastian

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung kalau-kalau.

Contoh: Kita berdoa sajalah, kalau-kalau ia juga datang pada hari ini.

3.5.2.14 Hubungn Optatif (Berharap)

Kata hubung yang digunakan adalah agar, semoga, moga-moga, dan mudah-mudahan.

Contoh: Kami memohon semoga bapak mau memaafkannya.

BAB 4

KLASIFIKASI KALIMAT

4.1 Apakah Kalimat?

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.

4.2 Strategi Pengenalan Kalimat

Kalimat dasar adalah kalimat yang terdiri atas unsur-unsur pokok. Jadi kalimat dasar adalah kalimat yang belum mengalami perluasan.

4.3 Fungsi Sunjek, Predikat, Objek, dan Fungsi Lain

Untuk mengetahui subjek sebuah kalimat, kita dapat mengajukan pertanyaan dengan menggunakan unsur predikat sebagai tumpuan. Misal, apa yang……..? atau siapa yang…….?

4.4 Kalimat Menurut Bentuk

4.4.1 Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat, Semua kalimat dasar adalah kalimat tunggal. Kalimat tunggal sapat diperoleh dari beberapa segi.

a) Kalimat tunggal adalah kalimat murni

Contoh: Rupiah menguat.

b) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang diperluas dengan berbagai keterangan.

Contoh: Wisatawan asing berkunjung ke Indonesia.

c) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang berubah susunannya.

Contoh: Berdiri aku di senja senyap.

Dalam Bahasa Indonesia terdapat enam pola kalimat:

1) Subjek (KB) + Predikat (KK) : pakar politik berdiskusi

2) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) : Mahasiswa mengikuti ujian

3) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) +Objek (KB) :Dosen membawakan saya buku Biologi

4) Subjek (KB) + Predikat (KS) : Harga kertas mahal

5) Subjek (KB) + Predikat (K.Bil) : Komputernya dua buah

6) Subjek (KB) + Predikat (KB) : Temanku guru SMU 1

Untuk menciptakan beragam kalimat tunggal, enam pola kalimat dasar di atas dapat diperluas atau dipermutasikan unsur-unsurnya.

Pola 1 adalah pola kalimat yang hanya mengandung unsur subjek nomina dan unsur predikat verba.

Contoh: Kami berjuang.

Pola 2 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba, dan berobjek nomina.

Contoh: Kami mencairkan dana.

Pola 3 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba, dan berobjek kedua nomina.

Contoh: Surat kabar memberikan saya kepintaran.

Pola 4 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat adjektiva.

Contoh: Suku bunga bank sangat tinngi.

Pola 5 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat numeralia.

Contoh: Panjang mobil itu empat meter.

4.4.2 Perluasan Kalimat Tunggal

Keenam pola kalimat dasar itu dapat diperluas dengan unsure keterangan.

  1. Ketarangan tempat, seperti di sini, dalam ruangan, sekitar kota;
  2. Keterangan waktu, seperti tiap tahun, ninggu ketiga;
  3. Keterangan alat, seperti dengan pensil, dengan keris;
  4. Keteranga cara, seperti dengan berhati-hati, dan berbagai jenis keteranga lainnya.

4.4.3 Kalimat Majemuk

4.4.3.1 Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang terdiri atas dua kalimat tunggal atau lebih yang digabungkan dengan kata hubung yang menunjukkan kesetaraan, seperti dan, atau, sedangkan, dan tetapi.

4.4.3.2 Kalimat Majemuk Bertingkat (taksetara)

Kalimat majemuk taksetara terdiri atas unsur anak kalimat dan induk kalimat.

Contoh: Saya akan sulit sampai di kantor jika pagi-pagi sekali hari sudah hujan.

4.4.3.3 Kalimat majemuk taksetara Rapatan

Kalimat majemuk taksetara atau kalinat majemuk bertingkat dapat juga dirapatkan jika terdapat unsure subjek yang sama.

Contoh: Mereka sudah menyelesaikan tugas

Mereka boleh mengambil tanda terima

Dapat dirapatkan menjadi Karena mereka sudah menyelesaikan tugas, mereka boleh mengambil tanda terima.

4.4.3.4 Penghilangan Kata Penghubung pada Kalimat Majemuk

Contoh: Dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri, pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar. (salah)

Jika dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri, pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar.(benar)

4.4.3.3 Kalimat Majemuk Campuran

Terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.

Contoh: Karena pembicaraan mengenai pemecahan atom belum rampung, kami terpaksa bekerja sampai malam dan melakukan pembagian kerja dengan lebih baik lagi.

4.4.4 Jenis Kalimat menurut Bentuk dan Gaya

a. Kalimat yang Melepas

Jika kalimat majemuk diawali oleh unsure utama, lalu diikuti oleh unsur tambahan (induk kalimat diikuti anak kalimat), gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian melepas.

Contoh: Kemunduran perekonomian kita harus diatasi sebelum masyarakat menderita kelaparan total.

b. Kalimat yang Berklimaks

Jika kalimat majemuk diawali anak kalimat dan didikuti induk kalimat, gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian berklimaks.

Contoh: Karena penjarah berbaju hitam, petugas keamanan tidak dapat mengenali para penjarah tersebut.

c. Kalimat yang Berimbang

Jika kalmiat disusun dalam bebtuk kalimat mejemuk campuran.

Contoh: Stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan leluasa, dan masyarakat dapat beribadah dengan tenang.

4.5 Kalimat menurut Fungsi

a. Kalimat Pertanyaan (deklaratif)

Dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap ketika ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan bicaranya.

Contoh: Tidak semua nasabah bank memperoleh kredit lunak.

b. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)

Dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi yang diharapkan.

Contoh: Di mana mereka melakukan latihan?

c. Kalimat Perintah atau Permintaan (Imperatif)

Dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan perbuatan.

Contoh: Dilarang merokok di ruangan ini!

e.Kalimat Seruan

Dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan yang kuat atau yang mendadak.

Contoh: Bukan main sulitnya soal ini.

4.6 Kalimat Efektif

Adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan pada pemikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran penulis.

Contoh: Kejaksaan Agung akan menayangkan wajah para koruptor yang menjadi buronan di televisi.

Kalimat tersebut tidak efektif karena yang dimaksudkan adalah menayangkan di televisi wajah koruptor yang menjadi buronan.

4.6.1 Kesepadanan Struktur

Yang dimaksudkan kesepadanan struktur adalah kesepadanan antara pikiran dan struktur bahasa yang digunakan.

  1. Hadirnya subjek dan predikat

Contoh: Bagi mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September. (salah)

Mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September.(benar)

  1. Tidak Hadirnta Subjek ganda

Contoh: Patung Dewi Sri terletak lemari kaca. (salah)

Patung Dewi Sri terletak di dalam lemari kaca.

  1. Tidak Hadirnya Kata Penghubung Intrakalimat pada Kalima Tunggal

Kata penghubung intrakalimat yang dimaksudkan adalah sedangkan dan sehingga.

Contoh: Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. (salah)

Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.(benar)

  1. Tidak Hadirnya Kata yang di Depan Predikat

Contoh: Bahasa Indonesia yanf berasal dari bahasa Melayu.(salah)

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.

4.6.2 Keparalelan Bentuk

Yang dimaksud adalah kesejajaran atau kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Kalau bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomona.

Contoh: Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan penutupannya dengan sangat cermat. (salah)

Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan tertutup dengan cermat.

4.6.3 Ketegasan Makna

Ketegasan makna kalimat ditentukan oleh beberapa unsur.

Contoh: Harapan Presiden ialah agar kita semua membangun bangsa dan negara ini dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Unsur yang ditegaskan dalam kalimat itu aslah harapan Presiden.

4.6.4 Kehematan Kata

Yang dimaksud dengan penghematan kata adalah hemat dalam menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain dan tidak menggunakan apa pun yang dianggap tidak perlu.

  1. Penghilangan Subjek yang Sama pada Anak Kalimat

Contoh: karena dia tidak diundang, dia tidak dating ke pesta itu.(salah)

Karena tidak diundang, dia tidak dating ke pesta perpisahan itu.

  1. Penghindaran Pemakaian Superordinat pada Hiponimi

Contoh: Ia memakai baju warna merah muda. (salah)

Ia memakai baju merah muda. (benar)

  1. Penghindaran Pemakaian Sinonim pada Satu Kalimat

Ontoh: Anda dipersilakan naik ke atas untuk beristirahat.(salah)

Anda dipersilakan naik untuk beristirahat.(benar)

BAB 5

SYARAT-SYARAT PARAGRAF

5.1 Definisi Paragraf

Sebuah paragraph harus memiliki sebuah gagasan utama. Gagasan utama adalah gagasan dasar tentang sesuatu, yang menjadi tumpuan berpikir bagi penulis untuk memunculkan gagasan berikutnya.

Sebuah paragraf harus merupakan satu gagasan yang utuh, artinya jika dilepaskan dari teks, sebuah paragraf sudah memiliki satu gagasan yang utuh dan jelas. Paragraf yang disusun dengan runtut (kohesif) ditandai oleh berpautnya kalimat yang satu dengan kalimat yang lain yamg ada di dalamnya. Paragraf yang disusun dengan padu (koherensif) ditandai oleh berpadunya gagasan yang tedapat dalam setiap kalimat yang membangunnya.

5.2 Keruntutan Paragraf

Keruntutan paragraf ditampilkan melalui hubungan formalitas (hubungan secara bahasa) diantara kalimat yang membentuk paragraf. Untuk itu, diperlukan alat penghubung antarkalimatagar keterpautan itu terlihat jelas.

  1. Penanda hubungan antarkalimat

Berfungsi memadukan hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam sebuah paragraf. Terdapat lima penanda hubunhan antar kalimat , yaitu teknik pengacuan(reference), hubungan pelesapan (ellipsis), penggantian(substitution), perangkaian(conjunction), dan hubungan leksikal(lexical cohesion)

  1. Hubungan dengan Teknik Pengacuan

1) Hubungan Ensoforis

Dapat dibedakan menjadi hubungan anaforis dan hubungan kataforis.

(a) Hubungan Pengacuan dengan itu

Pengangkatan anak wajib dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan di tempat tinggal sah pemohon. Penetapan itu…..

(b) Hubungan Pengacuan dengan begitu

Unit Konteks kalimat dinilai dengan UKBI yang terbatas. Begitu pula halnya dengan penilaian unit kerja lapangan.

(c) Hubungan Pengacuan dengan begitu itu

Hasil yang optimum itu memerlukan proses yang panjang dan waktu yang lama serta ketelitian yan tinggi. Hasil yang begitu (bagus) itu………

(d) Hubungan Pengacuan dengan demikian itu

Analisis kompetensi yang komprehensif merupakan langkah utama untuk menyusun standar kompetensi kerja yang dibutuhkan si bidang tertentu. Analisis yang demikian itu…………..

(e) Hubungan Pengacuan dengan seperti itu

Telah dinyatakan berulang-ulang bahwa hasil yang optimum memerlukan proses yang panjang. Hasil yang seperti itu………

(f) Hubungan Pengacuan dengan tersebut

Setiap orang dilarang membunuh gajah, kura-kura, dan burung. Kalau ada yang melanggar laranga tersebut, pelanggar dapat dihukum.

(g) Hubungan Pengacuan dengan tersebut itu

Untuk menjaga kelestarian hidup gajah dan kura-kuara hijau, setip orang dilarang membunuh gajah dan kura-kura tersebut itu.

(h) Hubungan Pengacuan dengan –nya

Untuk menjaga kelestarian gajah, setiap orang dilarang membunuhnya.

b) Hubungan Eksoforis

Hubungan eksoforis dapat disebut juga hubungan luar bahasa.

Contoh: Hafid melihat ada makanan di atas meja makan, lalu ia bertanya, “Makanan siapa ini? Boleh saya makan , Bu?”

2) Hubungan Penggantian

Ria dan Eka kemarin siang bersama-sama pulang ke Bogor. Mereka berdua naik kereta api.

3) Hubungan Pelesapan

Ditandai oleh lesapnya unsur kalimat karena tidak dinyatakan secara tesurat atau tidak diucapkan pada kalimat berikutnya.

“Sudah dua hari saya sakit dan sudah dua hari pula (saya) tidak masuk kerja. Sementara itu, bahan makanan di rumah sudah tidak ada lagi. Saya tidak tahu entah dari mana (saya) akan dapat makan.

4) Hubungan Kata Perangkai

Siti Hawa selalu dipercaya sebagai manusia kedua karena ia diciptakan setelah Tuhan menciptakan adam. Bahkan, Siti Hawa (ia) diciptakan dari tulang rusuk manusia pertama itu.

5) Hubungan dengan Penanda Leksikal

Contoh: Setiap warga negara garus mematuhi perundang-undangan yang berlaku di negeri ini, termasuk mamatuhi Undang-Undang Lalu Lintas di Jalan Raya.

6) Pengulangan

Misalnya: Ketentuan untuk menggunakan baju seragam putih-putih pada hari Senin hanya berlaku bagi anak-anak sekolah dasar di Kecamatan Ciluer. Anak-anak itu harus segera diberi tahu mengenai ketentuan itu agar mereka bias menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan anak itu.

(b) Penominalan

(a) Sebelum memangku jabatannya, setiap calon terpilih harus mengucapkan sumpah dan janji setia. (b) Pengucapan sumpah dan janji setia tersebut…….

(c) Penggunaan kata hubung intrakalimat

Contoh: Jika terjadi kematian warga Negara, instansi yang ditunjuk wajib mencatat kematian warga Negara itu.

(d) Penggunaan ungkapan penghubung antarkalimat

Contoh: Catatan peristiwa itu amat penting untuk penyelidikan. Untuk itu, diperlukan keseriusan dan kecermatan yang tinngi dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Contoh ungkapan penghubung antarkalimat:

  1. Hubungan sebab akibat: oleh karena itu, dengan demikian, jadi, akibatnya.
  2. Hubungan pertentangan: sebaliknya, akan tetapi, namun, padahal, meskipun demikian dsb;
  3. Hubungan syarat: kalu begitu, kalau demikian, jika begitu dsb;
  4. Hubungan penjumlahan: lagi pula, lain dari itu, di samping itu, dsb;
  5. Hubungan urutan waktu: kemudian, setelah itu, lalu, dsb;
  6. Hubungan cara: dengan demikian, dengan itu, dsb;
  7. Hubungan lebih: bahkan, malah, lebih-lebih, dsb;
  8. Hubungan pertalian untuk menandai manfaat: untuk itu;
  9. Hubungan perangkaian: akhirnya, dengan kata lain, berkaitan dengan itu, dsb.

5.3 Simpulan

Paragraf dapat dikenali lewat ciri sebagai berikut:

  1. Kalimat yang terdapat di dalam sebuah paragraf dapat berurutan atas kalimat tunggal, kalimat koordinatif, dan kalimat subordinatif, atu sebaliknya.
  2. Pada umumnya, paragraf memiliki kalimat tema, yang biasanya diletakkan pada bagian awal, tengah, atau akhir paragraf.
  3. Kalimat yang diletakkan pada bagian awal, tengah, atau akhir paragraf biasanya merupakan perincian lebih lanjut atau penjelasan atas tema.
  4. Paragraf juga dapat memiliki bagian pengantar.

BAB 6

SATUAN-SATUAN DALAM WACANA

6.1 Pendahuluan

Banyak orang menduga bahwa satuan bahasa yang terlengkap adalah kalimat. Dugaan itu salah sebab sebuah kalimat bagaimanapun bentuknya pasti menjadi bagian dari sebuah wacana, baik wacana lisan maupun wacana tertulis.

6.2 Aspek-Aspek Wacana

6.2.1 Aspek Semantis

a. Hubungan semantis antarbagian wacana

ditandai oleh hubungan antara proposisi dan proposisi bagian-bagian wacana itu.

a.1 Hubungan sebab atau hubungan alasan

Contoh: Musim kemarau tahun ini amat panjang, Di mana-mana terjadi kekeringan, petani mengeluh tak ad air, Musim tanam terlambat, dsb.

a.2 Hubungan sarana-tujuan

b. Hubungan latar belakang semantis wacana

b.1 Kesatuan topik

Contoh: “ Dijual. Butuh uang tunai segera. Sebuah rumah tua, luas tanah 1.500 meter persegi dan luas bangunan 200 meter persegi. Peminat yang serius harap menghubungi kami. Kami tidak mempunyai waktu untuk melayani perantara.

b.2 Hubungan di antara peserta tuturan

Contoh: Ketika telepon berdering, seorang ibu berkata kepada anaknya:

Ibu : Ada telepon untuk kamu, Na.

Anna : Ma, tolong terima sebentar. Aku lagi mandi.

6.2.2 Aspek gramatikal

  1. Konjungsi

Di dalam bahasa Indonasia, konjungsi dapat bertugas menyambungkan frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat.

  1. Elipsis (pelesapan)

Biasanya apa yang dilesapkan di dalam salah satu bagian merupakan ulangan dari bagian yang lain.

Contoh: Di mukamu ada sebuah rongga

(di mukamu) ada giginya ada lidahnya

Lewat rongga itu semua bias

Kumasukkan ke dalam perutmu

  1. Paralelisme

Paralelisme atau kesejajaran bentuk dalam wacana mengikuti pola di antara bagian di dalam wacana itu.

Contoh: “ Berhadapan dengan struktur teks sajak kadang-kadang seperti berhadapan dengan ayat-ayat atau yanda-tanda kebesaran Tuhan. Pendek kata kita membaca alam.”

  1. Penggantian (substitusi)

Dapat bersifat anaforis atau pun kataforis.

d.1 Penggantian Anaforis

Penggantian anaforis selalu menggunakan pronominal persona ketiga, seperti:

Kami pergi berjalan-jalan ke kota bersama sebagian penduduk desa kami. Mereka banyak yang memang sama sekali belum pernah melihat keramaian kota. Oleh karena itu, mereka tampak sangat gembira.

d.2 Penggantian Kataforis

Pronomina persona-nya dapat juga digunakan untuk penggantian kataforis, seperti:

Dengan kecerdasan yang luar biasa serta dilengkapi dengan kecermatan dan ketelitiannya yang tinggi, saya yakin kelak Ahmad dapat menjadi seorang peneliti ulung yang berhasil.

6.3 Satuan Satuan di Dalam Wacana

Satuan terbesar di dalam wacana bukan kalimat, melainkan paragraf. Jika dilepaskan dari sebuah wacana, paragraf sudah merupakan suatu kesatuan informasi yang lengkap, utuh, dan selesai.

BAB 7

TEORI DAN PEMIKIRAN LINGUISTIK YANG BERKEMBANG DI INDONESIA

7.1 Pengantar

Pada dasarnya, jika dilihat dari segi teknik analisis suatu kalimat, ada dua macam teori linguistik yang pernah berkembang di Indonesia, secara garis besarnya, yaitu teori linguistik tradisional dan teori linguistik modern. Perbedaan yang mendasar di antara kedua teori tersebut terletak pada titik tolak memandang, cara menganalisis, dan cara mengajarkan bahasa. Teori linguistik tradisional memulai analisis bahasa dengan kata dan bentuk kata, kemudian sampai pada struktur kalimat. Teori linguistik tradisional berangggapan bahwa semua bahasa di dunia ini memiliki struktur kalimat yang sama. Teori linguistik modern memulai analisis bahasa dari kalimat, kemudian beralih ke unsur yang lebih kecil, yaitu klausa, frasa, kata, morfem, dan fonem yang mendasari struktur kalimat tersebut (disebut teori linguistik struktural).

Ciri menonjol dari teori linguistik modern atau teori linguistik struktural adalah (1) pandangan tentang pentingnya hubungan antarunsur bahasa lebih daripada unsur-unsur itu sendiri, (2) satu-satunya objek linguistik yang benar adalah sistem bahasa (langue), dan (3) penelitian bahasa dapat dilakukan secara diakronis ataupun sikronis (Kridalaksana, 1991:7)

7.2 Teori Linguistik yang Berkembang di Indonesia

7.2.1 Teori Linguistik Tradisional

Perintis linguistik pada masa Yunani Kuno, Plato (436-33 SM), telah memberikan prinsip-prinsip dasar linguistik kemudian, perintis linguistik berikutnya, Socrates (469-39 SM), melanjutkan ide-ide Plato dan Socrates yang berpandangan tentang bahasa.

Perintis lai pada masa Yunani Kuno adalah aristoteles (384-322 SM), yang banyak menulis buku tentang logika dan linguistik. Aristoteles dianggap sebagai orang yang memperkenalkan kategori kata (distinct parts of speech). Pemikiran para perintis linguistik itu hingga sekarang diyakini kebenarannya oleh para linguis di Indonesia. (cf. Hani’ah dkk.2006)

Linguis yang tergolong kelompok ini m,isalnya Plato, Socrates, Aristoteles, Panini. Linguis Indonesia yang menggunakan teori tradisional dalam analisis penelitian mereka seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan J.S. Badudu.

7.2.2 Teori Linguistik Transformasi Generatif

Teori sintaksis struktural dimulai dengan diterbitkannya buku Language oleh Leonard Bloemfield pada tahun 1933. Pengikut Bloemfield yang brilian adalah Noam Chomsky. Ia melahirkan suatun teori yang disebut teori linguistik transformasi generatif. Pada tahun 1957 Chomsky menerbitkan buku yang berasal dari disertasinya yang berjudul Syntactic Structure. Tahun 1957 itulah dianggap tonggak awal berkembangnya aliran baru dalam linguistik. Dalam teori linguistik transformasi generatif terdapat struktur dalam (deep structure) dalam pikiran manusia dan strukrur luar (surface structure) dalam wujud bahasa.

Ciri linguistik transformasional, antara lain:

a. bersifat rasionalistis, dan antibehaviorisme;

b. bertujuan menemukan apa yang semesta dan teratur dalam memahami dan menghasilkan kalimat yang gramatikal;

c. memakai konsep-konsep competence dan performance;

d. membedakan struktur lahir dan struktur batin..

Tokoh-tokoh teori linguistik transformasi generatif adalah A.N. Chomsky, J.McCawley, dan G. Lakoff (Kridalaksana, 1991:16)

7.2.3 Teori Linguistik Stratifikasi

Teori linguistik stratifikasi dilontarkan dan dikembangkan oleh Sidney Lamb dari Universitas California. Menerbitkan buku pengantar tatabahasa stratifikasi yang berjudul Outline of Stratificational Grammar tatabahasa stratifikasi mengambil nama dari aneka ragam strata ‘lapisan’ yang terdapat dalam suatu bahasa.

Ciri teori linguistik stratifikasi:

  1. bahasa dipandang sebagai sistem hubungan-hubungan dan bukan sistem unsur-unsur;
  2. bahasa dianggap sebagai sistem statis, jadi menentang konsep-konsep yang menggambarkan proses;
  3. bahasa dianggap sebagai sistem jaringan dan kaidah-kaidah realisasi yang menghubungkan bagian-bagian struktur yang disebut strata; ada strata leksem, strata morfem, ada strata fonem.

Tokoh dari linguistik stratifikasi adalah S. Lamb, H.A.Gleason, D.G.Lookwood, dan A. Makkai (Kridalaksana, 1991:15)

7.2.4 Teori Linguistik Tagmemik

Ciri-ciri teori linguistik tagmemik:

  1. bersifat fungsionalitas;
  2. membedakan satuan etik dan satuan emik;
  3. analisis gramatika tidak hanya terbatas pada kalimat, tetapi sampai ke wacana;
  4. satuan dasar berupa tagmen.

Tokoh teori linguistik tagmemik adalah K.L. Pike, Evelyn Pike, R. Longacre, dan lain-lain (Kridalaksana, 1991:13)

7.2.5 Teori Linguistik Kasus

Ciri-ciri teori linguistik kasus:

  1. bersifat generatif;
  2. mendapat pengaruh dari Pike;
  3. dalam semantik dianggap bahwa nomina berhubungan dengan verba dalam struktur batin berupa berbagai kasus, seperti kasus pelaku, penderita, penerima, dan sebagainya.

Tokoh teori linguistik kasus adalah W. Chafe. Libguis Indonesia yang pernah menerapkan teori ini dalam penelitian linguistik adalah D.P. Tampubolon dan Soenjono Dardjowidjojo (Kridalaksana, 1991:16-17;34)

7.2.6 Teori Linguistik Fungsional

Ciri-ciri teori linguistik fungsional:

  1. teori ini memberi tempat kepada tiga lapisan fungsi, yakni fungsi semantik, fungsi sintaktis, dan fungsi pragmatis;
  2. tidak mengenal transformasi, filter, dekomposisi leksikal;
  3. deskripsi ungkapan bahasa dimulai dengan pembebtukan predikasi dasar yang dilakukan dengan penyisipan ungkapan ke dalam kerangka predikat;
  4. pengungkapan bahasa berjalan dari semantik ke sintaksis terus ke pragmatik dan berakhir pada apa yang disebutnya expression rules.

Teori linguistik fungsional dipelopori oleh Selain oleh simon Dik, juga danes, Halliday, A. Martinet, dan Susumu Kuno (Kridalaksana, 1991:18, 28, dan 35)

7.2.7 Beberapa Pemikiran tentang Linguistik

7.2.7.1 Pemikiran Saussure

Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913) adalah tokoh linguistik modern kelahiran Geneva, Swiss. Tahun 1916 dipandang sebagai tahun kelahiran linguistik modern dan de Saussure dijuliki sebagai Bapak Linguistik Modern. Saussure memiliki pemukiran yang sangat brilian, yaitu dibedakannya dua aspek tanda bahasa, yaitu significant dan signifie. Saussure berprinsip bahwa ujaran (parole) tidak boleh dikacaukan dengan langue. Langue merupakan sistem yang dimiliki bersama yang secara taksadar kita pergunakan sebagai alat komunikasi, sedangkan parole adalah realisasi individual atas sistem bahasa, yang berupa kalimat-kalimat atau ucapan-ucapan seseorang dalam komunikasi sehari-hari.

7.2.7.2 Pemikiran Odgan dan Richard

Pada kurun berikutnya, C.K. Odgan dan I.A. Richard dalam The Meaning of Meaning (1923) membuat langkah yang lebih menentukan dalam membangkitkan minat bidang linguistik, khususnya di wilayah makna kata dan makna kalimat. Odgan dan Richard berbicara tentang kodrat kalimat. Mereka juga berbicara tentang acuan, yang menyatakan bahwa setiap tutur yang bermakna dalam kalimat tentulah mempunyai acuan.

7.2.7.3 Pemikiran John Lyons

Lyons (1996:72) tergolong ahli semantik yang sangat berpengaruh. Dia, menguraikan hubungan antara kegramatikalan (grammaticality) dan kebermaknaan (meaningfulness) serta keberterimaan (acceptability).

7.2.7.4 Pemikiran Sapir-Whorf

Edward Sapir(1884-1937) dan Benjamin Lee Whorf(1897-1941) berpendapat bahwa pandangan manusia tentang dunia luar dibentuk oleh bahasa yang dipakai. Dengan kata lain, bahasa mempengaruhi cara berpikir masyarakat pengguna bahasa yang bersangkutan.

7.2.7.5 Pemikiran Grice dan Leech

Grice dan Leech memunculkan konsep implikatur. Pemahaman implikatur yang dilontarkan Grice dan Leech (1975) berguna untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan, disarankan, atau dimaksudkan oleh penutur,yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur.

7.2.7.5 Pemikiran Austin

Austin (1968) memperkenalkan konsep tindak bahasa (speech act). Ia membedakan tiga jenis tindakan dalam konsep tindak bahasa, yaitu tindakan lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindakan lokusi adalah tindakan mengatakan sesuatu atau tindakan membuat suatu tuturan. Ilokusi adalah tindakan yang dilakukan dalam mengatakan sesuatu atau membuat pernyataan. Secara konvensional, yang dikategorikan sebagai tindakan ilokusi, antaralain, adalah tindakan (a) menyapa, (b) menuduh, (c) mengakui, (d) meminta maaf, (e) menantang, (f) mengeluh, (g) berdukacita, (h) mengucapkan selamat, (i) menyesalkan, (j) mengizinkan, (k) memberi salam, (l) meminta diri, (m) menghina, (n) memberi nama, (o) menawarkan, (p) memuji, (q) berjanji, (r) memprotes, (s) berterima kasih, (t) bersulang (Huurfordv dan Heasley, 1994:244; cf. Kaswanti Purwo 1984:19-20)

Perlokusi adalah tindak bahasa yang mengakibatkan kawan bicara melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu itu.

7.3 Hubungan Teori dan Metode dalam Linguistik

Metode dalam linguistik, sebagaimana dalam ilmu-ilmu lain, adalah metode ilmiah, yaitu berupa siklus empiris, yakni proses yang berlangsung dari metode induktif ke metode deduktif, dan dari metode deduktif kembali ke metode induktif. Metode induktif mencangkup empat langkah, yaitu pengamatan data, wawasan atas struktur data, perumusan hipotesis, dan pengujian hipotesis (Kridalaksana: 1991:11)

TINJAUAN PENULIS

Secara umum, ilmu linguistik (ilmu bahasa) memiliki dua tataran, yaitu tataran fonologi dan tataran gramatika atau tataran bahasa. Dalam tataran bahasa terdapat bahasan tentang morfologi dan sintaksis. Sintaksis membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frasa, klausa, dan kalimat.

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani (sun + tattein = mengatur bersama-sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa.

Menurut aliran struktural, sintaksis diartikan sebagai subdisiplin linguistik yang mempelajari tata susun frasa sampai kalimat. Dengan demikian ada tiga tataran gramatikal yang menjadi garapan sintaksis, yakni: frasa, klausa, dan kalimat (Suparno, 1993: 81)

Frase, klausa, dan kalimat adalah satuan bahasa. Konstruksinya disebut konstruksi sintaksis. Dilihat dari tatanan unsur-unsur pembentuknya, frase, klausa, dan kalimat itu merupakan kontruksi, yang secara khas disebut sintaksis karena konstruksi-konstruksi itu dibahas dan dikaji dalam subdisiplin sintaksis. Atas dasar pemikiran itu dikenal konstruksi frase, konstruksi klausa, dan konstruksi kalimat. (Suparno, 1987: 7)

Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nenprediktif (Rusyana dan Samsuri, 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atu lebih. Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat final), dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa.

Berdasarkan uraian-uraian dan pendapat-pendapat di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sintaksis adalah bidang subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan antarkata dalam tuturan yang meliputi tata susun frase, tata susun klausa, dan tata susun kalimat dalam suatu bahasa.

Pada buku ini telah digambarkan secara jelas mengenai pengertian sintaksis dan hal-hal apa saja yang dipelajari di dalamnya mulai dari pengertian sintaksis, klasifikasi frasa, klasifikasi klausa, klasifikasi kalimat, syarat-syarat paragraph, satuan-satuan dalam wacana hingga teori dan pemikiran linguistic yang berkembang di Indonesia.

Buku ini dikemas dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca memperoleh kemudahan dalam menelaah maksud penulis. Selain itu, buku ini juga dikemas dalam bentuk pembahasan per bab sehingga memudahkan pembaca dalam mempelajari isi buku. Untuk keperluan belajar Sintaksis tataran Mahasiswa Strata Satu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu referensi belajar sintaksis

Buku karya: Prof. DR. E. Zaenal Arifin 


Januari 6, 2009 Posted by | Bahasa | Tinggalkan komentar

Pengaruh TV Terhadap Anak-anak

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan zaman menuntut adanya perubahan dan mobilitas yang tinggi. Perkembangan zaman tak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang. Muncullah berbagai alat dari hasil pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimaksudkan untuk memudahkan dan mempercepat kinerja manusia. Salah satunya adalah televisi.

Televisi adalah suatu media massa yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual (suara dan gambar). Karena dapat dinikmati dalam bentuk suara dan gambar gerak sekaligus itulah orang lebih tertarik kepda televisi daripada media massa lainnya.

Pada zaman sekarang ini, televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minmat pemirsanya , dan mampu membius pemirsanya untuk selalu manyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi. Mulai dari infotainment, entertainment, iklan, hingga sinetron dan film-film yang sesungguhnya tidak pantas ditayangkan.

Kehadiran televisi sesungguhnya telah menimbulkan berbagai fenomena. Televisi memang mampu menayangkan acara-acara yang begitu menarik karena telah ditambahi dengan aksesori-aksesori sehingga membuat pemirsanya begitu mengagumi televisi. Walaupun tanpa mereka sadari, televisi mampu mengubah mereka sedikit demi sedikit. Segala sesuatu diciptakan pasti ada dua dampak yang mengiringinya, yaitu dampak negatif dan positif. Begitu pula dengan hadirnya televisi. Dengan adanya media massa elektronik ini, banyak sekali manfaat yang dapat diambil. Dengan menyaksikan televisi, seseorang dapat memperoleh informasi-informasi aktual yang terjadi dimanapun secara cepat dan lebih jelas. Selain itu, televisi juga mempermudah suatu perusahaan atau badan usaha untukmempromosikan produk-produknya .  Namun televisi juga mempunyai dampak negatif dalam kehidupan. Hal ini sangat terasa pada anak-anak yang jiwanya masih sangat labil dan masih dalam proseks pencarian jati diri. Anak-anak ibarat kertas polos yang dapat dengan mudah digambari sesuka hati. Apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan sering mereka telan mentah-mentah. Televisi dan anak adalah dua komponen yang sangat sulit dipisahkan. Anak-anak adalah penggemar nomor satu media televisi. Rata-rata anak menggunakan hampir sebagian besar waktunya untuk menonton acara televisi, tanpa memikirkan pantaskah acara yang sedang meraka tonton saat itu. Padahal anak adalah usia yang rentan. Mereka belum dapat menentukan yang baik dan yang buruk. Mereka biasa meniru atau mengimitasi kebiasaan yang sering mereka temui.

Dwyer menyimpulkan, sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94% saluran masuknya pesan – pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. TV mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dilayar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di TV setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian. Dengan demikian terutama bagi anak-anak yang pada umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tesebut akan mengikuti acara televisi yang ia tonton. Apabila yang ia tonton merupakan acara yang lebih kepada eduatif, maka akan bisa memberikan dampak positif tetapi jika yang ia tonton lebih kepada hal yang tidak memiliki arti bahkan yang mengandung unsur-unsur negatif atau penyimpangan bahkan sampai kepada kekerasan, maka hal ini akan memberikan dampak yang negatif pula terhadap perilaku anak yang menonton acara televisi tersebut.

Untuk itulah muncul sebuah pemikiran untuk mengevaluasi pengaruh media televisi terhadap pola pikir dan perilaku anak. Yang diharapkan akan timbul suatu bentuk nyata untuk meminimalisasi adanya pengaruh buruk, media televisi terhadap perkembangan anak. Pemikiran ini lebih lanjut penulis tuangkan dalam tulisan yang berjudul ”Pengaruh Media Televisi terhadap Perkembangan Pola Pikir dan Perilaku Anak”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam karya tulis ini dirimuskan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengaruh media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak?

2. Upaya apa yang seharusnya dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya dampak negatif media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini untuk :

1. Mendeskripsikan dan menjelaskan pengaruh media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak.

2. Mendeskripsikan dan menjelaskan upaya-upaya untuk meminimalisasi adanya pengaruh buruk media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak.

D. Manfaat Penulisan

1. Manfaat teoretis

Ø Memberikan penjelasan tentang pengaruh media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak

Ø Menjelaskan upaya yang dapat dilakukan untuk menekan adanya pengaruh buruk terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak.

2. Manfaat Praktis

Ø Orang tua

- Lebih berhati-hati dalam memilih tayangan televisi untuk ditonton anak.

- Dapat mengantisipasi dampak-dampak yang bias ditimbulkan dari acara-acara televisi.

TELAAH PUSTAKA

A. Ihwal Perkembangan anak

Prof. Dra. Warkitri,dkk dalam Perkembangan Peserta Didik menyatakan bahwa perkembangan adalah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi fisik dan psikis pada diri anak yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar menuju kedewasaan (2002 : 6).

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan. Sejak- awal tahun 1980-an semakin diakuinya pengaruh keturunan (genetik) terhadap perbedaan individu. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian perilaku genetik yang mendukung, pentingnya pengaruh keturunan menunjukkan tentang pentingnya pengaruh lingkungan.

Menurut Santrok (1992), banyak aspek yang dipengaruhi faktor genetik. Para ahli genetik menaruh minat yang sangat besar untuk mengetahui dengan pasti tentang variasi karakteristik yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik.

1. Kecerdasan

Arthur Jensen (1969) mengemukakan pendapatnya bahwa kecerdasan itu diwariskan. la juga mengemukakan bahwa lingkungan dan budaya hanya mempunyai peranan minimal dalam kecerdasan. Banyak ahli-ahli yang mengkritik Jensen. Salah seorang di antaranya mengkritik tentang definisi kecerdasan itu sendiri. Menurut Jensen IQ yang diukur dengan tes kecerdasan yang baku merupakan indikator kecerdasan yang baik. Kritik dari ahli lain ialah bahwa tes IQ hanya menyentuh sebagian kecil saja dari kecerdasan. Cara individu memecahkan masalah sehari-hari. penyesuaian dirinya terhadap lingkungan kerja dan lingkungan sosial, merupakan aspek-aspek kecerdasan yang penting dan tidak terukur oleh tes kecerdasan baku yang digunakan oleh Jensen. Kritik kedua menyatakan bahwa kebanyakan .penelitian tentang keturunan dan lingkungan tidak mencakup lingkungan-lingkungan yang berbeda secara radikal. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa studi tentang genetik menunjukkan bahwa lingkungan mempunyai pengaruh yang lemah terhadap kecerdasan.

Menurut Jensen pengaruh keturunan terhadap kecerdasan sebesar 80 person. Kecerdasan memang dipengaruhi oleh keturunan tetapi kebanyakan ahli perkembangan menyatakan bahwa penganih itu berkisar sekitar 50 persen.

2. Temperamen

Temperamen adalah gaya-perilaku karakteristik individu dalam merespon. Ahli-ahli perkembangan sangat tertarik mengenai temperamen bayi. Sebagian bayi sangat aktif menggerak-gerakkan tangan, kaki dan mulutnya dengan keras, sebagian lagi lebih tenang, sebagian anak menjelajahi lingkungannya dengan giat parta vvaktu yang lama dan sebagian lagi tidak demikian. Slebagian bayi merejpons orang Iain dengan hangat, sebagai lagi pasif. Gaya-gaya perilaku tersebut menunjukkan temperamen seseorang.

Menurut Thomas & Chess (1991) ada tiga tipe dasar temperamen yaitu mudah, sulit, dan lambat untuk dibangkitkan:

a. Anak yang mudah umumnya mempunyai suasana hati yang positif dan dapat dengan cepat membentuk kebiasaan yang teratur, serta dengan mudah pula menyesuaikan diri dengan pengalaman baru.

b. Anak yang sulit cenderung untuk bereaksi secara negatif serta sering menangis dan lambat untuk menerima pengalaman-pengalaman baru.

c. Anak yang lambat untuk dibangkitkan mempunyai tingkat kegiatan yang rendah, kadang-kadang negatif, dan penyesuaian diri yang rendah dengan lingkungan atau pengalaman baru.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa keturunan mempengaruhi temperamen. Tingkat pengaruh ini bergantung pada respons orang tua terhadap anak-anaknya dengan pengalaman-pengalaman masa kecil yang ditemui dalani lingkungan.

3. Interaksi keturunan lingkungan dan perkembangan

Keturunan dan lingkungan berjalan bersama atau bekerja sama dan menghasilkan individu dengan kecerdasan, temperamen tinggi dan berat badan, serta minat yang khas. Pengaruh genetik terhadap kecerdasan terjadi pada awal perkembangan anak dan berlanjut terus sampai dewasa. Telah diketahui pula bahwa dengan dibesarkan pada keluarga yang sama dapat terjadi perbedaan kecerdasan secara individual dengan varjasi yang kecil pada kepribadian dan minat. . Salah satu alasan terjadinya hal itu ialah mungkin karena keluarga mempunyai penekanan yang sama kepada anak-anaknya berkenaan dengan perkembangan kecerdasan yaitu dengan mendorong anak mencapai tingkal tertinggi. Mereka tidak mengarahkan anak ke arah minat dan kepribadian yang sama. Kebanyakan orang tua menghendaki anaknya untuk mencapai tingkat kecerdasan di atas rata-rata.

Prof. Dra. Warkitri, dkk (2002 : 12) analisis hal atau kenyataan yang memungkinkan terjadinya perkembangan ada beberapa azas, yaitu :

1. Azas biologis

Anak adalah makhluk hidup sehingga ia akan berkembang. Agar perkembangan tersebut dapat berlangsung dengan normal, maka keadaan biologis harus normal juga. Keadaan biologis bisa berkembang normal apabila kebutuhan biologis terpenuhi secara normal.

2. Azas ketidakberdayaan

Anak manusia saat lahir dalam keadaan tak berdaya. Ketidakberdayaan ini yang menyebabkan manusia dapat berkembang secara luas. Karena dalam perkembangannya manusia tidak dibatasi oleh insting-insting seperti pada binatang sehingga manusia dalam perkembangannya membutuhkan pertolongan.

3. Azas keamanan

Untuk berkembang mencapai kedewasaan anak membutuhkan rasa aman, kasih sayang dan rasa terlindungi.

4. Azas eksplorasi

Anak dalam hidupnya selalu mengadakan eksplorasi untuk menemukan sesuatu. Eksplorasi ini pada mulanya dilakukan melalui panca inderanya yang kemudian dilanjutkan dengan fungsi-fungsi psikis yang lain.

B. Ihwal Media Televisi

Televisi adalah suatu media massa elektronik yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual (suara dan gambar). Televisi merupakan media yang mampu menyebarkan informasi secara cepat dan memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu bersamaan.

Saat ini televisi merupakan sarana yang paling digemari dan dicari orang. Untuk mendapatkan televisi tidak lagi sesulit zaman dulu dimana media elektronik ini adalah barang langka yang hanya dapat dimilki oleh kalangan tertentu. Kini hamper seluruh keluarga memilki perangkat komunikasi tersebut. Saat ini televisi telah menjangkau lebih dari 90% penduduk di Negara berkembang. Televisi yang mungkin dulu hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu saat ini bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa batasan usia.

METODE PENULISAN

A. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam karya tulis ini dilakukan dengan teknik studi pustaka atau collecting by library. Data dalam karya tulis ini adalah informasi dai hasil telaah dokumen kepustakaan, seperti buku-buku, jurnal dan sebagainya. Selain itu didukung juga dengan sumber-sumber dari internet yang sesuai dengan penulisan yang dibahas, yaitu mengenai perkembangan anak dan pengaruh media televisi terhadap anak.

B. Pengolahan Data

Dalam karya tulis ini data diolah dengan cara menyajikan dan menganalisis data kemudian diambil kesimpulan. Dalam hal ini, data dari internet yang berupa pengaruh televisi terhadap perkembangan anak dipilih sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu, data-data yang dapat digunakan dianalisis berdasarkan teori-teori yang ada, kemudian ditarik suatu kesimpulan.

C. Analisis dan Sintesis

Analisis data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola, kategori dan uraian dasar sehingga akan dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Lexy J.Moleong, 1933). Analisis data dalam karya tulis ini dilakukan dengan cara menguji, menyesuaikan dan mengkategorikan data dengan teori yang ada dalam telaah pustaka. Dalam hal ini fase-fase perkembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dikaitkan dengan media televisi. Setelah semua terkategori dengan baik atau terkumpul dengan baik, maka ditarik suatu simpulan dan dijadikan alternatif pemecahan masalah. Adapun masalah utama dalam penulisan ini adalah pengaruh media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak.

PEMBAHASAN

Pada telaah pustaka telah dijabarkan bahwa perkembangan adalah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi fisik dan psikis pada diri anak yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar menuju kedewasaan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan antara lain kecerdasan, temperamen, dan interaksi keturunan lingkungan dan perkembangan. Sedangkan menurut Prof. Dr. Warkitri, dkk dalam telaah pustaka bahwa analisis fenomenologis hal-hal atau kenyataan-kenyataan yang memungkinkan terjadinya perkembangan ada beberapa azas anatara lain azas biologis, azas ketidakberdayaan, azas keamanan, dan azas eksplorasi.

A. Pengaruh Media Televisi terhadap Perkembangan Pola Pikir dan Perilaku Anak

Televisi merupakan media massa elektronik yang sangat digemari oleh masyarakat. Karena televisi menyampaikan informasi melalui suara dan gambar sekaligus. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya mampu menarik minat pemirsanya dan membuat pemirsanya terbius untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Dengan berbagai acara yang ditayangkan seperti sinetron, entertainment, infotainment, iklan, dan sebagainya.

Televisi hadir sebagai sarana untuk hubungan dan komunikasi antar manusia. Sebenarnya televisi memiliki beberapa fungsi, yaitu :

1) Fungsi rekreatif

Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya, karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan.

2) Fungsi educatif

Selain untuk menghibur, televisi juga berperan memberikan pengetahuan kepada pemirsanya lewat tayangan yang ditampilkan.

3) Fungsi informatif

Televisi dapat mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di daerah lain. Dengan menonton televisi akan menambahkan wawasan.

Ironisnya kini yang sering kita jumpai, acara-acara televisi lebih mementingkan pada fungsi informatif dan rekreatif saja, sedangkan fungsi educatif yang merupakan fungsi yang sangat penting untuk disampaikan sangat jarang ditemui.

Anak-anak dan televisi adalah dua komponen yang susah dipisahkan. Mereka adalah perpaduan yang sangat kuat. Tak banyak hal lain dalam kebudayaan manusia yang mampu menandingi kemampuan televisi dalam menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka.

Begitu pula minat mereka dengan televisi. Mereka menganggap televisi lebih menyenangkan dari pada belajar dan mendengarkan nasehat orang tua. Mereka merasa terlayani dengan adanya televisi. Dengan adanya televisi anak-anak akan melupakan kesulitannya, dengan adanya televisi mereka gunakan untuk mengisi waktu, mempelajari sesuatu, memberikan rangsangan, bersantai, mencari persahabatan dan sekedar kebiasaan. Kebiasaan menonton televisi bagi anak sebenarnya kurang baik. Banyak sekali tayangan yang disajikan oleh stasiun televisi yang tidak mendidik. Bahkan tak jarang ditemui acara-acara yang berbahaya bagi anak. Sering sekali ditayangkan dalam televisi acara yang berbau kekerasan, adegan pacaran yang mestinya belum pantas ditonton oleh anak, tidak hormast kepada orang tua, gaya hidup yang hura-hura.

Konflik dengan orang tua, perkelahian sesama anak, dan kejahatan remaja ternyata erat hubungannya dengan jumlah jam menonton televisi. Bagi anak yang sejak usia dini telah menonton tayangan mistis, kelak akan tumbuh menjadi orang yang penakut dan dan ia akan mengambil keputusan berdasarkan emosi. Menonton televisi juga dapat mengurangi kemampuannya untuk menyenangkan diri sendiri dan melumpuhkan kemampuannya untuk mengemukakan pendapatnya secara logis dan sensitif.

Dibawah ini dicantumkan data mengenai fakta tentang pertelevisian Indonesia :

1. tahun 2002 jam tonton televisi anak-anak 30-35 jam/hari atau 1.560 – 1.820 jam/tahun, sedangkan jam belajar SD umumnya kurang dari 1.000jam/tahun.

2. 85% acara televisi tidak aman untuk anak, karena banyak mengandung adegan kekerasa, seks dan mistis yang berlebihan dan terbuka.

3. saat ini ada 800 judul acara anak, dengan 300 kali tayang selama 170jam/minggu padahal satu minggu hanya ada 24 jam X 7 hari = 168 jam.

4. 40 % waktu tayang diisi iklan yang jumblahnya 1.200 iklan/minggu, jauh diatas rata-rata dunia 561 iklan/minggu.

Berdasarkan data diatas, dapat dibayangkan apabila anak-anak yang merupakan aset-aset bangsa yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini serta yang akan memajukan bangsa ini, sejak kecil telah terbiasa dengan hal yang tidak bermanfaat, maka negara ini yang sudah tertinggal dan terpuruk ini akan semakin terpuruk dan tertinggal dan akhirnya akan menjadi negara yang akan di lecehkan oleh negara lain. Inilah fakta yang bukan hanya untuk kita perhatikan tetapi perlu dilakukan tindakan nyata untuk mengantisipasinya. Yang pastinya diperlukan satu-kesatuan tekat dalam setiap diri orang tua dan anggota masyarakat untuk bisa mengatisipasi dampak yang akan terjadi serta bisa menjadi kontrol bagi pihak penyiar televisi terhadap acara-acara yang ditayangkan oleh setiap stasiun televisi.

Jika kita kaji lebih jauh, dampak negatif dari menonton televisi berlebihan yaitu:

  1. Anak 0–4 tahun, menggangu pertumbuhan otak, menghambat pertumbuhan berbicara, kemampuan herbal membaca maupun maupun memahaminya, menghambat anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan.
  2. Anak 5-10 tahun, meningkatkan agresivitas dan tindak kekerasan, tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan. Anak kecil belum mampu membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan kenyataan yang sebenarnya. Seorang anak kecil belum dapat mengenal dan mengetahui apakah itu acting, efek film, atau tipuan kamera. Bagi mereka, dunia di luar rumah adalah dunia seperti yang mereka lihat di televisi.
  3. Berperilaku konsumtif karena rayuan iklan. Iklan merupakan salah satu bentuk promosi untuk menawarkan produk kepada masyarakat. Sekarang ini semakin banyak iklan yang menawarkan berbagai produk dari mainan anak, jajanan, minuman, dan sebagainya. Iklan-iklan tersebut memberikan janji yang sangat menarik bagi sebagian besar anak. Sehingga anak selalu berusaha memiliki produk yang ditawarkan oleh iklan tersebut.
  4. Mengurangi kreativitas, kurang bermain dan bersosialisasi, menjadi manusia individualis dan sendiri. Saat menonton televisi, anak kurang beraktivitas, hanya duduk di depan televisi dan melihat apa yang ditayangkan televisi. Baik secara fisik maupun mental, anak menjadi pasif. Kemampuan berpikir dan kreativitas anak tidak terasah, karena ia tidak perlu membayangkan atau berimajinasi layaknya ketika ia sedang membaca buku atau mendengar musik. Kecanduan menonton TV akan bermasalah ketika ini mengakibatkan anak menjadi tidak bermain ke luar rumah dengan lingkungan sekitar. Ia menjadi tidak bersosialisasi da dunianya tidak bertambah luas.
  5. Televisi menjadi pelarian dari setiap keborosan yang dialami, seolah tidak ada pilihan lain.
  6. Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan) kaena kurang berkreativitas dan berolahraga. Menonton televisi kebanyakn merupakan kegiatan yang pasif dimana anak hanya duduk, melihat dan mendengarkan. Hal ini tidak menutup kemungkinan anak dapat menjadi gemuk karena mereka biasanya menonton televisi disertai dengan makan cemilan.
  7. Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga, waktu berkumpul dan bercengkrama dengan anggota keluarga tergantikan dengan nonton TV, yang cenderung berdiam diri karena asyik dengan jalan pikiran masing-masing
  8. Matang secara seksual lebih cepat. Asupan gizi yang bagus, adegan seks yang sering dilihat menjadikan anak lebih cepat matang secara seksual, ditambah rasa ingin tahu pada anak dan keinginan untuk mencoba adegan di TV semakin menjerumuskan anak.
  9. Penambahan kosakata pada anak. Anak cenderung meniru adegan atau ucapan yang sering mereka jumpai di televisi. Padahal saat ini banyak sekali bahasa dan umpatan yang tidak disensor dan ditirukan oleh anak. Ironisnya, bahasa dalam film atau sinetron malah dijadikan trend.

Saat ini, anak bukan hanya menjadi penikmat televisi, tetapi juga menjadi pemeran dalam tayangan di televisi. Marak sekali film atau sinetron yang menjadikan seorang anak kecil menjadi pemeran utama. Anak kecil yang seharusnya masih bermanja-manja pada orang tua dan bermain malah dipaksa untuk berakting siang malam. Banyak kata-kata dan adegan-adegan yang seharusnya belum dapat diterapkan kepada anak usia tersebut. Hal ini sangat berpengaruh pada perkembangan anak di kemudian hari.

B. Upaya yang Harus Dilakukan untuk Meminimalisasi Adanya Pengaruh Buruk Media Televisi terhadap Perkembangan Anak

Orang tua adalah sosok yang sangat penting dalam perkembangan anak. Orang tua adalah guru terpenting bagi anak-anak. Mereka harus mampu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hal sekecil apapun harus diantisipasi oleh orang tua mengenai dampak positif dan negatif yang dapat diterima anak. Begitu juga dengan adanya televisi yang bukan hanya memberikan dampek positif, namun juga dampak negatif. Untuk menghindari dampak negatif dari televisi bukan dengan cara membuang dan menjauhkan anak dari televisi. Hanya saja perlu pengontrolan dari orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak. Sebagaimana kata Kahlil Gibran kalau orang tua itu adalah busur dari anak panah kehidupan putra-putrinya untuk melesat ke masa depan. Karena anak-anak juga mendambakan kehidupannya sendiri.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi pengaruh buruk media televisi terhadap perkembangan anak, khususnya yang harus diperhatikan oleh orang tua, antara lain :

1. Orang tua harus dapat memilih acara yang sesuai dengan usia anak. Jangan biarkan anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya. Walaupun ada acara yang memang untuk anak-anak, perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan anak-anak. Maksudnya tidak ada unsur kekerasan atau hal lain yang tidak sesuai dengan usia mereka.

2. Orang tua sebaiknya mendampingi anak saat menonton televisi. Tujuannya adalah agar acara televisi yang ditonton oleh anak dapat terkontrol dan orangtua dapat memperhatikan apakah acara tersebut layak ditonton atau tidak. Orangtua juga dapat mengajak anak membahas apa yang ada di televisi dan membuatnya mengerti bahwa apa yang ada di televisi tidak tentu sama dengan kehidupan yang sebenarnya.

3. Orang tua harus mengetahui acara favorit anak dan bantu anak memahami pantas tidaknya cara tersebut mereka tonton , ajak mereka menilai karakter dalam acar tersebut secara bijaksana dan positif.

4. Orangtua sebaiknya tidak meletakkan televisi di kamar anak. Selain untuk mempermudah orangtua mengontrol tontonan anak, juga tidak membuat aktivitas yang seharusnya dilakukan di kamar seperti tidur dan belajar menjadi terganggudan beralih ke televisi.

5. Ajak anak untuk melekukan banyak aktivitas lain selain hanya menonton televisi. Orangtua dapat mengajak anak keluar rumah untuk menikmati alam dan lingkungan, bersosialisasi secara positif dengan orang lain. Orang tua juga dapat memperkenalkan dan mengajarkannya suatu hobi baru.

6. Ajari anak untuk memperbanyak membaca buku yang bermanfaat. Letakkan buku di tempat yang mudah dijangkau anak, ajak anak ke toko buku atau perpustakaan.

7. Perbanyak anak mendengar radio atau mendengar musik sebagai pengganti menonton televisi.

8. Periksalah jadwal acara televisi, sehingga orangtua dapat mengatur acara apa yang akan ditonton bersama anak. Dengan mencari dan melihat resensi atau ulasan mengenai film atau acara tersebut orangtua akan tahu garis besar isi acara tersebut sehingga dapat menentukan pantas tidak acara tersebut disaksikan.

9. Orangtua harus membiasakan anak tidak menonton televisi di hari-hari sekolah. Ini dimaksudkan untuk menghindari kurangnya waktu belajar anak karena terlalu banyak menonton acara televisi. Di sini orangtua harus member contoh dengan tidak banyak menonton televisi. Jika anak melihat orangtuanya sering menonton televisi sedangkan ia tidak diperkenankan tentu anak akan menganggap itu tidak adil.

10. Orangtua harus membekali anak dengan pendidikan yang mengandung nilai-nilai agama yang harus selalu diterapkan dan ditumbuhkan di rumah dengan cara mengikutsertakan anak ke suatu pendidikan keagamaan di luar jam sekolah, agar anak-anak mampu berpikir jernih, punya rencana dan masa depan yang baik.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Televisi memberikan dampak positif dan negatif terhadap perkembangan anak. Dampak positifnya yaitu televisi dapat memberikan hiburan, pendidikan dan memberikan informasi terhadap anak. Dampak negatifnya yaitu :

a. Anak 0–4 tahun, menggangu pertumbuhan otak, menghambat pertumbuhan berbicara, kemampuan herbal membaca maupun maupun memahaminya, menghambat anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan.

b. Anak 5-10 tahun, meningkatkan agresivitas dan tindak kekerasan, tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.

c. Berperilaku konsumtif karena rayuan iklan.

d. Mengurangi kreativitas, kurang bermain dan bersosialisasi, menjadi manusia individualis dan sendiri.

e. Televisi menjadi pelarian dari setiap keborosan yang dialami, seolah tidak ada pilihan lain.

f. Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan) karena kurang berkreativitas dan berolahraga.

g. Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga

h. Matang secara seksual lebih cepat.

i. Penambahan kosakata pada anak.

2. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi adanya pengaruh buruk media televisi terhadap perkembangan anak, antara lain :

a. Orang tua harus dapat memilih acara yang sesuai dengan usia anak.

b. Orang tua sebaiknya mendampingi anak saat menonton televisi.

c. Orang tua harus mengetahui acara favorit anak dan bantu anak memahami pantas tidaknya cara tersebut mereka tonton

d. Orangtua sebaiknya tidak meletakkan televisi di kamar anak.

e. Ajak anak untuk melakukan banyak aktivitas lain selain hanya menonton televisi.

f. Ajari anak untuk memperbanyak membaca buku yang bermanfaat

g. Perbanyak anak mendengar radio atau mendengar musik sebagai pengganti menonton televisi.

h. Periksalah jadwal acara televisi, sehingga orangtua dapat mengatur acara apa yang akan ditonton bersama anak.

i. Orangtua harus membiasakan anak tidak menonton televisi di hari-hari sekolah.

j. Orangtua harus membekali anak dengan pendidikan yang mengandung nilai-nilai agama yang harus selalu diterapkan dan ditumbuhkan di rumah

B. Saran

1. Sebaiknya orangtua mampu mengontrol dan menemani anak dalam kegiatan menonton televisi. Orangtua harus mampu memilih acara yang pantas ditonton oleh sang anak dan memberikan pengertian kepada anak.

2. Seharusnya stasiun televisi mampu menayangkan acara yang mendidik bagi anak, bukan hanya mementingkan keuntungan semata.

Januari 6, 2009 Posted by | psikologi | Tinggalkan komentar

Khutbah sebagai Analisis Wacana

TRANSKRIP KHOTBAH JUMAT

Pengisi          : Ustadz Mulyono Muhtar

Judul                : Hijrah Rosul

 Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, alhamdulillah-dst (Bahasa Arab).

Hadirin kaum muslimin sidang Jumat Rokhimakumullah, tiada kata yang paling indah kecuai dengan alhamdulillahirobbil’alamin, bahwa Saudara sekalian pada siang hari ini diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu menjalankan ibadah wajib sholat Jumat. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan Rosulullah Saydina Muhammad SAW, kepada keluarga, kepada para sahabat, kepada mutabiin, dan mudah-mudahan kepada kita sekalian yang selalu mengikuti jejak Saydina Muhammad SAW.

Selanjutnya, marilah kita selalu waspada menjaga diri kita masing-masing. -Bahasa Arab- Waspada menjaga diri dari segala perintah-perintah Allah untuk selalu melaksanakan, waspada menjaga diri kita masing-masing dari segala larangan-larangan Allah untuk kita jauhi dan kita tinggalkan. Oleh karena dengan demikian, mudah-mudahan kita sekalian dimasukkan oleh Allah sebagai golongan orang-orang yang mutaqin, allahumma amin. Dan perintah Allah janganlah sekali-kali kita mati -Bahasa Arab- janganlah sekalikali kita mati kecuali mati di dalam Islam, insyaallah.

Hadirin sidang Jumat Rokhimakumullah, pada kesempatan khotbah pada siang hari ini materi yang akan disampaikan masalah inti ajaran yaitu hijrahnya Rosul. Hijrah Rosul merupakan suatu tes psikis, suatu ujian bagi keimanan seseorang di zaman Rosul SAW yang baru sedikit iman kepada Allah dan Rosul-Nya, diuji oleh Allah di mana ada perintah dari Allah kepada Muhammad SAW untuk hijrah ke Mekah ke Yayin. Namun sebagian sahabat nabi yang imannya belum mantap merasa enggan dan segan mengikuti hijrahnya ke Yayin. Inilah satu ujian bagi sahabat Rosulullah SAW pada saat melakukan hijrah Rosul-rosul. Sedangkan hijrah sebagai suatu syarat bagi seorang mukmin atau bagi seorang muslim yang selalu mengharapkan nikmat-nikmat Allah. –Bahasa Arab- Inilah Albaqoroh 218 bahwa hijrah merupakan salah satu kunci persyaratan agar kita selalu mendapatkan rahmat dari Allah SWT. -Bahasa Arab- Yang pertama, syarat yang pertama adalah iman. –Bahasa Arab- Sebab iman merupakan satu hal yang fundamental dan yang mendasar diterima atau tidak amal perbuatan manusia. Maka iman adalah fundamental, mendasar. Maka iman sebagai prasyarat yang pertama.

Syarat yang kedua adalah orang-orang yang mau hijrah. Hijrah di sini oleh kholifah Umar bin Khotob mengatakan, inti hijrah adalah pemisah antara hak dan bathil, pembeda atau pemisah antara hak dan bathil. Dan Rosululllah SAW bersabda dalam suatu hadisnya –Bahasa Arab- yang dimaksudan hijrah mengandung dua perkara inti –Bahasa Arab- yaitu orang-orang termasuk kita sekalian umat muslim yang mengaku mukmin harus mampu dan mau menghijrahkan dari –Bahasa Arab- perbuatan-perbuatan keji. Kemudian –Bahasa Arab- dan yang kedua –Bahasa Arab- selau ada niatan kita, apa yang ada dalam pikiran kita, apa yang ada dalam hati kita, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita amalkan harus selalu berpedoman Allah dan Rosul-Nya. –Bahasa Arab- Demikianlah hadis dari Rosulullah Saydina Muhammad SAW. Oleh karena itulah, kita ditantang pada peristiwa hijrah Rosul tersebut mampu dan maukah kita untuk menghijrahkan, pilihan yang pertama, dari perbuatan-perbuatan syayiah, meninggalkan perbuatan-perbuatan syaihad, dan menuju pada perbuatan-perbuatan yang islami, meninggalkan suatu perbuatan-perbuatan yang bathil dan kita menuju kepada hal-hal yang alhak, yang benar, yang pertama. Jawaban Anda ada pada diri kita masing-masing. Dan Allah –Bahasa Arab- Oleh karena itulah, hijrah kita yang kedua dari Rosulullah Saydina Muhammad SAW atas segala apa yang kita pikirkan, apa yang kita niatkan di dalam hati kita masing-masing, dan apa yang kita amal perbuat, kita harus selalu berpedoman hanya pada Allah dan Rosul-Nya. Kalau kita menyimpang daripada aturan, batasan-batasan yang ditetapkan Allah dalam Alqurannulkarim maupun sunah Rosulullah Saydina Muhammad SAW dan dituntunkan para ulama ini, niscaya kita betul-betul akan menjadi golongan orang-orang yang muhajirin, insyaallah, mudah-mudahan.

Syarat yang ketiga adalah sebagai fisabilillah, orang-orang yang mau sungguh-sungguh berjihad di jalan Allah. Jihad di sini jangan diartikan secara sempit adalah perang. Jihad itu artinya luas, segala sesuatu kita bersungguh-sungguh untuk melaksanakan suatu perbuatan yang baik dan yang utama hanya karena Allah itu termasuk jihad. Bagi seorang suami, bapak dalam rumah tangga, mencari nafkah betul-betul hanya dikarenakan untuk kesejahteraan keluarga, hanya untuk amal ibadah, itu sudah jihad namanya. Sangat luas. Lembaga-lembaga pendidikan Islam kita, siapa yang menggaji gurunya, siapa lagi yang melengkapi sarana dan prasarananya, maka seorang muslim yang mau berjihad harus memikirkan lembaga-lembaga pendidikan di tengah-tengah sekeliling kita. Ada SD Diponegoro, ada SMP Diponegoro, ada SMA Diponegoro, ada Rumah Sakit Kustati, itulah lembaga kita sendiri. Dan puncak dari jihad adalah Alkitab, bilamana kita diperangi oleh musuh-musuh yang memerangi kita. Dan itulah namanya jihad dalam arti Alkitab. Sebagaimana ikhwan-ikwan kita di Irak, ikhwan-ikwan kita di Afganistan, ikhwan-ikhwan kita di Palestina, karena mereka dijajah, diserang oleh kaum kafir. Mereka, jihad di sini dalam arti Alkitab adalah perang. –Bahasa Arab- Mereka itulah orang-orang yang selalu mengharapkan cinta dari Allah dan mengharapkan rahmat dari Allah. –Bahasa Arab- Sesungguhnya Allah yang Maha Pengampun dan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Demikianlah tadi, topik khotbah kami pada siang hari ini. Mohon maaf, mengambil inti, hikmah, makna dari hijrah Rosul. Mudah-mudahan Allah memasukkan kita menjadi golongan orang-orang muhajirin. Amin ya robbal’alamin.

Doa (Bahasa Arab).

  KHOTBAH SEBAGAI ANALISIS WACANA

A. Pengertian Analisis Wacana

Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Banyak pengertian yang merangkai kata wacana ini. Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat.Sedangkan menurut Michael Foucault (1972), wacana; kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.

Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat.

Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) — Analisis Isi (kuantitatif)

Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. –Analisis Framing (bingkai)

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua. (http://209.85.173.132/search?q=cache:3YZT7UYjgy8J:elsani.wordpress.com/2007/09/25/analisiswacana/+pengertian+analisis+wacana&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id)

            Dalam http://www.geocities.com/anas_yasin/aw4.html analisis wacana yang ditulis oleh Deborah Tannen mendefinisikan  kajian bahasa sebagai kajian yang menjangkau aspek-aspek di luar kalimat (‘beyond the sentence’). Hal ini berbeda dengan analisis yang mengkaji bahasa dari sudut gramatika: kajian tentang hal-hal yang kecil dalam bahasa, seperti kajian bunyi-bunyi bahasa (fonetik dan fonologi), bagian-bagian kata (morfologi), makna (semantik), dan urutan kata di dalam kalimat (sintaksis). Penganalisis wacana mengkaji satuan bahasa yang lebih besar dalam alur kalimat yang saling berhubungan sehingga merupakan kesatuan yang utuh.

Disebutkan lagi dalam http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kajian-wacana-bahasa-indonesia/) analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.

Ada dua jenis wacana, wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan berbentuk komunikasi verbal antar persona, sedangkan wacana tulis ditampilkan dalam bentuk teks. Wacana harus dibedakan dari teks dalam hal bahwa wacana menekankan pada proses, sedangkan teks pada produk kebahasaan. Sebuah unit percakapan dapat dilihat dari teks apabila penganalisis melihat hubungan kebahasaan antar tuturan. Sebaliknya, percakapan dilihat dari wacana apabila yang dikaji adalah proses komunikasi sehingga menghasilkan interpretasi. Dalam makalah ini, penekanan bahasan adalah pada wacana. 

Bahwa budaya mempengaruhi “gaya” percakapan secara sistematis merupakan prinsip pendekatan analisis wacana yang dikenal sebagai etnografi komunikasi, yang mengkaji bagaimana kaidah-kaidah budaya menentukan struktur dasar percakapan. Bagi etnografer di bidang ini, budaya merangkul pengetahuan dan pelaksanaannya, termasuk tindak tutur. Dalam hal yang demikian, etnografi  komuniaksi adalah payung teori tindak tutur. Karena itu, barangkali, pendekatan komunikasi yang mengatakan bahwa tidak hanya totalitas pengetahuan dan pelaksanaan budaya tercakup di dalam wacana tapi juga penekanan pada bahasa menjadikan kedua kajian ini lebih banyak diperhatikan pada saat ini.

Karena totalitas budaya tercakup secara dominan di dalam kajian wacana, maka semua aspek kehidupan sosial-budaya manusia dapat dianalisis melalui wacana. Makna dan modernitas merupakan usaha yang ambisius untuk membangun kembali konsep dari pragmatisme filosofis untuk teori sosial yang kontemporer. Halton (1986) mengemukakan nilai-nilai sikap pragmatis sebagai cara berpikir. Selama ini, teknik rasionalisasi melepaskan diri dari konteks yang hidup.Yang lebih menarik dewasa ini adalah arah kajian sosial budaya dan wacana bisa dilakukan dalam dua arah–melalui wacana, kita dapat mengkaji budaya dan melalui budaya kita dapat mengkaji wacana.(Anah Yasin dalam http://www.geocities.com/anas_yasin/arah.html)

Ada banyak pendapat yang mengungkapkan tentang pengertian analisis wacana. Menurut Stubbs (dalam Budhi Setiawan, 2006: 3) analisis wacana ialah suatu usaha untuk menkaji bahasa di atas kalimat atau di atas klausa; dan oleh karena itu, analisis wacana merupakan studi yang lebih luas daripada unit-unit linguistik, yakni kajian pertukaran percakapan dan kajian teks-teks yang tertulis. Selanjutnya, menurut Hatch dan Long (dalam Budhi Setiawan, 2006: 3) menyebutkan bahwa studi analisis wacana mempunyai dampak yang penting pada masyarakat, pendidikan, dan ilmu linguistik. Studi ini menghasilkan penertian yang lebih mendalam mengenai bagaimaa belajar bahasa (atau bahasa-bahasa); pengertian yang lebih mendalam bagaimana cara individu-individu berinteraksi melalui bahasa; pengertian yang lebih mendalam tentang wacana kelas, kurikulum-kurikulum pendidikan dan mater-materi ajar; pengertian yang lebih mendalam mengenai bagaimana makna-makna itu melekat pada kalimat-kalimat; dan pengertian yang lebih mendalam lagi mengenai sintaksis kalimat.

             Analisis wacana menurut Soeseno Kartomihardjo (1993: 21) adalah cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Dalam upaya menguraikan suatu unit bahasa, analisis wacana tidak terlepas dari penggunaan piranti cabang ilmu bahasa lainnya seperti yang dimiliki oleh semantik, sintaksis, fonologi, dan lain sebagainya. Di samping itu, analisis wacana memiliki piranti khusus yang tidak digunakan oleh cabang ilmu bahasa lainnya itu. Selanjutnya menurut Abdul Wahab ( 1995: 128) analisis wacana sebenarnya merupakan analisis bahasa dalam penggunaanya. Oleh karena itu, analisis wacana itu tidak dapat dibatasi hanya pada deskripsi bentuk-bentuk linguistik yang terpisah dari tujuan dan fungsi bahasa dalam proses interaksi antarmanusia. Sementara para linguis memusatkan perhatian pada ciri-ciri formal dari suatu bahasa, para analisis wacana berusaha mencari jawaban, untuk apa bahasa digunakan oleh manusia.

            Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 227) analisis wacana membahas bagaimana pemakai bahasa mencerna apa yang ditulis oleh para penulis dalam buku-buku teks, memahami apa yang disampaikan penyapa secara lisan dalam percakapan, atau mengenal wacana yang koheren dan yang tidak koheren, dan berhasil berperan serta dalam kegiatan rumit yang disebut percakapan.

Analisis wacana dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa analisis wacana mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih besar seperti percakapan atau teks tertuls. Menurut Samsuri (dalam Bambang Yudi Cahyono, 1995: 227) analisis wacana mengacu ke rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan. Selanjutnya menurut Kartomihardjo (dalam Bambang Yudi Cahyono, 1995: 227) analisis wacana berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis. Untuk mencapai tujuan itu, analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat, piranti-piranti, serta temuan-temuannya yang penting.

B. Khotbah Sebagai Analisis Wacana

Wacana dalam berdasarkan media komunikasinya terbagi dalam wacana tulis dan wacana lisan. Wacana tulis menurut H. G. Tarigan (dalam Budhi setiawan, 2006: 15) adalah wacana yang disampaikan secara tertulis, melalui media tulis. Untuk menerima, memahami, atau menikmati maka sang penerima harus membacanya. Wacana tulis dapat berupa wacana tidak langsung, wacana penuturan, wacana prosa, serta wacana puisi, dan sebagainya. Sementara wacana lisan adalah wacana yang disampaikan secara lisan, melalui media lisan. Untuk menerima, memahami, atau menikmati wacana lisan ini maka sang penerima harus menyimak. Wacana ini sangat produktif dalam sastra lisan di seluruh tanah air kita ini; juga dalam siaran-siaran televisi, radio, khotbah, ceramah, p[idato, kuliah, deklamasi, dan sebagainya.

Dari uraian mengenai wacana di atas dapat tarik kesimpulan bahwa khotbah merupakan bahan kajian analisis wacana yang berwujud wacana lisan. Wacana lisan tersebut kemudian dapat diubah ke dalam bentuk wacana tulis dan dianalisis berdasarkan teori analisis wacana yang ada. 

ANALISIS GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL

            Pada bab ini akan dideskripsikan temuan-temuan yang diperoleh dari khutbah Jumat dengan menggunakan analisis wacana yang mencakup analisis gramatikal dan leksikal. Analisis gramatikal mengkaji wacana dari segi bentuk atau struktur lahir wacana, sedangkan analisis leksikal mengkaji wacana dari segi makna atau struktur batin wacana.

            Secara lebih rinci, aspek gramatikal wacana meliputi: (1) pengacuan (referensi), (2) penyulihan (substitusi), (3) pelepasan (elipsis), (4) perangkaian (konjungsi). Sedangkan analisis leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu (1) repetisi (pengulangan), (2) sinonimi (padan kata), (3) kolokasi (sanding kata), (4) hiponimi (hubungan atas-bawah), (5) antonimi (lawan kata), (6) ekuivalensi (kesepadanan) (Sumarlam, dkk, 2005: 35).

1. Analisis Gramatikal

            a. Referensi (Pengacuan)

                        Referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual yang menunjuk satuan lingual yang mendahului atau mengikutinya. Berdasarkan arah penunjukannya, kohesi referensi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu refensi anaforis dan referensi kataforis. Referensi anaforis ditandai oleh adanya unsur  lingual yang menunjuk unsur lingual di sebelah kiri, sedangkan referensi kataforis ditandai oleh adanya unsur lingual  yang mengacu unsur  lingual di sebelah kanan. Referensi yang dapat ditemukan pada  khutbah Jumat antara lain:

(1)  

Hadirin kaum muslimin sidang jumat Rokhimatulloh, tiada kata yang paling indah  kecuali dengan Alhamdulillahhirobbil’alamin bahwa Saudara sekalian pada siang hari ini diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai muslim yaitu menjalankan ibadah wajib sholat jumat.

(2)   …dan mudah-mudahan kepada kita sekalian yang selalu mengikuti jejak Syaidina Muhammad SAW.

(3)   Selanjutnya, marilah kita selalu waspada menjaga diri kita

(4)   Pada kesempatan khutbah pada siang hari ini materi yang akan disampaikan masalah inti ajaran yaitu hijrahnya Rosululloh.

(5)   Namun sebagian sahabat nabi yang imannya belum mantap merasa enggan dan segan mengikuti hijrahnya  ke Yayin.

Pada data (1) ditemukan kohesi referensi eksoforis yang bersifat anaforis pada kata Hadirin kaum muslimin karena disebut terlebih dahulu dan diacu oleh Saudara sekalian. Pada siang hari ini merupakan referensi demonstratif waktu kini yang mengacu pada saat khutbah Jumat diberikan. Kita pada data (1) bersifat eksoforis karena mengacu pada unsur di luar teks, merupakan referensi persona pertama jamak mengacu pada kotib (penutur) yang memberikan ceramah dan dan pihak jamaah jumat sebagai pendengar. Demikian juga dengan kita pada data (2) dan (3) mengacu pada unsur diluar teks atau bersifat eksoforis.

Referensi endoforis yang bersifat kataforis dapat ditemukan pada data (4) kata hijrahnya, bentuk –nya pada kata hijrah mengacu pada kata Rosululloh yang terletak di sebelah kanannya atau disebut kemudian. Pada data (5) –nya pada kata imannya merupakan referensi  anaforis yang bersifat endoforis mengacu pada teks dan –nya menunjuk pada kata yang telah disebutkan yaitu sahabat nabi, demikian juga dengan –nya pada kata hijrahnya data (5) juga merupakan referensi anaforis.

            b. Substitusi (Penyulihan)

                        Substitusi merupakan salah satu kohesi gramatikal yang berupa penggantian unsur lingual tertentu (yang telah disebut) dengan unsur lingual yang lain. Substitusi dalam wacana digunakan untuk menambah variasi  bentuk, dinamisasi narasi, menghilangkan kemonotonan dan memperoleh unsur pembeda. Berikut substitusi yang ditemukan dalam khutbah jumat oleh Ustad Mulyono Muhtar.

(6)   …marilah kita selalu waspada menjaga diri kita masing-masing…

(7)   …suatu tes psikis, suatu ujian bagi keimanan…

(8)   Maka iman adalah fundamental, mendasar

(9)   Bagi seorang suami, bapak dalam rumah tangga

Memperhatikan data-data di atas tampak adanya substitusi atau penggantian unsur tertentu yang telah disebut dengan unsur lain. Pada data (6) kata waspada disubstitusi dengan umsur lingual menjaga diri. Data (7) kata tes disubstitusi dengan kata ujian, fundamental pada data (8) disubstitusi dengan unsur lain yaitu kata mendasar. Pada data (9) kata suami disubstitusikan dengan bapak dalam rumah tangga.

            c. Pelepasan (Elipsis)

 Elipsis atau pelepasan merupakan salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan unsur (konstituen) tertentu yang telah disebutkan. Unsur yang dilesapkan bisa berupa kata, frasa, klausa dan kalimat. Kohesi gramatikal jenis ini memiliki fungsi untuk kepentingan kepraktisan, efektivitas kalimat, ekonomi bahasa, mencapai kepaduan wacana dan bagi pembaca berfungsi untuk mengaktifkan pikiran terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan bahasa.

Kohesi gramatikal yang berupa elipsis atau pelepasan hanya ditemukan satu pada kajian ini, yaitu:

(9) Bagi seorang suami, bapak dalam rumah tangga, 0 mencari nafkah betul-betul hanya dikarenakan untuk kesejahteraan keluarga…

         Pada data (9) tersebut terdapat unsur yang dilesapkan, yaitu seorang suami, bapak dalam rumah tangga. Unsur 0 pada data tersebut memiliki referen yang sama dengan  seorang suami, bapak dalam rumah tangga.

            d. Konjungsi (Perangkaian)

            Konjungsi atau perangkaian merupakan salah satu kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain. Unsur-unsur yang dirangkaikan dapat berupa kata, frasa, klausa, kalimat, dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar dari itu, misalnya alinea dengan pemarkah lanjutan, dan topik pembicaraan dengan pemarkah alih topic atau pemarkah disjungtif.

            Kohesi gramatikal yang berupa konjungsi atau perangkaian dalam khutbah Jumat tampak pada data-data berikut:

(10)     Sholawat dan salam…

(11)     …untuk kita jauhi dan kita tinggalkan…

(12)     Dan perintah Alllah…

(13)     Namun sebagian sahabat nabi yang imannya belum  mantap merasa enggan dan segan…

(14)     …pemisah  atau pembeda…

(15)     Mudah-mudahan Allah memasukkan kita menjadi golongan orang-orang muhajirin.

Kojungsi dan pada data (10), (11), (12) menyatakan makna penambahan atau aditif yang berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada disebelah kirinya dengan klausa yang mengandung kata dan itu sendiri.

Pada data (13) terdapat konjungsi namun  yang menyatakan makna pertentangan, juga didapati kata dan yang menghungkan antara kata enggan dan segan.

Atau pada data (14) merupakan konjungsi yang menyatakan makna pilihan atau alternatif. Konjungsi yang menyatakan harapan dapat ditemui pada data (15) yang ditunjukkan adanya pemakaian kata-kata  mudah-mudahan yang memiliki arti semoga.

2. Analisis Leksikal

            a. Repetisi (Pengulangan)

                        Repetisisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Kohesi leksikal yang berupa repetisi dapat dilihat pada data-data  berikut:

(16)     waspada menjaga diri kita masing-masing…, waspada menjaga diri kita masing-masing…, waspada menjaga diri kita masing-masing dari…, waspada menjaga diri kita masing-masing dari segala…

(17)     Apa yang ada dalam pikiran kita, apa yang ada dalam hati kita, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita amalkan harus…

(18)     siapa yang menggaji gurunya, siapa lagi yang melengkapi sarana dan prasarananya…

(19)     Ada SD Diponegoro, ada SMP Diponegoro, ada SMA Diponegoro, ada rumah sakit Kustati.

(20)     Sebagaimana ihkwan-ihkwan kita di Irak, ihkwan-ihkwan kita di Afganistan, ihkwan-ihkwan kita di Palestina…

Repetisi atau pengulangan seperti pada data (16), (17), dan (18) diulang sebanyak empat kali kecuali data (18) hanya diulang dua kali, pengulangan masih dalam satu baris dan berturut-turut untuk menekankan pentingnya kata tersebut dalam konteks tuturan, sehingga repetisi ini dapat digolongkan dalam repetisi epizeuksis.

Repetisi epistrofa dapat ditemui pada data (19) dan (20) karena kata yang diulang berada pada baris pertama dan juga di tengah-tengah.

            b. Sinonimi (Padan Kata)

                        Sinonimi sebagai alat kohesi leksikal dalam sebuah wacana yang menunjukkan pemakaian lebih dari satu bentuk bahasa yang secara semantik memiliki kesamaan atau kemiripan. Dalam wacana khutbah Jumat, kohesi leksikal yang berupa sinonimi dapat dilihat pada data berikut:

(21)     …suatu tes psikis, suatu ujian bagi keimanan…

(22)     …merasa enggan dan segan mengikuti…

(23)     Maka iman adalah fundamental, mendasar

Kata tes dan ujian pada data (21) termasuk sinonimi karena memiliki makna yang sama, demikian juga dengan data (22) dan data (23) kata enggan dan segan memiliki kemiripan makna sama seperti fundamental dengan kata mendasar juga memiliki kemiripan makna.

            c. Antonimi (Lawan kata)

                        Antonimi menunjukkan kohesi leksikal yang terdapat pada dua unsur lingual atau  lebih yang memiliki makna berlawanan atau oposisi. Antonimi disebut juga oposisi makna. Berikut antonimi yang ditemukan dalam khutbah Jumat.

(24)     … meninggalkan perbuatan- perbuatan yang bathil dan kita menuju kepada hal-hal yang alhak, yang benar.

(25)     Jihad di sini jangan diartikan secara sempit adalah perang, jihad itu artinya luas

Antonimi yang ditunjukkan pada data (24) terdapat pada kata bathil dan alhak mengandung oposisi kutub karena tidak bersifat mutlak atau terdapat tingkatan makna pada kata-kata tersebut. Demikian juga pada data (25) kata sempit dan luas juga merupakan oposisi kutub atau bersifat tidak mutlak.

            d. Hiponimi (Hubungan atas bawah)

                        Hiponimi merupakan alat kohesi leksikal yang makna kata-katanya merupakan bagian dari makna kata yang  lain. Kata yang mencakupi beberapa kata yang  berhiponim disebut hipernim atau superordinat. Pemakaian hiponim dalam wacana khutbah Jumat oleh Ustad Mulyono Muhtar dapat dilihat pada data berikut.

 

(26)     lembaga-lembaga pendidikan di tengah-tengah sekeliling kita. Ada SD Diponegoro, ada SMP Diponegoro, ada SMA Diponegoro, ada rumah sakit Kustati.

Pada data (26) frasa lembaga-lembaga pendidikan yang merupakan hipernim memiliki sejumlah hiponim, yaitu SD, SMP, SMA.

 RETORIKA

 pola retorika pengajian biasanya terdiri atas tiga bagian, yaitu pendahuluan, body atau batang tubuh, dan simpulan atau penutup. Begitu pula dengan teks pengajian yang disampaikan oleh Ustadz Mulyono Muhtar. Pengajian tersebut merupakan pengajian dengan sarana warana monolog. Umumya retorika pengajain monolog terdiri atas pendahuluan, batang tubuh, dan simpulan atau penutup.

Pendahuluan bertujuan untuk menyampaikan salam guna mendapatkan perhatian dari pendengar serta untuk menyampaikan topik yang akan disampaikan di dalam pengajiannya. Hal yang demikian juga dapat disimak pada pengajian yang disampaikan oleh Ustadz Mulyono Muhtar, sebagai berikut.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, alhamdulillah-dst (Bahasa Arab).

Hadirin kaum muslimin sidang Jumat Rokhimatullah, tiada kata yang paling indah kecuai dengan alhamdulillahirobbil’alamin, bahwa Saudara sekalian pada siang hari ini diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu menjalankan ibadah wajib sholat Jumat. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan Rosulullah Saydina Muhammad SAW, kepada keluarga, kepada para sahabat, kepada mutabiin, dan mudah-mudahan kepada kita sekalian yang selalu mengikuti jejak Saydina Muhammad SAW.

Selanjutnya, marilah kita selalu waspada menjaga diri kita masing-masing. -Bahasa Arab- Waspada menjaga diri dari segala perintah-perintah Allah untuk selalu melaksanakan, waspada menjaga diri kita masing-masing dari segala larangan-larangan Allah untuk kita jauhi dan kita tinggalkan. Oleh karena dengan demikian, mudah-mudahan kita sekalian dimasukkan oleh Allah sebagai golongan orang-orang yang mutaqin, allahumma amin. Dan perintah Allah janganlah sekali-kali kita mati -Bahasa Arab- janganlah sekali-kali kita mati kecuali mati di dalam Islam, insyaallah.

Hadirin sidang Jumat Rokhimatullah, pada kesempatan khotbah pada siang hari ini materi yang akan disampaikan masalah inti ajaran yaitu hijrahnya Rosul.

 Batang tubuh atau body pengajian berisi proposisi-proposisi, ajakan-ajakan, penjelasan-penjelasan yang didukung kutipan-kutipan dan dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi serta contoh-contoh yang sejalan dengan proposisinya. Batang tubuh pengajaian Ustadz Mulyono Muhtar dideskripsikan sebagai berikut:

a.       Penjelasan  : Masalah inti ajaran agama yaitu hijrahnya Rosul Muhammad

  SAW.

b.      Alasan        : Hijrah sebagai suatu syarat bagi seorang mukmin atau bagi

  seorang muslim yang selalu menggahar nkmat-nikmat Allah.

c.       Kutipan      : Kutipan dengan menggunakan ayat Alquran, Surah Albaqoroh

  ayat 218.

d.      Penjelasan  : Kunci persyaratan agar kita mendapat rahmat dari Allah SWT,

  yaitu iman, hijrah, dan fisabilillah.

e.       Alasan        : Iman adalah fundamental, inti jihad adalah pemisah antara yang

hak dan yang bathil, fisabilillah adalah orang-orang yang mau 

sungguh-sungguh berjihad di jalan Allah SWT.

f.        Uraian        : Sebagai seorang muslim yang mengaku mukmin harus mampu

dan mau menghijrahkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan

menuju pada perbuatan-perbuatan yang islami serta apa yang kita

niatkan dan apa yang dika amalkan selalu berpedoman pada Allah

SWT dan Rosul-Nya.

g.       Penerapan  : Seorang muslim yang mau berjihad harus memiirkan lembaga-

  lembaga pendidikan di tengah-tengah sekeliling kita.

h.       Ajakan       : Mengajak untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan keji

  dan mengajak untuk berjihad di jalan Allah.

Bagian akhir sebuah wacana pengajian biasanya merupakan bagian simpulan yang berisi ringaksan isi pengajian diikuti dengan pesan-pesan yang perlu dilakukan oleh pendengar berkaitan dengan pengaiannya. Di samping itu, bagian akhir juga berisi imbauan kepada pendengar untuk selalu meningkatkan keimanan.

Sementara itu, bagian terakhir pengajian Ustadz Mulyono Muhtar tersebut terdiri atas permohonan maaf dan harapan agar dimasukkan menjadi orang mujahirin. Tahap akhir ini ditutup dengan melakukan doa bersama. Bagian akhir pengajian tersebut sebagai berikut.

Demikianlah tadi, topik khotbah kami pada siang hari ini. Mohon maaf, mengambil inti, hikmah, makna dari hijrah Rosul. Mudah-mudahan Allah memasukkan kita menjadi golongan orang-orang muhajirin. Amin ya robbal’alamin.

Doa (Bahasa Arab).

  KAMUS ISTILAH

A

Ahwat :sebutan untuk wanita muslim

Alquran            : kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia.

Alkitab             : Alquran.

Amal                : perbuatan baik yang mendatangkan pahala.

Aurat                : bagian badan yang tidak boleh kelihatan.

Ayat                 : beberapa kalimat yang merupakan kesatuan maksud sebagai bagian surah di kitab suci Alquran.

Azan                : seruan untuk mengajak orang melakukan salat.

B

Berkah             : karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia; berkat.

D

Dakwah           : penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama.

F

Fakir                : orang yang sangat berkekurangan; orang yang terlalu miskin.

Firman : sabda Allah

 

H

Hadas              : keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia tidak boleh salat, tawaf, dsb.

Hadis               : 1 sabda, perbuatan, takrir (ketetapan) Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan atau diceritakan oelh sahabat untuk menjelaskan dan menentukan hukum Islam; 2 sumber ajaran Islam yang kedua setelah Alquran.Hidayah            : petunjuk atau bimbingan dari Tuhan.

Hijrah               : perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dsb dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah.

Hikmah            : 1 kebijaksanaan (dari Allah); 2 arti atau makna yang dalam; manfaat.

I

Ibadah              : perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; ibadat.

Imam                : pemimpin salat (pada salat yang dilakukan bersama-sama seperti pada salat Jumat).

Iman                 : 1 kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dsb; 2 ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin.

Islam                : agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, berpedoman pada kitab suci Alquran yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.

J

Jemaah             : kumpulan atau rombongan orang beribadah.

Jibril                 : malaikan yang bertugas menyampaikan wahyu Tuhan.

Jihad                : 1 usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan; 2 usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga; 3 perang suci melawan orang kafir untuk mempertahankan agama Islam.

Jilbab               : kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala, leher sampai dada.

K

Karpet             : hamparan (tikar) penutup lantai yang dibuat dari bulu domba atau kain tebal; permadani; ambal.

Khotbah           : pidato (terutama yang menguraikan ajaran agama)

Kiblat               : arah ke Kakbah di Mekah (pada waktu salat).

Kitab                : 1 buku; 2 wahyu Tuhan yang dibukukan; kitab suci.

Kubah              : 1 lengkung (atap); 2 atap yang melengkung merupakan setengah bulatan (kupel).

M

Makmum          : orang yang dipimpin (dalam salat berjemaah) oleh imam; orang yang menjadi pengikut (dalam salat berjemaah); orang yang ikut salat di belakang imam.

Masbuk            : orang yang terlambat shalat berjamaah

Masjid              : rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam.

Menara            : bangunan yang tinggi (seperti di masjid, gereja); bagian bangunan yang dibuat jauh lebih tinggi daripada bangunan induknya.

Mimbar            : panggung kecil tempat berkhotbah (berpidato).

Mualaf: orang yang baru masuk Islam.

Muamalah        : hal-hal yang termasuk urusan kemasyarakatan (pergaulan, perdata, dsb).

Muazin : orang yang menyerukan azan; juru azan.

Mubalig            : orang yang menyiarkan (menyampaikan) ajaran agama Islam; juru dakwah.

Muhammad      : 1 nabi dan rosul terakhir yang diutus Allah SWT untuk seluruh umat manusia sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam; 2 surah ke-47 Alquran.

Mujahid            : orang yang berjuang demi membela agama (Islam).

Mujahidin         : para mujahid.

Mukena            : kain selubung berjahid (biasanya berwarna putih) untuk menutup aurat wanita Islam pada waktu salat.

Mukjizat : karunia yang diberikan kepada nabi

Mukmin            : orang yang beriman (percaya) kepada Allah.

Mukminat         : perempuan mukmin (orang perempuan yang percaya kepada Allah).

Mukminin         : para mukmin.

Munajat: doa

Muslim : penganut agama Islam.

Muslimat          : perempuan muslim.

Muslimin           : 1 para penganut agama Islam; 2 laki-laki muslim.

Musyrik            : 1 orang yang menyekutukan (menyerikatkan) Allah; 2 orang yang memuja berhala.

N

Nabi                 : orang yang menjadi pilihan Allah untuk menerima wahyu-Nya.

Najis                : kotor yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah, seperti terkena jilatan anjing.

Neraka             : alam akhirat tempat orang kafir dan orang durhaka mengalami siksaandan kesengsaraan.

P

Peci                  : penutup kepala terbuat dari kain dsb, berbentuk meruncing kedua ujungnya; kopiah.

Q

Qolbu               : hati

R

Rahimakallah    : (semoga) Allah menaruh belas kasih kepada engkau.

Rahimakumullah: (semoga) Allah memberikan belas kasih kepada kamu sekalian.

Rahmat : 1 belas kasih; kerahiman; 2 karunia (Allah); berkah (Allah).

Rahmatullah      : belas kasih Allah.

Rakaat             : bagian dari salat (satu kali berdiri, satu kali rukuk, dan dua kali sujud).

Rasul                : orang yang menerima wahyu Tuhan untuk disampaikan kepada manusia.

Rasuli               : bersifat kerasulan; berkenaan dengan rasul.

Rasulullah         : utusan Allah (Nabi Muhammad SAW).

S

Sabda              : kata; perkataan (bagi Tuhan, nabi, raja, dsb).

Sajadah            : alat yang digunakan untuk salat, berupa karpet dsb berukuran kecil, kurang 80 x 120 cm.

Salat                 : rukun Islam kedua, berupa ibadah kepada Allah SWT, wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf, dengan syarat, rukun, dan bacaan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Saleh                : 1 taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah; 2 suci dan beriman.

Sedekah           : pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai kemampuan pemberi; derma.

Selawat            : 1 permohonan kepada Tuhan; doa; berdoa memohn berkat Tuhan; 2 doa kepada Allah untuk Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Sembahyang     : 1 salat; air wudu; 2 permohonan doa kepada Tuhan.

Serambi            : beranda atau selasar yang agak panjang, bersambung dengan induk rumah (biasanya lebih rendah daripada induk rumah).

Saf                   : barisan sholat

Suci                  : 1 bersih (dalam arti keagamaan, seperti tidak kena najis, selesai mandi janabat); 2 bebas dari dosa, bebas dari cela,bebas dari noda,.

Bersuci: membersihkan diri (sebelum salat dsb).

Sunah               : 1 jalan yang biasa ditempuh; kebiasaan; 2 aturan agama yang didasarkan atas segala apa yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW, baik perbuatan, perkataan, sikap, maupun kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkannya; hadis; 3 perbuatan yang apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.

Surah               : bagian atau bab di Alquran (kitab suci Alquran mempunyai 114 surah).

Surga               : alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yang hendak tinggal di dalamnya (dalam keabadian).

Syirik               : penyekutuan Allah dengan yang lain, misal pengakuan kemampuan ilmu daripada kemampuan dan kekuatan Allah, pengabdian selain kepada Allah Taala dengan menyembah patung, tempat keramat, dan kuburan, dan kepercayaan terhadap keampuhan peninggalan nenek moyang yang diyakini akan menentukan dan mempengaruhi jalan kehidupan.

Syukur             : rasa terima kasih kepada Allah.

 

 

T

Takmir masjid : pengurus masjid

Takziah            : ziarah kubur

Takwa              : 1 terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; 2 keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; 3 kesalehan hidup.

 

W

Wajib               : 1 harus dilakukan; tidak boleh tidak dilaksanakan (ditinggalkan); 2 sudah semestinya; harus.

Wakaf              : benda bergerak atau tidak bergerak yang disediakan untuk kepentingan umum (Islam) sebagai pemberian yang ikhlas.

Wudu               : menyucikan diri (sebelum salat) dengan membasuh muka, tangan, kepala, dan kaki.

Z

Zakat               : 1 jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dsb) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak; 2 salah satu rukun Islam yang mengatur harta yang wajib dikeluarkan kepada mustahik.

 DAFTAR PUSTAKA

 Anas Yasin. Arah Kajian Bahasa: Kaitannya dengan Perkembangan Iptek dan Sosial-Budaya. http://www.geocities.com/anas_yasin/aw4.html. Diakses 24 Desember 2008.

Abdul Wahab. 1995. Isu Linguistik (Pengajaran Bahasa dan Sastra). Surabaya: Airlangga University Press

Bambang Kaswanti Purwo (Ed). 1993. PELLBA 6 (Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya: Keenam). Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya Jakarta.

Bambang Yudi Cahyono. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga university Press.

Budhi Setiawan. 2006. Analisis Wacana. Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Sumarlam, dkk. 2005. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra

Elsani. Pengertian Analisis Wacana. (http://209.85.173.132/search?q=cache:3YZT7UYjgy8J:elsani.wordpress.com/2007/09/25/analisiswacana/+pengertian+analisis+wacana&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id). Diakses 24 Desember 2008

Wacana bahasa Indonesia (http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kajian-wacana-bahasa-indonesia/). Diakses 24 Desember 2008.

 

Januari 5, 2009 Posted by | Bahasa | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.