Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

Sintaksis: Sebuah Intisari

BAB 1

APAKAH SINTAKSIS?

1.1 Batasan Sintaksis

Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk dalam lingkup sintaksis adalah frasa, klausa dan kalimat. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonprediktif, misalnya rumah mewah. Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah predikat, dam berpotensi menjadi kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat.

1.2 Aspek-Aspek Sintaksis

1.2.1 Kata: Ciri dan Klasifikasi

Kata dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama,kata dilihat dari pemakai bahasa. Menurut pemakai bahasa salah satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang-ulang, dan secara potensial ujaran itu dapat berdiri sendiri. Kedua, kata dilihat secara bahasa. Secara linguistis kata dapat dibedakan atas satuan pembentuknya. Oleh karena itu, kata dapat dibedakan atas:

1) Kata sebagai satuan fonologis

Ciri fonologis kata bahasa Indonesia, misalnya:

  1. mempunyai pola fonotatik suku kata,
  2. bukan bahasa vokalik,
  3. tidak ada gugus konsonan pada posisi akhir,
  4. batas kata tidak ditentukan oleh fonem suprasegmental.

2) Kata sebagai satuan gramatikal

Menurut Lyons(1971) dan Dik (1976), secara gramatikal kata bebas bergerak, dapat dipindah-pindahkan letaknya, tetapi identitasnya tetap.

3) Kata sebagai satuan ortografis

Secara ortografis, kata ditentukanoleh sistem aksara yang berlaku dalam bahasa itu. Bahasa Indonesia misalnya menggunakan aksara latin jadi sebuah kata dituliskan terpisah dari kata lainnya, misalnya terima kasih dan kerja sama.

1.2.2 Frasa: Ciri dan Klasifikasi

Frasa dalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan Samsuri, 1976) atau satu kata konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih.

1.2.3 Klausa : Ciri dan Klasifikasi

Klausa dalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat.

Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya. Berdasarkan distribusi satuannya, klausa dibedakan atas klausa bebas dan klausa terikat. Berdasarkan fungsinya, klausa dibedakan menjadi klausa subjek, klausa objek, klausa keterangan, dan klausa pemerlengkapan.

1.2.4 Kalimat: Ciri dan Klasifikasi

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa. Dilihat dari fungsinya, unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal, kalimat tunggal dan perluasannya, serta kalimat majemuk.

1.3 Hubungan Sintagmatis dan Paradigmatis

1.3.1 Hubungan Sintagmatis

Hubungan sintagmatis adalah hubungan linier antara unsur bahasa yang satu dan unsur bahasa yang lain dalam tataran tertentu. Hubungan itu dapat diuji dengan permutasi atau perubahan urutan satuan unsur-unsur bahasa. Contoh:

  1. Dengan penuh disiplin dan tanggung jawab, saya bekerja keras.
  2. Saya// bekerja keras// dengan penuh disiplin// dan tanggung jawab.

1.3.2 Hubunagn Paradigmatis

Hubungan paradigmatis adalah hubungan sistematis antarunsur bahasa yang memiliki kesesuaian.

1) Tataran Fonemis

Fonem /s/ pada kata sarang mempunyai hubungan paradigmatis dengan fonem yang dapat menggantikannya asalkan penggantian itu menghasilkan kata dalam kategori dan fungsi yang sama, misalnya fonem /s/, /b/, /p/, dan /k/ pada kata /s/arang, /b/arang, /p/arang, dan /k/arang karena kata-kata itu berkelas nomina dan sama-sama dapat mengisi fungsi subjek atau objek.

2) Tataran Morfologis

Pada umumnya, urutan morfem dalam sebuah kata tidak dapat diubah-ubah menurut keinginan seseorang, misalnya sebagai pembentuk kata kerja, awalan meng- dan di- selalu terletak pada awal kata, seperti pada menulis dan melancong serta ditempuh dan dijual.

3) Tataran Sintaksis

Ada kalanya kata di dalam sebuah kalimat dapat diubah-ubah letaknya tanpa mengubah arti. Yang berubah akaibat perubahan letak itu hanya pengutamaan informasi, sepaerti

  1. Saya dan adik pergi kemarin
  2. Kemarin saya dan adik pergi
  3. Saya dan adik kemarin pergi

1.4 Kategori, Fungsi, dan Peran

Beberapa jenis kategori yang dapat menjadi unsur kalimat adalah nomina (kata benda), adjektiva(kata sifat), numeralia(kata bilangan), adverbial, dan kata tugas, seperti preposisi(kata depan), konjungsi(kata penghubung), dan partikel, seperti kah, lah, tah, pun.

Berdasarkan fungsinya, unsur-unsur kalimat ada yang disebut subjek, predikat, objek, pelengkap, serta keterangan.

Peran semantis yang lazim terdapat dalam suatu kalimat adalah pengalam atau penanggap (experiencer), pelaku (agent), pokok,cirri, sasaran, hasil, peruntung atau pemaslahatbeneficiary), ukuran(measure), alat(instrument), tempat(place), sumber(source), jangkauan(range), penyerta, waktu dan asal (Kridalaksana 1991; Alwi dkk.1998)

1.5 Kegramatikalan, Kebermaknaan, dan Keberterimaan

Kegramatikalan atau keapika gramatikal (grammatical wellformedness) adalah konsep yang mengacu pada satuan bahasa yang mengikuti kaidah tata bahasa yang meliputi beberapa tingkatan, yaitu menyangkut kegramatikalan bentuk kata, bentuk klausa, atau bentuk kalimat (cf. Lycons, 1981:101)

Kebermaknaan meliputi kebermaknaan kata, frasa, dan kalimat. Selanjutnya, suatu tuturan, mungkin dapat gramatikal dan bermakana, tetapi tuturan lain mungkin tak gramatikal dan tak bermakna Lycins, 1996:132) keberterimaan (acceptability) berkaitan denga sistem bahasa yang tepat atau keapikan semantis (semantic well-formedness). Sebaliknya, ketakberterimaan (unacceptability) berkaitan dengan sistem bahasa yang tidak tepat atau kerantakan semantis (semanticill-formedness) (Lycons, 1979:379)

1.6 Tafsir Ganda

Suatu ungkapan atau pernyataan kadang-kadang bisa ditafsirkan menjadi dua makna, bahkan bermacam-macam makna karena penyusunan ungkapan atau pernyataan tersebut kurang tertib. Misalnya, kalimat (1) Rumah sang jutawan aneh akan dijual menimbulkan tafsir ganda. Tafsir pertama rumahnya yang aneh dan tafsir kedua sang jutawannya yang aneh. Agar tidak menimbulkan tafsir ganda maka kalimat tersebut direvisi menjadi (1a) Rumah aneh milik sang jutawan aka dijual dan (1b) Rumah milik sang jutawan aneh akan dijual.

1.7 Parafrasa

Parafrasa berarti (1) pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi yang lain dengan tidak mengubah arti; (2) penguraian kembali suatu teks (karangan dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi. Contohnya:

a. 1.Ada beberapa kendala dalam penyelesaian BLBI.

2.Bantuan Likuiditas Banh Indonesia yang dibawa kabur oleh konglomerat ke Singapura dan Cina sulit diselesaikan karena banyak hambatan, antara lain, belum dimilikinya perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Negara tersebut.

1.8 Permutasi

Permutasi adalah perubahan deretan atau urutan unsur-unsur kalimat.

Misalnya, kalimat pada hari Senin minggu depan Menteri Pembangunan Daerah Tertinngal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia dapat dipermutasi menjadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia Senin minggu depan.

BAB 2

KLASIFIKASI FRASA

2.1 Pengantar

Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan samsuri 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih.

2.2 Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris adalah frasa yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi.

2.2.1 Frasa Eksosentris Direktif (Frasa Preposisional)

Frasa preposisional pada umumnya berfungsi sebagai keterangan. Pada dasarnya, frasa preposisional menunjukkkan makna berikut:

  1. tempat, seperti di pasar, ke rumah
  2. asal arah, seperti dari kampong, dari sekolah
  3. asal bahan, seperti cincin( dari emas)
  4. tujuan arah, seperti ke Lampung, ke Kampus
  5. menunjukkkan peralihan, seperti kepada saya
  6. perihal, seperti tentang ekonomi
  7. tujuan, seperti untukmu, buatmu
  8. sebab, seperti karena, lantaran
  9. penjadian, seperti oleh karena itu
  10. kesertaan, seperti denganmu
  11. cara, seperti dengan baik
  12. alat, seperti dengan cangkul
  13. keberlangsungan, seperti sejak kemarin
  14. penyamaan, seperti selaras dengan
  15. perbandingan, seperti seperti dia

2.2.2 Frasa Eksosentris Nondirektif

Frasa eksosentris nondirektif dapat dibedakan menjadi (a) frasa yang sebagian atau seluruhnya memiliki perilaku yang samadengan bagian-bagiannya, seperti si kancil, si terdakwa, para hakim’ (b)frasa yang seluruhnya berperilaku sama dengan salah satu unsurnya. Artinya, terdakwa dan kekasih memiliki perilaku sama dengan si terdakwa dan sang kekasih.

2.3 Frasa Endosentris

Frasa endosentris adalah frasa yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya.

2.3.1 Frasa Endosentris Berinduk Tunggal (Frasa Modifikasi)

Frasa endosentris berinduk tunggal terdiri atas induk yang menjadi penanda kategorinya dan modifikaror yang menjadi pemerinya.

1) Frasa nominal adalah frasa yang terdiri atas nomina (sebagai pusat) dan unsur lain yang berupa adjektiva, verba, numeralia, demonstrativa, pronominal, frasa preposisional, frasa dengan yang, konstruksi dengan yang…-nya, atau frasa lain.

Contoh:meja batu, teman separtai, hadiah untuk ibuku, hati yang luka, orang yang dicintainya, politisi yang ditinngal di Jakarta itu, anak manis, kulit kuning langsat, kolam yang jernih, nasi berbakul-bakul, uang itu, sang raja, anak mereka, banyak mahasiswa, dua buah rumah, batu bertulis, peristiwa yang amat penting yang terjadi kemarin.

2) Frasa Pronominal

Frasa pronominal adalah frasa yang terdiri atas gabungan pronominal dan pronominal atau gabungan pronimina dan adjektiva, adverbial, numeralia, dan demonstrativa.

Contoh: kami berdua, mereka itu, lagi-lagi saya, kamu dengan dia.

3) Frasa Verbal

Frasa verbal adalah frasa yang tediri atas gabungan verba dan verba atau gabungan verba dengan adverbial atau gabungan verba dan preposisi gabungan.

Contoh: pergi kerja, pulang pergi, makan dengan lahap, masuk ke dalam, jalan tanpa arah, coba baca buku, mati kartu, beristri dua, dapat diketahui, dating ke, masuk desa.

4) Frasa Adjektival

Frasa adjektival adalah frasa yang terdiri atas gabungan beberapa kata atau yang terdiri atas induk berkategori apa pun, asalkan seluruhnya berperilaku sebagai adjektiva.

Contohnya: sedikit masam, cantik benar, gagah berani, panas terik, kuat iman, masih belum pasti, agak nakal juga.

5) Frasa Numeral

Frasa numeral adalah frasa yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolong bilangan, dan nomina ukuran.

Contoh: sembilan belas, dua lusin, dua atau tiga, cetakan pertama, ribuan penduduk.

2.3.2 Frasa Endosentris Berinduk Banyak

1) Frasa Koordinatif

Frasa kooordinatif adalah frasa endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel.

Contoh: kaya atau miskin, untuk dan atas nama klien, baik merah maupun biru, entah suka entah tidak, makin tua makin bermutu.

2) Frasa Apositif

Frasa apositif adalah frasa endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada maujud yang sama.

Contohnya:

Ria, anak kakakku yang tinggal di Lampung,

Megawati Soekarno Putri, salah satu mantan Presiden Republik Indonesia.

2.4 Frasa dan Kata Majemuk

Harimurti Kridalaksana (1985) mengemukakan bahwa:

1. kata majemuk harus berstatus kata; kata majemuk bukan frasa;

2. kata majemuk merupakan konsep sintaksis, bukan konsep semantic.

2.5 Kolokasi Kata

Kolokasi disebut juga sanding kata. Kolokasi dibedakan dengan idiom, kata majemuk, dan frasa karena sanding kata dilihat dari kemungkinan adanya beberapa kata dalam lingkungan yang sama atau perasosiasian yang tetap antara kata dan kata-kata tertentu (Kridalaksaan, 1982). Idiom merupakan konstruksi dari unsur-unsur kata yang saling memilih atau konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya, misalnya panjang tangan berarti pencopet atu pencuri.

Secara garis besar kolokasi dalam bahasa Indonesia dibedakan diklasifikasi menjadi dua, yaitu:

  1. Kolokasi kelompok I, yaitu kolokasi yang berkonstruksi [N+A], terbagi menjadi dua belas tipe, sebagai berikut:
  1. Kolokasi tipe I A dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantik +watak atau +perbuatan.

Contoh: anak cerdas, orag sabar, gadis lincah.

  1. Kolokasi tipe I B dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, +terbilang, -bernyawa, +waktu, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: iklan penting, malam aman, hari panas.

  1. Kolokasi tipe I C dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, +terbilang, -bernyawa, +kelompok, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: masyarakat sejahtera, negara makmur, tanah subur.

  1. Kolokasi tipe I D dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, +bagian tubuh, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: wajah bulat, hati lembut, gidung mancung.

  1. Kolokasi tipe I E dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, -terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +kualitas.

Contoh: nasib buruk, cerita pendek, karya baru.

  1. Kolokasi tipe I F dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan diri.

Contoh: bapak gagah, pemuda ganteng, ibu anggun.

  1. Kolokasi tipe I G dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +usia.

Contoh: janda muda, orang tua, gadis manis.

  1. Kolokasi tipe I H dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +warna.

Contoh: angsa putih, kotak hijau, kertas kuning.

  1. Kolokasi tipe I I dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +ukuran.

Contoh: barang berat, bangku panjang, sungai lebar.

  1. Kolokasi tipe I J dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: bibir sumbing, dada bidang, jari lentik.

  1. Kolokasi tipe I K dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, -terbilang, bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: awan mendung, cahaya redup, cuaca buruk.

  1. Kolokasi tipe I L dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +lingkungan.

Contoh: pintu baru, jendela bekas, laut luas.

  1. Kolokasi lelompok II memiliki konstruksi adjektiva ditambah nomina atau [A+N], yang pada dasarnya kolokasi tipe ini merupakan kebalikan dari kolokasi kelompok I.

Contoh: [A] + [N]

Hangat-hangat kuku

Kuning langsat

Merah darah

bab3

KLASIaFIKASI KLAUSA

3.1 Pengantar

Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat.

3.2 Klausa Berdasarkan Distribusi Satuan

Berdasarkan potensinya untuk dibentuk menjadi kalimat, klausa dapat dibagi menjadi klausa bebas dan klausa terikat.

3.3 Klausa Berdasarkan Fungsi

Berdasarkan fungsinya, klausa dapat menduduki fungsi subjek, objek, keterangan, dan pelengkap.

3.3.1 Subjek

Subjek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frasa nominal yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara.

Contoh: Kami sekeluarga bulan lalu berlibur ke Bali.(kami sekeluarga merupakan subjek)

3.3.2 Objek

Objek adalah bagian klausa yang berwujud nomona atau frasa nomina yang melengkapi verba transitif. Objek dapat dibagi menjadi dua yaitu objek langsung dan objek tak langsung.

Contoh objek langsung: bibi sedang menanak nasi.

Contoh objek tak langsung : bibi sedang menanak nasi untuk kita semua.

3.3.3 Klausa Keterangan

Klausa keterangan adalah klausa yang menjadi bagian luar inti, yang berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau makna predikat.

Contoh:

  1. keteranga akibat: penjahat itu dihukum mati
  2. keterangan sebab: karena sakit, ia tidak jadi ikut
  3. keterangan jimlah: bagai pinang dibelah dua
  4. keterangan alat: dinaikkan dengan mesin pengangkat

3.3.4 Klausa Pelengkap

Klausa pelengkap adalah klausa yang terdiri atas nomina, frasa nomina, adjektiva, atau frasa adjektival yang merupakan bagian dari predikat verbal, seperti:

  1. abangku menjadi pilot
  2. kami bermain bola
  3. aku dianggap patung

3.4 Klausa Berdasarkan Struktur

3.4.1 Klausa Verbal

Klausa verbal adalah lausa yang predikatnya verba.

Contoh: saya makan, adik mandi.

Klausa verbal terdiri atas klausa verbal aktif transitif dan klausa verbal aktif taktransitif.

Klausa verbal aktif transitif adalah klausa yang predikat verbalnya mempunyai sasaran dan atau mempunyai objek.Contoh:

Bibi menjual makanan, aku mengirimkan surat, dan lain-lain.

Klausa verbal aktif transitif resiprokal adalah klausa yang subjeknya melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya, tetapi secara berbalasan atau klausa yang subjeknya saling melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya. Contoh: Ia berpandangan dengan ibunya.

Klusa verbal pasif adalah klausa yang menunjukkan bahwa subjek dikenai pekerjaan atau sasaran perbuatan seperti yang disebutkan dalam predikat verbalnya.

Contoh: korban ditembak, kami kehujanan, dan lain-lain.

Klausa verbal aktif taktransitif adalah klausa yang predikat verbalnya tidak mempunyai sasaran dan tidak mempunyai onjek.

Contoh: kelakuannya menjadi-jadi, pengetahuan kita bertambah, dan lain-lain.

3.4.2 Klausa Nonverbal

Klausa nonverbal adalah klausa yang predikatnya berupa nomina, pronomina, adjektiva, numeralia, atau frasa preposisional.

Contoh: adik ke Bandung, ayahku nelayan, dia sedang sakit, dan lain-lain.

3.5 Hubungan Antarklausa

3.5.1 Hubungan Antarklausa yang Koordinatif

Hubungan koordinatif menunjukkan hubungan yang setara.

3.5.1.1 Hubungan Aditif (jumlah)

Hubungan jumlah ditunjukkan oleh klausa kedua berisikan informasi yang menambahkan isi informasi pada klausa pertama.

Contoh:

  1. Saya mencintai dan memahami pekerjaan saya selam ini.
  2. Saya bersama beberapa orang teman ingin mendirikan perpustakaan.

3.5.1.2 Hubungan Adversatif (pertentangan)

Hubungan pertentangan biasanya ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi yang bertentangan dengan isi informasi pada klausa pertama.

Contoh:

  1. Hubungan pertentangan yang menyatakan penguatan

Contoh: Ia tidak hanya rajin dan pandai, tetapi juga teliti dan rendah hati.

  1. Hubungan pertetangan yang menyatakan implikasi

Contoh: Aku sudah lama berdagang, tetapi belum juga punya uang banyak.

  1. Hubungan pertentangan yang menyatakan perluasan

Contoh: Budaya daerah harus dijaga, tetapi budaya luar baik jangan ditolak.

3.5.1.3 Hubungan Alternatif (pilihan)

Hubungan pilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan diantara berbagai kemungkinan yang ada yang ditunjukkan oleh klausa yang dihubungkan itu.

1) Hubungan pilihan yang menyatakan pertentangan

Aku harus bersekolah dengan sengsara atau berhenti, lalu mencari uang.

2) Hubungan pilihan yang tidak menyatakan pertentangan

Dia duduk merenungkan masa lalu ataukah sedang merancang masa depan?

3.5.2 Hubungan Antarklausa Subordinatif

Hubungan antarklausa subordinatif menunjukkan hubungan yang hierarkis.

3.5.2.1 Hubungan Sebab

Kata hubung yang digunakan adalah sebab, karena, dan oleh karena.

Contoh:

a. Mereka berkelahi karena salah paham

b. Saya tidak tahu apa sebab dia tidak mau datang ke pertemuan itu.

3.5.2.2 Hubungan Akibat

Kata hubung yang digunakan adalah akibat, akibatnya, dan hasilnya.

Contoh: Kebakaran itu terjadi akibat kelalaian petugas pada bagian mesin.

3.5.2.3 Hubungan Tujuan

Kata hubung yang digunakan adalah untuk, demi, agar, supaya, dan biar.

Contoh: Saya bekerja keras demi membesarkan anak-anak saya.

3.5.2.4 Hubungan Syarat

Kata hubung yang digunakan adalah jika, kalau, jikalau, dan asalkan.

Contoh: Saya mau datang ke pertemuan penting itu jika anda datang juga.

3.5.2.5 Hubungan Waktu

1) Waktu Batas Permulaan

Ditandai dengan kata hubung sejak atau sedari.

Contoh: Kami terbiasa hidup sederhana sedari kami masih baru saja menikah.

2) Waktu Bersamaan

Ditandai dengan kata hubung ketika, pada waktu, (se)waktu, seraya, serta, sambil, semantara, selagi, selam, dan tatkala.

Contoh: Mereka datang ketika kami sedang duduk-duduk di teras rumah sore hari.

3) Waktu Berurutan

Ditandai dengan kata hubung sebelum, sehabis, setelah, sesudah, seusai, dan begitu.

Contoh: Sesudah pulang sekolah, dia membantu orang tuanya bekerja di ladang.

4) Waktu Batas Permulaan

Ditandai dengan kata hubung sampai dan kepada.

Contoh: Aku harus belajar dan berjuang keras sampai cita-citaku tercapai.

3.5.2.6 Hubungan Kosesif

Ditandai dengan kata hubung sungguh (pun), sekalipun, dan kendati (pun).

Contoh: Dia rela anaknya pergi belajar walaupun harus jauh dari kampung halaman.

3.5.2.7 Hubungan Cara

Ditandai dengan kata hubung dengan atau tanpa.

Contoh:

Petinju itu menang dengan cara mengelakkan setiap pukulan yang datang.

3.5.2.8 Hubungan Kenyataan

Klausa subordinatif pada hubungan kenyataan atau hubungan komplementatif bertugas melengkapi verba atau melengkapi nomina subjek.

Contoh: Sekarang aku baru tahu (bahwa) anak itu ternyata sangat rajin.

3.5.2.9 Hubungan Alat

Ditandai dengan kata hubung dengan, tidak dengan, memakai, dan menggunakan.

Contoh: Petani membalik tanah dengan cangkul.

3.5.2.10 Hubungan Perbandingan

3.5.2.10a Hubungan Ekuatif

Hubungan ekuatif mempersyaratkan persamaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah sama + adjektiva +dengan atau se-+adjektiva, seperti:

Sekarang penghasilan anak-anakku sama banyak dengan penghasilanku.

3.5.2.10b Hubungan Komparatif

Hubungan komparatif mempersyaratkan perbedaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah lebih/kurang +dari atau lebih/kurang + adjektiva +daripada, seperti:

Pesta itu telah menghabiskan biaya lebih dari/kurang dari Rp 50.000.000,00

3.5.2.11 Hubungan Hasil

Ditandai dengan kata hubung sampai, sampai-sampai, sehingga, dan maka.

Contoh: Semburan Lumpur panas itu makin lama makin besar sehingga kami hampir tidak mampu lagi mengatasinya.

3.5.2.12 Hubungan Atributif

Ditandai dengan kata hubung subordinatif yang.

1) Hubungan Atributif Restriktif

Hubungan seperti ini mewatasi makna nomina yang diterangkannya. Akibatnya, keterangan pewatas itu menjadi bagian integral dari nomina yang diterangkannya.

Contoh: Istrinya yang tinggal di Bogor berjualan telur.

2) Hubungan Atributif Takrestriktif

Klausa relatif pada hubungan atributif takrestriktif hanya memberikan tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya.

Contoh: Istrinya, yang tinggal di Bogor, berjualan telur.

3.5.2.13 Hubungan Andaian

Klausa subordinatif pada hubungan pengandaian berisikan andaian atas sesuatu yang terdapat pada klausa utama.

1) Andaian yang tidak mungkin terjadi

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung andaikata dan andaikan.

Contoh: Andaikata saya merpati, tentu sudah aku terbangi laut yang luas itu.

2) Andaian yang mungkin terjadi

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jika, kalau, ikalau, apabila, dan bilamana.

Contoh:Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud Pasal 6, izin perusahaan tersebut dapat dicabut.

3) Andaian yang menggambarka kekhawatiran

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jangan-jangan.

Contoh: Mengapa ayah diam saja sejak tadi? Jangan-jangan ayah marah kepada kita.

4) Andaian yang berhubungan dengan ketidakpastian

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung kalau-kalau.

Contoh: Kita berdoa sajalah, kalau-kalau ia juga datang pada hari ini.

3.5.2.14 Hubungn Optatif (Berharap)

Kata hubung yang digunakan adalah agar, semoga, moga-moga, dan mudah-mudahan.

Contoh: Kami memohon semoga bapak mau memaafkannya.

BAB 4

KLASIFIKASI KALIMAT

4.1 Apakah Kalimat?

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.

4.2 Strategi Pengenalan Kalimat

Kalimat dasar adalah kalimat yang terdiri atas unsur-unsur pokok. Jadi kalimat dasar adalah kalimat yang belum mengalami perluasan.

4.3 Fungsi Sunjek, Predikat, Objek, dan Fungsi Lain

Untuk mengetahui subjek sebuah kalimat, kita dapat mengajukan pertanyaan dengan menggunakan unsur predikat sebagai tumpuan. Misal, apa yang……..? atau siapa yang…….?

4.4 Kalimat Menurut Bentuk

4.4.1 Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat, Semua kalimat dasar adalah kalimat tunggal. Kalimat tunggal sapat diperoleh dari beberapa segi.

a) Kalimat tunggal adalah kalimat murni

Contoh: Rupiah menguat.

b) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang diperluas dengan berbagai keterangan.

Contoh: Wisatawan asing berkunjung ke Indonesia.

c) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang berubah susunannya.

Contoh: Berdiri aku di senja senyap.

Dalam Bahasa Indonesia terdapat enam pola kalimat:

1) Subjek (KB) + Predikat (KK) : pakar politik berdiskusi

2) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) : Mahasiswa mengikuti ujian

3) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) +Objek (KB) :Dosen membawakan saya buku Biologi

4) Subjek (KB) + Predikat (KS) : Harga kertas mahal

5) Subjek (KB) + Predikat (K.Bil) : Komputernya dua buah

6) Subjek (KB) + Predikat (KB) : Temanku guru SMU 1

Untuk menciptakan beragam kalimat tunggal, enam pola kalimat dasar di atas dapat diperluas atau dipermutasikan unsur-unsurnya.

Pola 1 adalah pola kalimat yang hanya mengandung unsur subjek nomina dan unsur predikat verba.

Contoh: Kami berjuang.

Pola 2 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba, dan berobjek nomina.

Contoh: Kami mencairkan dana.

Pola 3 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba, dan berobjek kedua nomina.

Contoh: Surat kabar memberikan saya kepintaran.

Pola 4 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat adjektiva.

Contoh: Suku bunga bank sangat tinngi.

Pola 5 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat numeralia.

Contoh: Panjang mobil itu empat meter.

4.4.2 Perluasan Kalimat Tunggal

Keenam pola kalimat dasar itu dapat diperluas dengan unsure keterangan.

  1. Ketarangan tempat, seperti di sini, dalam ruangan, sekitar kota;
  2. Keterangan waktu, seperti tiap tahun, ninggu ketiga;
  3. Keterangan alat, seperti dengan pensil, dengan keris;
  4. Keteranga cara, seperti dengan berhati-hati, dan berbagai jenis keteranga lainnya.

4.4.3 Kalimat Majemuk

4.4.3.1 Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang terdiri atas dua kalimat tunggal atau lebih yang digabungkan dengan kata hubung yang menunjukkan kesetaraan, seperti dan, atau, sedangkan, dan tetapi.

4.4.3.2 Kalimat Majemuk Bertingkat (taksetara)

Kalimat majemuk taksetara terdiri atas unsur anak kalimat dan induk kalimat.

Contoh: Saya akan sulit sampai di kantor jika pagi-pagi sekali hari sudah hujan.

4.4.3.3 Kalimat majemuk taksetara Rapatan

Kalimat majemuk taksetara atau kalinat majemuk bertingkat dapat juga dirapatkan jika terdapat unsure subjek yang sama.

Contoh: Mereka sudah menyelesaikan tugas

Mereka boleh mengambil tanda terima

Dapat dirapatkan menjadi Karena mereka sudah menyelesaikan tugas, mereka boleh mengambil tanda terima.

4.4.3.4 Penghilangan Kata Penghubung pada Kalimat Majemuk

Contoh: Dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri, pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar. (salah)

Jika dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri, pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar.(benar)

4.4.3.3 Kalimat Majemuk Campuran

Terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.

Contoh: Karena pembicaraan mengenai pemecahan atom belum rampung, kami terpaksa bekerja sampai malam dan melakukan pembagian kerja dengan lebih baik lagi.

4.4.4 Jenis Kalimat menurut Bentuk dan Gaya

a. Kalimat yang Melepas

Jika kalimat majemuk diawali oleh unsure utama, lalu diikuti oleh unsur tambahan (induk kalimat diikuti anak kalimat), gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian melepas.

Contoh: Kemunduran perekonomian kita harus diatasi sebelum masyarakat menderita kelaparan total.

b. Kalimat yang Berklimaks

Jika kalimat majemuk diawali anak kalimat dan didikuti induk kalimat, gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian berklimaks.

Contoh: Karena penjarah berbaju hitam, petugas keamanan tidak dapat mengenali para penjarah tersebut.

c. Kalimat yang Berimbang

Jika kalmiat disusun dalam bebtuk kalimat mejemuk campuran.

Contoh: Stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan leluasa, dan masyarakat dapat beribadah dengan tenang.

4.5 Kalimat menurut Fungsi

a. Kalimat Pertanyaan (deklaratif)

Dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap ketika ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan bicaranya.

Contoh: Tidak semua nasabah bank memperoleh kredit lunak.

b. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)

Dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi yang diharapkan.

Contoh: Di mana mereka melakukan latihan?

c. Kalimat Perintah atau Permintaan (Imperatif)

Dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan perbuatan.

Contoh: Dilarang merokok di ruangan ini!

e.Kalimat Seruan

Dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan yang kuat atau yang mendadak.

Contoh: Bukan main sulitnya soal ini.

4.6 Kalimat Efektif

Adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan pada pemikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran penulis.

Contoh: Kejaksaan Agung akan menayangkan wajah para koruptor yang menjadi buronan di televisi.

Kalimat tersebut tidak efektif karena yang dimaksudkan adalah menayangkan di televisi wajah koruptor yang menjadi buronan.

4.6.1 Kesepadanan Struktur

Yang dimaksudkan kesepadanan struktur adalah kesepadanan antara pikiran dan struktur bahasa yang digunakan.

  1. Hadirnya subjek dan predikat

Contoh: Bagi mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September. (salah)

Mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September.(benar)

  1. Tidak Hadirnta Subjek ganda

Contoh: Patung Dewi Sri terletak lemari kaca. (salah)

Patung Dewi Sri terletak di dalam lemari kaca.

  1. Tidak Hadirnya Kata Penghubung Intrakalimat pada Kalima Tunggal

Kata penghubung intrakalimat yang dimaksudkan adalah sedangkan dan sehingga.

Contoh: Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. (salah)

Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.(benar)

  1. Tidak Hadirnya Kata yang di Depan Predikat

Contoh: Bahasa Indonesia yanf berasal dari bahasa Melayu.(salah)

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.

4.6.2 Keparalelan Bentuk

Yang dimaksud adalah kesejajaran atau kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Kalau bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomona.

Contoh: Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan penutupannya dengan sangat cermat. (salah)

Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan tertutup dengan cermat.

4.6.3 Ketegasan Makna

Ketegasan makna kalimat ditentukan oleh beberapa unsur.

Contoh: Harapan Presiden ialah agar kita semua membangun bangsa dan negara ini dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Unsur yang ditegaskan dalam kalimat itu aslah harapan Presiden.

4.6.4 Kehematan Kata

Yang dimaksud dengan penghematan kata adalah hemat dalam menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain dan tidak menggunakan apa pun yang dianggap tidak perlu.

  1. Penghilangan Subjek yang Sama pada Anak Kalimat

Contoh: karena dia tidak diundang, dia tidak dating ke pesta itu.(salah)

Karena tidak diundang, dia tidak dating ke pesta perpisahan itu.

  1. Penghindaran Pemakaian Superordinat pada Hiponimi

Contoh: Ia memakai baju warna merah muda. (salah)

Ia memakai baju merah muda. (benar)

  1. Penghindaran Pemakaian Sinonim pada Satu Kalimat

Ontoh: Anda dipersilakan naik ke atas untuk beristirahat.(salah)

Anda dipersilakan naik untuk beristirahat.(benar)

BAB 5

SYARAT-SYARAT PARAGRAF

5.1 Definisi Paragraf

Sebuah paragraph harus memiliki sebuah gagasan utama. Gagasan utama adalah gagasan dasar tentang sesuatu, yang menjadi tumpuan berpikir bagi penulis untuk memunculkan gagasan berikutnya.

Sebuah paragraf harus merupakan satu gagasan yang utuh, artinya jika dilepaskan dari teks, sebuah paragraf sudah memiliki satu gagasan yang utuh dan jelas. Paragraf yang disusun dengan runtut (kohesif) ditandai oleh berpautnya kalimat yang satu dengan kalimat yang lain yamg ada di dalamnya. Paragraf yang disusun dengan padu (koherensif) ditandai oleh berpadunya gagasan yang tedapat dalam setiap kalimat yang membangunnya.

5.2 Keruntutan Paragraf

Keruntutan paragraf ditampilkan melalui hubungan formalitas (hubungan secara bahasa) diantara kalimat yang membentuk paragraf. Untuk itu, diperlukan alat penghubung antarkalimatagar keterpautan itu terlihat jelas.

  1. Penanda hubungan antarkalimat

Berfungsi memadukan hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam sebuah paragraf. Terdapat lima penanda hubunhan antar kalimat , yaitu teknik pengacuan(reference), hubungan pelesapan (ellipsis), penggantian(substitution), perangkaian(conjunction), dan hubungan leksikal(lexical cohesion)

  1. Hubungan dengan Teknik Pengacuan

1) Hubungan Ensoforis

Dapat dibedakan menjadi hubungan anaforis dan hubungan kataforis.

(a) Hubungan Pengacuan dengan itu

Pengangkatan anak wajib dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan di tempat tinggal sah pemohon. Penetapan itu…..

(b) Hubungan Pengacuan dengan begitu

Unit Konteks kalimat dinilai dengan UKBI yang terbatas. Begitu pula halnya dengan penilaian unit kerja lapangan.

(c) Hubungan Pengacuan dengan begitu itu

Hasil yang optimum itu memerlukan proses yang panjang dan waktu yang lama serta ketelitian yan tinggi. Hasil yang begitu (bagus) itu………

(d) Hubungan Pengacuan dengan demikian itu

Analisis kompetensi yang komprehensif merupakan langkah utama untuk menyusun standar kompetensi kerja yang dibutuhkan si bidang tertentu. Analisis yang demikian itu…………..

(e) Hubungan Pengacuan dengan seperti itu

Telah dinyatakan berulang-ulang bahwa hasil yang optimum memerlukan proses yang panjang. Hasil yang seperti itu………

(f) Hubungan Pengacuan dengan tersebut

Setiap orang dilarang membunuh gajah, kura-kura, dan burung. Kalau ada yang melanggar laranga tersebut, pelanggar dapat dihukum.

(g) Hubungan Pengacuan dengan tersebut itu

Untuk menjaga kelestarian hidup gajah dan kura-kuara hijau, setip orang dilarang membunuh gajah dan kura-kura tersebut itu.

(h) Hubungan Pengacuan dengan –nya

Untuk menjaga kelestarian gajah, setiap orang dilarang membunuhnya.

b) Hubungan Eksoforis

Hubungan eksoforis dapat disebut juga hubungan luar bahasa.

Contoh: Hafid melihat ada makanan di atas meja makan, lalu ia bertanya, “Makanan siapa ini? Boleh saya makan , Bu?”

2) Hubungan Penggantian

Ria dan Eka kemarin siang bersama-sama pulang ke Bogor. Mereka berdua naik kereta api.

3) Hubungan Pelesapan

Ditandai oleh lesapnya unsur kalimat karena tidak dinyatakan secara tesurat atau tidak diucapkan pada kalimat berikutnya.

“Sudah dua hari saya sakit dan sudah dua hari pula (saya) tidak masuk kerja. Sementara itu, bahan makanan di rumah sudah tidak ada lagi. Saya tidak tahu entah dari mana (saya) akan dapat makan.

4) Hubungan Kata Perangkai

Siti Hawa selalu dipercaya sebagai manusia kedua karena ia diciptakan setelah Tuhan menciptakan adam. Bahkan, Siti Hawa (ia) diciptakan dari tulang rusuk manusia pertama itu.

5) Hubungan dengan Penanda Leksikal

Contoh: Setiap warga negara garus mematuhi perundang-undangan yang berlaku di negeri ini, termasuk mamatuhi Undang-Undang Lalu Lintas di Jalan Raya.

6) Pengulangan

Misalnya: Ketentuan untuk menggunakan baju seragam putih-putih pada hari Senin hanya berlaku bagi anak-anak sekolah dasar di Kecamatan Ciluer. Anak-anak itu harus segera diberi tahu mengenai ketentuan itu agar mereka bias menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan anak itu.

(b) Penominalan

(a) Sebelum memangku jabatannya, setiap calon terpilih harus mengucapkan sumpah dan janji setia. (b) Pengucapan sumpah dan janji setia tersebut…….

(c) Penggunaan kata hubung intrakalimat

Contoh: Jika terjadi kematian warga Negara, instansi yang ditunjuk wajib mencatat kematian warga Negara itu.

(d) Penggunaan ungkapan penghubung antarkalimat

Contoh: Catatan peristiwa itu amat penting untuk penyelidikan. Untuk itu, diperlukan keseriusan dan kecermatan yang tinngi dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Contoh ungkapan penghubung antarkalimat:

  1. Hubungan sebab akibat: oleh karena itu, dengan demikian, jadi, akibatnya.
  2. Hubungan pertentangan: sebaliknya, akan tetapi, namun, padahal, meskipun demikian dsb;
  3. Hubungan syarat: kalu begitu, kalau demikian, jika begitu dsb;
  4. Hubungan penjumlahan: lagi pula, lain dari itu, di samping itu, dsb;
  5. Hubungan urutan waktu: kemudian, setelah itu, lalu, dsb;
  6. Hubungan cara: dengan demikian, dengan itu, dsb;
  7. Hubungan lebih: bahkan, malah, lebih-lebih, dsb;
  8. Hubungan pertalian untuk menandai manfaat: untuk itu;
  9. Hubungan perangkaian: akhirnya, dengan kata lain, berkaitan dengan itu, dsb.

5.3 Simpulan

Paragraf dapat dikenali lewat ciri sebagai berikut:

  1. Kalimat yang terdapat di dalam sebuah paragraf dapat berurutan atas kalimat tunggal, kalimat koordinatif, dan kalimat subordinatif, atu sebaliknya.
  2. Pada umumnya, paragraf memiliki kalimat tema, yang biasanya diletakkan pada bagian awal, tengah, atau akhir paragraf.
  3. Kalimat yang diletakkan pada bagian awal, tengah, atau akhir paragraf biasanya merupakan perincian lebih lanjut atau penjelasan atas tema.
  4. Paragraf juga dapat memiliki bagian pengantar.

BAB 6

SATUAN-SATUAN DALAM WACANA

6.1 Pendahuluan

Banyak orang menduga bahwa satuan bahasa yang terlengkap adalah kalimat. Dugaan itu salah sebab sebuah kalimat bagaimanapun bentuknya pasti menjadi bagian dari sebuah wacana, baik wacana lisan maupun wacana tertulis.

6.2 Aspek-Aspek Wacana

6.2.1 Aspek Semantis

a. Hubungan semantis antarbagian wacana

ditandai oleh hubungan antara proposisi dan proposisi bagian-bagian wacana itu.

a.1 Hubungan sebab atau hubungan alasan

Contoh: Musim kemarau tahun ini amat panjang, Di mana-mana terjadi kekeringan, petani mengeluh tak ad air, Musim tanam terlambat, dsb.

a.2 Hubungan sarana-tujuan

b. Hubungan latar belakang semantis wacana

b.1 Kesatuan topik

Contoh: “ Dijual. Butuh uang tunai segera. Sebuah rumah tua, luas tanah 1.500 meter persegi dan luas bangunan 200 meter persegi. Peminat yang serius harap menghubungi kami. Kami tidak mempunyai waktu untuk melayani perantara.

b.2 Hubungan di antara peserta tuturan

Contoh: Ketika telepon berdering, seorang ibu berkata kepada anaknya:

Ibu : Ada telepon untuk kamu, Na.

Anna : Ma, tolong terima sebentar. Aku lagi mandi.

6.2.2 Aspek gramatikal

  1. Konjungsi

Di dalam bahasa Indonasia, konjungsi dapat bertugas menyambungkan frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat.

  1. Elipsis (pelesapan)

Biasanya apa yang dilesapkan di dalam salah satu bagian merupakan ulangan dari bagian yang lain.

Contoh: Di mukamu ada sebuah rongga

(di mukamu) ada giginya ada lidahnya

Lewat rongga itu semua bias

Kumasukkan ke dalam perutmu

  1. Paralelisme

Paralelisme atau kesejajaran bentuk dalam wacana mengikuti pola di antara bagian di dalam wacana itu.

Contoh: “ Berhadapan dengan struktur teks sajak kadang-kadang seperti berhadapan dengan ayat-ayat atau yanda-tanda kebesaran Tuhan. Pendek kata kita membaca alam.”

  1. Penggantian (substitusi)

Dapat bersifat anaforis atau pun kataforis.

d.1 Penggantian Anaforis

Penggantian anaforis selalu menggunakan pronominal persona ketiga, seperti:

Kami pergi berjalan-jalan ke kota bersama sebagian penduduk desa kami. Mereka banyak yang memang sama sekali belum pernah melihat keramaian kota. Oleh karena itu, mereka tampak sangat gembira.

d.2 Penggantian Kataforis

Pronomina persona-nya dapat juga digunakan untuk penggantian kataforis, seperti:

Dengan kecerdasan yang luar biasa serta dilengkapi dengan kecermatan dan ketelitiannya yang tinggi, saya yakin kelak Ahmad dapat menjadi seorang peneliti ulung yang berhasil.

6.3 Satuan Satuan di Dalam Wacana

Satuan terbesar di dalam wacana bukan kalimat, melainkan paragraf. Jika dilepaskan dari sebuah wacana, paragraf sudah merupakan suatu kesatuan informasi yang lengkap, utuh, dan selesai.

BAB 7

TEORI DAN PEMIKIRAN LINGUISTIK YANG BERKEMBANG DI INDONESIA

7.1 Pengantar

Pada dasarnya, jika dilihat dari segi teknik analisis suatu kalimat, ada dua macam teori linguistik yang pernah berkembang di Indonesia, secara garis besarnya, yaitu teori linguistik tradisional dan teori linguistik modern. Perbedaan yang mendasar di antara kedua teori tersebut terletak pada titik tolak memandang, cara menganalisis, dan cara mengajarkan bahasa. Teori linguistik tradisional memulai analisis bahasa dengan kata dan bentuk kata, kemudian sampai pada struktur kalimat. Teori linguistik tradisional berangggapan bahwa semua bahasa di dunia ini memiliki struktur kalimat yang sama. Teori linguistik modern memulai analisis bahasa dari kalimat, kemudian beralih ke unsur yang lebih kecil, yaitu klausa, frasa, kata, morfem, dan fonem yang mendasari struktur kalimat tersebut (disebut teori linguistik struktural).

Ciri menonjol dari teori linguistik modern atau teori linguistik struktural adalah (1) pandangan tentang pentingnya hubungan antarunsur bahasa lebih daripada unsur-unsur itu sendiri, (2) satu-satunya objek linguistik yang benar adalah sistem bahasa (langue), dan (3) penelitian bahasa dapat dilakukan secara diakronis ataupun sikronis (Kridalaksana, 1991:7)

7.2 Teori Linguistik yang Berkembang di Indonesia

7.2.1 Teori Linguistik Tradisional

Perintis linguistik pada masa Yunani Kuno, Plato (436-33 SM), telah memberikan prinsip-prinsip dasar linguistik kemudian, perintis linguistik berikutnya, Socrates (469-39 SM), melanjutkan ide-ide Plato dan Socrates yang berpandangan tentang bahasa.

Perintis lai pada masa Yunani Kuno adalah aristoteles (384-322 SM), yang banyak menulis buku tentang logika dan linguistik. Aristoteles dianggap sebagai orang yang memperkenalkan kategori kata (distinct parts of speech). Pemikiran para perintis linguistik itu hingga sekarang diyakini kebenarannya oleh para linguis di Indonesia. (cf. Hani’ah dkk.2006)

Linguis yang tergolong kelompok ini m,isalnya Plato, Socrates, Aristoteles, Panini. Linguis Indonesia yang menggunakan teori tradisional dalam analisis penelitian mereka seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan J.S. Badudu.

7.2.2 Teori Linguistik Transformasi Generatif

Teori sintaksis struktural dimulai dengan diterbitkannya buku Language oleh Leonard Bloemfield pada tahun 1933. Pengikut Bloemfield yang brilian adalah Noam Chomsky. Ia melahirkan suatun teori yang disebut teori linguistik transformasi generatif. Pada tahun 1957 Chomsky menerbitkan buku yang berasal dari disertasinya yang berjudul Syntactic Structure. Tahun 1957 itulah dianggap tonggak awal berkembangnya aliran baru dalam linguistik. Dalam teori linguistik transformasi generatif terdapat struktur dalam (deep structure) dalam pikiran manusia dan strukrur luar (surface structure) dalam wujud bahasa.

Ciri linguistik transformasional, antara lain:

a. bersifat rasionalistis, dan antibehaviorisme;

b. bertujuan menemukan apa yang semesta dan teratur dalam memahami dan menghasilkan kalimat yang gramatikal;

c. memakai konsep-konsep competence dan performance;

d. membedakan struktur lahir dan struktur batin..

Tokoh-tokoh teori linguistik transformasi generatif adalah A.N. Chomsky, J.McCawley, dan G. Lakoff (Kridalaksana, 1991:16)

7.2.3 Teori Linguistik Stratifikasi

Teori linguistik stratifikasi dilontarkan dan dikembangkan oleh Sidney Lamb dari Universitas California. Menerbitkan buku pengantar tatabahasa stratifikasi yang berjudul Outline of Stratificational Grammar tatabahasa stratifikasi mengambil nama dari aneka ragam strata ‘lapisan’ yang terdapat dalam suatu bahasa.

Ciri teori linguistik stratifikasi:

  1. bahasa dipandang sebagai sistem hubungan-hubungan dan bukan sistem unsur-unsur;
  2. bahasa dianggap sebagai sistem statis, jadi menentang konsep-konsep yang menggambarkan proses;
  3. bahasa dianggap sebagai sistem jaringan dan kaidah-kaidah realisasi yang menghubungkan bagian-bagian struktur yang disebut strata; ada strata leksem, strata morfem, ada strata fonem.

Tokoh dari linguistik stratifikasi adalah S. Lamb, H.A.Gleason, D.G.Lookwood, dan A. Makkai (Kridalaksana, 1991:15)

7.2.4 Teori Linguistik Tagmemik

Ciri-ciri teori linguistik tagmemik:

  1. bersifat fungsionalitas;
  2. membedakan satuan etik dan satuan emik;
  3. analisis gramatika tidak hanya terbatas pada kalimat, tetapi sampai ke wacana;
  4. satuan dasar berupa tagmen.

Tokoh teori linguistik tagmemik adalah K.L. Pike, Evelyn Pike, R. Longacre, dan lain-lain (Kridalaksana, 1991:13)

7.2.5 Teori Linguistik Kasus

Ciri-ciri teori linguistik kasus:

  1. bersifat generatif;
  2. mendapat pengaruh dari Pike;
  3. dalam semantik dianggap bahwa nomina berhubungan dengan verba dalam struktur batin berupa berbagai kasus, seperti kasus pelaku, penderita, penerima, dan sebagainya.

Tokoh teori linguistik kasus adalah W. Chafe. Libguis Indonesia yang pernah menerapkan teori ini dalam penelitian linguistik adalah D.P. Tampubolon dan Soenjono Dardjowidjojo (Kridalaksana, 1991:16-17;34)

7.2.6 Teori Linguistik Fungsional

Ciri-ciri teori linguistik fungsional:

  1. teori ini memberi tempat kepada tiga lapisan fungsi, yakni fungsi semantik, fungsi sintaktis, dan fungsi pragmatis;
  2. tidak mengenal transformasi, filter, dekomposisi leksikal;
  3. deskripsi ungkapan bahasa dimulai dengan pembebtukan predikasi dasar yang dilakukan dengan penyisipan ungkapan ke dalam kerangka predikat;
  4. pengungkapan bahasa berjalan dari semantik ke sintaksis terus ke pragmatik dan berakhir pada apa yang disebutnya expression rules.

Teori linguistik fungsional dipelopori oleh Selain oleh simon Dik, juga danes, Halliday, A. Martinet, dan Susumu Kuno (Kridalaksana, 1991:18, 28, dan 35)

7.2.7 Beberapa Pemikiran tentang Linguistik

7.2.7.1 Pemikiran Saussure

Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913) adalah tokoh linguistik modern kelahiran Geneva, Swiss. Tahun 1916 dipandang sebagai tahun kelahiran linguistik modern dan de Saussure dijuliki sebagai Bapak Linguistik Modern. Saussure memiliki pemukiran yang sangat brilian, yaitu dibedakannya dua aspek tanda bahasa, yaitu significant dan signifie. Saussure berprinsip bahwa ujaran (parole) tidak boleh dikacaukan dengan langue. Langue merupakan sistem yang dimiliki bersama yang secara taksadar kita pergunakan sebagai alat komunikasi, sedangkan parole adalah realisasi individual atas sistem bahasa, yang berupa kalimat-kalimat atau ucapan-ucapan seseorang dalam komunikasi sehari-hari.

7.2.7.2 Pemikiran Odgan dan Richard

Pada kurun berikutnya, C.K. Odgan dan I.A. Richard dalam The Meaning of Meaning (1923) membuat langkah yang lebih menentukan dalam membangkitkan minat bidang linguistik, khususnya di wilayah makna kata dan makna kalimat. Odgan dan Richard berbicara tentang kodrat kalimat. Mereka juga berbicara tentang acuan, yang menyatakan bahwa setiap tutur yang bermakna dalam kalimat tentulah mempunyai acuan.

7.2.7.3 Pemikiran John Lyons

Lyons (1996:72) tergolong ahli semantik yang sangat berpengaruh. Dia, menguraikan hubungan antara kegramatikalan (grammaticality) dan kebermaknaan (meaningfulness) serta keberterimaan (acceptability).

7.2.7.4 Pemikiran Sapir-Whorf

Edward Sapir(1884-1937) dan Benjamin Lee Whorf(1897-1941) berpendapat bahwa pandangan manusia tentang dunia luar dibentuk oleh bahasa yang dipakai. Dengan kata lain, bahasa mempengaruhi cara berpikir masyarakat pengguna bahasa yang bersangkutan.

7.2.7.5 Pemikiran Grice dan Leech

Grice dan Leech memunculkan konsep implikatur. Pemahaman implikatur yang dilontarkan Grice dan Leech (1975) berguna untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan, disarankan, atau dimaksudkan oleh penutur,yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur.

7.2.7.5 Pemikiran Austin

Austin (1968) memperkenalkan konsep tindak bahasa (speech act). Ia membedakan tiga jenis tindakan dalam konsep tindak bahasa, yaitu tindakan lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindakan lokusi adalah tindakan mengatakan sesuatu atau tindakan membuat suatu tuturan. Ilokusi adalah tindakan yang dilakukan dalam mengatakan sesuatu atau membuat pernyataan. Secara konvensional, yang dikategorikan sebagai tindakan ilokusi, antaralain, adalah tindakan (a) menyapa, (b) menuduh, (c) mengakui, (d) meminta maaf, (e) menantang, (f) mengeluh, (g) berdukacita, (h) mengucapkan selamat, (i) menyesalkan, (j) mengizinkan, (k) memberi salam, (l) meminta diri, (m) menghina, (n) memberi nama, (o) menawarkan, (p) memuji, (q) berjanji, (r) memprotes, (s) berterima kasih, (t) bersulang (Huurfordv dan Heasley, 1994:244; cf. Kaswanti Purwo 1984:19-20)

Perlokusi adalah tindak bahasa yang mengakibatkan kawan bicara melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu itu.

7.3 Hubungan Teori dan Metode dalam Linguistik

Metode dalam linguistik, sebagaimana dalam ilmu-ilmu lain, adalah metode ilmiah, yaitu berupa siklus empiris, yakni proses yang berlangsung dari metode induktif ke metode deduktif, dan dari metode deduktif kembali ke metode induktif. Metode induktif mencangkup empat langkah, yaitu pengamatan data, wawasan atas struktur data, perumusan hipotesis, dan pengujian hipotesis (Kridalaksana: 1991:11)

TINJAUAN PENULIS

Secara umum, ilmu linguistik (ilmu bahasa) memiliki dua tataran, yaitu tataran fonologi dan tataran gramatika atau tataran bahasa. Dalam tataran bahasa terdapat bahasan tentang morfologi dan sintaksis. Sintaksis membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frasa, klausa, dan kalimat.

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani (sun + tattein = mengatur bersama-sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa.

Menurut aliran struktural, sintaksis diartikan sebagai subdisiplin linguistik yang mempelajari tata susun frasa sampai kalimat. Dengan demikian ada tiga tataran gramatikal yang menjadi garapan sintaksis, yakni: frasa, klausa, dan kalimat (Suparno, 1993: 81)

Frase, klausa, dan kalimat adalah satuan bahasa. Konstruksinya disebut konstruksi sintaksis. Dilihat dari tatanan unsur-unsur pembentuknya, frase, klausa, dan kalimat itu merupakan kontruksi, yang secara khas disebut sintaksis karena konstruksi-konstruksi itu dibahas dan dikaji dalam subdisiplin sintaksis. Atas dasar pemikiran itu dikenal konstruksi frase, konstruksi klausa, dan konstruksi kalimat. (Suparno, 1987: 7)

Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nenprediktif (Rusyana dan Samsuri, 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atu lebih. Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat final), dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa.

Berdasarkan uraian-uraian dan pendapat-pendapat di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sintaksis adalah bidang subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan antarkata dalam tuturan yang meliputi tata susun frase, tata susun klausa, dan tata susun kalimat dalam suatu bahasa.

Pada buku ini telah digambarkan secara jelas mengenai pengertian sintaksis dan hal-hal apa saja yang dipelajari di dalamnya mulai dari pengertian sintaksis, klasifikasi frasa, klasifikasi klausa, klasifikasi kalimat, syarat-syarat paragraph, satuan-satuan dalam wacana hingga teori dan pemikiran linguistic yang berkembang di Indonesia.

Buku ini dikemas dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca memperoleh kemudahan dalam menelaah maksud penulis. Selain itu, buku ini juga dikemas dalam bentuk pembahasan per bab sehingga memudahkan pembaca dalam mempelajari isi buku. Untuk keperluan belajar Sintaksis tataran Mahasiswa Strata Satu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu referensi belajar sintaksis

Buku karya: Prof. DR. E. Zaenal Arifin 


Januari 6, 2009 Posted by | Bahasa | Tinggalkan komentar

Pengaruh TV Terhadap Anak-anak

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan zaman menuntut adanya perubahan dan mobilitas yang tinggi. Perkembangan zaman tak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang. Muncullah berbagai alat dari hasil pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimaksudkan untuk memudahkan dan mempercepat kinerja manusia. Salah satunya adalah televisi.

Televisi adalah suatu media massa yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual (suara dan gambar). Karena dapat dinikmati dalam bentuk suara dan gambar gerak sekaligus itulah orang lebih tertarik kepda televisi daripada media massa lainnya.

Pada zaman sekarang ini, televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minmat pemirsanya , dan mampu membius pemirsanya untuk selalu manyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi. Mulai dari infotainment, entertainment, iklan, hingga sinetron dan film-film yang sesungguhnya tidak pantas ditayangkan.

Kehadiran televisi sesungguhnya telah menimbulkan berbagai fenomena. Televisi memang mampu menayangkan acara-acara yang begitu menarik karena telah ditambahi dengan aksesori-aksesori sehingga membuat pemirsanya begitu mengagumi televisi. Walaupun tanpa mereka sadari, televisi mampu mengubah mereka sedikit demi sedikit. Segala sesuatu diciptakan pasti ada dua dampak yang mengiringinya, yaitu dampak negatif dan positif. Begitu pula dengan hadirnya televisi. Dengan adanya media massa elektronik ini, banyak sekali manfaat yang dapat diambil. Dengan menyaksikan televisi, seseorang dapat memperoleh informasi-informasi aktual yang terjadi dimanapun secara cepat dan lebih jelas. Selain itu, televisi juga mempermudah suatu perusahaan atau badan usaha untukmempromosikan produk-produknya .  Namun televisi juga mempunyai dampak negatif dalam kehidupan. Hal ini sangat terasa pada anak-anak yang jiwanya masih sangat labil dan masih dalam proseks pencarian jati diri. Anak-anak ibarat kertas polos yang dapat dengan mudah digambari sesuka hati. Apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan sering mereka telan mentah-mentah. Televisi dan anak adalah dua komponen yang sangat sulit dipisahkan. Anak-anak adalah penggemar nomor satu media televisi. Rata-rata anak menggunakan hampir sebagian besar waktunya untuk menonton acara televisi, tanpa memikirkan pantaskah acara yang sedang meraka tonton saat itu. Padahal anak adalah usia yang rentan. Mereka belum dapat menentukan yang baik dan yang buruk. Mereka biasa meniru atau mengimitasi kebiasaan yang sering mereka temui.

Dwyer menyimpulkan, sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94% saluran masuknya pesan – pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. TV mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dilayar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di TV setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian. Dengan demikian terutama bagi anak-anak yang pada umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tesebut akan mengikuti acara televisi yang ia tonton. Apabila yang ia tonton merupakan acara yang lebih kepada eduatif, maka akan bisa memberikan dampak positif tetapi jika yang ia tonton lebih kepada hal yang tidak memiliki arti bahkan yang mengandung unsur-unsur negatif atau penyimpangan bahkan sampai kepada kekerasan, maka hal ini akan memberikan dampak yang negatif pula terhadap perilaku anak yang menonton acara televisi tersebut.

Untuk itulah muncul sebuah pemikiran untuk mengevaluasi pengaruh media televisi terhadap pola pikir dan perilaku anak. Yang diharapkan akan timbul suatu bentuk nyata untuk meminimalisasi adanya pengaruh buruk, media televisi terhadap perkembangan anak. Pemikiran ini lebih lanjut penulis tuangkan dalam tulisan yang berjudul ”Pengaruh Media Televisi terhadap Perkembangan Pola Pikir dan Perilaku Anak”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam karya tulis ini dirimuskan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengaruh media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak?

2. Upaya apa yang seharusnya dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya dampak negatif media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini untuk :

1. Mendeskripsikan dan menjelaskan pengaruh media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak.

2. Mendeskripsikan dan menjelaskan upaya-upaya untuk meminimalisasi adanya pengaruh buruk media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak.

D. Manfaat Penulisan

1. Manfaat teoretis

Ø Memberikan penjelasan tentang pengaruh media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak

Ø Menjelaskan upaya yang dapat dilakukan untuk menekan adanya pengaruh buruk terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak.

2. Manfaat Praktis

Ø Orang tua

- Lebih berhati-hati dalam memilih tayangan televisi untuk ditonton anak.

- Dapat mengantisipasi dampak-dampak yang bias ditimbulkan dari acara-acara televisi.

TELAAH PUSTAKA

A. Ihwal Perkembangan anak

Prof. Dra. Warkitri,dkk dalam Perkembangan Peserta Didik menyatakan bahwa perkembangan adalah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi fisik dan psikis pada diri anak yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar menuju kedewasaan (2002 : 6).

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan. Sejak- awal tahun 1980-an semakin diakuinya pengaruh keturunan (genetik) terhadap perbedaan individu. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian perilaku genetik yang mendukung, pentingnya pengaruh keturunan menunjukkan tentang pentingnya pengaruh lingkungan.

Menurut Santrok (1992), banyak aspek yang dipengaruhi faktor genetik. Para ahli genetik menaruh minat yang sangat besar untuk mengetahui dengan pasti tentang variasi karakteristik yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik.

1. Kecerdasan

Arthur Jensen (1969) mengemukakan pendapatnya bahwa kecerdasan itu diwariskan. la juga mengemukakan bahwa lingkungan dan budaya hanya mempunyai peranan minimal dalam kecerdasan. Banyak ahli-ahli yang mengkritik Jensen. Salah seorang di antaranya mengkritik tentang definisi kecerdasan itu sendiri. Menurut Jensen IQ yang diukur dengan tes kecerdasan yang baku merupakan indikator kecerdasan yang baik. Kritik dari ahli lain ialah bahwa tes IQ hanya menyentuh sebagian kecil saja dari kecerdasan. Cara individu memecahkan masalah sehari-hari. penyesuaian dirinya terhadap lingkungan kerja dan lingkungan sosial, merupakan aspek-aspek kecerdasan yang penting dan tidak terukur oleh tes kecerdasan baku yang digunakan oleh Jensen. Kritik kedua menyatakan bahwa kebanyakan .penelitian tentang keturunan dan lingkungan tidak mencakup lingkungan-lingkungan yang berbeda secara radikal. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa studi tentang genetik menunjukkan bahwa lingkungan mempunyai pengaruh yang lemah terhadap kecerdasan.

Menurut Jensen pengaruh keturunan terhadap kecerdasan sebesar 80 person. Kecerdasan memang dipengaruhi oleh keturunan tetapi kebanyakan ahli perkembangan menyatakan bahwa penganih itu berkisar sekitar 50 persen.

2. Temperamen

Temperamen adalah gaya-perilaku karakteristik individu dalam merespon. Ahli-ahli perkembangan sangat tertarik mengenai temperamen bayi. Sebagian bayi sangat aktif menggerak-gerakkan tangan, kaki dan mulutnya dengan keras, sebagian lagi lebih tenang, sebagian anak menjelajahi lingkungannya dengan giat parta vvaktu yang lama dan sebagian lagi tidak demikian. Slebagian bayi merejpons orang Iain dengan hangat, sebagai lagi pasif. Gaya-gaya perilaku tersebut menunjukkan temperamen seseorang.

Menurut Thomas & Chess (1991) ada tiga tipe dasar temperamen yaitu mudah, sulit, dan lambat untuk dibangkitkan:

a. Anak yang mudah umumnya mempunyai suasana hati yang positif dan dapat dengan cepat membentuk kebiasaan yang teratur, serta dengan mudah pula menyesuaikan diri dengan pengalaman baru.

b. Anak yang sulit cenderung untuk bereaksi secara negatif serta sering menangis dan lambat untuk menerima pengalaman-pengalaman baru.

c. Anak yang lambat untuk dibangkitkan mempunyai tingkat kegiatan yang rendah, kadang-kadang negatif, dan penyesuaian diri yang rendah dengan lingkungan atau pengalaman baru.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa keturunan mempengaruhi temperamen. Tingkat pengaruh ini bergantung pada respons orang tua terhadap anak-anaknya dengan pengalaman-pengalaman masa kecil yang ditemui dalani lingkungan.

3. Interaksi keturunan lingkungan dan perkembangan

Keturunan dan lingkungan berjalan bersama atau bekerja sama dan menghasilkan individu dengan kecerdasan, temperamen tinggi dan berat badan, serta minat yang khas. Pengaruh genetik terhadap kecerdasan terjadi pada awal perkembangan anak dan berlanjut terus sampai dewasa. Telah diketahui pula bahwa dengan dibesarkan pada keluarga yang sama dapat terjadi perbedaan kecerdasan secara individual dengan varjasi yang kecil pada kepribadian dan minat. . Salah satu alasan terjadinya hal itu ialah mungkin karena keluarga mempunyai penekanan yang sama kepada anak-anaknya berkenaan dengan perkembangan kecerdasan yaitu dengan mendorong anak mencapai tingkal tertinggi. Mereka tidak mengarahkan anak ke arah minat dan kepribadian yang sama. Kebanyakan orang tua menghendaki anaknya untuk mencapai tingkat kecerdasan di atas rata-rata.

Prof. Dra. Warkitri, dkk (2002 : 12) analisis hal atau kenyataan yang memungkinkan terjadinya perkembangan ada beberapa azas, yaitu :

1. Azas biologis

Anak adalah makhluk hidup sehingga ia akan berkembang. Agar perkembangan tersebut dapat berlangsung dengan normal, maka keadaan biologis harus normal juga. Keadaan biologis bisa berkembang normal apabila kebutuhan biologis terpenuhi secara normal.

2. Azas ketidakberdayaan

Anak manusia saat lahir dalam keadaan tak berdaya. Ketidakberdayaan ini yang menyebabkan manusia dapat berkembang secara luas. Karena dalam perkembangannya manusia tidak dibatasi oleh insting-insting seperti pada binatang sehingga manusia dalam perkembangannya membutuhkan pertolongan.

3. Azas keamanan

Untuk berkembang mencapai kedewasaan anak membutuhkan rasa aman, kasih sayang dan rasa terlindungi.

4. Azas eksplorasi

Anak dalam hidupnya selalu mengadakan eksplorasi untuk menemukan sesuatu. Eksplorasi ini pada mulanya dilakukan melalui panca inderanya yang kemudian dilanjutkan dengan fungsi-fungsi psikis yang lain.

B. Ihwal Media Televisi

Televisi adalah suatu media massa elektronik yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual (suara dan gambar). Televisi merupakan media yang mampu menyebarkan informasi secara cepat dan memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu bersamaan.

Saat ini televisi merupakan sarana yang paling digemari dan dicari orang. Untuk mendapatkan televisi tidak lagi sesulit zaman dulu dimana media elektronik ini adalah barang langka yang hanya dapat dimilki oleh kalangan tertentu. Kini hamper seluruh keluarga memilki perangkat komunikasi tersebut. Saat ini televisi telah menjangkau lebih dari 90% penduduk di Negara berkembang. Televisi yang mungkin dulu hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu saat ini bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa batasan usia.

METODE PENULISAN

A. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam karya tulis ini dilakukan dengan teknik studi pustaka atau collecting by library. Data dalam karya tulis ini adalah informasi dai hasil telaah dokumen kepustakaan, seperti buku-buku, jurnal dan sebagainya. Selain itu didukung juga dengan sumber-sumber dari internet yang sesuai dengan penulisan yang dibahas, yaitu mengenai perkembangan anak dan pengaruh media televisi terhadap anak.

B. Pengolahan Data

Dalam karya tulis ini data diolah dengan cara menyajikan dan menganalisis data kemudian diambil kesimpulan. Dalam hal ini, data dari internet yang berupa pengaruh televisi terhadap perkembangan anak dipilih sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu, data-data yang dapat digunakan dianalisis berdasarkan teori-teori yang ada, kemudian ditarik suatu kesimpulan.

C. Analisis dan Sintesis

Analisis data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola, kategori dan uraian dasar sehingga akan dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Lexy J.Moleong, 1933). Analisis data dalam karya tulis ini dilakukan dengan cara menguji, menyesuaikan dan mengkategorikan data dengan teori yang ada dalam telaah pustaka. Dalam hal ini fase-fase perkembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dikaitkan dengan media televisi. Setelah semua terkategori dengan baik atau terkumpul dengan baik, maka ditarik suatu simpulan dan dijadikan alternatif pemecahan masalah. Adapun masalah utama dalam penulisan ini adalah pengaruh media televisi terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak.

PEMBAHASAN

Pada telaah pustaka telah dijabarkan bahwa perkembangan adalah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi fisik dan psikis pada diri anak yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar menuju kedewasaan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan antara lain kecerdasan, temperamen, dan interaksi keturunan lingkungan dan perkembangan. Sedangkan menurut Prof. Dr. Warkitri, dkk dalam telaah pustaka bahwa analisis fenomenologis hal-hal atau kenyataan-kenyataan yang memungkinkan terjadinya perkembangan ada beberapa azas anatara lain azas biologis, azas ketidakberdayaan, azas keamanan, dan azas eksplorasi.

A. Pengaruh Media Televisi terhadap Perkembangan Pola Pikir dan Perilaku Anak

Televisi merupakan media massa elektronik yang sangat digemari oleh masyarakat. Karena televisi menyampaikan informasi melalui suara dan gambar sekaligus. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya mampu menarik minat pemirsanya dan membuat pemirsanya terbius untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Dengan berbagai acara yang ditayangkan seperti sinetron, entertainment, infotainment, iklan, dan sebagainya.

Televisi hadir sebagai sarana untuk hubungan dan komunikasi antar manusia. Sebenarnya televisi memiliki beberapa fungsi, yaitu :

1) Fungsi rekreatif

Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya, karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan.

2) Fungsi educatif

Selain untuk menghibur, televisi juga berperan memberikan pengetahuan kepada pemirsanya lewat tayangan yang ditampilkan.

3) Fungsi informatif

Televisi dapat mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di daerah lain. Dengan menonton televisi akan menambahkan wawasan.

Ironisnya kini yang sering kita jumpai, acara-acara televisi lebih mementingkan pada fungsi informatif dan rekreatif saja, sedangkan fungsi educatif yang merupakan fungsi yang sangat penting untuk disampaikan sangat jarang ditemui.

Anak-anak dan televisi adalah dua komponen yang susah dipisahkan. Mereka adalah perpaduan yang sangat kuat. Tak banyak hal lain dalam kebudayaan manusia yang mampu menandingi kemampuan televisi dalam menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka.

Begitu pula minat mereka dengan televisi. Mereka menganggap televisi lebih menyenangkan dari pada belajar dan mendengarkan nasehat orang tua. Mereka merasa terlayani dengan adanya televisi. Dengan adanya televisi anak-anak akan melupakan kesulitannya, dengan adanya televisi mereka gunakan untuk mengisi waktu, mempelajari sesuatu, memberikan rangsangan, bersantai, mencari persahabatan dan sekedar kebiasaan. Kebiasaan menonton televisi bagi anak sebenarnya kurang baik. Banyak sekali tayangan yang disajikan oleh stasiun televisi yang tidak mendidik. Bahkan tak jarang ditemui acara-acara yang berbahaya bagi anak. Sering sekali ditayangkan dalam televisi acara yang berbau kekerasan, adegan pacaran yang mestinya belum pantas ditonton oleh anak, tidak hormast kepada orang tua, gaya hidup yang hura-hura.

Konflik dengan orang tua, perkelahian sesama anak, dan kejahatan remaja ternyata erat hubungannya dengan jumlah jam menonton televisi. Bagi anak yang sejak usia dini telah menonton tayangan mistis, kelak akan tumbuh menjadi orang yang penakut dan dan ia akan mengambil keputusan berdasarkan emosi. Menonton televisi juga dapat mengurangi kemampuannya untuk menyenangkan diri sendiri dan melumpuhkan kemampuannya untuk mengemukakan pendapatnya secara logis dan sensitif.

Dibawah ini dicantumkan data mengenai fakta tentang pertelevisian Indonesia :

1. tahun 2002 jam tonton televisi anak-anak 30-35 jam/hari atau 1.560 – 1.820 jam/tahun, sedangkan jam belajar SD umumnya kurang dari 1.000jam/tahun.

2. 85% acara televisi tidak aman untuk anak, karena banyak mengandung adegan kekerasa, seks dan mistis yang berlebihan dan terbuka.

3. saat ini ada 800 judul acara anak, dengan 300 kali tayang selama 170jam/minggu padahal satu minggu hanya ada 24 jam X 7 hari = 168 jam.

4. 40 % waktu tayang diisi iklan yang jumblahnya 1.200 iklan/minggu, jauh diatas rata-rata dunia 561 iklan/minggu.

Berdasarkan data diatas, dapat dibayangkan apabila anak-anak yang merupakan aset-aset bangsa yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini serta yang akan memajukan bangsa ini, sejak kecil telah terbiasa dengan hal yang tidak bermanfaat, maka negara ini yang sudah tertinggal dan terpuruk ini akan semakin terpuruk dan tertinggal dan akhirnya akan menjadi negara yang akan di lecehkan oleh negara lain. Inilah fakta yang bukan hanya untuk kita perhatikan tetapi perlu dilakukan tindakan nyata untuk mengantisipasinya. Yang pastinya diperlukan satu-kesatuan tekat dalam setiap diri orang tua dan anggota masyarakat untuk bisa mengatisipasi dampak yang akan terjadi serta bisa menjadi kontrol bagi pihak penyiar televisi terhadap acara-acara yang ditayangkan oleh setiap stasiun televisi.

Jika kita kaji lebih jauh, dampak negatif dari menonton televisi berlebihan yaitu:

  1. Anak 0–4 tahun, menggangu pertumbuhan otak, menghambat pertumbuhan berbicara, kemampuan herbal membaca maupun maupun memahaminya, menghambat anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan.
  2. Anak 5-10 tahun, meningkatkan agresivitas dan tindak kekerasan, tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan. Anak kecil belum mampu membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan kenyataan yang sebenarnya. Seorang anak kecil belum dapat mengenal dan mengetahui apakah itu acting, efek film, atau tipuan kamera. Bagi mereka, dunia di luar rumah adalah dunia seperti yang mereka lihat di televisi.
  3. Berperilaku konsumtif karena rayuan iklan. Iklan merupakan salah satu bentuk promosi untuk menawarkan produk kepada masyarakat. Sekarang ini semakin banyak iklan yang menawarkan berbagai produk dari mainan anak, jajanan, minuman, dan sebagainya. Iklan-iklan tersebut memberikan janji yang sangat menarik bagi sebagian besar anak. Sehingga anak selalu berusaha memiliki produk yang ditawarkan oleh iklan tersebut.
  4. Mengurangi kreativitas, kurang bermain dan bersosialisasi, menjadi manusia individualis dan sendiri. Saat menonton televisi, anak kurang beraktivitas, hanya duduk di depan televisi dan melihat apa yang ditayangkan televisi. Baik secara fisik maupun mental, anak menjadi pasif. Kemampuan berpikir dan kreativitas anak tidak terasah, karena ia tidak perlu membayangkan atau berimajinasi layaknya ketika ia sedang membaca buku atau mendengar musik. Kecanduan menonton TV akan bermasalah ketika ini mengakibatkan anak menjadi tidak bermain ke luar rumah dengan lingkungan sekitar. Ia menjadi tidak bersosialisasi da dunianya tidak bertambah luas.
  5. Televisi menjadi pelarian dari setiap keborosan yang dialami, seolah tidak ada pilihan lain.
  6. Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan) kaena kurang berkreativitas dan berolahraga. Menonton televisi kebanyakn merupakan kegiatan yang pasif dimana anak hanya duduk, melihat dan mendengarkan. Hal ini tidak menutup kemungkinan anak dapat menjadi gemuk karena mereka biasanya menonton televisi disertai dengan makan cemilan.
  7. Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga, waktu berkumpul dan bercengkrama dengan anggota keluarga tergantikan dengan nonton TV, yang cenderung berdiam diri karena asyik dengan jalan pikiran masing-masing
  8. Matang secara seksual lebih cepat. Asupan gizi yang bagus, adegan seks yang sering dilihat menjadikan anak lebih cepat matang secara seksual, ditambah rasa ingin tahu pada anak dan keinginan untuk mencoba adegan di TV semakin menjerumuskan anak.
  9. Penambahan kosakata pada anak. Anak cenderung meniru adegan atau ucapan yang sering mereka jumpai di televisi. Padahal saat ini banyak sekali bahasa dan umpatan yang tidak disensor dan ditirukan oleh anak. Ironisnya, bahasa dalam film atau sinetron malah dijadikan trend.

Saat ini, anak bukan hanya menjadi penikmat televisi, tetapi juga menjadi pemeran dalam tayangan di televisi. Marak sekali film atau sinetron yang menjadikan seorang anak kecil menjadi pemeran utama. Anak kecil yang seharusnya masih bermanja-manja pada orang tua dan bermain malah dipaksa untuk berakting siang malam. Banyak kata-kata dan adegan-adegan yang seharusnya belum dapat diterapkan kepada anak usia tersebut. Hal ini sangat berpengaruh pada perkembangan anak di kemudian hari.

B. Upaya yang Harus Dilakukan untuk Meminimalisasi Adanya Pengaruh Buruk Media Televisi terhadap Perkembangan Anak

Orang tua adalah sosok yang sangat penting dalam perkembangan anak. Orang tua adalah guru terpenting bagi anak-anak. Mereka harus mampu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hal sekecil apapun harus diantisipasi oleh orang tua mengenai dampak positif dan negatif yang dapat diterima anak. Begitu juga dengan adanya televisi yang bukan hanya memberikan dampek positif, namun juga dampak negatif. Untuk menghindari dampak negatif dari televisi bukan dengan cara membuang dan menjauhkan anak dari televisi. Hanya saja perlu pengontrolan dari orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak. Sebagaimana kata Kahlil Gibran kalau orang tua itu adalah busur dari anak panah kehidupan putra-putrinya untuk melesat ke masa depan. Karena anak-anak juga mendambakan kehidupannya sendiri.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi pengaruh buruk media televisi terhadap perkembangan anak, khususnya yang harus diperhatikan oleh orang tua, antara lain :

1. Orang tua harus dapat memilih acara yang sesuai dengan usia anak. Jangan biarkan anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya. Walaupun ada acara yang memang untuk anak-anak, perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan anak-anak. Maksudnya tidak ada unsur kekerasan atau hal lain yang tidak sesuai dengan usia mereka.

2. Orang tua sebaiknya mendampingi anak saat menonton televisi. Tujuannya adalah agar acara televisi yang ditonton oleh anak dapat terkontrol dan orangtua dapat memperhatikan apakah acara tersebut layak ditonton atau tidak. Orangtua juga dapat mengajak anak membahas apa yang ada di televisi dan membuatnya mengerti bahwa apa yang ada di televisi tidak tentu sama dengan kehidupan yang sebenarnya.

3. Orang tua harus mengetahui acara favorit anak dan bantu anak memahami pantas tidaknya cara tersebut mereka tonton , ajak mereka menilai karakter dalam acar tersebut secara bijaksana dan positif.

4. Orangtua sebaiknya tidak meletakkan televisi di kamar anak. Selain untuk mempermudah orangtua mengontrol tontonan anak, juga tidak membuat aktivitas yang seharusnya dilakukan di kamar seperti tidur dan belajar menjadi terganggudan beralih ke televisi.

5. Ajak anak untuk melekukan banyak aktivitas lain selain hanya menonton televisi. Orangtua dapat mengajak anak keluar rumah untuk menikmati alam dan lingkungan, bersosialisasi secara positif dengan orang lain. Orang tua juga dapat memperkenalkan dan mengajarkannya suatu hobi baru.

6. Ajari anak untuk memperbanyak membaca buku yang bermanfaat. Letakkan buku di tempat yang mudah dijangkau anak, ajak anak ke toko buku atau perpustakaan.

7. Perbanyak anak mendengar radio atau mendengar musik sebagai pengganti menonton televisi.

8. Periksalah jadwal acara televisi, sehingga orangtua dapat mengatur acara apa yang akan ditonton bersama anak. Dengan mencari dan melihat resensi atau ulasan mengenai film atau acara tersebut orangtua akan tahu garis besar isi acara tersebut sehingga dapat menentukan pantas tidak acara tersebut disaksikan.

9. Orangtua harus membiasakan anak tidak menonton televisi di hari-hari sekolah. Ini dimaksudkan untuk menghindari kurangnya waktu belajar anak karena terlalu banyak menonton acara televisi. Di sini orangtua harus member contoh dengan tidak banyak menonton televisi. Jika anak melihat orangtuanya sering menonton televisi sedangkan ia tidak diperkenankan tentu anak akan menganggap itu tidak adil.

10. Orangtua harus membekali anak dengan pendidikan yang mengandung nilai-nilai agama yang harus selalu diterapkan dan ditumbuhkan di rumah dengan cara mengikutsertakan anak ke suatu pendidikan keagamaan di luar jam sekolah, agar anak-anak mampu berpikir jernih, punya rencana dan masa depan yang baik.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Televisi memberikan dampak positif dan negatif terhadap perkembangan anak. Dampak positifnya yaitu televisi dapat memberikan hiburan, pendidikan dan memberikan informasi terhadap anak. Dampak negatifnya yaitu :

a. Anak 0–4 tahun, menggangu pertumbuhan otak, menghambat pertumbuhan berbicara, kemampuan herbal membaca maupun maupun memahaminya, menghambat anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan.

b. Anak 5-10 tahun, meningkatkan agresivitas dan tindak kekerasan, tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.

c. Berperilaku konsumtif karena rayuan iklan.

d. Mengurangi kreativitas, kurang bermain dan bersosialisasi, menjadi manusia individualis dan sendiri.

e. Televisi menjadi pelarian dari setiap keborosan yang dialami, seolah tidak ada pilihan lain.

f. Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan) karena kurang berkreativitas dan berolahraga.

g. Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga

h. Matang secara seksual lebih cepat.

i. Penambahan kosakata pada anak.

2. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi adanya pengaruh buruk media televisi terhadap perkembangan anak, antara lain :

a. Orang tua harus dapat memilih acara yang sesuai dengan usia anak.

b. Orang tua sebaiknya mendampingi anak saat menonton televisi.

c. Orang tua harus mengetahui acara favorit anak dan bantu anak memahami pantas tidaknya cara tersebut mereka tonton

d. Orangtua sebaiknya tidak meletakkan televisi di kamar anak.

e. Ajak anak untuk melakukan banyak aktivitas lain selain hanya menonton televisi.

f. Ajari anak untuk memperbanyak membaca buku yang bermanfaat

g. Perbanyak anak mendengar radio atau mendengar musik sebagai pengganti menonton televisi.

h. Periksalah jadwal acara televisi, sehingga orangtua dapat mengatur acara apa yang akan ditonton bersama anak.

i. Orangtua harus membiasakan anak tidak menonton televisi di hari-hari sekolah.

j. Orangtua harus membekali anak dengan pendidikan yang mengandung nilai-nilai agama yang harus selalu diterapkan dan ditumbuhkan di rumah

B. Saran

1. Sebaiknya orangtua mampu mengontrol dan menemani anak dalam kegiatan menonton televisi. Orangtua harus mampu memilih acara yang pantas ditonton oleh sang anak dan memberikan pengertian kepada anak.

2. Seharusnya stasiun televisi mampu menayangkan acara yang mendidik bagi anak, bukan hanya mementingkan keuntungan semata.

Januari 6, 2009 Posted by | psikologi | Tinggalkan komentar

Khutbah sebagai Analisis Wacana

TRANSKRIP KHOTBAH JUMAT

Pengisi          : Ustadz Mulyono Muhtar

Judul                : Hijrah Rosul

 Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, alhamdulillah-dst (Bahasa Arab).

Hadirin kaum muslimin sidang Jumat Rokhimakumullah, tiada kata yang paling indah kecuai dengan alhamdulillahirobbil’alamin, bahwa Saudara sekalian pada siang hari ini diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu menjalankan ibadah wajib sholat Jumat. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan Rosulullah Saydina Muhammad SAW, kepada keluarga, kepada para sahabat, kepada mutabiin, dan mudah-mudahan kepada kita sekalian yang selalu mengikuti jejak Saydina Muhammad SAW.

Selanjutnya, marilah kita selalu waspada menjaga diri kita masing-masing. -Bahasa Arab- Waspada menjaga diri dari segala perintah-perintah Allah untuk selalu melaksanakan, waspada menjaga diri kita masing-masing dari segala larangan-larangan Allah untuk kita jauhi dan kita tinggalkan. Oleh karena dengan demikian, mudah-mudahan kita sekalian dimasukkan oleh Allah sebagai golongan orang-orang yang mutaqin, allahumma amin. Dan perintah Allah janganlah sekali-kali kita mati -Bahasa Arab- janganlah sekalikali kita mati kecuali mati di dalam Islam, insyaallah.

Hadirin sidang Jumat Rokhimakumullah, pada kesempatan khotbah pada siang hari ini materi yang akan disampaikan masalah inti ajaran yaitu hijrahnya Rosul. Hijrah Rosul merupakan suatu tes psikis, suatu ujian bagi keimanan seseorang di zaman Rosul SAW yang baru sedikit iman kepada Allah dan Rosul-Nya, diuji oleh Allah di mana ada perintah dari Allah kepada Muhammad SAW untuk hijrah ke Mekah ke Yayin. Namun sebagian sahabat nabi yang imannya belum mantap merasa enggan dan segan mengikuti hijrahnya ke Yayin. Inilah satu ujian bagi sahabat Rosulullah SAW pada saat melakukan hijrah Rosul-rosul. Sedangkan hijrah sebagai suatu syarat bagi seorang mukmin atau bagi seorang muslim yang selalu mengharapkan nikmat-nikmat Allah. –Bahasa Arab- Inilah Albaqoroh 218 bahwa hijrah merupakan salah satu kunci persyaratan agar kita selalu mendapatkan rahmat dari Allah SWT. -Bahasa Arab- Yang pertama, syarat yang pertama adalah iman. –Bahasa Arab- Sebab iman merupakan satu hal yang fundamental dan yang mendasar diterima atau tidak amal perbuatan manusia. Maka iman adalah fundamental, mendasar. Maka iman sebagai prasyarat yang pertama.

Syarat yang kedua adalah orang-orang yang mau hijrah. Hijrah di sini oleh kholifah Umar bin Khotob mengatakan, inti hijrah adalah pemisah antara hak dan bathil, pembeda atau pemisah antara hak dan bathil. Dan Rosululllah SAW bersabda dalam suatu hadisnya –Bahasa Arab- yang dimaksudan hijrah mengandung dua perkara inti –Bahasa Arab- yaitu orang-orang termasuk kita sekalian umat muslim yang mengaku mukmin harus mampu dan mau menghijrahkan dari –Bahasa Arab- perbuatan-perbuatan keji. Kemudian –Bahasa Arab- dan yang kedua –Bahasa Arab- selau ada niatan kita, apa yang ada dalam pikiran kita, apa yang ada dalam hati kita, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita amalkan harus selalu berpedoman Allah dan Rosul-Nya. –Bahasa Arab- Demikianlah hadis dari Rosulullah Saydina Muhammad SAW. Oleh karena itulah, kita ditantang pada peristiwa hijrah Rosul tersebut mampu dan maukah kita untuk menghijrahkan, pilihan yang pertama, dari perbuatan-perbuatan syayiah, meninggalkan perbuatan-perbuatan syaihad, dan menuju pada perbuatan-perbuatan yang islami, meninggalkan suatu perbuatan-perbuatan yang bathil dan kita menuju kepada hal-hal yang alhak, yang benar, yang pertama. Jawaban Anda ada pada diri kita masing-masing. Dan Allah –Bahasa Arab- Oleh karena itulah, hijrah kita yang kedua dari Rosulullah Saydina Muhammad SAW atas segala apa yang kita pikirkan, apa yang kita niatkan di dalam hati kita masing-masing, dan apa yang kita amal perbuat, kita harus selalu berpedoman hanya pada Allah dan Rosul-Nya. Kalau kita menyimpang daripada aturan, batasan-batasan yang ditetapkan Allah dalam Alqurannulkarim maupun sunah Rosulullah Saydina Muhammad SAW dan dituntunkan para ulama ini, niscaya kita betul-betul akan menjadi golongan orang-orang yang muhajirin, insyaallah, mudah-mudahan.

Syarat yang ketiga adalah sebagai fisabilillah, orang-orang yang mau sungguh-sungguh berjihad di jalan Allah. Jihad di sini jangan diartikan secara sempit adalah perang. Jihad itu artinya luas, segala sesuatu kita bersungguh-sungguh untuk melaksanakan suatu perbuatan yang baik dan yang utama hanya karena Allah itu termasuk jihad. Bagi seorang suami, bapak dalam rumah tangga, mencari nafkah betul-betul hanya dikarenakan untuk kesejahteraan keluarga, hanya untuk amal ibadah, itu sudah jihad namanya. Sangat luas. Lembaga-lembaga pendidikan Islam kita, siapa yang menggaji gurunya, siapa lagi yang melengkapi sarana dan prasarananya, maka seorang muslim yang mau berjihad harus memikirkan lembaga-lembaga pendidikan di tengah-tengah sekeliling kita. Ada SD Diponegoro, ada SMP Diponegoro, ada SMA Diponegoro, ada Rumah Sakit Kustati, itulah lembaga kita sendiri. Dan puncak dari jihad adalah Alkitab, bilamana kita diperangi oleh musuh-musuh yang memerangi kita. Dan itulah namanya jihad dalam arti Alkitab. Sebagaimana ikhwan-ikwan kita di Irak, ikhwan-ikwan kita di Afganistan, ikhwan-ikhwan kita di Palestina, karena mereka dijajah, diserang oleh kaum kafir. Mereka, jihad di sini dalam arti Alkitab adalah perang. –Bahasa Arab- Mereka itulah orang-orang yang selalu mengharapkan cinta dari Allah dan mengharapkan rahmat dari Allah. –Bahasa Arab- Sesungguhnya Allah yang Maha Pengampun dan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Demikianlah tadi, topik khotbah kami pada siang hari ini. Mohon maaf, mengambil inti, hikmah, makna dari hijrah Rosul. Mudah-mudahan Allah memasukkan kita menjadi golongan orang-orang muhajirin. Amin ya robbal’alamin.

Doa (Bahasa Arab).

  KHOTBAH SEBAGAI ANALISIS WACANA

A. Pengertian Analisis Wacana

Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Banyak pengertian yang merangkai kata wacana ini. Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat.Sedangkan menurut Michael Foucault (1972), wacana; kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.

Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat.

Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) — Analisis Isi (kuantitatif)

Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. –Analisis Framing (bingkai)

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua. (http://209.85.173.132/search?q=cache:3YZT7UYjgy8J:elsani.wordpress.com/2007/09/25/analisiswacana/+pengertian+analisis+wacana&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id)

            Dalam http://www.geocities.com/anas_yasin/aw4.html analisis wacana yang ditulis oleh Deborah Tannen mendefinisikan  kajian bahasa sebagai kajian yang menjangkau aspek-aspek di luar kalimat (‘beyond the sentence’). Hal ini berbeda dengan analisis yang mengkaji bahasa dari sudut gramatika: kajian tentang hal-hal yang kecil dalam bahasa, seperti kajian bunyi-bunyi bahasa (fonetik dan fonologi), bagian-bagian kata (morfologi), makna (semantik), dan urutan kata di dalam kalimat (sintaksis). Penganalisis wacana mengkaji satuan bahasa yang lebih besar dalam alur kalimat yang saling berhubungan sehingga merupakan kesatuan yang utuh.

Disebutkan lagi dalam http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kajian-wacana-bahasa-indonesia/) analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.

Ada dua jenis wacana, wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan berbentuk komunikasi verbal antar persona, sedangkan wacana tulis ditampilkan dalam bentuk teks. Wacana harus dibedakan dari teks dalam hal bahwa wacana menekankan pada proses, sedangkan teks pada produk kebahasaan. Sebuah unit percakapan dapat dilihat dari teks apabila penganalisis melihat hubungan kebahasaan antar tuturan. Sebaliknya, percakapan dilihat dari wacana apabila yang dikaji adalah proses komunikasi sehingga menghasilkan interpretasi. Dalam makalah ini, penekanan bahasan adalah pada wacana. 

Bahwa budaya mempengaruhi “gaya” percakapan secara sistematis merupakan prinsip pendekatan analisis wacana yang dikenal sebagai etnografi komunikasi, yang mengkaji bagaimana kaidah-kaidah budaya menentukan struktur dasar percakapan. Bagi etnografer di bidang ini, budaya merangkul pengetahuan dan pelaksanaannya, termasuk tindak tutur. Dalam hal yang demikian, etnografi  komuniaksi adalah payung teori tindak tutur. Karena itu, barangkali, pendekatan komunikasi yang mengatakan bahwa tidak hanya totalitas pengetahuan dan pelaksanaan budaya tercakup di dalam wacana tapi juga penekanan pada bahasa menjadikan kedua kajian ini lebih banyak diperhatikan pada saat ini.

Karena totalitas budaya tercakup secara dominan di dalam kajian wacana, maka semua aspek kehidupan sosial-budaya manusia dapat dianalisis melalui wacana. Makna dan modernitas merupakan usaha yang ambisius untuk membangun kembali konsep dari pragmatisme filosofis untuk teori sosial yang kontemporer. Halton (1986) mengemukakan nilai-nilai sikap pragmatis sebagai cara berpikir. Selama ini, teknik rasionalisasi melepaskan diri dari konteks yang hidup.Yang lebih menarik dewasa ini adalah arah kajian sosial budaya dan wacana bisa dilakukan dalam dua arah–melalui wacana, kita dapat mengkaji budaya dan melalui budaya kita dapat mengkaji wacana.(Anah Yasin dalam http://www.geocities.com/anas_yasin/arah.html)

Ada banyak pendapat yang mengungkapkan tentang pengertian analisis wacana. Menurut Stubbs (dalam Budhi Setiawan, 2006: 3) analisis wacana ialah suatu usaha untuk menkaji bahasa di atas kalimat atau di atas klausa; dan oleh karena itu, analisis wacana merupakan studi yang lebih luas daripada unit-unit linguistik, yakni kajian pertukaran percakapan dan kajian teks-teks yang tertulis. Selanjutnya, menurut Hatch dan Long (dalam Budhi Setiawan, 2006: 3) menyebutkan bahwa studi analisis wacana mempunyai dampak yang penting pada masyarakat, pendidikan, dan ilmu linguistik. Studi ini menghasilkan penertian yang lebih mendalam mengenai bagaimaa belajar bahasa (atau bahasa-bahasa); pengertian yang lebih mendalam bagaimana cara individu-individu berinteraksi melalui bahasa; pengertian yang lebih mendalam tentang wacana kelas, kurikulum-kurikulum pendidikan dan mater-materi ajar; pengertian yang lebih mendalam mengenai bagaimana makna-makna itu melekat pada kalimat-kalimat; dan pengertian yang lebih mendalam lagi mengenai sintaksis kalimat.

             Analisis wacana menurut Soeseno Kartomihardjo (1993: 21) adalah cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Dalam upaya menguraikan suatu unit bahasa, analisis wacana tidak terlepas dari penggunaan piranti cabang ilmu bahasa lainnya seperti yang dimiliki oleh semantik, sintaksis, fonologi, dan lain sebagainya. Di samping itu, analisis wacana memiliki piranti khusus yang tidak digunakan oleh cabang ilmu bahasa lainnya itu. Selanjutnya menurut Abdul Wahab ( 1995: 128) analisis wacana sebenarnya merupakan analisis bahasa dalam penggunaanya. Oleh karena itu, analisis wacana itu tidak dapat dibatasi hanya pada deskripsi bentuk-bentuk linguistik yang terpisah dari tujuan dan fungsi bahasa dalam proses interaksi antarmanusia. Sementara para linguis memusatkan perhatian pada ciri-ciri formal dari suatu bahasa, para analisis wacana berusaha mencari jawaban, untuk apa bahasa digunakan oleh manusia.

            Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 227) analisis wacana membahas bagaimana pemakai bahasa mencerna apa yang ditulis oleh para penulis dalam buku-buku teks, memahami apa yang disampaikan penyapa secara lisan dalam percakapan, atau mengenal wacana yang koheren dan yang tidak koheren, dan berhasil berperan serta dalam kegiatan rumit yang disebut percakapan.

Analisis wacana dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa analisis wacana mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih besar seperti percakapan atau teks tertuls. Menurut Samsuri (dalam Bambang Yudi Cahyono, 1995: 227) analisis wacana mengacu ke rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan. Selanjutnya menurut Kartomihardjo (dalam Bambang Yudi Cahyono, 1995: 227) analisis wacana berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis. Untuk mencapai tujuan itu, analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat, piranti-piranti, serta temuan-temuannya yang penting.

B. Khotbah Sebagai Analisis Wacana

Wacana dalam berdasarkan media komunikasinya terbagi dalam wacana tulis dan wacana lisan. Wacana tulis menurut H. G. Tarigan (dalam Budhi setiawan, 2006: 15) adalah wacana yang disampaikan secara tertulis, melalui media tulis. Untuk menerima, memahami, atau menikmati maka sang penerima harus membacanya. Wacana tulis dapat berupa wacana tidak langsung, wacana penuturan, wacana prosa, serta wacana puisi, dan sebagainya. Sementara wacana lisan adalah wacana yang disampaikan secara lisan, melalui media lisan. Untuk menerima, memahami, atau menikmati wacana lisan ini maka sang penerima harus menyimak. Wacana ini sangat produktif dalam sastra lisan di seluruh tanah air kita ini; juga dalam siaran-siaran televisi, radio, khotbah, ceramah, p[idato, kuliah, deklamasi, dan sebagainya.

Dari uraian mengenai wacana di atas dapat tarik kesimpulan bahwa khotbah merupakan bahan kajian analisis wacana yang berwujud wacana lisan. Wacana lisan tersebut kemudian dapat diubah ke dalam bentuk wacana tulis dan dianalisis berdasarkan teori analisis wacana yang ada. 

ANALISIS GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL

            Pada bab ini akan dideskripsikan temuan-temuan yang diperoleh dari khutbah Jumat dengan menggunakan analisis wacana yang mencakup analisis gramatikal dan leksikal. Analisis gramatikal mengkaji wacana dari segi bentuk atau struktur lahir wacana, sedangkan analisis leksikal mengkaji wacana dari segi makna atau struktur batin wacana.

            Secara lebih rinci, aspek gramatikal wacana meliputi: (1) pengacuan (referensi), (2) penyulihan (substitusi), (3) pelepasan (elipsis), (4) perangkaian (konjungsi). Sedangkan analisis leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu (1) repetisi (pengulangan), (2) sinonimi (padan kata), (3) kolokasi (sanding kata), (4) hiponimi (hubungan atas-bawah), (5) antonimi (lawan kata), (6) ekuivalensi (kesepadanan) (Sumarlam, dkk, 2005: 35).

1. Analisis Gramatikal

            a. Referensi (Pengacuan)

                        Referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual yang menunjuk satuan lingual yang mendahului atau mengikutinya. Berdasarkan arah penunjukannya, kohesi referensi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu refensi anaforis dan referensi kataforis. Referensi anaforis ditandai oleh adanya unsur  lingual yang menunjuk unsur lingual di sebelah kiri, sedangkan referensi kataforis ditandai oleh adanya unsur lingual  yang mengacu unsur  lingual di sebelah kanan. Referensi yang dapat ditemukan pada  khutbah Jumat antara lain:

(1)  

Selanjutnya, marilah kita selalu waspada menjaga diri kita masing-masing. -Bahasa Arab- Waspada menjaga diri dari segala perintah-perintah Allah untuk selalu melaksanakan, waspada menjaga diri kita masing-masing dari segala larangan-larangan Allah untuk kita jauhi dan kita tinggalkan. Oleh karena dengan demikian, mudah-mudahan kita sekalian dimasukkan oleh Allah sebagai golongan orang-orang yang mutaqin, allahumma amin. Dan perintah Allah janganlah sekali-kali kita mati -Bahasa Arab- janganlah sekali-kali kita mati kecuali mati di dalam Islam, insyaallah.

Hadirin sidang Jumat Rokhimatullah, pada kesempatan khotbah pada siang hari ini materi yang akan disampaikan masalah inti ajaran yaitu hijrahnya Rosul.

 Batang tubuh atau body pengajian berisi proposisi-proposisi, ajakan-ajakan, penjelasan-penjelasan yang didukung kutipan-kutipan dan dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi serta contoh-contoh yang sejalan dengan proposisinya. Batang tubuh pengajaian Ustadz Mulyono Muhtar dideskripsikan sebagai berikut:

a.       Penjelasan  : Masalah inti ajaran agama yaitu hijrahnya Rosul Muhammad

  SAW.

b.      Alasan        : Hijrah sebagai suatu syarat bagi seorang mukmin atau bagi

  seorang muslim yang selalu menggahar nkmat-nikmat Allah.

c.       Kutipan      : Kutipan dengan menggunakan ayat Alquran, Surah Albaqoroh

  ayat 218.

d.      Penjelasan  : Kunci persyaratan agar kita mendapat rahmat dari Allah SWT,

  yaitu iman, hijrah, dan fisabilillah.

e.       Alasan        : Iman adalah fundamental, inti jihad adalah pemisah antara yang

hak dan yang bathil, fisabilillah adalah orang-orang yang mau 

sungguh-sungguh berjihad di jalan Allah SWT.

f.        Uraian        : Sebagai seorang muslim yang mengaku mukmin harus mampu

dan mau menghijrahkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan

menuju pada perbuatan-perbuatan yang islami serta apa yang kita

niatkan dan apa yang dika amalkan selalu berpedoman pada Allah

SWT dan Rosul-Nya.

g.       Penerapan  : Seorang muslim yang mau berjihad harus memiirkan lembaga-

  lembaga pendidikan di tengah-tengah sekeliling kita.

h.       Ajakan       : Mengajak untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan keji

  dan mengajak untuk berjihad di jalan Allah.

Bagian akhir sebuah wacana pengajian biasanya merupakan bagian simpulan yang berisi ringaksan isi pengajian diikuti dengan pesan-pesan yang perlu dilakukan oleh pendengar berkaitan dengan pengaiannya. Di samping itu, bagian akhir juga berisi imbauan kepada pendengar untuk selalu meningkatkan keimanan.

Sementara itu, bagian terakhir pengajian Ustadz Mulyono Muhtar tersebut terdiri atas permohonan maaf dan harapan agar dimasukkan menjadi orang mujahirin. Tahap akhir ini ditutup dengan melakukan doa bersama. Bagian akhir pengajian tersebut sebagai berikut.

Demikianlah tadi, topik khotbah kami pada siang hari ini. Mohon maaf, mengambil inti, hikmah, makna dari hijrah Rosul. Mudah-mudahan Allah memasukkan kita menjadi golongan orang-orang muhajirin. Amin ya robbal’alamin.

Doa (Bahasa Arab).

  KAMUS ISTILAH

A

Ahwat :sebutan untuk wanita muslim

Alquran            : kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia.

Alkitab             : Alquran.

Amal                : perbuatan baik yang mendatangkan pahala.

Aurat                : bagian badan yang tidak boleh kelihatan.

Ayat                 : beberapa kalimat yang merupakan kesatuan maksud sebagai bagian surah di kitab suci Alquran.

Azan                : seruan untuk mengajak orang melakukan salat.

B

Berkah             : karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia; berkat.

D

Dakwah           : penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama.

F

Fakir                : orang yang sangat berkekurangan; orang yang terlalu miskin.

Firman : sabda Allah

 

H

Hadas              : keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia tidak boleh salat, tawaf, dsb.

Hadis               : 1 sabda, perbuatan, takrir (ketetapan) Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan atau diceritakan oelh sahabat untuk menjelaskan dan menentukan hukum Islam; 2 sumber ajaran Islam yang kedua setelah Alquran.Hidayah            : petunjuk atau bimbingan dari Tuhan.

Hijrah               : perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dsb dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah.

Hikmah            : 1 kebijaksanaan (dari Allah); 2 arti atau makna yang dalam; manfaat.

I

Ibadah              : perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; ibadat.

Imam                : pemimpin salat (pada salat yang dilakukan bersama-sama seperti pada salat Jumat).

Iman                 : 1 kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dsb; 2 ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin.

Islam                : agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, berpedoman pada kitab suci Alquran yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.

J

Jemaah             : kumpulan atau rombongan orang beribadah.

Jibril                 : malaikan yang bertugas menyampaikan wahyu Tuhan.

Jihad                : 1 usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan; 2 usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga; 3 perang suci melawan orang kafir untuk mempertahankan agama Islam.

Jilbab               : kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala, leher sampai dada.

K

Karpet             : hamparan (tikar) penutup lantai yang dibuat dari bulu domba atau kain tebal; permadani; ambal.

Khotbah           : pidato (terutama yang menguraikan ajaran agama)

Kiblat               : arah ke Kakbah di Mekah (pada waktu salat).

Kitab                : 1 buku; 2 wahyu Tuhan yang dibukukan; kitab suci.

Kubah              : 1 lengkung (atap); 2 atap yang melengkung merupakan setengah bulatan (kupel).

M

Makmum          : orang yang dipimpin (dalam salat berjemaah) oleh imam; orang yang menjadi pengikut (dalam salat berjemaah); orang yang ikut salat di belakang imam.

Masbuk            : orang yang terlambat shalat berjamaah

Masjid              : rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam.

Menara            : bangunan yang tinggi (seperti di masjid, gereja); bagian bangunan yang dibuat jauh lebih tinggi daripada bangunan induknya.

Mimbar            : panggung kecil tempat berkhotbah (berpidato).

Mualaf: orang yang baru masuk Islam.

Muamalah        : hal-hal yang termasuk urusan kemasyarakatan (pergaulan, perdata, dsb).

Muazin : orang yang menyerukan azan; juru azan.

Mubalig            : orang yang menyiarkan (menyampaikan) ajaran agama Islam; juru dakwah.

Muhammad      : 1 nabi dan rosul terakhir yang diutus Allah SWT untuk seluruh umat manusia sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam; 2 surah ke-47 Alquran.

Mujahid            : orang yang berjuang demi membela agama (Islam).

Mujahidin         : para mujahid.

Mukena            : kain selubung berjahid (biasanya berwarna putih) untuk menutup aurat wanita Islam pada waktu salat.

Mukjizat : karunia yang diberikan kepada nabi

Mukmin            : orang yang beriman (percaya) kepada Allah.

Mukminat         : perempuan mukmin (orang perempuan yang percaya kepada Allah).

Mukminin         : para mukmin.

Munajat: doa

Muslim : penganut agama Islam.

Muslimat          : perempuan muslim.

Muslimin           : 1 para penganut agama Islam; 2 laki-laki muslim.

Musyrik            : 1 orang yang menyekutukan (menyerikatkan) Allah; 2 orang yang memuja berhala.

N

Nabi                 : orang yang menjadi pilihan Allah untuk menerima wahyu-Nya.

Najis                : kotor yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah, seperti terkena jilatan anjing.

Neraka             : alam akhirat tempat orang kafir dan orang durhaka mengalami siksaandan kesengsaraan.

P

Peci                  : penutup kepala terbuat dari kain dsb, berbentuk meruncing kedua ujungnya; kopiah.

Q

Qolbu               : hati

R

Rahimakallah    : (semoga) Allah menaruh belas kasih kepada engkau.

Rahimakumullah: (semoga) Allah memberikan belas kasih kepada kamu sekalian.

Rahmat : 1 belas kasih; kerahiman; 2 karunia (Allah); berkah (Allah).

Rahmatullah      : belas kasih Allah.

Rakaat             : bagian dari salat (satu kali berdiri, satu kali rukuk, dan dua kali sujud).

Rasul                : orang yang menerima wahyu Tuhan untuk disampaikan kepada manusia.

Rasuli               : bersifat kerasulan; berkenaan dengan rasul.

Rasulullah         : utusan Allah (Nabi Muhammad SAW).

S

Sabda              : kata; perkataan (bagi Tuhan, nabi, raja, dsb).

Sajadah            : alat yang digunakan untuk salat, berupa karpet dsb berukuran kecil, kurang 80 x 120 cm.

Salat                 : rukun Islam kedua, berupa ibadah kepada Allah SWT, wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf, dengan syarat, rukun, dan bacaan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Saleh                : 1 taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah; 2 suci dan beriman.

Sedekah           : pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai kemampuan pemberi; derma.

Selawat            : 1 permohonan kepada Tuhan; doa; berdoa memohn berkat Tuhan; 2 doa kepada Allah untuk Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Sembahyang     : 1 salat; air wudu; 2 permohonan doa kepada Tuhan.

Serambi            : beranda atau selasar yang agak panjang, bersambung dengan induk rumah (biasanya lebih rendah daripada induk rumah).

Saf                   : barisan sholat

Suci                  : 1 bersih (dalam arti keagamaan, seperti tidak kena najis, selesai mandi janabat); 2 bebas dari dosa, bebas dari cela,bebas dari noda,.

Bersuci: membersihkan diri (sebelum salat dsb).

Sunah               : 1 jalan yang biasa ditempuh; kebiasaan; 2 aturan agama yang didasarkan atas segala apa yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW, baik perbuatan, perkataan, sikap, maupun kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkannya; hadis; 3 perbuatan yang apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.

Surah               : bagian atau bab di Alquran (kitab suci Alquran mempunyai 114 surah).

Surga               : alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yang hendak tinggal di dalamnya (dalam keabadian).

Syirik               : penyekutuan Allah dengan yang lain, misal pengakuan kemampuan ilmu daripada kemampuan dan kekuatan Allah, pengabdian selain kepada Allah Taala dengan menyembah patung, tempat keramat, dan kuburan, dan kepercayaan terhadap keampuhan peninggalan nenek moyang yang diyakini akan menentukan dan mempengaruhi jalan kehidupan.

Syukur             : rasa terima kasih kepada Allah.

 

 

T

Takmir masjid : pengurus masjid

Takziah            : ziarah kubur

Takwa              : 1 terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; 2 keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; 3 kesalehan hidup.

 

W

Wajib               : 1 harus dilakukan; tidak boleh tidak dilaksanakan (ditinggalkan); 2 sudah semestinya; harus.

Wakaf              : benda bergerak atau tidak bergerak yang disediakan untuk kepentingan umum (Islam) sebagai pemberian yang ikhlas.

Wudu               : menyucikan diri (sebelum salat) dengan membasuh muka, tangan, kepala, dan kaki.

Z

Zakat               : 1 jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dsb) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak; 2 salah satu rukun Islam yang mengatur harta yang wajib dikeluarkan kepada mustahik.

 DAFTAR PUSTAKA

 Anas Yasin. Arah Kajian Bahasa: Kaitannya dengan Perkembangan Iptek dan Sosial-Budaya. http://www.geocities.com/anas_yasin/aw4.html. Diakses 24 Desember 2008.

Abdul Wahab. 1995. Isu Linguistik (Pengajaran Bahasa dan Sastra). Surabaya: Airlangga University Press

Bambang Kaswanti Purwo (Ed). 1993. PELLBA 6 (Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya: Keenam). Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya Jakarta.

Bambang Yudi Cahyono. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga university Press.

Budhi Setiawan. 2006. Analisis Wacana. Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Sumarlam, dkk. 2005. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra

Elsani. Pengertian Analisis Wacana. (http://209.85.173.132/search?q=cache:3YZT7UYjgy8J:elsani.wordpress.com/2007/09/25/analisiswacana/+pengertian+analisis+wacana&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id). Diakses 24 Desember 2008

Wacana bahasa Indonesia (http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kajian-wacana-bahasa-indonesia/). Diakses 24 Desember 2008.

 

Januari 5, 2009 Posted by | Bahasa | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.