Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

Analisis Naskah Tripama

(Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra)

  1. Deskripsi Data

Membaca naskah/serat tripama adalah membaca keteladanan dari sikap luhur para tokoh/manusia di masa lalu. Dalam naskah tersebut tersirat pesan moral yang amat kompleks dan jelas. Peneliti telah membaca naskah ini, terutama dari segi sifat dan sikap para tokoh di dalamnya. Di antara sifat-sifat tersebut ada beberapa yang merupakan kelebihan dan kelemahan para tokoh yang tampaknya jarang kita temui saat ini. Wujud keteladanan dan sikap para tokoh dalam naskah Tripama dalam naskah antara lain:

a. Seyogyanya para prajurit, bila dapat engkau meneladan cerita pada masa lalu, andalan Sang prabu, Sasrabahu di Maespati, bernama patih Suwanda, jasanya ialah, yang terangkum dalam tiga hal, pandai, mampu dan berani yang diyakini, gagal layaknya keturunan mulia

    1. Yang dimaksud tiga amal baktinya, ia dapat menyelesaikan tugas, berusaha untuk dapat unggul mampu, maksudnya, ketika membantu perang negeri Magada, memboyong delapan ratus putri, dipersembahkan kepada rajanya, keberaniannya sudah jelas, berperang melawan raja Alengka, Suwanda gugur di medan perang.
    2. Ada lagi teladan yang baik, satria besar di negeri Alengka, sang kumbakarna namanya, walaupun berkecamuk perang di Alengka, dia mengajukan usul/saran kepada kandanya demi keselamatan, Dasamuka tidak terpengaruh usul itu, karena hanya melawan pasukan kera.
    3. Kumbakarna ditugaskan untuk berperang, kepada kakaknya dia tidak menolak, karena sebagai satria, dalam tekadnya tidak setuju /, hanya berpikir dan teringat ayah ibunya, dan segenap leluhurnya merasa sejahtera di Alengka, kini akan diserang oleh pasukan kera, bersumpah mati di depan laga.
    4. Ada lagi contoh lainnya, Suryaputra raja Awangga, dan dia adalah saudara pandawa lain ayah satu ibu, mengabdi pada raja kurupati, di negeri Hastina, dijadikan penglima perang, memimpin regu tempur peperangan, baratayuda dijadikan senapati, bala pasukan kurawa.
    5. Dimasukkan dengan saudaranya sendiri, berperang tanding melawan Danajaya, Sri karma sangat senang hatinya, karena mendapat jalan untuk membalas budi, kepada sang kurupati/duryudana, maka dia berusaha mati-matian,mengeluarkan segala kesaktiannya, berperang ramai dia mati terkena panah, sebagai satria yang gagah berani.
    6. Ketiga itu patut diteladani orang jawa, khususnya semua para perwira, perhatikanlah sekadarnya, terhadap jasa pengabdiannya, jangan sampai mengabaikan teladan, bila nanti akan memiliki keinginan walau tekad raksasa, tidak berbeda dengan budi makhluk lain, untuk mencapai keutamaan/kemuliaan.

Sifat-sifat luhur yang dapat dipetik dari naskah tersebut, antara lain:

a. Sumantri

Sifat mulia yang dimiliki:

1. menempuh jalan yang benar

2. taat perintah dan sadar kewajiban

3. penghayat budi luhur

4. menjunjung tinggi moral prajurit

5. tetap siaga bela Negara

6. rela berkorban jiwa raga

Kelemahannya:

  1. Belum mencapai kemandirian sejati
  2. tinggi hati
  3. buta hati tak tahu budi

b. Kumbakarna

Sifat mulia yang dimiliki:

  1. pembela kebenaran dan keadilan
  2. penyelamat lingkungan
  3. cinta bangsa dan tanah air
  4. taat perintah

kelemahannya:

  1. prajurit tidak cepat tanggap
  2. penakut yang egoistis, ragu-ragu, tidak gigih
  3. kurang pendekatan diri dengan penguasa agung

C. Basukarna

Sifat luhur yang dimiliki:

  1. membalas budi kebaikan
  2. ksatria cinta tanah air
  3. teguh dalam pendirian
  4. setia menepati janji
  5. berjuang menegakkan kebenaran dan melumpuhkan kemunkaran

Sikap tegasnya dilandasi tujuan luhur (tata luhur: menjadi kepercayaan), (tata batin: menegakkan kebenaran untuk melumpuhkan kemunkaran)

Kelemahannya:

1. Tinggi hati dan gila hormat

Sikap tidak terpuji tersebut ditampilkan dalam (1) dalam segala urusan kekeluargaan, kemanusiaan. Karna sukar diajak temu-pendapat sehingga tidak terjadi hubungan timbal balik antara dia dengan pihak lain. (1) Adipati karma tergolong tokoh yang sukar menerima pendapat orang lain termasuk sahabat, saudara, dan keluarganya. Sebaliknya semua pendiriannya tidak dapat dikalahkan dan sikap pribadinya harus dihormati pihak lain.

2. Pendendam dan pahlawan kebencian

Sifat jantan dan sikap tegas Adipati Karna tidak dilandasi cinta kasih yang manusiawi

3. Kesetiaan membuta

Kesetiaannya tidak disertai kearifan, kebijakan, dan kebajikan.

  1. Pembahasan

Sebelum mengarah ke pembahasan yang lebih dalam, kita sebaiknya melihat sekelumit tentang profil manusia Indonesia saat ini. Dampak dari sikap mental itu nantinya akan terakumulasi dan menjadi satu rangkaian potret kehidupan manusia Indonesua seluruhnya. Penulis berusaha mencoba mengungkapkan beberapa ciri masyarakat Indonesia saat ini yang diambil dari buku ”Manusia Indonesia” yang ditulis oleh Mochtar Lubis (2001).

Dimulai dari ciri pertama manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah Hipokratis alias Munafik. Berpura-berpura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah cirri utama manusia Indonesia yang sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya. Sikap ini telah mendorong terjadinya pengkhianatan intelektual di negeri kita. Jika direpresentasikan dengan keteladanan tokoh-tokoh dalam serat Tripama, maka sikap ini bertentangan dengan sikap Kumbakarna yang berani membela kebenaran dan keadilan. Ia berani karena benar, dan takut karena salah. Segala sesuatu yang baik ia ungkapkan dan yang buruk juga diungkapkan. Apabila terjadi kesalahan, maka ada kemauan untuk memperbaikinya.

Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. “Bukan Saya” adalah kalimat yang cukup populer pula di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang sesuatu kesalahan, sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak baik, satu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya. Dalam sejarah kita dapat hitung dengan jari pemimpin-pemimpin yang punya keberanian dan moralita untuk tampil ke depan memikul tanggung jawab terhadap sesuatu keburukan yang terjadi di dalam lingkungan tanggung jawabnya.

Ciri ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tata upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya, jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi istri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan istri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Istri komandan, istri menteri otomatis menjadi ketua, bukan berdasarkan kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya, atau perhatian dan pengabdiannya. Keadaan seperti ini sangat mempersulit proses-proses perkembangan manusia dan masyarakat dalam dunia kita kini, di mana keselamatan satu bangsa atau satu masyarakat tergantung sekali pada lamban atau derasnya arus informasi yang dapat diterimanya mengenai keadaan dan perkembangan ekonomi, politik, pengtahuan, teknologi, dan sebagainya di dunia ini.

Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua.

Ciri kelima utama manusia Indonesia adalah artistik. Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah, dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat dengan alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasaan-perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan dayaartistik yang besar dalam dirinya yang dituankan dalam segala rupa ciptaan artistic dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serba aneka maamnya, variasinya, warna-warninya.

Ciri keenam manusia Indonesia adalah punya watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk “survive” bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektual amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia. Kegoyahan watak serupa ini merupakan akibat dari cirri masyarakat dan manusai feodal pula. Dia merupakan akibat dari cirri masyarakat dan manusia feodal pula. Dia merupakan segi lain dari sikap ABS (asal bapak senang)-untuk menyenangkan atasan dan menyelamatkan diri.

Ciri lainnya adalah dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau tepaksa. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang amerika membuat instant tea. Manusia Indonesia sekarang jadi orang kurang sabar. Ciri lain adalah manusia Indonesia kini tukang menggerutu. Tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.

Manusia Indonesia juga cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia. Orang kurang senang melihat orang lebih maju, lebih kaya, lebih berpangkat, lebih berkuasa, lebih pintar, lebih terkenal dari dirinya. Gampang senang dan bangga, pada yang hampa-hampa merupakan juga sebagian dari kesenangan kita pada segala rupa lambing dan semboyan yang tidak diisi. Kata-kata mutiara dalam nilai-nilai yang bijaksana, tetapi sayang sekali tidak diamalkan, dihayati, dahulu maupun sekarang.

Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia-sok. Kalau berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk –harta jadi rakus. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru. Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang memesonakan kita. Sifat manusia yang lain adalah juga bahwa kita cenderung bermalas-malasan, akibat alam kita yang begini murah hati, untuk hidup dan memerhitungkan hidup hanya dari hari ke hari. Kita masih kurang rajin menyimpan untuk hari depan, dan berhitung jauh ke depan.

Masyarakat kita hari ini,masih dipengaruhi oleh sisa-sisa sikap serupa itu, maka juga manusia Indonesia masih lemah dalam mengaitkan antara sebab dan akibat. Ditambah pula dengan sikap nrima, percaya pada takdir, pada kismet, semua ini sudah begitu ditakdirkan Tuhan, maka tambah kendorlah proses logika manusia Indonesia. Ciri lain dari masyarakat kita adalah sikap tidak atau kurang peduli dengan nasib orang, selama tidak mengenai dirinya sendiri.

Era globalisasi yang sedang melanda masyarakat dunia, cenderung melebur semua identitas menjadi satu, yaitu tatanan dunia baru. Masyarakat Indonesia ditantang untuk makin memperkokoh jati dirinya. Bangsa Indonesia pun dihadapkan pada problem krisis identitas, atau upaya pengaburan (eliminasi) identitas. Hal ini didukung dengan fakta sering dijumpai masyarakat Indonesia yang dari segi perilaku sama sekali tidak menampakkan identitas mereka sebagai masyarakat Indonesia. Padahal bangsa ini mempunyai identitas yang jelas, yang berbeda dengan kapitalis dan komunis, yaitu Pancasila.

Bangsa Indonesia menetapkan Pancasila sebagai azas. Maka, seluruh perilaku, sikap, dan kepribadian adalah pelaksanaan dari nilai-nilai Pancasila. Perilaku, sikap, dan kepribadian yang tidak sesuai dengan Pancasila berarti bukan perilaku, sikap, dan kepribadian masyarakat Indonesia.

Masyarakat yang melaksanakan perbuatan bertentangan dengan Pancasila, seperti korupsi, KKN, nepotisme, merampok, mempermasalahkan poligami tapi membiarkan perselingkuhan, melakukan perjudian, berzina, minum-minuman keras, dan lain-lain, baik yang dilaksanakan oleh individu maupun gerombolan (jamaah). Semua itu perbuatan yang sangat bertentangan dan tidak berpihak kepada Pancasila. Dengan kata lain, Pancasilanya lepas saat mereka sedang melakukan perbuatan terlarang itu.

Penetapan Pancasila sebagai azas selayaknya didukung oleh masyarakat Indonesia dengan menampilkan jati dirinya yang khas, yaitu identitas bangsa. Manakala masyarakat tidak menampilkan identitas ini sesungguhnya berarti Pancasila tidak dilaksanakan dalam berkehidupan di masyarakat. Sebenarnya Pancasila akan mengangkat bangsa ini sebagai salah satu warna dari berbagai identitas yang ada di masyarakat dunia, baik dalam bermasyarakat maupun bernegara. Bangsa ini malah bangga mempunyai identitas “baru” yang bila diperhatikan merupakan perwujudan antara identitas kapitalis dan komunis. Di bidang perekonomian, misalnya, banyak pergeseran ke arah kapitalis dimana swastanisasi dari sektor usaha yang melayani hajat hidup masyarakat kini sudah banyak. Atau, pengalihan sektor informasi ke swasta, yang merupakan pergeseran identitas Pancasila ke Kapitalis/Liberalis.

Di era reformasi Pancasila tenggelam, baik dalam tataran pelaksanaan maupun pembicaraan di kedai-kedai kopi pinggir jalan. Para pemimpin tidak bangga membawa/membicarakan Pancasila. Bahkan, membawa/membicarakan Pancasila dianggap menjadi beban psikologis dalam pentas reformasi yang hingga kini belum menunjukkan perubahan jelas seperti yang diinginkan masyarakat. Maka, lahirlah istilah-istilah orde baru, orde reformasi, dan sebagainya, di masyarakat. Bagi sebagian pemimpin, masyarakat yang membicarakan Pancasila takut dijuluki pengikut/penerus orde baru.

Pemimpin besar Bung Karno pernah mengatakan, bangsa Indonesia harus mandiri dan tidak ikut-ikutan pada budaya bangsa lain. Sekarang justru masyarakat kita telah berperilaku kapitalis/liberalis, yang artinya telah mengubah budaya kita sendiri. Lihat saja, kontes ratu kecantikan dengan dalih macam-macam. Serta, penafsiran yang salah terhadap perempuan dan poligami, pornografi yang dianggap seni, dan lain-lain. Itu semua menjauhkan gagasan suatu negeri dari cita-cita masyarakat madani atau masyarakat adil dan makmur, adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.

Apalagi, untuk menuju masyarakat ini kita harus membangun masyarakat yang rabbani, insani, akhlaqi, dan tawazun. Hablumminannas wa hablumminallah. Masyarakat yang jauh dari keempat hal diatas berarti jauh pula dari perwujudan cita-citanya, serta akan kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia. Kaum kapitalis/liberalis gencar mengekspor tatanan yang menjadi identitasnya, melalui bantuan-bantuan dan pinjaman, baik program pembangunan masyarakat, pendidikan, kesehatan. Dengan isu demokrasi gender, dan lain-lain. Di sini, bukan berarti pancasila paham yang tertutup. Justru Pancasila mengajarkan sikap supel, luwes, dan saling menghargai kemerdekaan bangsa lain. Dalam pergaulan dunia pun paham Pancasila menganut sistem politik bebas aktif. Ini menujukkan Indonesia memiliki identitas sendiri dalam percaturan dunia.

Guna mewujudkan identitas yang khas, masyarakat Indonesia hendaknya berupaya sungguh-sungguh dalam mengarahkan akal pikiran dan kecenderungan dengan satu arah yang dibangun di atas satu azas, yaitu Pancasila. “Azas tunggal” yang digunakan dalam pembentukan identitas merupakan hal yang penting diperhatikan. Kelalaian dalam hal ini akan menghasilkan identitas yang tidak jelas warnanya.

Mengembangkan identitas ini bisa dilakukan dengan cara membakar semangat masyarakat untuk serius dan sungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan nilai-nilai Pancasila, serta mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dan, awas propaganda kapitalisg dekat padanya.

Kita juga telah membaca dan mendengar bahwa Indonesia termasuk negara terkorup di dunia. Dan ketika kita melihat sendiri kenyataan yang ada di depan kita, ternyata korupsi telah melibatkan banyak kalangan, baik di pusat maupun di daerah, di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan tokoh masyarakat. Kita pun jadi makin prihatin dan cemas, adakah pengusutan dapat dilakukan dengan tuntas dan adil? Cukup tersediakah aparat penegak hukum yang bersih untuk mengusutnya dengan adil, tepat, dan benar? Dan sampai kapan akan selesai?

Penegakan hukum serta pengusutan secara tuntas dan adil terhadap tindak korupsi memang harus dilaksanakan dan ditegakkan tanpa pandang bulu. Akan tetapi, kita pun harus memahami persoalannya secara lebih fundamental, agar menumbuhkan sikap arif untuk bersama-sama tak mengulang dan membudayakan korupsi dalam berbagai aspek kehidupan kita, sehingga tidak terjadi apa yang dikatakan “patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu” seperti sel kanker ganas karena akarnya yang telah meluas, maka semakin dibabat semakin cepat penyebarannya.

Indonesia adalah negara yang kaya, tetapi pemerintahnya banyak utang dan rakyatnya pun terlilit dalam kemiskinan permanen. Sejak zaman pemerintahan kerajaan, kemudian zaman penjajahan, dan hingga zaman modern dalam pemerintahan NKRI dewasa ini, kehidupan rakyatnya tetap saja miskin. Akibatnya, kemiskinan yang berkepanjangan telah menderanya bertubi-tubi sehingga menumpulkan kecerdasannya dan masuk terjerembap dalam kurungan keyakinan mistik, fatalisme, dan selalu ingin mencari jalan pintas.

Kepercayaan terhadap pentingnya kerja keras, kejujuran, dan kepandaian semakin memudar karena kenyataan dalam kehidupan masyarakat menunjukkan yang sebaliknya, banyak mereka yang kerja keras, jujur dan pandai, tetapi ternyata bernasib buruk hanya karena mereka datang dari kelompok yang tak beruntung, seperti para petani, kaum buruh, dan guru. Sementara itu, banyak yang dengan mudahnya mendapatkan kekayaan hanya karena mereka datang dari kelompok elite atau berhubungan dekat dengan para pejabat, penguasa, dan para tokoh masyarakat.

Akibatnya, kepercayaan rakyat terhadap rasionalitas intelektual menurun karena hanya dipakai para elite untuk membodohi kehidupan mereka saja. Sebaliknya, mereka lebih percaya adanya peruntungan yang digerakkan oleh nasib sehingga perdukunan dan perjudian dalam berbagai bentuknya semakin marak di mana-mana. Mereka memuja dan selalu mencari jalan pintas untuk mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat, baik kekuasaan maupun kekayaan. Korupsi lalu menjadi budaya jalan pintas dan masyarakat pun menganggap wajar memperoleh kekayaan dengan mudah dan cepat.

Budaya korupsi seakan memperoleh lahan yang subur karena sifat masyarakat kita sendiri yang lunak sehingga permisif terhadap berbagai penyimpangan moral dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, korupsi dianggap sebagai perkara biasa yang wajar terjadi dalam kehidupan para penguasa dan pengelola kekuasaan yang ada. Sejak dahulu kala, para penguasa dan pengelola kekuasaan selalu cenderung korup karena bisnisnya ya kekuasaan itu sendiri. Penguasa bukanlah pekerja profesional, yang harus pintar, cerdas, dan rajin, tidak digaji pun mereka mau asal mendapatkan kekuasaan karena kekuasaan akan mendatangkan kekayaan dengan sendirinya.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada tekad presiden pilihan rakyat yang hendak melakukan percepatan pemberantasan korupsi, kita perlu merenungkan kembali dengan jernih apakah pemberantasan korupsi dapat dilakukan tanpa dekonstruksi sosial? Jangan sampai upaya pemberantasan korupsi seperti terperosok dalam sumur tanpa dasar yang tidak pernah dapat menyentuh landasannya dengan tepat dan benar. Jangan sampai kita terperosok dalam kebencian dan konflik tanpa ujung pangkal. Semua proses hukum memang perlu ditegakkan tanpa pandang bulu, tetapi tak akan pernah cukup karena kompleksnya persoalan korupsi itu sendiri. Semua orang tahu korupsi ada dan besar, tetapi betapa sulitnya mencari bukti dan definisi, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Korupsi bukanlah hanya persoalan hukum saja, tetapi juga merupakan persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama. Realitas sosial yang timpang, kemiskinan rakyat yang meluas serta tidak memadainya gaji dan upah yang diterima seorang pekerja, merebaknya nafsu politik kekuasaan, budaya jalan pintas dalam mental suka menerabas aturan, serta depolitisasi agama yang makin mendangkalkan iman, semuanya itu telah membuat korupsi semakin subur dan sulit diberantas, di samping karena banyaknya lapisan masyarakat dan komponen bangsa yang terlibat dalam tindak korupsi. Karena itu, dekonstruksi sosial tak bisa diabaikan begitu saja dan kita perlu merancang dan mewujudkannya dalam masyarakat baru yang antikorupsi.

Dekonstruksi sosial memerlukan tekad masyarakat sendiri untuk keluar dari jalur kehidupan yang selama ini telah menyengsarakannya. Perlu ada tobat nasional untuk memperbarui sikap hidup masyarakat yang antikorupsi karena ko- rupsi ternyata telah menyengsarakan bangsa ini secara keseluruhan. Tobat dalam agama adalah kesadaran total untuk tak mengulangi lagi perbuatannya karena memang perbuatan itu telah mencelakakan dirinya dalam dosa. Dengan tobat, dia akan menjadi manusia baru yang bebas dari pengulangan dosa-dosa lama yang telah diperbuatnya.

Tobat bukanlah basa-basi, tetapi komitmen transendental untuk menembus dan memasuki kehidupan baru yang lebih baik. Dan tanpa tobat nasional, rasanya pemberantasan korupsi seperti benang kusut yang sulit mengurainya. Tobat nasional diperlukan untuk memotong budaya korupsi yang selama ini telah menjadi cara hidup, berpikir, dan berperilaku masyarakat untuk mendapatkan kekayaan. Tobat nasional harus dimulai dari imamnya, yaitu para pemimpin yang berada di puncak kekuasaan. Pemimpin yang bersih dan berketeladanan dapat menjadi rujukan perilaku rakyatnya. Pemimpin yang satunya kata dengan perbuatan, yang dengan rendah hati bersedia melayani rakyatnya, karena sesungguhnya seorang pemimpin adalah pelayan rakyatnya. Pemimpin yang cerdas, yang mampu membaca tanda-tanda zaman untuk membawa rakyatnya ke arah masa depan yang lebih baik, jelas, dan terukur. Pemimpin yang tidak bertopeng atas kekuasaannya sehingga denyut dan jeritan rakyatnya segera tertangkap oleh hati nuraninya yang tidak bertopeng.

Topeng kekuasaan harus dibuka melalui mekanisme sistemik yang inheren dalam kehidupan masyarakat baru yang sudah bertobat, yang dibangun dan dikawal oleh kepemimpinan yang berkeladanan dan visioner. Mekanisme sistemik yang menyerap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kesejahteraan, kebebasan, dan kemandirian menjadi kekuatan spiritual yang akan bekerja secara otomatis untuk melakukan kontrol atas keseimbangan mekanisme internalnya sendiri. Sesungguhnya kehidupan masyarakat adalah suatu mesin hidup yang mekanismenya otonom dan sistemik. Kehidupan masyarakat akan sehat jika mekanisme internalnya terkendali oleh spiritualitas kemanusiaan universal yang melandasi kehidupan manusia itu sendiri.

Dekonstruksi sosial bukanlah antitesis dari tesis yang ada, tetapi suatu sintesis dari keunggulan-keunggulan kemanusiaan dan bersifat dinamis melalui proses dialektik yang akan terus-menerus memperbarui dirinya. Sebagai sintesis, dekonstruksi sosial merupakan rajutan-rajutan baru yang terbuka secara terus-menerus, dan keterbukaan merupakan prasyarat utama dalam proses pembaruan itu sendiri. Dekonstruksi sosial harus melahirkan sistem kehidupan masyarakat baru yang terbuka dan semua urusan publik tidak lagi bertopeng. Rasanya korupsi hanya bisa dikendalikan jika semua urusan publik dilepaskan dari pemujaan atas topeng-topeng kekuasaan yang ada.

Dari banyak kasus tersebut kita tentu telah mampu menyimpulkan betapa rendahnya sikap mental manusia Indonesia, namun terkadang kita tidak menyadarinya. Berkaca dari sikap-sikap buruk yang dimiliki masyarakat Indonesia dan adanya keteladanan dari para tokoh dalam naskah Tripama, maka masyarakat Indonesia diharapkan mampu:

  1. selalu menyadari dan dengan penuh kesadaran mengurangi sifat-sifat kita yang buruk, dan mengembangkan yang baik-baik
  2. menciptakan kondisi masyarakat yang dapat mendewasakan diri dan melepaskan diri dan melepaskan dirinya dari lingkungan masyarakat semi atau neofeodalistis
  3. belajar memakai bahasa Indonesia secara lebih murni, lebih tepat dalam hubungan kata dengan makna, yang mengandung pengertian kita harus belajar menyesuaikan perbuatan kita dengan perkataan kita.
  4. meneladani sikap para tokoh yang terdapat dalam serat Tripama, terutama dari sifat-sifat yang baik.

Diharapkan pula naskah Tripama ini bukan hanya sekadar bacaan ringan bagi segelintir orang yang mengerti maknanya, namun lebih ditekankan pada para pemuda Indonesia yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Dalam dunia pendidikan khususnya, naskah ini patut diajarkan dan diterapkan dalam keseharian siswa. Paling tidak nantinya siswa akan menemukan dan membedakan antara sifat yang baik dan buruk. Ini akan menjadi langkah awal mengubah sikap mental manusia Indonesia yang buruk menjadi lebih baik.

Bahan Referensi:

Mochtar Lubis. 2001. Manusia Indonesia. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta

Budaya Korupsi dan Dekonstruksi Sosial oleh Musa Asyárie. Kompas, Jumat, 28/1/05. http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=1135. Diakses 9 April 2008, pukul 0:56

Identitas Khas Bangsa Indonesia. http://www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp?mid=1605&catid=2&. Diakses 9 April 2008, pukul 1: 02

November 17, 2008 Posted by | Bahasa | Tinggalkan sebuah Komentar

RPP

RPP

(RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN)

Sekolah : SMP Islam Diponegoro Surakarta

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

Kelas/ semester : VIII/ I

Aspek : 3. Membaca

Standar Kompetensi : Kemampuan membaca memindai ensiklopedi/ buku telepon, membaca cepat, membaca intensif petunjuk/ denah, dan membaca intensif buku biografi

Kompetensi Dasar : Peserta didik mampu membaca memindai ensiklopedi/buku telepon untuk menemukan informasi secara cepat

Indikator : 1. Mampu membaca memindai buku telepon

2. Mampu menemukan informasi dari buku telepon secara cepat

3. Mampu menemukan informasi dari Halaman Kuning (Yellow pages)

Alokasi Waktu : 1 x 40 menit ( 1 kali pertemuan)

A.Tujuan Pembelajaran

Siswa mampu memindai buku telepon untuk menemukan informasi secara cepat

B. Materi Pembelajaran

Membaca buku telepon memerlukan strategi yang tepat. Jumlah nomor telepon yang tertera dalam buku telepon bisa berjumlah ratusan, bahkan ribuan. Untuk menemukan nomor secara tepat, teknik yang dapat digunakan adalah tekinik membaca memindai. Buku telepon memuat daftar nomor-nomor telepon dalam wilayah tertentu. Karena nomor telepon dalam suatu wilayah jumlahknya banayak, penyususnannya dilakukan secara alfabetis. Artinya, nama-nama yang memiliki nomor telepon diurutkan berdasarkan abjad, baik dalam urutan vertikal maupun horisontal. Di belakang nama tersebut diikuti alamat dan nomor teleponnya.

Membaca memindai

Adalah membaca cepat untuk menemukan informasi tertentu. Membaca memindai buku telepon berarti membaca cepat buku telepon untuk mencari nama dan nomor telepon tertentu. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

  1. Lihatlah dahulu huruf pertama nama yang kamu cari!
  2. Bukalah lembaran buku telepon sesuai dengan huruf pertama nama yang kamu cari
  3. Carilah nama yang kamu cari
  4. Jika ada nama ang huruf pertamanya sama, lihatkah huruf kedua, ketiga, dan seterusnya
  5. Seandainya ada kesamaan nama, lihatlah alamatnya

Dalam buku telepon juga terdapat bagian buku telepon yang khusus memuat informais bisnis. Halaman tersebut terletak di bagian belakang. Di dalam halaman kuning ini terdapat nama, alamat, dan nomor telepin bidang usaha. Jika seseorang ingin mencari alamat dan nomor telepon suatu perusahaan, dia dapat mencarinya di halaman tersebut.

Daftar nama instansi dibuat berdasarkan jenis usahanya, misalnya usaha yang bergerak di bidang mebel, telekomunikasi, dan percetakan. Cara ini memudahkan pengguna buku menemukan alamat dan nomor telepon dengan cepat.

C. Metode Pembelajaran

a. Tanya jawab

b. Ceramah

c. Inkuiri

D. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran

1. Kegiatan awal

a. Guru melakukan apersepsi

b. Guru menampilkan materi membaca memindai dalam tampilan OHP

2. Kegiatan Inti

a. Siswa diberi pertanyaan tentang informasi dalam buku telepon

b. Siswa mencari informasi dalam halaman kuning

c. Siswa diberi pertanyaan yang berkaitan dengan informasi dalam halaman kuning

3. Kegiatan Akhir

Guru dan siswa melakukan kesimpulan dan refleksi

E. Sumber Belajar

1. Daftar telepon dan Yellow Pages/ halaman kuning

2. Buku Paket Bahasa Indonesia

F. Penilaian

1. Teknik : Tes Unjuk kerja

2. Bentuk Instrumen : Uji petik kerja

3. Soal/ instrument

1. Bacalah pertanyaan di bawah ini dan temukan jawabannya dalam buku telepon dan Yellow pages yang telah dibagikan!

Soal

  1. Malam itu hujan lebat. Besok senin kamu akan menghadap ujian semesteran. Kamu harus belajar dua mata pelajaran sekaligus. Seketika itu juga lampu padam. Di luar sana hampir tak ada penerangan. Kamu sibuk mencari lilin, lalu mengidupkannya untuk belajar. Tetapi ruangan tak jua terang. Kamu punya inisiatif meminjam HP kakak kamu untuk menelepon PLN terdekat. Nomor manakah yang dapat kau hubungi??
  2. Seorang teman kamu pingsan karena seharian belum makan. Ternyata ia punya penyakit maagh yang cukup serius. Lalu kamu membawanya ke UKS, tetap ia tak kunjung sembuh. Ke manakah kamu harus menghubungi ambulance nya??
  3. Saudara kamu akan pulang ke daerahnya setelah seminggu berada di rumahmu. Saudaramu berencana akan pulang pagi dini hari agar sampa di rumah tidak kemalaman. Kamu pun tidak tahu bis apa yang akan berangkat pag dini hari. Nomor mana yang harus kamu hubungi untuk mengetahui jadwal keberangkatan bus tersebut?

No

Aspek

Skor

1.

Ketepatan jawaban

10

2.

Kecepatan menemukan jawaban

10

Jumlah Skor

20

Skor maksimum

Nomor 1 = 15

Nomor 2 = 20

Jumlah skor = 35

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:

Nilai akhir = perolehan skor X skor ideal (100)=……

Guru Praktikan

Ari Setyaningsih

K 1205007

November 17, 2008 Posted by | Bahasa | Tinggalkan sebuah Komentar

pedoman penulisan tanda baca

Pedoman Penulisan Tanda Baca

Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan

contoh: Saya suka makan nasi.

Sebuah kalimat diakhiri dengan titik. Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan. Cara ini dilakukan dalam penulisan karya ilmiah.

2. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.

contoh:

• Irwan S. Gatot

• George W. Bush

Tetapi apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.

Contoh: Anthony Tumiwa

3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.

Contoh:

• Dr. (Doktor)

• Ny. (Nyonya)

• S.E. (Sarjana Ekonomi)

4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.

Contoh:

• dll. (dan lain-lain)

• dsb. (dan sebagainya)

• tgl. (tanggal)

Dalam karya ilmiah seperti skripsi, makalah, laporan, tesis, dan disertasi, dianjurkan tidak mempergunakan singkatan.

5. Tanda titik dibelakang huruf dalam suatu bagian ikhtisar atau daftar.

contoh:

I. Penyiapan Ulangan Umum.

A. Peraturan.

B. Syarat.

Jika berupa angka, maka urutan angka itu dapat disusun sebagai berikut dan tanda titik tidak dipakai pada akhir sistem desimal.

Contoh:

• 1.1

• 1.2

• 1.2.1

6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Contoh: Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)

7. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.

contoh:

• Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.

• Nomor Giro 033983 telah saya kasih kepada Michael.

8. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga- lembaga nasional di dalam akronomi yang sudah diterima oleh masyarakat.

contoh:

• Sekjen : (Sekretaris Jenderal)

• UUD : (Undang-Undang Dasar)

• SMA : (Sekolah Menengah Atas)

• WHO : (World Health Organization)

9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.

contoh:

• Cu (Kuprum)

• 52 cm

• l (liter)

• Rp 350,00

10. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya.

contoh:

• Latar Belakang Pembentukan

• Sistem Acara

11. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.

contoh:

• Jalan Kebayoran 32

• Jakarta, 3 Mei 1997

• Yth.Sdr.Ivan

Jalan Istana 30

Surabaya

Tanda Koma (,)

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.

contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan.

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.

contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.

3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.

contoh:

• Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

• Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.

contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.

contoh:

• Oleh karena itu, kamu harus datang.

• Jadi, saya tidak jadi datang.

5. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.

contoh:

• O, begitu.

• Wah, bukan main.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

contoh: Kata adik, “Saya sedih sekali”.

7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan tanggal, (ii) bagian-bagian kalimat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

contoh:

• Medan, 18 Juni 1984

• Medan, Indonesia.

8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.

9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.

10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

contoh: Rinto Jiang,S.E.

11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

contoh:

• 33,5 m

• Rp 10,50

12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.

Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.

13. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

contoh: dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.

Bandingkan dengan: Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

contoh: “Di mana Rex tinggal?” tanya Stepheen.

Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

contoh: malam makin larut; kami belum selesai juga.

2. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

contoh: Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur, adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.

Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.

contoh:

• yang kita perlukan, sekarang ialah barang-barang yang berikut: kursi, meja, dan lemari.

• Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.

2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

contoh:

Ketua : Borgx

Wakil Ketua : Hayabuse

Sekretaris : Ivan Lanin

Wakil Sekretaris : Irwan Gatot

Bendahara : Rinto Jiang

Wakil bendahara : Rex

3. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

contoh:

Borgx : “Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!”

Rex : “Siap, Boss!”

4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan.

contoh:

(i) Tempo, I (1971), 34:7

(ii) Surah Yasin:9

(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi sudah terbit.

5. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.

contoh:

….dia beli ba-

ru juga.

-Suku kata yang terdiri atas satu huruf tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris.

contoh:

…. masalah i-

tu akan diproses.

2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dan belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya ada pergantian baris.

contoh:

…. cara baru meng-

ukur panas

akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

contoh:

………mengharga-

i pendapat.

3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

contoh: anak-anak

tanda ulang singkatan (seperti pangkat 2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.

4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

contoh: p-e-n-g-u-r-u-s

5. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.

bandingkan:

• ber-evolusi dengan be-revolusi

• dua puluh lima-ribuan (20×5000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (1×25000).

• Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah

• PN dengan di-PN-kan.

6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, dan (d) singkatan huruf kapital dengan imbulan atau kata.

contoh:

• se-Indonesia

• hadiah ke-2

• tahun 50-an

• ber-SMA

• KTP-nya nomor 11111

• bom-V2

• sinar-X.

7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Contoh:

• di-charter

• pen-tackle-an

Sebagai lambang matematika untuk pengurangan (tanda kurang).

Tanda Pisah (—)

1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di luar bangun kalimat.

contoh: Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar

-Dalam pengetikan karangan ilmiah, tanda pisah dinyatakan dengan 2 tanda hubung tanpa jarak.

contoh: Medan—Ibu kota Sumut—terletak di Sumatera

2. Tanda pisah menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih tegas.

contoh:

Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau di antara dua nama kota yang berarti ‘ke’, atau ‘sampai’.

contoh:

• 1919—1921

• Medan—Jakarta

• 10—13 Desember 1999

Tanda Garis Bawah (_)

Tanda Elipsis (….)

Tanda Tanya (?)

Tanda Seru (!)

Tanda Kurung ((…))

Tanda Kurung Siku ([...])

Digunakan untuk tambahan komentar yang bukan berasal dari penulis asli. Contoh:

• Katanya, “[Adam] tidak datang ke sekolah hari ini”.

Tanda Kurung Lancip (<…>)

Biasa digunakan di bahasa komputer HTML

Tanda Kurung Kurawal ({…})

Tanda Kurung Ganda («…»)

Biasa digunakan di bahasa pemrograman komputer

Tanda Petik (“…”)

1. Tanda petik digunakan untuk menyatakan suatu kalimat langsung atau kadang juga sebagai penegasan.

contoh: kata Ketua, “Kita akan segera berangkat besok.”

Tanda Petik Tunggal (‘…’)

Tanda petik tunggal biasa digunakan untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain. Misalnya, seperti di bawah ini.

“Aku mendengar seseorang memanggil, ‘Nori, Nori’, dari hutan itu,” ujar Ramon.

Tanda petik tunggal juga digunakan untuk mengapit terjemahan, ungkapan asing, atau penjelasan kata. Kalau dalam linguistik, tanda petik itu disebutkan mengapit makna.

Tanda Ulang (…2)

Ditulis dengan menambahkan angka 2 (atau 2) di akhir kata yang seharusnya diulang, menandakan kata tersebut diulang dua kali. Tanda penyingkatan ini tidak resmi. Kata yang berulang harus ditulis penuh. Contoh:

• Buku-buku (bukan “buku2″)

• Saudara-saudara (bukan “saudara2″)

Tanda Garis Miring (/)

Biasa digunakan untuk menyatakan “atau”, biasanya untuk dua kata yang bersinonim. Contoh:

• Membuat / melakukan. (dibaca: membuat atau melakukan)

Untuk dua hal yang hampir serupa bunyinya, dalam hal ini tanda “/” tidak dibaca. Contoh:

• RT/RW

• AC/DC

Sebagai lambang matematika untuk pembagian (tanda bagi).

Tanda Garis Miring Terbalik (\)

Tanda Penyingkat (Apostrof)(`)(‘)

Bagaimana Memakai Konjungsi (2 habis)

Konjungsi atau kata hubung adalah kata yang mempunyai fungsi menghubungkan kalimat dengan kalimat lain. Contohnya kalimat berikut:

- Saya bertemu dia ketika kami belajar di Wisma Bahasa.

Kata ketika adalah kata hubung yang menghubungkan kalimat pertama dengan kalimat kedua.

- Kalimat pertama = Saya bertemu dia.

- Kalimat kedua = Kami belajar di Wisma Bahasa.

Dalam bahasa Indonesia ada banyak konjungsi : sementara, sambil, ketika, supaya, sehingga, dan lain-lain. Bagaimana memakai konjungsi itu ?

1. Sementara

- Mempunyai dua subjek yang berbeda.

- Mempunyai aktivitas sama waktu.

Contoh :

Kalimat pertama = Bapak memasak di dapur.

Kalimat kedua = Ibu membaca koran. (pada waktu sama)

Kalimat gabung = Bapak memasak di dapur sementara ibu membaca koran.

2. Sambil

- Mempunyai satu subjek sama.

- Mempunyai aktivitas sama waktu.

Contoh :

Kalimat pertama = Saya membaca koran

Kalimat kedua = Saya medengarkan musik.(pada waktu sama)

Kalimat gabung = Saya membaca koran sambil mendengarkan musik.

3. Ketika

- Mempunyai satu atau dua subjek.

- Mempunyai aktivitas yang tidak sama waktu.

Contoh :

Kalimat pertama = Saya sedang mandi.

Kalimat kedua = Dia datang.(beberapa waktu sesudah saya mulai aktivitas mandi)

Kalimat gabung = Dia datang ketika saya sedang mandi.

4. Supaya

- Mempunyai satu atau dua subjek.

- Kalimat kedua adalah tujuan (goal/aims) kalimat pertama.

Contoh :

Kalimat pertama = Saya belajar keras.

Kalimat kedua = Saya bisa berbicara dalam bahasa Indonesia (kalimat ini adalah tujuan dari ‘ Saya belajar keras ‘, pada saat sekarang saya belum bisa berbicara dalam bahasa Indonesia)

Kalimat gabung = Saya belajar keras supaya saya bisa berbicara dalam bahasa Indonesia.

5. Sehingga

- Mempunyai satu atau dua subjek.

- Kalimat kedua adalah hasil/akibat (effect/result) kalimat pertama.

Contoh :

Kalimat pertama = Tadi malam saya menonton tv sampai jam 12 malam.

Kalimat kedua = Saya terlambat bangun pagi.(kalimat ini adalah akibat atau hasil ‘Tadi malam saya menonton tv sampai jam 12 malam’)

Kalimat gabung = Tadi malam saya menonton tv sampai jam 12 malam sehingga terlambat bangun pagi.

Latihan

Gabungkan dua kalimat ini dengan memakai kata hubung yang tepat !

1.Guru saya menjelaskan tatabahasa. Saya menulis.

2.Saya menyanyi. Saya bermain gitar.

3.Tadi pagi saya tidak makan pagi. Sekarang saya merasa lapar sekali.

4.Saya mau tidur lebih awal. Besok pagi saya bisa bangun pagi-pagi.

5.Dia berolah raga setiap pagi. Dia mau menjadi sehat.

6.Ibu menonton tv. Bapak membersihkan rumah.

7.Saya sedang jalan-jalan di Malioboro. Saya bertemu teman saya.

8.Pieter bekerja keras sekali hari ini. Sekarang dia merasa capai sekali.

9.Dia membaca koran. Dia makan pagi.

10. Saya bekerja di Indonesia. Saya belajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa

Posted on 17 September, 2007 by wismabahasa

Sebelum menjelaskan konjungsi yang lainnya, di bawah ini adalah kunci jawaban latihan tatabahasa untuk edisi yang lalu.

1.Guru saya menjelaskan tatabahasa sementara saya menulis.

2.Saya menyanyi sambil bermain gitar.

3.Tadi pagi saya tidak makan pagi sehingga sekarang saya merasa lapar sekali.

4.Saya mau tidur lebih awal supaya besok pagi saya bisa bangun pagi-pagi.

5.Dia berolah raga setiap pagi supaya menjadi sehat.

6.Ibu menonton tv sementara bapak membersihkan rumah.

7.Ketika saya sedang jalan-jalan di Malioboro saya bertemu teman saya.

8.Pieter bekerja keras sekali hari ini sehingga sekarang dia merasa capai sekali.

9.Dia membaca koran sambil makan pagi.

10. Ketika saya bekerja di Indonesia saya belajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa.

Sekarang perhatikan konjungsi di bawah ini:

1. Karena

Kata hubung ”karena” mempunyai arti alasan (reason).

Contoh:

Kalimat pertama : Hari ini dia tidak belajar di kelas.

Kalimat kedua : Dia sakit perut. (kalimat ini adalah alasan bahwa Hari ini dia tidak

belajar di kelas)

Kalimat gabung : Hari ini dia tidak belajar di kelas karena sakit perut.

2. Kalau, seandainya

Kata hubung ”kalau” dan ”seandainya” mempunyai arti syarat (condition).

Contoh:

Kalimat pertama : Saya akan datang di pestamu nanti malam.

Kalimat kedua : Nanti malam tidak ada hujan. (kalimat ini adalah syarat bahwa Saya

akan datang di pestamu nanti malam)

Kalimat gabung : Saya akan datang di pestamu nanti malam kalau nanti malam tidak

ada hujan.

Kata hubung ”seandainya” kadang-kadang mempunyai makna bahwa syarat dalam kalimat kedua hampir tidak mungkin (imposible) terjadi.

Contoh:

Kalimat pertama: Saya akan terbang ke semua tempat di dunia.

Kalimat kedua: Saya punya sayap. (kalimat kedua adalah syarat (yang tidak mungkin

terjadi) bahwa Saya akan terbang ke semua tempat bagus di dunia)

Kalimat gabung: Saya akan terbang ke semua tempat bagus di dunia seandainya

saya punya sayap.

3. Tetapi

Kata hubung ”tetapi” mempunyai arti pertentangan (contrastif).

Contoh:

Kalimat pertama : Dia memang bodoh

Kalimat kedua : Dia rajin.

Kalimat gabung : Dia memang bodoh, tetapi rajin.

4. Sejak

Kata hubung ”sejak” mempunyai arti ”awal waktu mulai aktivitas”

Contoh:

Kalimat pertama : Dia belajar bahasa Indonesia.

Kalimat kedua : Dia bekerja di perusahaan Indonesia. (aktitivitas dalam kalimat kedua

adalah awal dia mulai belajar bahasa Indonesia)

Kalimat gabung: Dia belajar bahasa Indonesia sejak dia bekerja di perusahaan

Indonesia.

5. Meskipun

Kata hubung ”meskipun” mempunyai arti ”ada kesungguhan”

Contoh:

Kalimat pertama: Dia belum sembuh dari sakitnya.

Kalimat kedua: Dia sudah minum banyak obat. (kalimat kedua menyatakan bahwa dia

sungguh-sungguh dengan usaha keras sudah minum obat)

Kalimat gabung: Dia belum sembuh dari sakitnya meskipun sudah minum banyak obat)

penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.

1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.

2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola [1].

2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi

3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.

4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.

5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.

3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur mayur).

4. Gabungan kata atau kata majemuk

1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.

3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.

5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.

6. Kata depan atau preposisi (di [1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.

7. Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.

8. Partikel

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.

2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.

3. Partikel per- yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.

9. Singkatan dan akronim. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan singkatan dan akronim.

10. Angka dan bilangan. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan tanggal dan angka.

Kata turunan

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.

1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-

2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya

2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.

1. ber-an dan ber-i

2. di-kan dan di-i

3. diper-kan dan diper-i

4. ke-an dan ke-i

5. me-kan dan me-i

6. memper-kan dan memper-i

7. pe-an dan pe-i

8. per-an dan per-i

9. se-nya

10. ter-kan dan ter-i

3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).

1. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.

2. Sisipan: -en-, -el-, dan -er-.

[sunting] Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.

2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.

4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.

5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.

6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.

2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.

3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Aturan khusus

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:

1. ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)

2. ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)

Konsensus penggunaan kata

Tiongkok dan tionghoa

Cina adalah bentuk dan penggunaan baku menurut KBBI. Ada himbauan untuk menghindari kata ini atas pertimbangan kesensitifan penafsiran. Sebagai alternatifnya diusulkan menggunakan kata China. Ini sebuah argumen yang tidak bisa didiskripsikan dan dijelaskan secara ilmiah bahasa, apalagi bunyi ujaran China – Cina adalah hampir sama (China dibaca dengan ejaan Inggris). Padanan untuk kata Cina yaitu Tiongkok (negara), Tionghoa (bahasa dan orang).

Mayat dan mati

mati: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata wafat, meninggal, gugur, atau tewas (tergantung konteks).

mayat: hindari penggunaannya dalam biografi. Gunakan kata jasad atau jenazah.

Pranala ke situs luar

Sebisa mungkin hindari penggunaan kalimat seperti “Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi situs ini.” pada artikel yang belum lengkap. Sebaiknya pranala ke situs tersebut dimasukkan ke bagian Pranala luar dan menambahkan Templat:Stub dengan mengetik:

{{stub}}

atau

{{rintisan}}

di bagian akhir artikel.

Penggunaan “di mana” sebagai penghubung dua klausa

Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia TIDAK mengenal bentuk “di mana” (padanan dalam bahasa Inggris adalah “who”, “whom”, “which”, atau “where”) atau variasinya (“dalam mana”, dengan mana”, dan sebagainya). Penggunaan “di mana” sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata “yang” sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, HINDARI PENGGUNAAN BENTUK “DI MANA”, apalagi “dimana”, termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Sebenarnya selalu dapat dicari struktur yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia.

Contoh-contoh:

(1) Dari artikel Kantin: … kantine adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para pengunjung dapat makan … .

Usul perbaikan: … kantine adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan … .

(2) Dari artikel Tegangan permukaan: Teganganpermukaan = F / L dimana :

F = gaya (newton)

L = panjang m).[sic]

Usul perbaikan: Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), tegangan permukaan S dapat ditulis sebagai S = F / L.

Di sini tampak bahwa “apabila” menggantikan posisi “di mana” (ditulis di kalimat asli sebagai “dimana”).

(3) Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice … .

Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja … .

Contoh-contoh lain silakan ditambahkan.

[sunting] Kata penghubung “sedangkan”

Kesalahan penggunaan kata penghubung yang juga sering kali terjadi adalah yang melibatkan kata “sedangkan”. “Sedangkan” adalah kata penghubung dua klausa berderajat sama, sama seperti “dan”, “atau”, serta “sementara”. Dengan demikian secara tata bahasa ia TIDAK PERNAH bisa mengawali suatu kalimat (tentu saja lain halnya dalam susastra!). Namun justru di sini sering terjadi kesalahan dalam penggunaannya. “Sedangkan” digunakan untuk mengawali kalimat, padahal untuk posisi itu dapat dipakai kata “sementara itu”.

Contoh: Dari harian Jawa Pos:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini, 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

Usulan perbaikan 1:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

Usulan perbaikan 2:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sementara itu, jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

[sunting] Daftar kata

Untuk daftar yang lebih lengkap, lihat pula halaman utamanya.

Gabungan kata yang ditulis serangkai

1. acapkali

2. adakalanya

3. akhirulkalam

4. alhamdulillah

5. astagfirullah

6. bagaimana

7. barangkali

8. bilamana

9. bismillah

10. beasiswa

11. belasungkawa

12. bumiputra

13. daripada

14. darmabakti

15. darmasiswa

16. dukacita

17. halalbihalal

18. hulubalang

19. kacamata

20. kasatmata

21. kepada

22. keratabasa

23. kilometer

24. manakala

25. manasuka

26. mangkubumi

27. matahari

28. olahraga

29. padahal

30. paramasastra

31. peribahasa

32. puspawarna

33. radioaktif

34. sastramarga

35. saputangan

36. saripati

37. sebagaimana

38. sediakala

39. segitiga

40. sekalipun

41. silaturahmi

42. sukacita

43. sukarela

44. sukaria

45. syahbandar

46. titimangsa

47. wasalam

[sunting] Kata yang sering salah dieja

Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI (kecuali ada keterangan lain) dan dianjurkan digunakan, sedangkan kata-kata selanjutnya adalah variasi ejaan lain yang kadang-kadang juga digunakan.

1. aktif, aktip

2. aktivitas, aktifitas

3. al Quran, alquran

4. analisis, analisa

5. Anda, anda

6. apotek, apotik (ingat: apoteker, bukan apotiker)

7. asas, azas

8. atlet, atlit (ingat: atletik, bukan atlitik)

9. bus, bis

10. besok, esok

11. diagnosis, diagnosa

12. ekstrem, ekstrim

13. embus, hembus

14. Februari, Pebruari

15. frekuensi, frekwensi

16. foto, Photo

17. gladi, geladi

18. hierarki, hirarki

19. hipnosis (nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva)

20. ibu kota, ibukota

21. ijazah, ijasah

22. imbau, himbau

23. indera, indra

24. indragiri, inderagiri

25. istri, isteri

26. izin, ijin

27. jadwal, jadual

28. jenderal, jendral

29. Jumat, Jum’at

30. kanker, kangker

31. karier, karir

32. Katolik, Katholik

33. kendaraan, kenderaan

34. komoditi, komoditas [2]

35. komplet, komplit

36. konkret, konkrit, kongkrit

37. kosa kata, kosakata

38. kualitas, kwalitas, kwalitet [2]

39. kuantitas, kwantitas [2]

40. kuitansi, kwitansi

41. kuno, kuna [3]

42. lokakarya, loka karya

43. maaf, ma’af

44. makhluk, mahluk, mahkluk (salah satu yang paling sering salah)

45. mazhab, mahzab

46. metode, metoda

47. mungkir, pungkir (Ingat!)

48. nakhoda, nahkoda, nakoda

49. narasumber, nara sumber (berlaku juga untuk kata belakang lain)

50. nasihat, nasehat

51. negatif, negatip (juga kata-kata lainnya yang serupa)

52. November, Nopember

53. objek, obyek

54. objektif, obyektif/p

55. olahraga, olah raga

56. orang tua, orangtua

57. paham, faham

58. persen, prosen

59. pelepasan, penglepasan

60. penglihatan, pelihatan; pengecualian

61. permukiman, pemukiman

62. perumahan, pengrumahan; baik untuk arti housing maupun PHK

63. pikir, fikir

64. Prancis, Perancis [4]

65. praktik, praktek (Ingat: praktikum, bukan praktekum)

66. provinsi, propinsi

67. putra, putera

68. putri, puteri

69. realitas, realita

70. risiko, resiko

71. saksama, seksama (Ingat!)

72. samudra, samudera

73. sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah)

74. saraf, syaraf

75. sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi)

76. sekretaris, sekertaris

77. sekuriti, sekuritas [2]

78. segitiga, segi tiga

79. selebritas, selebriti

80. sepak bola, sepakbola

81. silakan, silahkan (Ingat!)

82. sintesis, sintesa

83. sistem, sistim

84. sorga, surga, syurga

85. subjek, subyek

86. subjektif, subyektif/p

87. Sumatra, Sumatera

88. standar, standard

89. standardisasi, standarisasi [5]

90. tanda tangan, tandatangan

91. tahta, takhta

92. teknik, tehnik

93. telepon, tel(f/p)on, telefon, tilpon

94. teoretis, teoritis (diserap dari: theoretical)

95. terampil, trampil

96. ubah (=mengganti), rubah (=serigala) — sepertinya kedua-duanya berlaku

97. utang, hutang (Ingat: piutang, bukan pihutang)

98. wali kota, walikota

99. Yogyakarta, Jogjakarta

100. zaman, jaman

Lihat pula

Diskusi komunitas Wikipedia mengenai penggunaan bahasa Indonesia – sudah tidak aktif, namun masih bisa diakses.

Wikipedia:Pedoman alihaksara Arab ke Latin

Wikipedia:Pedoman alihaksara Sirilik ke Latin

Catatan kaki

1. ^ a b di dapat juga berfungsi baik sebagai imbuhan yang harus dirangkai penulisannya maupun kata depan yang harus dipisah penulisannya. Kesalahan penulisan di merupakan salah satu kesalahan yang sangat umum ditemukan.

2. ^ a b c d Tidak semua akhiran -ty dalam bahasa Inggris dialih-bahasakan menjadi -tas walaupun tak dimungkiri bahwa mayoritasnya demikian, dalam hal ini berlaku kata-kata seperti sekuriti dan komoditi yang menggunakan sistem kedua (-ti bukan -tas), hal yang sama berlaku pada kata properti (bukan propertas). Kata-kata lainnya misalnya kuantitas memang menggunakan penerjemahan -tas. Lihat Wikipedia:Pedoman penyerapan istilah.

3. ^ Lihat bagian diskusi halaman ini

4. ^ Walaupun “Prancis” lebih dianjurkan, Wikipedia bahasa Indonesia menggunakan ejaan “Perancis” sesuai konsensus.

5. ^ Kata standardisasi memang dieja tanpa mengesampingkan huruf d antara standar dan -isasi, seperti halnya di kata implemen yang menjadi implementasi.

Pedoman penulisan huruf kapital

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Berikut adalah pedoman penulisan tanda baca sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Huruf kapital atau huruf besar sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Dia mengantuk

Kita harus bekerja keras

Apa maksudnya?

Selamat pagi.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

Bapak menasihati, “Berhati-hatilah, Nak!”

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.;

Allah

Yang Maha Pengasih

..dan Kami turunkan kepadamu..

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dari nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Haji Agus Salim

Presiden Soekarno

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, instansi, atau nama tempat.

Gubernur Ali Sadikin

Menteri Hari Sabarno

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

“Siapakah gubernur yang baru saja dilantik itu?”

Brigadir Jendral Sugiarto baru dilantik menjadi mayor jendral.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama orang.

Ricky Setiawan

Vieta Fitria Diani

Muhammad Alif Atma Ain Azza

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

suku Sasak

bangsa Indonesia

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

mengindonesiakan kata asing

keinggris-inggrisan.

Catatan: Huruf kapital tidak dipakai untuk kata ‘bangsa’, ‘suku’, dan ‘bahasa’ yang mengawali sebuah nama.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Bandung Lautan Api

Proklamasi Kemerdekaan

hari Minggu

Iedul Fitri.

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

memproklamasikan kemerdekaan

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi

Asia Tenggara

Jazirah Arab

Selat Sunda

Kota Bogor.

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

Berlayar ke teluk.

Pada hari minggu ku turut ayah ke kota.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama negara, badan, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali konjungsi.

Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

Menurut undang-undang dasar kita

Menjadi sebuah republik

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel, seperti: di, ke, dari, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.

Dari Ave Maria ke Jalan Lain Menuju Roma

Pelajaran Ekonomi untuk Sekolah Menengah Umum

Huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Dr. = Doktor

dr. = Dokter

Sdr. = Saudara

S.Sos. = Sarjana Sosial

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.

Kapan Bapak berangkat?

Surat Saudara sudah saya terima.

Catatan: Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Huruf kapital dipakai untuk menyebutkan judul karya ilmiah (bukan judul buku).

PENELITIAN BAWANG GORENG

Catatan: Jika judul karya ilmiah itu memiliki kata konjungsi (kata penghubung), maka huruf kapital hanya diberikan di huruf pertama setiap kata, sementara huruf pertama kata konjungsi tetap menggunakan huruf kecil.

Penelitian Tentang Gempa Aceh dan Yogyakarta.

Penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.

1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.

2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola [1].

2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi

3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.

4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.

5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.

3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur mayur).

4. Gabungan kata atau kata majemuk

1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.

3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.

5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.

6. Kata depan atau preposisi (di [1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.

7. Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.

8. Partikel

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.

2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.

3. Partikel per- yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.

[sunting] Kata turunan

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

[sunting] Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.

1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-

2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya

2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.

1. ber-an dan ber-i

2. di-kan dan di-i

3. diper-kan dan diper-i

4. ke-an dan ke-i

5. me-kan dan me-i

6. memper-kan dan memper-i

7. pe-an dan pe-i

8. per-an dan per-i

9. se-nya

10. ter-kan dan ter-i

3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).

1. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.

2. Sisipan: -en-, -el-, dan -er-.

[sunting] Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.

2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.

4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.

5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.

6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.

2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.

3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

November 17, 2008 Posted by | Bahasa | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.