Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

Khutbah sebagai Analisis Wacana

TRANSKRIP KHOTBAH JUMAT

Pengisi          : Ustadz Mulyono Muhtar

Judul                : Hijrah Rosul

 Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, alhamdulillah-dst (Bahasa Arab).

Hadirin kaum muslimin sidang Jumat Rokhimakumullah, tiada kata yang paling indah kecuai dengan alhamdulillahirobbil’alamin, bahwa Saudara sekalian pada siang hari ini diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu menjalankan ibadah wajib sholat Jumat. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan Rosulullah Saydina Muhammad SAW, kepada keluarga, kepada para sahabat, kepada mutabiin, dan mudah-mudahan kepada kita sekalian yang selalu mengikuti jejak Saydina Muhammad SAW.

Selanjutnya, marilah kita selalu waspada menjaga diri kita masing-masing. -Bahasa Arab- Waspada menjaga diri dari segala perintah-perintah Allah untuk selalu melaksanakan, waspada menjaga diri kita masing-masing dari segala larangan-larangan Allah untuk kita jauhi dan kita tinggalkan. Oleh karena dengan demikian, mudah-mudahan kita sekalian dimasukkan oleh Allah sebagai golongan orang-orang yang mutaqin, allahumma amin. Dan perintah Allah janganlah sekali-kali kita mati -Bahasa Arab- janganlah sekalikali kita mati kecuali mati di dalam Islam, insyaallah.

Hadirin sidang Jumat Rokhimakumullah, pada kesempatan khotbah pada siang hari ini materi yang akan disampaikan masalah inti ajaran yaitu hijrahnya Rosul. Hijrah Rosul merupakan suatu tes psikis, suatu ujian bagi keimanan seseorang di zaman Rosul SAW yang baru sedikit iman kepada Allah dan Rosul-Nya, diuji oleh Allah di mana ada perintah dari Allah kepada Muhammad SAW untuk hijrah ke Mekah ke Yayin. Namun sebagian sahabat nabi yang imannya belum mantap merasa enggan dan segan mengikuti hijrahnya ke Yayin. Inilah satu ujian bagi sahabat Rosulullah SAW pada saat melakukan hijrah Rosul-rosul. Sedangkan hijrah sebagai suatu syarat bagi seorang mukmin atau bagi seorang muslim yang selalu mengharapkan nikmat-nikmat Allah. –Bahasa Arab- Inilah Albaqoroh 218 bahwa hijrah merupakan salah satu kunci persyaratan agar kita selalu mendapatkan rahmat dari Allah SWT. -Bahasa Arab- Yang pertama, syarat yang pertama adalah iman. –Bahasa Arab- Sebab iman merupakan satu hal yang fundamental dan yang mendasar diterima atau tidak amal perbuatan manusia. Maka iman adalah fundamental, mendasar. Maka iman sebagai prasyarat yang pertama.

Syarat yang kedua adalah orang-orang yang mau hijrah. Hijrah di sini oleh kholifah Umar bin Khotob mengatakan, inti hijrah adalah pemisah antara hak dan bathil, pembeda atau pemisah antara hak dan bathil. Dan Rosululllah SAW bersabda dalam suatu hadisnya –Bahasa Arab- yang dimaksudan hijrah mengandung dua perkara inti –Bahasa Arab- yaitu orang-orang termasuk kita sekalian umat muslim yang mengaku mukmin harus mampu dan mau menghijrahkan dari –Bahasa Arab- perbuatan-perbuatan keji. Kemudian –Bahasa Arab- dan yang kedua –Bahasa Arab- selau ada niatan kita, apa yang ada dalam pikiran kita, apa yang ada dalam hati kita, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita amalkan harus selalu berpedoman Allah dan Rosul-Nya. –Bahasa Arab- Demikianlah hadis dari Rosulullah Saydina Muhammad SAW. Oleh karena itulah, kita ditantang pada peristiwa hijrah Rosul tersebut mampu dan maukah kita untuk menghijrahkan, pilihan yang pertama, dari perbuatan-perbuatan syayiah, meninggalkan perbuatan-perbuatan syaihad, dan menuju pada perbuatan-perbuatan yang islami, meninggalkan suatu perbuatan-perbuatan yang bathil dan kita menuju kepada hal-hal yang alhak, yang benar, yang pertama. Jawaban Anda ada pada diri kita masing-masing. Dan Allah –Bahasa Arab- Oleh karena itulah, hijrah kita yang kedua dari Rosulullah Saydina Muhammad SAW atas segala apa yang kita pikirkan, apa yang kita niatkan di dalam hati kita masing-masing, dan apa yang kita amal perbuat, kita harus selalu berpedoman hanya pada Allah dan Rosul-Nya. Kalau kita menyimpang daripada aturan, batasan-batasan yang ditetapkan Allah dalam Alqurannulkarim maupun sunah Rosulullah Saydina Muhammad SAW dan dituntunkan para ulama ini, niscaya kita betul-betul akan menjadi golongan orang-orang yang muhajirin, insyaallah, mudah-mudahan.

Syarat yang ketiga adalah sebagai fisabilillah, orang-orang yang mau sungguh-sungguh berjihad di jalan Allah. Jihad di sini jangan diartikan secara sempit adalah perang. Jihad itu artinya luas, segala sesuatu kita bersungguh-sungguh untuk melaksanakan suatu perbuatan yang baik dan yang utama hanya karena Allah itu termasuk jihad. Bagi seorang suami, bapak dalam rumah tangga, mencari nafkah betul-betul hanya dikarenakan untuk kesejahteraan keluarga, hanya untuk amal ibadah, itu sudah jihad namanya. Sangat luas. Lembaga-lembaga pendidikan Islam kita, siapa yang menggaji gurunya, siapa lagi yang melengkapi sarana dan prasarananya, maka seorang muslim yang mau berjihad harus memikirkan lembaga-lembaga pendidikan di tengah-tengah sekeliling kita. Ada SD Diponegoro, ada SMP Diponegoro, ada SMA Diponegoro, ada Rumah Sakit Kustati, itulah lembaga kita sendiri. Dan puncak dari jihad adalah Alkitab, bilamana kita diperangi oleh musuh-musuh yang memerangi kita. Dan itulah namanya jihad dalam arti Alkitab. Sebagaimana ikhwan-ikwan kita di Irak, ikhwan-ikwan kita di Afganistan, ikhwan-ikhwan kita di Palestina, karena mereka dijajah, diserang oleh kaum kafir. Mereka, jihad di sini dalam arti Alkitab adalah perang. –Bahasa Arab- Mereka itulah orang-orang yang selalu mengharapkan cinta dari Allah dan mengharapkan rahmat dari Allah. –Bahasa Arab- Sesungguhnya Allah yang Maha Pengampun dan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Demikianlah tadi, topik khotbah kami pada siang hari ini. Mohon maaf, mengambil inti, hikmah, makna dari hijrah Rosul. Mudah-mudahan Allah memasukkan kita menjadi golongan orang-orang muhajirin. Amin ya robbal’alamin.

Doa (Bahasa Arab).

  KHOTBAH SEBAGAI ANALISIS WACANA

A. Pengertian Analisis Wacana

Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Banyak pengertian yang merangkai kata wacana ini. Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat.Sedangkan menurut Michael Foucault (1972), wacana; kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.

Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat.

Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) — Analisis Isi (kuantitatif)

Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. –Analisis Framing (bingkai)

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua. (http://209.85.173.132/search?q=cache:3YZT7UYjgy8J:elsani.wordpress.com/2007/09/25/analisiswacana/+pengertian+analisis+wacana&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id)

            Dalam http://www.geocities.com/anas_yasin/aw4.html analisis wacana yang ditulis oleh Deborah Tannen mendefinisikan  kajian bahasa sebagai kajian yang menjangkau aspek-aspek di luar kalimat (‘beyond the sentence’). Hal ini berbeda dengan analisis yang mengkaji bahasa dari sudut gramatika: kajian tentang hal-hal yang kecil dalam bahasa, seperti kajian bunyi-bunyi bahasa (fonetik dan fonologi), bagian-bagian kata (morfologi), makna (semantik), dan urutan kata di dalam kalimat (sintaksis). Penganalisis wacana mengkaji satuan bahasa yang lebih besar dalam alur kalimat yang saling berhubungan sehingga merupakan kesatuan yang utuh.

Disebutkan lagi dalam http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kajian-wacana-bahasa-indonesia/) analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.

Ada dua jenis wacana, wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan berbentuk komunikasi verbal antar persona, sedangkan wacana tulis ditampilkan dalam bentuk teks. Wacana harus dibedakan dari teks dalam hal bahwa wacana menekankan pada proses, sedangkan teks pada produk kebahasaan. Sebuah unit percakapan dapat dilihat dari teks apabila penganalisis melihat hubungan kebahasaan antar tuturan. Sebaliknya, percakapan dilihat dari wacana apabila yang dikaji adalah proses komunikasi sehingga menghasilkan interpretasi. Dalam makalah ini, penekanan bahasan adalah pada wacana. 

Bahwa budaya mempengaruhi “gaya” percakapan secara sistematis merupakan prinsip pendekatan analisis wacana yang dikenal sebagai etnografi komunikasi, yang mengkaji bagaimana kaidah-kaidah budaya menentukan struktur dasar percakapan. Bagi etnografer di bidang ini, budaya merangkul pengetahuan dan pelaksanaannya, termasuk tindak tutur. Dalam hal yang demikian, etnografi  komuniaksi adalah payung teori tindak tutur. Karena itu, barangkali, pendekatan komunikasi yang mengatakan bahwa tidak hanya totalitas pengetahuan dan pelaksanaan budaya tercakup di dalam wacana tapi juga penekanan pada bahasa menjadikan kedua kajian ini lebih banyak diperhatikan pada saat ini.

Karena totalitas budaya tercakup secara dominan di dalam kajian wacana, maka semua aspek kehidupan sosial-budaya manusia dapat dianalisis melalui wacana. Makna dan modernitas merupakan usaha yang ambisius untuk membangun kembali konsep dari pragmatisme filosofis untuk teori sosial yang kontemporer. Halton (1986) mengemukakan nilai-nilai sikap pragmatis sebagai cara berpikir. Selama ini, teknik rasionalisasi melepaskan diri dari konteks yang hidup.Yang lebih menarik dewasa ini adalah arah kajian sosial budaya dan wacana bisa dilakukan dalam dua arah–melalui wacana, kita dapat mengkaji budaya dan melalui budaya kita dapat mengkaji wacana.(Anah Yasin dalam http://www.geocities.com/anas_yasin/arah.html)

Ada banyak pendapat yang mengungkapkan tentang pengertian analisis wacana. Menurut Stubbs (dalam Budhi Setiawan, 2006: 3) analisis wacana ialah suatu usaha untuk menkaji bahasa di atas kalimat atau di atas klausa; dan oleh karena itu, analisis wacana merupakan studi yang lebih luas daripada unit-unit linguistik, yakni kajian pertukaran percakapan dan kajian teks-teks yang tertulis. Selanjutnya, menurut Hatch dan Long (dalam Budhi Setiawan, 2006: 3) menyebutkan bahwa studi analisis wacana mempunyai dampak yang penting pada masyarakat, pendidikan, dan ilmu linguistik. Studi ini menghasilkan penertian yang lebih mendalam mengenai bagaimaa belajar bahasa (atau bahasa-bahasa); pengertian yang lebih mendalam bagaimana cara individu-individu berinteraksi melalui bahasa; pengertian yang lebih mendalam tentang wacana kelas, kurikulum-kurikulum pendidikan dan mater-materi ajar; pengertian yang lebih mendalam mengenai bagaimana makna-makna itu melekat pada kalimat-kalimat; dan pengertian yang lebih mendalam lagi mengenai sintaksis kalimat.

             Analisis wacana menurut Soeseno Kartomihardjo (1993: 21) adalah cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Dalam upaya menguraikan suatu unit bahasa, analisis wacana tidak terlepas dari penggunaan piranti cabang ilmu bahasa lainnya seperti yang dimiliki oleh semantik, sintaksis, fonologi, dan lain sebagainya. Di samping itu, analisis wacana memiliki piranti khusus yang tidak digunakan oleh cabang ilmu bahasa lainnya itu. Selanjutnya menurut Abdul Wahab ( 1995: 128) analisis wacana sebenarnya merupakan analisis bahasa dalam penggunaanya. Oleh karena itu, analisis wacana itu tidak dapat dibatasi hanya pada deskripsi bentuk-bentuk linguistik yang terpisah dari tujuan dan fungsi bahasa dalam proses interaksi antarmanusia. Sementara para linguis memusatkan perhatian pada ciri-ciri formal dari suatu bahasa, para analisis wacana berusaha mencari jawaban, untuk apa bahasa digunakan oleh manusia.

            Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 227) analisis wacana membahas bagaimana pemakai bahasa mencerna apa yang ditulis oleh para penulis dalam buku-buku teks, memahami apa yang disampaikan penyapa secara lisan dalam percakapan, atau mengenal wacana yang koheren dan yang tidak koheren, dan berhasil berperan serta dalam kegiatan rumit yang disebut percakapan.

Analisis wacana dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa analisis wacana mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih besar seperti percakapan atau teks tertuls. Menurut Samsuri (dalam Bambang Yudi Cahyono, 1995: 227) analisis wacana mengacu ke rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan. Selanjutnya menurut Kartomihardjo (dalam Bambang Yudi Cahyono, 1995: 227) analisis wacana berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis. Untuk mencapai tujuan itu, analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat, piranti-piranti, serta temuan-temuannya yang penting.

B. Khotbah Sebagai Analisis Wacana

Wacana dalam berdasarkan media komunikasinya terbagi dalam wacana tulis dan wacana lisan. Wacana tulis menurut H. G. Tarigan (dalam Budhi setiawan, 2006: 15) adalah wacana yang disampaikan secara tertulis, melalui media tulis. Untuk menerima, memahami, atau menikmati maka sang penerima harus membacanya. Wacana tulis dapat berupa wacana tidak langsung, wacana penuturan, wacana prosa, serta wacana puisi, dan sebagainya. Sementara wacana lisan adalah wacana yang disampaikan secara lisan, melalui media lisan. Untuk menerima, memahami, atau menikmati wacana lisan ini maka sang penerima harus menyimak. Wacana ini sangat produktif dalam sastra lisan di seluruh tanah air kita ini; juga dalam siaran-siaran televisi, radio, khotbah, ceramah, p[idato, kuliah, deklamasi, dan sebagainya.

Dari uraian mengenai wacana di atas dapat tarik kesimpulan bahwa khotbah merupakan bahan kajian analisis wacana yang berwujud wacana lisan. Wacana lisan tersebut kemudian dapat diubah ke dalam bentuk wacana tulis dan dianalisis berdasarkan teori analisis wacana yang ada. 

ANALISIS GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL

            Pada bab ini akan dideskripsikan temuan-temuan yang diperoleh dari khutbah Jumat dengan menggunakan analisis wacana yang mencakup analisis gramatikal dan leksikal. Analisis gramatikal mengkaji wacana dari segi bentuk atau struktur lahir wacana, sedangkan analisis leksikal mengkaji wacana dari segi makna atau struktur batin wacana.

            Secara lebih rinci, aspek gramatikal wacana meliputi: (1) pengacuan (referensi), (2) penyulihan (substitusi), (3) pelepasan (elipsis), (4) perangkaian (konjungsi). Sedangkan analisis leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu (1) repetisi (pengulangan), (2) sinonimi (padan kata), (3) kolokasi (sanding kata), (4) hiponimi (hubungan atas-bawah), (5) antonimi (lawan kata), (6) ekuivalensi (kesepadanan) (Sumarlam, dkk, 2005: 35).

1. Analisis Gramatikal

            a. Referensi (Pengacuan)

                        Referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual yang menunjuk satuan lingual yang mendahului atau mengikutinya. Berdasarkan arah penunjukannya, kohesi referensi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu refensi anaforis dan referensi kataforis. Referensi anaforis ditandai oleh adanya unsur  lingual yang menunjuk unsur lingual di sebelah kiri, sedangkan referensi kataforis ditandai oleh adanya unsur lingual  yang mengacu unsur  lingual di sebelah kanan. Referensi yang dapat ditemukan pada  khutbah Jumat antara lain:

(1)  

Hadirin kaum muslimin sidang jumat Rokhimatulloh, tiada kata yang paling indah  kecuali dengan Alhamdulillahhirobbil’alamin bahwa Saudara sekalian pada siang hari ini diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai muslim yaitu menjalankan ibadah wajib sholat jumat.

(2)   …dan mudah-mudahan kepada kita sekalian yang selalu mengikuti jejak Syaidina Muhammad SAW.

(3)   Selanjutnya, marilah kita selalu waspada menjaga diri kita

(4)   Pada kesempatan khutbah pada siang hari ini materi yang akan disampaikan masalah inti ajaran yaitu hijrahnya Rosululloh.

(5)   Namun sebagian sahabat nabi yang imannya belum mantap merasa enggan dan segan mengikuti hijrahnya  ke Yayin.

Pada data (1) ditemukan kohesi referensi eksoforis yang bersifat anaforis pada kata Hadirin kaum muslimin karena disebut terlebih dahulu dan diacu oleh Saudara sekalian. Pada siang hari ini merupakan referensi demonstratif waktu kini yang mengacu pada saat khutbah Jumat diberikan. Kita pada data (1) bersifat eksoforis karena mengacu pada unsur di luar teks, merupakan referensi persona pertama jamak mengacu pada kotib (penutur) yang memberikan ceramah dan dan pihak jamaah jumat sebagai pendengar. Demikian juga dengan kita pada data (2) dan (3) mengacu pada unsur diluar teks atau bersifat eksoforis.

Referensi endoforis yang bersifat kataforis dapat ditemukan pada data (4) kata hijrahnya, bentuk –nya pada kata hijrah mengacu pada kata Rosululloh yang terletak di sebelah kanannya atau disebut kemudian. Pada data (5) –nya pada kata imannya merupakan referensi  anaforis yang bersifat endoforis mengacu pada teks dan –nya menunjuk pada kata yang telah disebutkan yaitu sahabat nabi, demikian juga dengan –nya pada kata hijrahnya data (5) juga merupakan referensi anaforis.

            b. Substitusi (Penyulihan)

                        Substitusi merupakan salah satu kohesi gramatikal yang berupa penggantian unsur lingual tertentu (yang telah disebut) dengan unsur lingual yang lain. Substitusi dalam wacana digunakan untuk menambah variasi  bentuk, dinamisasi narasi, menghilangkan kemonotonan dan memperoleh unsur pembeda. Berikut substitusi yang ditemukan dalam khutbah jumat oleh Ustad Mulyono Muhtar.

(6)   …marilah kita selalu waspada menjaga diri kita masing-masing…

(7)   …suatu tes psikis, suatu ujian bagi keimanan…

(8)   Maka iman adalah fundamental, mendasar

(9)   Bagi seorang suami, bapak dalam rumah tangga

Memperhatikan data-data di atas tampak adanya substitusi atau penggantian unsur tertentu yang telah disebut dengan unsur lain. Pada data (6) kata waspada disubstitusi dengan umsur lingual menjaga diri. Data (7) kata tes disubstitusi dengan kata ujian, fundamental pada data (8) disubstitusi dengan unsur lain yaitu kata mendasar. Pada data (9) kata suami disubstitusikan dengan bapak dalam rumah tangga.

            c. Pelepasan (Elipsis)

 Elipsis atau pelepasan merupakan salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan unsur (konstituen) tertentu yang telah disebutkan. Unsur yang dilesapkan bisa berupa kata, frasa, klausa dan kalimat. Kohesi gramatikal jenis ini memiliki fungsi untuk kepentingan kepraktisan, efektivitas kalimat, ekonomi bahasa, mencapai kepaduan wacana dan bagi pembaca berfungsi untuk mengaktifkan pikiran terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan bahasa.

Kohesi gramatikal yang berupa elipsis atau pelepasan hanya ditemukan satu pada kajian ini, yaitu:

(9) Bagi seorang suami, bapak dalam rumah tangga, 0 mencari nafkah betul-betul hanya dikarenakan untuk kesejahteraan keluarga…

         Pada data (9) tersebut terdapat unsur yang dilesapkan, yaitu seorang suami, bapak dalam rumah tangga. Unsur 0 pada data tersebut memiliki referen yang sama dengan  seorang suami, bapak dalam rumah tangga.

            d. Konjungsi (Perangkaian)

            Konjungsi atau perangkaian merupakan salah satu kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain. Unsur-unsur yang dirangkaikan dapat berupa kata, frasa, klausa, kalimat, dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar dari itu, misalnya alinea dengan pemarkah lanjutan, dan topik pembicaraan dengan pemarkah alih topic atau pemarkah disjungtif.

            Kohesi gramatikal yang berupa konjungsi atau perangkaian dalam khutbah Jumat tampak pada data-data berikut:

(10)     Sholawat dan salam…

(11)     …untuk kita jauhi dan kita tinggalkan…

(12)     Dan perintah Alllah…

(13)     Namun sebagian sahabat nabi yang imannya belum  mantap merasa enggan dan segan…

(14)     …pemisah  atau pembeda…

(15)     Mudah-mudahan Allah memasukkan kita menjadi golongan orang-orang muhajirin.

Kojungsi dan pada data (10), (11), (12) menyatakan makna penambahan atau aditif yang berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada disebelah kirinya dengan klausa yang mengandung kata dan itu sendiri.

Pada data (13) terdapat konjungsi namun  yang menyatakan makna pertentangan, juga didapati kata dan yang menghungkan antara kata enggan dan segan.

Atau pada data (14) merupakan konjungsi yang menyatakan makna pilihan atau alternatif. Konjungsi yang menyatakan harapan dapat ditemui pada data (15) yang ditunjukkan adanya pemakaian kata-kata  mudah-mudahan yang memiliki arti semoga.

2. Analisis Leksikal

            a. Repetisi (Pengulangan)

                        Repetisisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Kohesi leksikal yang berupa repetisi dapat dilihat pada data-data  berikut:

(16)     waspada menjaga diri kita masing-masing…, waspada menjaga diri kita masing-masing…, waspada menjaga diri kita masing-masing dari…, waspada menjaga diri kita masing-masing dari segala…

(17)     Apa yang ada dalam pikiran kita, apa yang ada dalam hati kita, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita amalkan harus…

(18)     siapa yang menggaji gurunya, siapa lagi yang melengkapi sarana dan prasarananya…

(19)     Ada SD Diponegoro, ada SMP Diponegoro, ada SMA Diponegoro, ada rumah sakit Kustati.

(20)     Sebagaimana ihkwan-ihkwan kita di Irak, ihkwan-ihkwan kita di Afganistan, ihkwan-ihkwan kita di Palestina…

Repetisi atau pengulangan seperti pada data (16), (17), dan (18) diulang sebanyak empat kali kecuali data (18) hanya diulang dua kali, pengulangan masih dalam satu baris dan berturut-turut untuk menekankan pentingnya kata tersebut dalam konteks tuturan, sehingga repetisi ini dapat digolongkan dalam repetisi epizeuksis.

Repetisi epistrofa dapat ditemui pada data (19) dan (20) karena kata yang diulang berada pada baris pertama dan juga di tengah-tengah.

            b. Sinonimi (Padan Kata)

                        Sinonimi sebagai alat kohesi leksikal dalam sebuah wacana yang menunjukkan pemakaian lebih dari satu bentuk bahasa yang secara semantik memiliki kesamaan atau kemiripan. Dalam wacana khutbah Jumat, kohesi leksikal yang berupa sinonimi dapat dilihat pada data berikut:

(21)     …suatu tes psikis, suatu ujian bagi keimanan…

(22)     …merasa enggan dan segan mengikuti…

(23)     Maka iman adalah fundamental, mendasar

Kata tes dan ujian pada data (21) termasuk sinonimi karena memiliki makna yang sama, demikian juga dengan data (22) dan data (23) kata enggan dan segan memiliki kemiripan makna sama seperti fundamental dengan kata mendasar juga memiliki kemiripan makna.

            c. Antonimi (Lawan kata)

                        Antonimi menunjukkan kohesi leksikal yang terdapat pada dua unsur lingual atau  lebih yang memiliki makna berlawanan atau oposisi. Antonimi disebut juga oposisi makna. Berikut antonimi yang ditemukan dalam khutbah Jumat.

(24)     … meninggalkan perbuatan- perbuatan yang bathil dan kita menuju kepada hal-hal yang alhak, yang benar.

(25)     Jihad di sini jangan diartikan secara sempit adalah perang, jihad itu artinya luas

Antonimi yang ditunjukkan pada data (24) terdapat pada kata bathil dan alhak mengandung oposisi kutub karena tidak bersifat mutlak atau terdapat tingkatan makna pada kata-kata tersebut. Demikian juga pada data (25) kata sempit dan luas juga merupakan oposisi kutub atau bersifat tidak mutlak.

            d. Hiponimi (Hubungan atas bawah)

                        Hiponimi merupakan alat kohesi leksikal yang makna kata-katanya merupakan bagian dari makna kata yang  lain. Kata yang mencakupi beberapa kata yang  berhiponim disebut hipernim atau superordinat. Pemakaian hiponim dalam wacana khutbah Jumat oleh Ustad Mulyono Muhtar dapat dilihat pada data berikut.

 

(26)     lembaga-lembaga pendidikan di tengah-tengah sekeliling kita. Ada SD Diponegoro, ada SMP Diponegoro, ada SMA Diponegoro, ada rumah sakit Kustati.

Pada data (26) frasa lembaga-lembaga pendidikan yang merupakan hipernim memiliki sejumlah hiponim, yaitu SD, SMP, SMA.

 RETORIKA

 pola retorika pengajian biasanya terdiri atas tiga bagian, yaitu pendahuluan, body atau batang tubuh, dan simpulan atau penutup. Begitu pula dengan teks pengajian yang disampaikan oleh Ustadz Mulyono Muhtar. Pengajian tersebut merupakan pengajian dengan sarana warana monolog. Umumya retorika pengajain monolog terdiri atas pendahuluan, batang tubuh, dan simpulan atau penutup.

Pendahuluan bertujuan untuk menyampaikan salam guna mendapatkan perhatian dari pendengar serta untuk menyampaikan topik yang akan disampaikan di dalam pengajiannya. Hal yang demikian juga dapat disimak pada pengajian yang disampaikan oleh Ustadz Mulyono Muhtar, sebagai berikut.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, alhamdulillah-dst (Bahasa Arab).

Hadirin kaum muslimin sidang Jumat Rokhimatullah, tiada kata yang paling indah kecuai dengan alhamdulillahirobbil’alamin, bahwa Saudara sekalian pada siang hari ini diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu menjalankan ibadah wajib sholat Jumat. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan Rosulullah Saydina Muhammad SAW, kepada keluarga, kepada para sahabat, kepada mutabiin, dan mudah-mudahan kepada kita sekalian yang selalu mengikuti jejak Saydina Muhammad SAW.

Selanjutnya, marilah kita selalu waspada menjaga diri kita masing-masing. -Bahasa Arab- Waspada menjaga diri dari segala perintah-perintah Allah untuk selalu melaksanakan, waspada menjaga diri kita masing-masing dari segala larangan-larangan Allah untuk kita jauhi dan kita tinggalkan. Oleh karena dengan demikian, mudah-mudahan kita sekalian dimasukkan oleh Allah sebagai golongan orang-orang yang mutaqin, allahumma amin. Dan perintah Allah janganlah sekali-kali kita mati -Bahasa Arab- janganlah sekali-kali kita mati kecuali mati di dalam Islam, insyaallah.

Hadirin sidang Jumat Rokhimatullah, pada kesempatan khotbah pada siang hari ini materi yang akan disampaikan masalah inti ajaran yaitu hijrahnya Rosul.

 Batang tubuh atau body pengajian berisi proposisi-proposisi, ajakan-ajakan, penjelasan-penjelasan yang didukung kutipan-kutipan dan dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi serta contoh-contoh yang sejalan dengan proposisinya. Batang tubuh pengajaian Ustadz Mulyono Muhtar dideskripsikan sebagai berikut:

a.       Penjelasan  : Masalah inti ajaran agama yaitu hijrahnya Rosul Muhammad

  SAW.

b.      Alasan        : Hijrah sebagai suatu syarat bagi seorang mukmin atau bagi

  seorang muslim yang selalu menggahar nkmat-nikmat Allah.

c.       Kutipan      : Kutipan dengan menggunakan ayat Alquran, Surah Albaqoroh

  ayat 218.

d.      Penjelasan  : Kunci persyaratan agar kita mendapat rahmat dari Allah SWT,

  yaitu iman, hijrah, dan fisabilillah.

e.       Alasan        : Iman adalah fundamental, inti jihad adalah pemisah antara yang

hak dan yang bathil, fisabilillah adalah orang-orang yang mau 

sungguh-sungguh berjihad di jalan Allah SWT.

f.        Uraian        : Sebagai seorang muslim yang mengaku mukmin harus mampu

dan mau menghijrahkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan

menuju pada perbuatan-perbuatan yang islami serta apa yang kita

niatkan dan apa yang dika amalkan selalu berpedoman pada Allah

SWT dan Rosul-Nya.

g.       Penerapan  : Seorang muslim yang mau berjihad harus memiirkan lembaga-

  lembaga pendidikan di tengah-tengah sekeliling kita.

h.       Ajakan       : Mengajak untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan keji

  dan mengajak untuk berjihad di jalan Allah.

Bagian akhir sebuah wacana pengajian biasanya merupakan bagian simpulan yang berisi ringaksan isi pengajian diikuti dengan pesan-pesan yang perlu dilakukan oleh pendengar berkaitan dengan pengaiannya. Di samping itu, bagian akhir juga berisi imbauan kepada pendengar untuk selalu meningkatkan keimanan.

Sementara itu, bagian terakhir pengajian Ustadz Mulyono Muhtar tersebut terdiri atas permohonan maaf dan harapan agar dimasukkan menjadi orang mujahirin. Tahap akhir ini ditutup dengan melakukan doa bersama. Bagian akhir pengajian tersebut sebagai berikut.

Demikianlah tadi, topik khotbah kami pada siang hari ini. Mohon maaf, mengambil inti, hikmah, makna dari hijrah Rosul. Mudah-mudahan Allah memasukkan kita menjadi golongan orang-orang muhajirin. Amin ya robbal’alamin.

Doa (Bahasa Arab).

  KAMUS ISTILAH

A

Ahwat :sebutan untuk wanita muslim

Alquran            : kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia.

Alkitab             : Alquran.

Amal                : perbuatan baik yang mendatangkan pahala.

Aurat                : bagian badan yang tidak boleh kelihatan.

Ayat                 : beberapa kalimat yang merupakan kesatuan maksud sebagai bagian surah di kitab suci Alquran.

Azan                : seruan untuk mengajak orang melakukan salat.

B

Berkah             : karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia; berkat.

D

Dakwah           : penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama.

F

Fakir                : orang yang sangat berkekurangan; orang yang terlalu miskin.

Firman : sabda Allah

 

H

Hadas              : keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia tidak boleh salat, tawaf, dsb.

Hadis               : 1 sabda, perbuatan, takrir (ketetapan) Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan atau diceritakan oelh sahabat untuk menjelaskan dan menentukan hukum Islam; 2 sumber ajaran Islam yang kedua setelah Alquran.Hidayah            : petunjuk atau bimbingan dari Tuhan.

Hijrah               : perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dsb dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah.

Hikmah            : 1 kebijaksanaan (dari Allah); 2 arti atau makna yang dalam; manfaat.

I

Ibadah              : perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; ibadat.

Imam                : pemimpin salat (pada salat yang dilakukan bersama-sama seperti pada salat Jumat).

Iman                 : 1 kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dsb; 2 ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin.

Islam                : agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, berpedoman pada kitab suci Alquran yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.

J

Jemaah             : kumpulan atau rombongan orang beribadah.

Jibril                 : malaikan yang bertugas menyampaikan wahyu Tuhan.

Jihad                : 1 usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan; 2 usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga; 3 perang suci melawan orang kafir untuk mempertahankan agama Islam.

Jilbab               : kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala, leher sampai dada.

K

Karpet             : hamparan (tikar) penutup lantai yang dibuat dari bulu domba atau kain tebal; permadani; ambal.

Khotbah           : pidato (terutama yang menguraikan ajaran agama)

Kiblat               : arah ke Kakbah di Mekah (pada waktu salat).

Kitab                : 1 buku; 2 wahyu Tuhan yang dibukukan; kitab suci.

Kubah              : 1 lengkung (atap); 2 atap yang melengkung merupakan setengah bulatan (kupel).

M

Makmum          : orang yang dipimpin (dalam salat berjemaah) oleh imam; orang yang menjadi pengikut (dalam salat berjemaah); orang yang ikut salat di belakang imam.

Masbuk            : orang yang terlambat shalat berjamaah

Masjid              : rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam.

Menara            : bangunan yang tinggi (seperti di masjid, gereja); bagian bangunan yang dibuat jauh lebih tinggi daripada bangunan induknya.

Mimbar            : panggung kecil tempat berkhotbah (berpidato).

Mualaf: orang yang baru masuk Islam.

Muamalah        : hal-hal yang termasuk urusan kemasyarakatan (pergaulan, perdata, dsb).

Muazin : orang yang menyerukan azan; juru azan.

Mubalig            : orang yang menyiarkan (menyampaikan) ajaran agama Islam; juru dakwah.

Muhammad      : 1 nabi dan rosul terakhir yang diutus Allah SWT untuk seluruh umat manusia sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam; 2 surah ke-47 Alquran.

Mujahid            : orang yang berjuang demi membela agama (Islam).

Mujahidin         : para mujahid.

Mukena            : kain selubung berjahid (biasanya berwarna putih) untuk menutup aurat wanita Islam pada waktu salat.

Mukjizat : karunia yang diberikan kepada nabi

Mukmin            : orang yang beriman (percaya) kepada Allah.

Mukminat         : perempuan mukmin (orang perempuan yang percaya kepada Allah).

Mukminin         : para mukmin.

Munajat: doa

Muslim : penganut agama Islam.

Muslimat          : perempuan muslim.

Muslimin           : 1 para penganut agama Islam; 2 laki-laki muslim.

Musyrik            : 1 orang yang menyekutukan (menyerikatkan) Allah; 2 orang yang memuja berhala.

N

Nabi                 : orang yang menjadi pilihan Allah untuk menerima wahyu-Nya.

Najis                : kotor yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah, seperti terkena jilatan anjing.

Neraka             : alam akhirat tempat orang kafir dan orang durhaka mengalami siksaandan kesengsaraan.

P

Peci                  : penutup kepala terbuat dari kain dsb, berbentuk meruncing kedua ujungnya; kopiah.

Q

Qolbu               : hati

R

Rahimakallah    : (semoga) Allah menaruh belas kasih kepada engkau.

Rahimakumullah: (semoga) Allah memberikan belas kasih kepada kamu sekalian.

Rahmat : 1 belas kasih; kerahiman; 2 karunia (Allah); berkah (Allah).

Rahmatullah      : belas kasih Allah.

Rakaat             : bagian dari salat (satu kali berdiri, satu kali rukuk, dan dua kali sujud).

Rasul                : orang yang menerima wahyu Tuhan untuk disampaikan kepada manusia.

Rasuli               : bersifat kerasulan; berkenaan dengan rasul.

Rasulullah         : utusan Allah (Nabi Muhammad SAW).

S

Sabda              : kata; perkataan (bagi Tuhan, nabi, raja, dsb).

Sajadah            : alat yang digunakan untuk salat, berupa karpet dsb berukuran kecil, kurang 80 x 120 cm.

Salat                 : rukun Islam kedua, berupa ibadah kepada Allah SWT, wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf, dengan syarat, rukun, dan bacaan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Saleh                : 1 taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah; 2 suci dan beriman.

Sedekah           : pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai kemampuan pemberi; derma.

Selawat            : 1 permohonan kepada Tuhan; doa; berdoa memohn berkat Tuhan; 2 doa kepada Allah untuk Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Sembahyang     : 1 salat; air wudu; 2 permohonan doa kepada Tuhan.

Serambi            : beranda atau selasar yang agak panjang, bersambung dengan induk rumah (biasanya lebih rendah daripada induk rumah).

Saf                   : barisan sholat

Suci                  : 1 bersih (dalam arti keagamaan, seperti tidak kena najis, selesai mandi janabat); 2 bebas dari dosa, bebas dari cela,bebas dari noda,.

Bersuci: membersihkan diri (sebelum salat dsb).

Sunah               : 1 jalan yang biasa ditempuh; kebiasaan; 2 aturan agama yang didasarkan atas segala apa yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW, baik perbuatan, perkataan, sikap, maupun kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkannya; hadis; 3 perbuatan yang apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.

Surah               : bagian atau bab di Alquran (kitab suci Alquran mempunyai 114 surah).

Surga               : alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yang hendak tinggal di dalamnya (dalam keabadian).

Syirik               : penyekutuan Allah dengan yang lain, misal pengakuan kemampuan ilmu daripada kemampuan dan kekuatan Allah, pengabdian selain kepada Allah Taala dengan menyembah patung, tempat keramat, dan kuburan, dan kepercayaan terhadap keampuhan peninggalan nenek moyang yang diyakini akan menentukan dan mempengaruhi jalan kehidupan.

Syukur             : rasa terima kasih kepada Allah.

 

 

T

Takmir masjid : pengurus masjid

Takziah            : ziarah kubur

Takwa              : 1 terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; 2 keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; 3 kesalehan hidup.

 

W

Wajib               : 1 harus dilakukan; tidak boleh tidak dilaksanakan (ditinggalkan); 2 sudah semestinya; harus.

Wakaf              : benda bergerak atau tidak bergerak yang disediakan untuk kepentingan umum (Islam) sebagai pemberian yang ikhlas.

Wudu               : menyucikan diri (sebelum salat) dengan membasuh muka, tangan, kepala, dan kaki.

Z

Zakat               : 1 jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dsb) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak; 2 salah satu rukun Islam yang mengatur harta yang wajib dikeluarkan kepada mustahik.

 DAFTAR PUSTAKA

 Anas Yasin. Arah Kajian Bahasa: Kaitannya dengan Perkembangan Iptek dan Sosial-Budaya. http://www.geocities.com/anas_yasin/aw4.html. Diakses 24 Desember 2008.

Abdul Wahab. 1995. Isu Linguistik (Pengajaran Bahasa dan Sastra). Surabaya: Airlangga University Press

Bambang Kaswanti Purwo (Ed). 1993. PELLBA 6 (Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya: Keenam). Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya Jakarta.

Bambang Yudi Cahyono. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga university Press.

Budhi Setiawan. 2006. Analisis Wacana. Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Sumarlam, dkk. 2005. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra

Elsani. Pengertian Analisis Wacana. (http://209.85.173.132/search?q=cache:3YZT7UYjgy8J:elsani.wordpress.com/2007/09/25/analisiswacana/+pengertian+analisis+wacana&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id). Diakses 24 Desember 2008

Wacana bahasa Indonesia (http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kajian-wacana-bahasa-indonesia/). Diakses 24 Desember 2008.

 

Januari 5, 2009 - Posted by | Bahasa

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: