Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

Cerpen Saya….

MIMPI KITA TERTUNDA DISAPU PAGI

Sudut kampus itu sepi. Halaman kotor karena timbunan daun-daun yang gugur semalam tadi. Beberapa burung tampak asyik bertengger di kelopak daun-daun muda yang mulai tumbuh. Suasana masih lengang. Ku sengajakan datang pagi-pagi sekadar untuk melihat sekawanan pekerja yang mulai giat membersihkan dedaunan di halaman kampus. Ah, betapa bersemangatnya mereka. Bahkan seorang tua renta pun tak mau kalah dengan kaum muda. Begitu trengginasnya ia mengayunkan kumpulan lidi itu hingga dedaunan nyaris tak terlihat lagi.

Pagi yang lengang, batinku. Tak ku dapati siapa-siapa. Siang beranjak. Satu per satu orang datang. Ada yang berjalan kaki, tak sedikit pula yang menaiki sepeda motor. Aku termangu di balik tembok dekat parkir. Seorang wanita menghampiriku. Matanya sayu, parasnya seperti paras dewi dari timur tengah, semampai, namun satu hal yang tak ku suka darinya. Wajahnya sendu, matanya sembab, dan tak ku lihat sesungging senyum di wajahnya. Wanita itu tak lain adalah kawan sekelasku. Mayuti namanya. Wanita kelahiran tanah Sunda itu adalah kesekian wanita yang membuatku tergetar tatkala bercakap dengannya. Mayuti, aku kenal dia lima tahun yang lalu. Kami berkenalan sejak pertama kali memasuki kampus ini. Entah apa yang membuat kami akrab, padahal jelas sudah perbedaan kami. Aku terlahir dari keluarga Jawa Timur, hampir berbatasan dengan pulau Bali. Aku ingat sekali ketika pertama kali bertemu dengannya, aku tak paham apa yang ia katakan, begitu pula dengan ia. Tapi latar belakang tak pernah menyurutkan kami untuk berbagi, bahkan untuk sebuah mimpi.

Aku dan Mayuti punya satu idealisme yang sama-sama kuat., membahagiakan keluarga dan orang-orang tercinta Aku kagum pada satu sosok wanita sepertinya. Sejak menjadi mahasiswa, mayuti tak pernah absen ikut kegiatan kampus. Yang membuatku heran darinya adalah keseriusuannya dalam membagi waktu dengan kuliah. Aku yang tak lain adalah mahasiswa sejati yang selalu bergelut dengan buku-buku tebal pun heran kenapa wanita sepertinya bisa melakukan hal-hal demikian. Mayuti tak pernah tahu kalau sebenarnya ada perasaan berbeda yang ku taruh padanya. Aku selalu menantikan saat yang tepat untuk ungkapkan persaaan hatiku. Mayuti bukan wanita kebanyakan yang agresif dan pandai merubah penampilan sebagai kamuflase diri, namun hatinya amat sulit aku tebak.

Mayuti selalu bercertia padaku, tentang suasana kampung halamannya, yang saat ia tinggalkan, telah tergilas modernisasi dan kebiadaban zaman. Anak-anak tak lagi senang berjemur di bawah matahari dan berbasah dalam lumpur. Mereka duduk tenang di atas sofa sambil memegang benda-benda yang dialiri listrik. Mereka berteriak-teriak, kegirangan, lalu menghabiskan lelahnya di atas kasur, dan paginya mereka berangkat ke sekolah dengan mata terkatup karena semalaman begadang. Mayuti juga tak lagi menjupai kaum muda memikul cangkul ke sawah dan ladang. Mereka lebih suka duduk-duduk di atas jembatan sambil menuntun sepeda motor barunya. Tak ia dapati lagi mereka meminum jejamuan guna memulihkan tubuh, tapi yang ada adalah kumpulan botol beralkohol dan racun. Mayuti selalu bercerita tentang kekecewaan hatinya pada tanah kelahirannya. Ia benci dengan leluhur yang telah melahirkannya di daerah itu. Dari sikapnya aku tahu, Mayuti ingin berontak, ia ingin kalahkan semua orang di desanya demi sebuah kebaikan. Tapi, aku tahu, mayuti belum kuat. Banyak hal yang perlu ia pelajari.

”Ia duduk lemas di sampingku, matanya mencoba menyimpan kebohongan bahwa hatinya sedang berkecamuk dengan bimbang.

“Kenapa? Tanyaku pelan.

“Tak ada apa-apa. Kapan kau selesaikan skripsi? Bagaimana pembimbingmu? Ia berbalik tanya, namun aku tahu, kalimat itu terlontar hanya untuk menutupi air mukanya.

“Barangkali setengah tahun lagi, Yut! Aku masih menyelesaikan tawaran kerja dari teman. Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja bukan? Tanyaku serabutan

“Tak tahu, sepertinya tak sebaik nasibmu, kawan? Matanya menerawang ke mentari yang mulai menyembul dari tempat tidurnya.

“Kau berhenti di tengah jalan? Kau urungkan cita-citamu, Yut? Tanyaku menggebu

“Waktu menjawab lain. Aku telah berkeputusan lain, dan aku tahu apa yang terbaik untuk diriku. Untuk kehidupanku.”

Mayuti beringsut pergi. Tubuhnya hilang ditelan kabut pagi yang beranjak hilang karena sinar matahari. Kata-katanya tadi membuatku merinding. Bagaimana mungkin seorang mayuti, kawan seperjuanganku yang telah bersatu janji denganku, kini menyerah pada keadaan. Mayuti tentu tahu, kenapa aku selalu membelanya ketika dulu ia sering sekali gagal ikut ujian hanya karena jarang mengikuti kuliah. Aku tahu, mayuti seorang pekerja keras, proses belajar yang ia lakoni amat berbeda dengan orang cerdas kebanyakan.  Mayuti selalu belajar dari pengalaman. Tak jarang ia melanglang buana entah kemana.

Hampir satu bulan ini mayuti tak pernah ku temui lagi. ia memilih berdiam atau menjauh dariku. Nomor ponselnya tak pernah aktif. Aku kunjungi asramanya namun tak jua kutemui dirinya. Aku hampir saja kehilangan pegangan, satu orang pergi dari sisiku, biasanya aku selalu yakin kalau ia akan kembali, tapi tidak untuk mayuti. Hati kecilku berkata, ia tak akan kembali. Aku tepis perasaan itu berulang kali, namun yang terjadi justru sebaliknya. Mayuti hilang ditelan bumi. Alamat rumah yang pernah ia beri dulu pun tak sanggup menjawab keberadaanya. Berulang kali aku kirimi surat sekedar untuk mencari tahu bagaimana keadaanya, namun surat itu kembali lagi ke tangan.

Waktu terus beranjak, ujian skripsiku terlewat sudah. Rasanya lega sekali ketika semua sudah dipersiapkan matang oleh seorang yang amat mencintai diriku. Rima, wanita inilah yang selalu memberiku semangat. Ia tak henti-hentinya berjuang untuk menggapai hatiku. Tentu dapat dibayangkan betapa beruntungnya aku. Rima tak pernah marah ataupun lelah mendampingi aku yang berwatak keras. Sering aku maki dia, sering pula aku acuhkan dirinya ketika pikiranku diliputi kacau. Tapi Rima adalah wanita Jawa yang sabar, lembut, dan mau menerima apa adanya diriku. Ia juga berasal dari keluarga berkedudukan, orang tuanya selalu memberikan apa yang ia pinta, bahkan untuk seorang yang ia cintai. Aku sendiri heran ketika ia katakan bahwa ayahnya telah menyiapakan kedudukan untukku selepas aku wisuda nanti. Rima lah yang membangunkan aku dari mimpi-mimpiku. Dari harapan hampa dan lamunan kosong yang dulu selalu berdengung di dada. Juga tentang Mayuti, gadis ku yang hilang ditelan ruang dan waktu.

“Kenapa? Kau tampak kusut masau hari ini? Rima membangunkan aku dari lamunan

“Tidak, hanya teringat seseorang”, jawabku kacau

“Laki-laki atau perempuan?”, Rima mencoba menggoda

“Perempuan. Kau ingat Mayuti?” tanyaku datar

“Iya, wanita itu selalu menganggu pikiranmu, bukan? Nada bicaranya mulai sinis dan meninggi. Tak ku jawab pertanyaan terakhir Rima. Aku tak berani katakan bahwa diam-diam aku masih mencari Mayutiku. Bahwa diam-diam aku berencara mencari Mayuti sehabis wisuda nanti. Aku tahu itu akan menyakitkan sekali jika terdengar oleh Rima. Maka aku biarkan rencana ini tak diketahui siapapun, termasuk oleh orang tua Rima.

***

Kereta itu melaju menembus rerimbunan hutan tropis di daerah Jawa bagian barat. Jurang-jurang berdiri tegak. Ada kengerian tersendiri saat kereta melintasinya. Angin menyusup perlahan lewat celah-celah jendela. Aku raba suasana di luar sana, ada sedikit bintang, dan rembulan cekung bertengger di dekatnya. Aku jadi teringat Rima, wajah Rima mirip rembulan. Matanya cekung, putih wajahnya selalu memberikan kerinduan tersendiri bagi orang yang melihatnya. Khas gadis Jawa, rambutnya terurai sebahu. Sayang, Rima tak diajari berjilbab oleh keluarganya. Lain dengan Mayuti, tubuhnya tak pernah dipamerkan pada siapapun. Meski aku tahu, dibalik pakaian itu Mayuti menyimpan keindahan yang lebih dari wanita kebanyakan. Aku mencoba kembali mengingat-ingat tentang wajahnya yang putih terlindung kerudung hitam yang selalu ia kenakan jika bertemu denganku.

Kereta itu tiba di sebuah stasiun kecil. Hanya ada beberapa orang yang turun di situ. Kedatanganku disambut riuh oleh tukang ojek dan becak yang sedari tadi nampaknya menantikan penumpang. Aku tunjukkan alamat lengkap Mayuti, lengkap dengan fotonya.

“Tahu alamat ini, Pak? Saya dari Jogja, mau cari alamat teman kuliah saya dulu.”

iye teh awewekna nyak? Logat bahasa Sunda tukang ojek ini membuatku bingung.

“Pak maaf, saya tidak paham bahasa bapak”, timpalku rikuh

“Oh maaf, sayah terbiasah keceplosan kalau samah penumpang. Benar kamu mau ke tempat ini? Tanyanya heran

“Iya, pak. Saya sudah hampir setahun tidak bertemu kawan saya. Dulu kami sama-sama kuliah di Jogja. Bapak kenal dengan wanita ini, tidak?

“Tidak kenal, tapih kalau boleh sayah tahu, kamu ke sanah samah siapah? kalau sendirian mending tidak usah sajah. Soalnya tempatnyah sepih. Malam-malam beginih mending tidur sajah dulu di sinih samah sayah.

“Kenapa harus begitu, pak? Ini kan juga masih sore. Kalau boleh saya tahu, ada apa dengan daerah ini, pak? Sepi, atau banyak perampok?

“Ah sudah, tidak usah banyak tanya lah kamu. Besok pagih sajah saya anter, separuh harga gak papah”, lelaki itu kemudian berlalu dan kembali ke kursi panjang di pinggir stasiun.

Dingin pagi membuatku menggigil. Aku ambil handuk dan bergegas ke kamar mandi dekat stasiun. Kamar mandinya kecil tak terurus. Hanya ada satu buah ember dan gayung itu pun nampaknya sudah lama tak diganti. Aku harus membayar dua ribu rupiah untuk itu. Tukang ojek yang semalam berbincang denganku telah bangun, aku hampiri dia dan memintanya untuk mengantarkan ke alamat yang akan ku tuju.

Jalanan yang ditempuh cukup jauh, sawah-sawah masih tertutup basahan embun. Kabut pun masih betah menyelimuti ruangan. Aku dekatkan tubuhku pada tukang ojek itu. Lima kilometer dari stasiun ada sebuah daerah yang berbeda dengan daerah sebelumnya. Jantungku berdegup keras, inikah rumah Mayuti? Inikah daerah yang sering ia sebut-sebut daerah bencana?

Orang-orang sudah terbangun, sedikit dari mereka sudah ada yang beraktifitas. Berbeda sekali dengan yang diceritakan Mayuti. Orang muda sudah banyak yang memanggul cangkul ke ladang, anak-anak kecil sudah mulai bergegas ke sekolah. Berkebalikan sekali dengan cerita mayuti dulu padaku.

“Pak, saya mau tanya alamat ini, bapak tahu tidak? Mayuti ini teman kuliah saya, Pak!”, tanyaku pada seorang bapak tua yang ku temui di ujung jalan desa Mayuti.

“Oh, ya Mayuti? Kamu teman Mayuti? Kok Bapak tidak pernah melihat?”

”Iya, Pak! Saya teman kuliah dia waktu di Solo dulu. Sekarang dimana Mayuti, Pak?”

”Mayuti ada di rumah Bapak. Tengoklah dia!”

Aku segera bergegas mengikuti langkah bapak tua itu. Langkahku terhenti di sebuah rumah tua. Rerimbunan pohon mangga manalagi menutupi halaman itu. Aku segera masuk dan menyalami istri bapak tua itu. Tak banyak yang mereka katakan padaku.

”Kapan kau terakhir bertemu Mayuti, Nak?”, tanya bapak tua itu sembari menghisap pipa rokoknya.

”Sudah hampir satu setengah tahun, Pak!”

”Mayuti punya banyak teman, tapi semenjak keadaannya yang sekarang, tak ada lagi yang mau bergaul dengan dia.”

”Ada apa dengan Mayuti, Pak? Dan siapa bapak ini sebenarnya?”. Aku semakin terheran dengannya.

Tak sepatah katapun ia ucapkan padaku. Diseretnya aku ke sebuah kamar yang berada paling depan dari rumah itu. Sebuah kamar, tak terlalu besar, bercat putih agak kusam. Kupandangi isi di dalamnya. Ku sapu semua ruangan, dan kudapati seonggok tubuh terduduk di ujung kamar. Matanya menerawang jauh ke luar. Wajahnya putih pucat. Lamat-lamat ku amati dia. Mayuti. Benar! Wanita itu benar-benar Mayuti. Matanya yang bulat sayu tak pernah aku lupa.

”Mayuti telah hampir setengah tahun terpenjara di sini. Bapak tak mengerti kenapa orang-orang begitu kejam pada gadis baik seperti dia”. Bapak itu bercerita sambil mengusap air matanya yang menetes perlahan di kedua matanya.

”Mayuti tak tahan dengan perlakuan orang-orang yang tak suka dengannya. Ia lelah menghadapi kenyataan hidup yang tak sesuai dengan impiannya.”, tambahnya.

”Mayuti salah apa, Pak? Apa yang ia lakukan sampai semua jadi seperti ini?”

Aku hampir tak kuasa menahan tangisku.

”Mayuti banyak berjuang untuk desa ini. Mayuti tahu apa yang diharapkan oleh desa yang hampir mati ini!”

Bapak itu terus bercerita sambil sesekali menyeka air matanya. Mayuti benar-benar telah melakukan apa yang ia cita-citakan. Bahkan lebih dari yang aku bayangkan. Mayuti telah berhasil membuat pemuda sadar sebagai manusia. Mayuti banyak melakukan perubahan di desa. Ia dirikan taman bacaan, ia adakan perkumpulan kegiatan untuk para pemuda.

Kebaikan memang sulit untuk diperjuangkan. Mayuti dianggap menghasut pemuda untuk memboikot pemimpin desa yang tak suka dengan perubahan. Mayuti sering difitnah, sering diancam. Bahkan, ayah Mayuti yang sudah berpenyakit paru-paru sejak lama pun akhirnya tak kuat menahan terpaan anacaman dan cerca dari masyarakat. Ayah Mayuti meninggal dan disusul ibunya yang juga tak kuat menahan kepergian suaminya dua bulan kemudian.

Aku benar-benar tak mempercayai kenyataan yang menimpa Mayuti, seseorang yang telah lama bersemayam di hatiku. Mayuti yang ku kenal gigih sekarang hanya meratapi hidupnya yang kosong. Bapak tua itulah yang masih mau mengurus Mayuti dan memperbolehkannya tinggal di rumahya. Bapak tua itu tahu, Mayuti hanya seorang gadis polos tapi berpendidikan, yang berusaha mengembalikan desanya seperti sedia kala, meskipun dengan tentangan dari berbagai pihak.

Hampir satu bulan aku sengaja tinggal di rumah bapak tua. Untuk apa? Aku berharap Mayuti sadar bahwa aku telah datang untukya. Tapi kenyataan lain. Mayuti tak jua sadar. Ia tak lagi mau makan. Badannya kian kurus. Hingga akhirnya, ia tak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya. Mayuti menghadap ilahi.

Aku pun pulang dengan membawa mimpiku yang aku titipkan untuk Mayuti. Aku memang tak bisa memiliki Mayuti, tapi aku bangga bisa menyaksikan saat-saat terakhir hidupnya. Mimpi Mayuti benar-benar terwujud. Orang-orang desanya telah ia buat sadar, meski dengan taruhan nyawa Mayuti sendiri. Kepulanganku dari rumah Mayuti benar-benar membuatku sadar, betapa cinta itu memang benar adanya. Aku telah merelakan kepergiannya. Sekarang tibalah aku melanjutkan hidupku, bersama Rima, seseorang yang tentu telah menantiku sekian lama.

Rupanya takdir juga berkata lain terhadapku. Rima telah menikah dengan seseorang yang ia pilih. Rima tak tahan dengan segala perlakuanku yang selalu mengacuhkan dirinya. Ia menikah denga persetujuan orang tua. Aku tak bisa menyalahkan atau mencaci Rima karena akulah yang pertama kali memulai. Aku tak pernah mencintai dia seperti aku mencintai Mayuti. Aku selalu membadingkan Rima dengan Mayuti.

Kutatap pagi yang berkabut hari ini. Ada yang lain. Mimpiku telah hilang disapu pagi. Semalam aku bermimpi apa sebenarnya?

*******

Solo, 18 Mei 2009

April 12, 2010 Posted by | Bahasa | Tinggalkan sebuah Komentar

jurnal Skripsi Penelitian Tindakan Kelas

PENGGUNAAN MEDIA IKLAN LAYANAN MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MENULIS PERSUASI PADA SISWA KELAS X-1 SMA NEGERI I MOJOLABAN

(Penelitian Tindakan Kelas)[1]

Oleh:

Ari Setyaningsih            Drs. Swandono,  M. Hum.        M. Rohmadi, S. S., M. Hum.

ABSTRACT

The approach of this research is a classroom action research. The subject of the research is the students of SMA N I Mojolaban class X-1. The aims of the research are; (1) to improve the quality of teaching process of writing persuasion by using media public service advertising of class X-1 of SMA N I Mojolaban, (2) to improve the quality of students’ writing persuasion by using media public service advertisement of the class X-1 of SMA N I Mojolaban. The technique of collecting data is conducted through the observation, writing test, questionare, interview, and document analysis. Each cycle consist of four steps; (1) planning the action, (2) the action, (3) the observation and interpretation, (4) the analysis and reflection. The improvement of quality of result study is going on the process and the students’ writing persuasion. The percentage of the completion of the study is increasing from one cycle to the next cycle, that’s, 55 % I cycle 1, 97 % in cycle 2, and 100 % in cycle 3.

Keyword: media, public service advertising, writing, persuasion.

Pendahuluan

Selama ini pembelajaran menulis di sekolah belum mendapat tempat yang cukup. Pembelajaran menulis di sekolah hanya mendapat porsi waktu yang sedikit dibandingkan dengan pembelajaran kebahasaan lainnya. Selain itu, guru hanya berorientasi untuk melihat hasil tulisan siswa tanpa membelajarkan proses menulis pada siswa. Akhirnya, tujuan pembelajaran menulis hanya mengarah pada pencapaian kemampuan menulis siswa. Dengan kata lain, siswa hanya dituntut untuk cerdas secara intelektual. Hal inilah yang menjadikan menulis sebagai suatu beban (Ari Kusmiatun, 2005).

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Achmad Alfianto (2006) bahwa kegiatan belajar-mengajar belum sepenuhnya menekankan pada kemampuan berbahasa namun lebih pada penguasaan materi. Hal ini terlihat dari porsi materi yang tercantum dalam buku paket lebih banyak diberikan dan diutamakan oleh para guru Bahasa Indonesia, sedangkan pelatihan berbahasa yang sifatnya lisan ataupun praktik hanya memiliki porsi yang jauh lebih sedikit.

Menurut Bobbi De Porter (dalam Didik Komaidi, 2007: 29) menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Jadi, tulisan yang baik memanfaatkan kedua belahan otak tersebut. Dorongan untuk menulis sama dengan dorongan untuk berbicara. Hal ini dimaksudkan agar pikiran dan pengalaman kita dapat dikomunikasikan dan diketahui oleh orang lain. Menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan dalam lambang-lambang bentuk bahasa (M. Atar Semi, 1990: 8).

Pembelajaran menulis ini tidak lepas dari peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, dilaporkan bahwa guru merupakan faktor determinan penyebab rendahnya mutu pendidikan di suatu sekolah. Penelitian yang dilakukan International Association for the Evaluation of Education Achievement (2006) menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara tingkat penguasaan guru terhadap bahan yang diajarkan dengan pencapaian prestasi para siswanya. Penguasaan meteri tersebut sebenarnya dapat ditunjang oleh beberapa faktor sehingga tingkat penguasaan materi meningkat.

Berdasarkan kenyataan di lapangan, kemampuan menulis, terutama tulisan jenis persuasi siswa kelas X-1 SMA N 1 Mojolaban masih rendah. Dari hasil pengamatan, keaktifan siswa dalam pembelajaran menulis hanya mencapai 12 % (5 orang, dari 38 siswa yang hadir). Hal ini terjadi karena siswa tidak mempunyai kegairahan menulis dan guru lebih menekankan pada teori tentang menulis dengan metode ceramah. Nilai ketuntasan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia (65) yang ditetapkan sekolah hanya dicapai oleh 8 siswa dan nilai rata-rata kelas hanya mencapai 57,18 dari keseluruhan siswa yang hadir (38).

Untuk mengatasi masalah pembelajaran menulis persuasi, salah satu media yang dapat digunakan adalah media layanan masyarakat atau yang dikenal dengan Public Service Advertising. Iklan ini biasanya dikeluarkan oleh instansi, badan, atau departemen, misalnya iklan budaya membaca oleh Departemen Pendidikan Nasional dan iklan bahaya merokok oleh Departemen Kesehatan. Bentuk iklan layanan masyarakat dapat berupa poster, drama, film, musik, maupun kalimat yang mengarahkan pemirsa atau khalayak kepada sasaran agar berbuat atau bertindak seperti dianjurkan iklan tersebut.

Melalui penggunaan media iklan layanan masyarakat siswa akan menemukan poin-poin penting karena dalam iklan tersirat permasalahan, upaya penanggulangan, beserta pernyataan yang bersifat mempengaruhi pembaca/pemirsanya. Dari iklan ini siswa juga dapat menangkap pesan-pesan moral yang bersifat mendidik serta relevan dengan kondisi di sekitar siswa. Hal ini akan memberi dampak yang baik bagi kepekaan siswa terhadap masalah yang sedang terjadi di sekitar mereka.

Bertolak dari latar belakang masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis persuasi pada siswa kelas X.1 SMA N 1 Mojolaban, 2) meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis persuasi pada siswa kelas kelas X.1 SMA N 1 Mojolaban.

Kajian Literatur

Nurudin (2007: 4) mengemukakan bahwa menulis adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami. Menurut Bobbi De Porter (dalam Didik Komaidi, 2007: 29) menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika).

Menurut Hanim (2006) disebutkan bahwa menulis adalah sebuah proses yang dapat dikembangkan kemampuan dalam berpikir dinamis, kemampuan analitis, dan kemampuan membedakan berbagai hal secara akurat dan valid. Menulis bukan hanya sebuah cara untuk mendemonstrasikan hal yang telah diketahui, lebih dari itu menulis adalah cara untuk memahami hal yang telah diketahui tersebut. Selanjutnya, disebutkan pula bahwa menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh proses belajar yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Menulis memerlukan keterampilan karena diperlukan latihan-latihan yang berkelanjutan.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan gagasan, ide, atau pikiran ke dalam tulisan. Melalui tulisan tersebut segala pesan ataupun maksud dari penulis akan dapat dipahami oleh pembaca.

Persuasi adalah suatu bentuk wacana yang menyimpang dari argumentasi dan khusus berusaha mempengaruhi orang lain (para pembaca atau pendengar) agar melakukan sesuatu bagi orang yang mengadakan persuasi (Gorys Keraf, 1995: 14). Dalam buku lain, Gorys Keraf mengartikan persuasi sebagai suatu seni verbal yang bertujuan meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang (Gorys Keraf, 2000: 18).

Nurudin (2007: 82) menyatakan bahwa melalui persuasi, seseorang penulis mencoba mengubah pandangan pembaca tentang sebuah permasalahan tertentu. Penulis mempersembahkan fakta dan opini yang bisa didapatkan pembacanya untuk mengerti, menggapai sesuatu itu adalah benar, salah, atau di antara keduanya. Tajuk rencana, iklan berbentuk advetorial, surat pembaca dalam surat kabar dan majalah, dan naskah pembicaraan politik adalah contoh tulisan persuasif.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa persuasi  hampir sama dengan argumentasi. Persuasi merupakan jenis wacana yang bersifat mempengaruhi dan meyakinkan pembacanya dengan cara memberikan data dan alasan yang logis.

Media adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pebelajar untuk menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dengan pengertian itu, guru atau dosen, buku ajar, dan lingkungan adalah media. Setiap media merupakan sarana untuk menuju ke suatu tujuan. Di dalamnya terkandung informasi yang dapat dikomunikasikan kepada orang lain (Sri Anitah, 2008: 11)

Arif S. Sadiman, dkk.(2007: 7) juga memberi batasan mengenai media. Menurutnya, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat, serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu baik benda maupun lingkungan yang dapat digunakan oleh guru sebagai pengajar untuk menyampaikan pesan berupa bahan ajar atau meteri yang akan disampaikan pada siswa.

Bermacam-macam media dapat digunakan sebagai sarana penunjang pembelajaran. Menurut Sri Anitah (2008: 12), secara umum ada tiga klarifikasi media pembelajaran, antara lain sebagai berikut.

1.  Media visual, yang terdiri dari:

a.  media visual yang tidak diproyeksikan, antara lain: gambar diam, karikatur, poster, bagan, grafik, peta, bagan, papan, dan diagram;

b. media visual yang diproyeksikan, antara lain: OHP, film bingkai (slide), filmstrip (film rangkai), dan opaque projektor.

2.  Media audio, antara lain: program wicara, wawancara, diskusi, buletin   berita, drama audio, dan lain-lain.

3.  Media audio visual, antara lain: televisi, video, film, slide suara.

Beberapa penggolongan media pembelajaran di atas sekiranya hampir sama. Masing-masing pakar menyederhanakan jenis media pembelajaran menjadi; 1) media visual (ditangkap dengan indera penglihatan); 2) media audio (ditangkap dengan indera pendengar); dan 3) media audio visual (ditangkap dengan indera pendengar dan penglihat).

Media pembelajaran tentunya memiliki manfaat bagi proses pembelajaran. Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001: 153), secara khusus media pembelajaran digunakan dengan tujuan: 1) memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut karakteristik bahan, 2) memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk belajar, 3) menumbuhkan sikap dan keterampilan tertentu dalam teknologi karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu.

Curzon (dalam Abdelraheem dan Al-Rabane, 2005: 2) menjelaskan bahwa media pembelajran di kelas dapat memperlebar saluran komunikasi antara guru dengan murid. Media menumbuhkan kemampuan tertentu dalam pembelajaran dan mempertinggi kecakapan intelektual dan kecakapan gerak. Penggunaan media memungkinkan guru untuk menghadirkan banyak fenomena fisik dan isu-isu dengan mudah, serta menarik siswa untuk fokus dalam memperhatikan karakter objek yang disajikan.

Dengan demikian, dapat diambil simpulan bahwa kegunaan dan manfaat media pembelajaran adalah membantu guru dalam mengajarkan pesan atau materi ajar dengan mudah kepada peserta didik sehingga dapat memahami dan menguasai pesan-pesan tersebut dengan tepat dan akurat. Selain itu, media juga bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti penjelasan dari guru.

Menurut Thomas Wibowo Agung Sutjiono (2005) secara operasional ada sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat, antara lain sebagai berikut.

1. Acces, yaitu pertimbangan kemudahan dan ketersediaan media yang diperlukan.

2.  Cost, yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk menyediakan media.

3. Technology, yaitu kemudahan dan ketersediaan teknisi yang mengoperasikannya.

4. Interactivity, yaitu media yang memunculkan komunikasi dua arah/ interaktivitas.

5. Organization, yaitu daya dukung atau sarana dari pihak kantor/institusi yang bersangkutan.

6. Novelty, yaitu kebaruan dari media yang dipilih. Media yang lebih baru akan lebih baik dan menarik bagi murid.

Pembelajaran merupakan situasi yang memungkinkan terjadinya kegiatan belajar dan terjadi interaksi antara siswa dengan guru (Gino, dkk., 1998: 30). Discroll (dalam Siemens, 2005: 4) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu perubahan yang permanen dalam potensi tingkah laku yang berasal dari hasil pengalaman pebelajar dan interaksi dengan dunia. Batasan tersebut memberikan pengertian bahwa pembelajaran tidak terbatas di dalam ruang saja tetapi juga dapat diselenggarakan di luar kelas bahkan luar sekolah.

Dari pengertian tersebut dapat diambil simpulan bahwa pembelajaran merupakan satu kesatuan integral yang terjadi dalam kelas antara guru dengan siswa. Hal ini berarti, pembelajaran memerlukan komunikasi. Komunikasi tersebut dapat terjadi di dalam kelas maupun luar kelas.

Rhenald Kasali (1995: 201) menyatakan bahwa iklan layanan masyarakat (ILM) merupakan iklan yang tidak semata-mata mencari keuntungan. Dalam iklan tersebut disajikan pesan-pesan sosial yang dimaksudkan untuk membangkitkan kepedulian amsyarakat terhadap sejumlah masalah yang harus mereka hadapi, yakni kondisi yang bisa mengancam keserasian dan kehidupan umum.

Senada dengan pengertian tersebut, Moore (2007: 255) iklan layanan masyarakat merupakan iklan yang dikeluarkan oleh bidang Humas dari sebuah organisasi atau institusi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan publik eksternal dan internal. Periklanan semacam ini dapat mempromisikan ketertiban lalu lintas, hubungan antarras yang lebih baik, kesempatan kerja yang sama, program ekologi, pencegahan kebakaran hutan, kesegaran jasmani, dan tujuan-tujuan lain untuk kebaikan masyarakat.

Sejumlah masalah yang sangat merisaukan dan dapat disampaikan lewat iklan layanan masyarakat, antara lain masalah kebakaran hutan dan penebangan hutan secara liar, kesadaran yang masih rendah di kalangan produsen untuk memasang peralatan untuk mencegah bahaya polusi, kriminalitas, mutu lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi serta minat menjadi tenaga pengajar, penyalahgunaan narkotika, korupsi, penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, pentingnya bahasa Inggris dalam pergaulan internasional, produk-produk yang tidak bermutu dan membahayakan umum, perkelahian antarpelajar, dan lain sebagainya (Rhenald Kasali, 1995: 206).

Dengan melihat permasalahan yang dapat diiklankan melalui iklan layanan masyarakat, dapat diketahui bahwa iklan layanan masyarakat berusaha mempengaruhi masyarakat agar mau melihat keadaan sekitarnya, bahwa masih banyak ketimpangan-ketimpangan sosial yang harus dibenahi demi keteraturan dan keseimbangan lingkungan. Ada tiga hal pokok yang dapat dilihat dengan munculnya iklan layanan masyarakat, antara lain: (1) menggugah kesadaran pemirsa untuk berbuat sesuatu, (2) isi pesannya bersifat umum, (3) isi pesannya menggunakan kata imbauan atau anjuran.

Berkaitan dengan media pembelajaran, iklan layanan masyarakat dapat digunakan sebagai media pembelajaran menulis, khususnya menulis persuasi yang bersifat mengajak dan mempengaruhi pembaca atau pemirsa. Hal ini sejalan dengan sifat iklan yang berusaha mempengaruhi dan membujuk pembaca atau pemirsanya. Oleh karena itu, iklan layanan masyarakat tepat digunakan sebagai media pembelajaran menulis persuasi. Apabila dibandingkan dengan iklan jenis lain, iklan layanan masyarakat mempunyai lebih banyak kelebihan. Iklan layanan masyarakat mempunyai tema-tema yang menarik dan dapat dijadikan kerangka oleh siswa ke dalam sebuah tulisan persuasi. Tema tersebut kemudian dapat dikaitkan dengan fenomana/masalah yang ada di sekitar siswa.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 1 Mojolaban. Sekolah ini beralamat di Jalan Batara Surya No. 10, Wirun, Mojolaban, Sukoharjo. Tahap persiapan sampai pada tahap pelaporan hasil penelitian dilaksanakan selama 5 bulan, yakni mulai bulan Desember 2008 sampai dengan April 2009.

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-1 SMA N 1 Mojolaban tahun ajaran 2008/2009. Adapun jumlah siswa di kelas ini adalah 38 siswa dan objek penelitian berupa pembelajaran menulis persuasi di kelas X-1.

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Prinsip utama dalam PTK adalah adanya pemberian tindakan yang diaplikasikan dalam siklus-siklus yang berkelanjutan. Siklus yang berkelanjutan tersebut digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis. Dalam siklus tersebut penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planning) (Suharsimi Arikunto, dkk., 2007: 104). Tahap berikutnya adalah pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Keempat aspek tersebut berjalan secara dinamis. PTK merupakan penelitian yang bersiklus. Artinya, penelitian ini dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.

Penelitian ini menggunakan tiga sumber, yaitu: 1) tempat dan peristiwa, yaitu proses pembelajaran menulis persuasi yang terjadi di kelas X-1 Mojolaban, 2) informan, meliputi siswa kelas X.1 dan guru Bahasa Indonesia yang mengajar di kelas tersebut, 3) dokumen, meliputi: iklan layanan masyarakat, nilai siswa, foto-foto pembelajaran, catatan lapangan hasil observasi selama proses pembelajaran, hasil belajar siswa berupa tulisan persuasi, dan catatan lapangan hasil wawancara yang telah ditranskrip.

Teknik pengumpulan data adalah dengan teknik: 1) observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan proses pembelajaran menulis persuasi untuk melihat perkembangan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan, 2) wawancara, yaitu dilakukan terhadap guru mata pelajaran Bahasa Indonesia serta siswa kelas X.1 SMA N 1 Mojolaban, 3) tes, yaitu dengan memberikan tugas kepada siswa untuk menulis persuasi sebelum dan sesudah tindakan penggunaan media iklan layanan masyarakat guna mengetahui perbedaan dan perkembangan atau keberhasilan pelaksanaan tindakan, 4) angket, yaitu dengan cara meminta informan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian yang digunakan, 5) analisis dokumen, yaitu dengan menganalisis dokumen yang telah didapatkan dari hasil observasi.

Untuk menguji kevaliditasan data maka digunakan teknik triangulasi data, yang meliputi: 1) triangulasi metode, yaitu teknik untuk menguji kebenaran dengan membandingkan data yang diperoleh dari hasil observasi dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara, 2) triangulasi sumber data, yaitu teknik yang digunakan untuk menguji kebenaran dengan mengacu kebenaran data yang diperoleh dari satu informan dengan informan lain. Pada penelitian ini peneliti menggunakan sumber data dokumen yang berupa foto pembelajaran dan catatan lapangan, 3) triangulasi teori, yaitu teknik yang digunakan dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas masalah yang dikaji.

Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif yang ditempuh dengan cara: 1) pengumpulan data, yaitu mengumpulkan semua data dari penelitian, 2) reduksi data, yaitu proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi pengelompokan dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna, 3) paparan data, yaitu suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam paparan naratif, grafik, atau bentuk lainnya, 4) penyimpulan, yaitu pengambilan intisari dari sajian data yang telah diorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat, dan bermakna (Milles dan Huberman dalam H. B. Sutopo, 2002: 96).

Dalam pelaksanaan PTK ini, mekanisme kerjanya diwujudkan dalam bentuk siklus (3 siklus), yang setiap siklusnya tercakup 4 kegiatan, yaltu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus, yang setiap siklusnya selalu dilakukan perbaikan untuk menyempurnakan tindakan selanjutnya.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dari tindakan yang telah dilakukan dalam tiga siklus, ditemukan adanya peningkatan kualitas hasil maupun kualitas proses pembelajaran. Secara rinci diuraikan dalam paparan berikut.

1. Siklus I

Pada siklus I iklan layanan masyarakat berupa poster yang bertema ”Larangan Merokok. Pada pertemuan pertama siswa menyusun karangan persuasi berdasarkan tema iklan layanan masyarakat tersebut. Pertemuan kedua pada siklus I, guru memfokuskan pada kegiatan menyunting tulisan yang telah dibuat siswa. Setelah mengawali pelajaran dengan penguatan materi menulis persuasi, siswa menyunting hasil tulisan teman sebangkunya. Guru juga menentukan aspek-aspek penyuntingan yang harus dijadikan menyunting bagi siswa. Selanjutnya, siswa merevisi dengan menuliskan kembali tulisan yang telah disunting teman sebangkunya.

Secara lebih rinci, observasi yang telah dilakukan mendapatkan beberapa hal sebagai berikut

  1. Siswa yang aktif selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung sebesar 63 %. Hal ini dilihat dari aktifitas siswa dalam memperhatikan apersepsi dan penjelasan guru, mengamati iklan layanan masyarakat dengan saksama, aktif dalam diskusi, dan aktif mengembangkan kerangka karangan ke dalam tulisan persuasi. Penghitungan tersebut berpedoman pada lembar observasi yang telah disusun terhadap jumlah siswa yang tampak aktif selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, yaitu sebanyak 22 siswa. Siswa yang kurang aktif umumnya berada di bagian belakang dan dekat tembok. Mereka tampak kurang memerhatikan dan bercanda dengan teman sebangku.  Hal ini disebabkan guru terlalu sering berada di depan kelas sehingga siswa bagian belakang merasa kurang diperhatikan (lihat lampiran 10, halaman 130).
  2. Siswa yang mampu mengembangkan ide ke dalam tulisan persuasi mencapai 19 % (7 siswa). Hal ini diamati dari hasil tulisan persuasi siswa. Tulisan yang ide dikembangkan dengan dengan baik dilihat dari segi substansi yang cukup, sesuai dengan tema yang diiklankan, menarik, dan mempu mempengaruhi pembaca.
  3. Berdasarkan tugas individu menulis persuasi dapat diidentifikasi bahwa 55 % (20 siswa) mendapat nilai di atas batas ketuntasan yang ditentukan (65). Berdasarkan hasil observasi, penggunaan media iklan layanan masyarakat dengan poster kurang menarik karena poster tersebut kurang baik dari segi cetakannya dan beberapa tulisan tidak tertera dengan jelas. Selain itu, poster tidak dapat bergerak sehingga terkesan monoton untuk dilihat.
  4. Berdasarkan nilai rata-rata kelas, dibandingkan dengan rata-rata pada saat pretes, terjadi peningkatan sebesar 5,1 poin dari 57, 18 menjadi 62, 28. Hal ini juga terjadi karena pada saat pretes, masih ada  beberapa siswa yang belum mampu menulis persuasi dengan benar. Sebagian besar masih menulis argumentasi dan eksposisi. Pada siklus I hampir semua siswa sudah mampu menemukan karakteristik tulisan persuasi meskipun ada yang masih belum tuntas dalam mengolah ide. Adapun nilai tertinggi pada siklus I adalah 86, sedangkan nilai terendah adalah 49.

2. Siklus II

Pada siklus II, guru menampilkan iklan layanan masyarakat dalam bentuk video dengan tema ”Helm Standar”. Hal ini disebabkan pada siklus I, media poster bersifat monoton jika dilihat. Dalam video terdapat gambar dan suara sehingga siswa tidak bosan mengamatinya. Seusai memutarkan iklan dalam layar proyektor LCD, guru memberikan sedikit ulasan dan memberi umpan balik dengan menggali pengalaman siswa yang berkaitan dengan helm standar dalam kehidupan sehari-hari. Siswa lebih banyak yang memberikan respon terhadap umpan yang dilontarkan guru. Untuk menyegarkan suasana, guru kembali memutarkan iklan tersebut dan meminta siswa mempersuasikan ilustrasi iklan tersebut dalam sebuah paragraf.

Secara lebih rinci, observasi yang telah dilakukan mendapatkan beberapa hal berikut ini.

  1. Keaktifan siswa selama pembelajaran menulis persuasi mencapai  70 %. Hal ini diindikasikan oleh hal-hal yang disebutkan di atas. Penghitungan dilakukan dengan lembar observasi yang telah disusun terhadap jumlah siswa yang tampak aktif selama pembelajaran berlangsung, yaitu sebanyak 27 siswa.
  2. Kemampuan siswa dalam mengembangkan ide ke dalam tulisan persuasi mencapai 94 %. Hal ini diamati dari hasil pekerjaan siswa berupa tulisan persuasi dan dihitung dari jumlah siswa yang mampu mengembangkan ide tulisan dengan baik, yaitu sebanyak 36 siswa.
  3. Ketuntasan hasil belajar menulis persuasi mencapai 97 %. Hal ini terlihat dari hasil kerja siswa berupa tulisan persuasi dan dihitung dari jumlah siswa  yang memperoleh nilai 65 ke atas, yaitu sebanyak 35 siswa. Nilai tertinggi siswa, yaitu 93 dan nilai terendah 64. Dalam siklus ini, peningkatan nilai rata-rata kelas terjadi sebesar 16,4 poin, yaitu dari 62,28 menjadi 78,68.

Beberapa kelemahan yang terlihat oleh guru dalam pelaksanaan tindakan siklus II, antara lain guru masih kurang dapat mengondisikan siswa. Pada saat penayangan video guru tidak menepati waktu yang ditentukan. Saat siswa sudah berada di kelas, guru masih mempersiapkan LCD. Guru juga belum mengondisikan siswa untuk tertib di tempat duduk masing-masing.

Dari segi hasil tulisan, siswa sudah mulai  mencantumkan judul karangan dan semua tulisan sudah mengacu pada permasalahan yang diangkat dalam iklan layanan masyarakat. Selain itu, kesalahan penggunaan ejaan dan konjungsi dalam kalimat sudah mulai berkurang. Adapun respon siswa terhadap tindakan pada siklus II adalah siswa menyukai media yang digunakan guru. Berdasarkan wawancara tidak berstruktur dengan siswa seusai pembelajaran, mereka mengatakan bahwa visualisasi video menarik karena terdapat gambar dan suara di dalamnya. Tema yang dipilih juga menarik karena dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini membuat mereka menjadi bergairah untuk menulis.

Berdasarkan analisis di atas, peneliti dapat menarik beberapa pernyataan sebagai refleksi untuk tindakan berikutnya. Refleksi tersebut, antara lain sebagai berikut.

  1. Pelaksanaan pembelajaran menulis persuasi memerlukan media iklan dengan tema yang dekat dengan dunia siswa. Dengan adanya tema tersebut siswa mudah tergali pengalamannya sehingga hasil tulisan lebih berisi.
  2. Guru hendaknya tetap mempertahankan teknik pengelolaan kelasnya, yaitu dengan memberikan seluruh perhatian pada siswa. Pemberian motivasi dari guru terbukti telah dapat meningkatkan kegairahan siswa dalam menulis. Hal ini dapat diamati dari lembar obsevasi yang telah disusun.
  3. Penekanan materi mengenai penggunaan ejaan dan tata tulis yang diberikan pada siklus II meminimalkan kesalahan tulisan siswa. Kemampuan siswa dalam menempatkan tanda baca terbukti lebih baik dengan adanya bimbingan guru selama menulis dan menyuting.

3. Siklus III

Pada tindakan siklus III, guru menampilkan iklan layanan masyarakat dalam bentuk video dengan tema ’’Membaca’’. Tema ini juga dipilih karena amat dekat dengan dunia siswa. di layar proyektor LCD, guru dan siswa mengulas dan mendiskusikan iklan yang telah ditampilkan. Guru kemudian memberikan sedikit informasi tambahan mengenai tema yang diangkat dalam iklan. Kegiatan berikutnya, yaitu  siswa menyusun kerangka karangan dan mengembangkannya dalam tulisan persuasi.

Pada siklus III guru lebih banyak memberikan motivasi dan semangat pada siswa agar bergairah dalam menulis. Hasil pekerjaan siswa pada siklus II dijadikan pedoman agar kesalahan tidak terjadi lagi pada paragraf yang dibuat pada siklus III ini. Karena alokasi waktu pelajaran akan segera habis, guru meminta siswa untuk membaca dan mengecek kembali tulisan yang telah disusun, terutama dari segi ejaan, judul, tanda baca, dan konjungsi.

Secara lebih rinci, observasi yang dilakukan peneliti menghasilkan beberapa hal berikut ini.

  1. Keaktifan siswa selama pembelajaran menulis persuasi mencapai 80 %. Hal ini ditandai oleh hal-hal yang telah disebutkan di atas. Penghitungan dilakukan dengan lembar observasi yang telah disusun terhadap jumlah siswa yang tampak aktif selama pembelajaran berlangsung, yaitu sebanyak 29 siswa. Siswa yang tampak pasif lebih berkurang dari siklus sebelumnya. Hal ini disebabkan guru telah mampu mengondisikan kelas dan memposisikan diri dengan baik. Guru lebih fleksibel dan sering berkeliling untuk membimbing siswa dalam proses menulis.
  2. Kemampuan siswa dalam mengembangkan ide ke dalam tulisan persuasi mencapai 97 %. Hal ini diamati dari hasil kerja siswa berupa tulisan persuasi dan dihitung dari jumlah siswa yang mampu menulis persuasi dengan benar, yaitu sebanyak 35 siswa.
  3. Ketuntasan hasil belajar menulis persuasi mencapai 100%. Hal ini terlihat dari hasil kerja siswa  berupa tulisan persuasi dan dihitung dari jumlah siswa yang mencapai nilai 65 ke atas.

Dilihat dari segi tulisan persuasi siswa, tindakan pada siklus III ini dapat dikatakan berhasil. Hal ini terbukti dengan tuntasnya semua siswa dalam menulis persuasi. Dilihat dari segi hasil pembelajaran, semua siswa dapat mencapai batas ketuntasan minimal, hal ini terlihat dari skor tulisan mereka yang mencapai skor 65 ke atas. Keberhasilan juga dapat dilihat dari tercapainya beberapa indikator yang telah ditetapkan. Seluruh siswa sudah mampu mencapai batas ketuntasan belajar. Oleh karena itu, penelitian dipandang cukup untuk dilaksanakan.

Dari ketiga siklus tindakan yang telah dilakukan tersebut, penggunaan media iklan layanan masyarakat dapat menghasilkan hal-hal berikut.

1. Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran Menulis Persuasi

Tindakan berupa penggunaan media iklan layanan masyarakat yang dilakukan tiap siklus dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis persuasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001: 153) bahwa media pembelajaran bertujuan: (1) memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut karakteristik bahan, (2) memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk belajar, dan (3) menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan peserta didik.

2. Peningkatan Kemampuan Guru dalam Mengelola Kelas

Dengan adanya media iklan layanan masyarakat terbukti guru dapat mengelola kelas dengan baik dibandingkan saat survei awal. Hal ini sependapat dengan Arif S. Sadiman, dkk. (2007: 17) yang menyatakan bahwa media pembelajaran mempunyai manfaat; memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka), mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, menimbulkan kegairahan belajar, memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan, dan memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya. Selain itu, media juga dapat memberikan perangsang yang sama, mempersamakan pengalaman dan  menimbulkan persepsi yang sama.

3. Peningkatan Kualitas Hasil Pembelajaran Menulis Persuasi

Setelah diadakan tindakan selama 3 siklus, ditemukan bahwa tulisan siswa mengalami meningkatan dari segi karakteristik tulisan, substansi, struktur kalimat, dan ejaan. Dari segi karakteristik, tulisan siswa sudah mengarah pada jenis persuasi. Dari segi substansi, tulisan siswa sudah sesuai dengan tema yang terdapat dalam iklan layanan masyarakat. Dari segi struktur kalimat, siswa sudah mampu menempatkan konjungsi pada tempatnya. Dari segi ejaan, siswa sudah tidak banyak melakukan kesalahan dalam hal penempatan tanda baca dan huruf kapital.

Dengan melihat kalimat/slogan maupun visualisasi gambar yang tertera pada iklan, siswa mampu mengumpulkan data untuk dijadikan bahan tulisan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sabarti Akhadiah, dkk. (1994: 7) bahwa topik yang menarik akan meningkatkan kegairahan dalam mengembangkan tulisan. Dengan pemilihan tema iklan yang menarik dan dikenal, siswa menjadi bergairah dalam mengembangkannya dalam paragraf persuasi.

Media iklan layanan masyarakat yang berupa poster dan video membantu siswa dalam menyusun alur kerangka berpikir. Poster mengandung unsur gambar dan kalimat yang mengarahkan siswa pada masalah yang diiklankan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sri Anitah (2008: 18) bahwa poster berfungsi sebagai penggerak perhatian. Dengan gambar yang singkat dan tulisan yang sederhana, isi poster sudah dapat dimengerti maksudnya. Selain itu, poster juga menimbulkan daya tarik jika berwarna, menimbulkan daya tarik dengan maksud menjangkau perhatian, dan mengubungkan pesan-pesannya dengan cepat.

Sementara itu, iklan dalam bentuk video dapat menghasilkan efek suara dan gambar yang bergerak. Hal ini amat membantu siswa dalam mengimajinasikan pesan yang terdapat dalam video sekaligus membuktikan pendapat Arif S. Sadiman, dkk. (2007: 74) bahwa video dapat menarik perhatian untuk periode-periode yang singkat dari rangsangan luar lainnya. Selain itu, demonstrasi yang sulit bisa dipersiapkan dan direkam sebelumnya sehingga pada waktu mengajar guru bisa memusatkan perhatian pada penyajiannya.

Peningkatan kualitas hasil pembelajaran menulis persuasi dapat dilihat dari nilai hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Pembelajaran menulis persuasi dengan menggunakan media iklan layanan masyarakat dapat meningkatkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai ketuntasan belajar siswa yang telah ditentukan guru. Pada siklus I persentase ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 55 % ( 20 siswa dari 36 siswa). Peningkatan tersebut terus meningkat pada siklus berikutnya. Peningkatan secara signifikan terjadi pada siklus II, yaitu sebesar 97 % (37 siswa dari 38 siswa) mampu mencapai batas ketuntasan belajar. Pada siklus III 100 % (semua siswa yang hadir) mampu mencapai ketuntasan belajar (nilai di atas 65). Pernyataan secara rinci dapat dilihat dari persentase peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis persuasi berikut ini.

Tabel 1. Persentase Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Pembelajaran Menulis Persuasi

No. Aktivitas Siswa Persentase
Siklus I Siklus II Siklus III
1. Keaktifan siswa selama proses pembelajaran 63 % 70 % 80 %
2. Kemampuan siswa dalam mengembangkan ide tulisan persuasi 19 % 94 % 97 %
3. Ketuntasan hasil belajar siswa 55 % 97 % 100 %

Berdasarkan data rekapitulasi di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pada indikator yang ditetapkan dari hasil pelaksanaan tindakan siklus I, Siklus II, dan siklus III. Peningkatan yang signifikan terjadi pada indikator ke dua, yaitu dari segi pengembangan ide ke dalam tulisan persuasi. Peningkatan yang tajam mencapai 75 poin pada siklus I ke siklus II. Peningkatan tersebut disebabkan siswa sangat akrab dengan tema iklan yang dipilih guru.

Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan hal-hal berikut ini.

1. Penggunaan media iklan layanan masyarakat dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis persuasi pada siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Mojolaban. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan proses pembelajaran sebagai berikut: (a) jumlah siswa yang aktif dalam kegiatan apersepsi terus mengalami peningkatan dari siklus ke siklus, yaitu 53 % pada siklus I, 65 % pada siklus II, dan 77 % pada siklus III (b) jumlah siswa yang aktif memperhatikan penjelasan materi dari guru mengalami peningkatan, yaitu 66 % pada siklus I, 69 % pada siklus II, dan 83 % pada siklus III; (c) jumlah siswa yang aktif memperhatikan iklan layanan masyarakat mengalami peningkatan, yaitu 83 % pada siklus I, 91 % pada siklus II, dan 97 % pada siklus III; (d) jumlah siswa yang aktif dalam diskusi meningkat, yaitu 28 % pada siklus I, 33 % pada siklus II, dan 41 % pada siklus III; (e) jumlah siswa yang aktif membuat kerangka paragraf dan mengembangkan paragraf persuasi meningkat, yaitu 83 % pada siklus I, 94 % pada siklus II, dan 100 % pada siklus III.

2.   Penggunaan media iklan layanan masyarakat dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis persuasi pada siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Mojolaban. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata kelas yang semakin meningkat dari siklus ke siklus. Pada survei awal nilai rata-rata kelas mencapai 57, 18; siklus I mencapai 62,28; siklus II mencapai 78, 68; siklus III mencapai 79,22. Keefektifan media iklan layanan masyarakat juga terbukti dengan fakta bahwa pada siklus ke III semua siswa dapat mencapai nilai ketuntasan hasil belajar (65). Pada siklus I ketuntasan belajar siswa mencapai 55 %; siklus II sebesar 97 %; dan siklus III sebesar 100 %.

Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi penelitian di atas, peneliti mengajukan saran berikut ini.

a. Kepala Sekolah hendaknya: 1) mendukung segala kegiatan guru dan siswa yang sifatnya inovatif sehingga siswa dan guru mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, 2) hendaknya memberi kesempatan bagi guru untuk melakukan penelitian dan mengikutsertakan guru dalam forum-forum ilmiah, seperti seminar pendidikan, diklat, workshop, dan sebagainya, 3) menyusun manajemen fasilitas di sekolah dengan rapi dan tertib sehingga fasilitas sekolah dapat dimanfaatkan oleh semua warga sekolah terutama guru.

b. Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia hendaknya: 1) dapat menggunakan media iklan layanan masyarakat di kelas dengan lebih terampil dan inovatif, (2) memilih tema iklan layanan masyarakat yang dekat dengan dunia siswa agar siswa lebih antusias dalam menulis persuasi.

c. Siswa hendaknya: 1) lebih banyak membaca bacaan dan memperluas pengetahuan, baik dari sekolah, rumah, maupun media massa, 2) aktif dalam belajar menggali ide tulisan melalui berbagai sumber, salah satu di antaranya adalah iklan layanan masyarakat yang banyak beredar di masyarakat.

d.   Bagi peneliti yang ingin memanfaatkan media iklan layanan masyarakat dalam pembelajaran menulis persuasi dapat bekerja sama dan berkolaborasi dengan guru yang mengalami permasalahan dalam pembelajaran tersebut. Selain itu, peneliti lain juga dapat memodifikasi media iklan layanan masyarakat dengan metode atau teknik lain untuk mengatasi masalah pembelajaran yang berbeda dan pada objek yang berbeda.

Daftar Rujukan

Abdelraheem, Ahmed Yousif dan Ahmed Hamed Al-Rabane. 2005. “Utilisation and Benefits of Instructional Media in Teaching Social Studies Perceived by Omani Students”. Malaysian Online Journal of Instructional Technology dalam http://pppjj.usm.my/mojit/articles/pdf/april05/08-Ahmed-final.pdf.  Diakses pada tanggal 29 Mei 2009 pukul 15. 20WIB.

Achmad Alfianto. 2006. Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah, Metamorfosis Ulat menjadi Kepompong dalam http://re-earchengines.com/0106achmad. html-17k. Diakses pada tanggal 30 April 2009 pukul 15.43 WIB.

Ari Kusmiatun. 2005. “Harmoni Kecerdasan Intelektual, Emosional, dan Spiritual dalam Pembelajaran Menulis” dalam Pangesti Wiedarwati (Editor). Menuju Budaya Menulis (Suatu Bunga Rampai). Yogyakarta: Tiara Wacana.

Arief S. Sadiman, R. Rahardjito, Anung haryono, dan Rahardjito. 2007. Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Didik Komaidi. 2007. Aku Bisa Menulis: Panduan Praktis Menulis Kreatif Lengkap. Yogyakarta: Sabda.

Gino, H. J., dkk. 1998. Belajar Pembelajaran I. Surakarta: FKIP UNS.

Gorys Keraf. 1995. Eksposisi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

__________. 2000. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Hanim. Communication is the Most Important Skill in Life dalam http://h4nim.Blogsome.com/2006/ 01-600k. Diakses pada tanggal 28 Mei 2008 pukul 19.15 WIB.

Moore, H. Frazier. 2007. Humas (Membangun Citra dengan Komunikasi). Bandung: Rosda.

Mulyani Sumantri dan H. Johar Permana. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Maulana.

Nurudin. 2007. Dasar-Dasar Penulisan. Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang.

Rhenald Kasali. 1995. Manajemen Periklanan (Konsep dan Aplikasinya di Indonesia). Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsyad, dan Sakura H. Ridwan. 1994. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Airlangga.

Siemens, George. 2005. Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age. International Journal Of Instructional Technology and Distace Learning dalam http://itdl.org/journal/Ja_05/Jan_05.pdf. Diakses pada tanggal 27 Mei 29 pukul 11.30 WIB.

Sri Anitah. 2008. “Modul Media Pembelajaran”. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 3.

Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Sutopo, H. B. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.

Suwarna, dkk. 2006. Pengajaran Mikro. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Thomas Wibowo Agung Sutjiono. 2005. “Pendayagunaan Media Pembelajaran”. Jurnal Pendidikan Penabur- No.04/ Th.IV/ Juli 2005 tersedia dalam

http: //www.bpkpenabur.or.id/. Diakses 26 Mei 2009 pukul 09.30 WIB.


[1] Hasil Penelitian Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2009.

April 12, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Sekaten, Solo bangetttttt!!!

Laporan Observasi Upacara Sekaten di Surakarta

 

Pengamat                     : Ari Setyaningsih

NIM                            : K 1205007

Informan                       : Muhammad Alif (Kepala TU Masjid Agung Surakarta)

Tempat Observasi        : Masjid Agung Surakarta dan sekitarnya

Hari/tanggal                  : Kamis/ 13 Maret 2008

Pukul                            : 13.30- 15.30

 

Sejarah Perayaan Sekaten dan Tabuh Gamelan Sekaten

Upacara Sekaten merupakan upacara yang diadakan dalam rangka memperingati maulud lahir Nabi Muhammad SAW yang terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun1 Gajah atau tepatnya pada tanggal 13 sampai dengan 20 Maret 2008. Dilihat dari asal katanya, Sekaten berasal dari kata “Shahadat Taen” yang kemudian diucapkan dengan kata sekaten oleh masyarakat Jawa. Upacara ini diselenggarakan di tiga kota sekaligus, masing-masing di kota Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon.

Upacara Sekaten dibuka secara simbolis dengan dibunyikannya Gamelan Sekaten. Gamelan ini diberi nama Kiai Guntur Madu yang diletakkan di bangsal selatan dan Kiai Guntur Sari yang diletakkan di bangsal utara. Gamelan dibunyikan tepat pada pukul 14.00 WIB setelah mendapat perintah dari pihak Keraton Surakarta, demikian halnya dengan gamelan di Jogjakarta dan Cirebon. Gamelan dibunyikan dalam waktu yang bersamaan.

Gamelan dimainkan oleh 13 orang abdi dalem keraton Surakarta dengan lagu wajib sekaligus lagu pembuka yang berjudul “Rambu Rangkung”. Rambu berarti “Rabbuna” artinya Allah yang Aku sembah, “Rangkung” berasal dari bahasa Arab “Raukhun” artinya jiwa yang agung. Gamelan boleh berbunyi hanya pada jam-jam tertentu. Pagi hari pukul 09.00-12.00, berhenti sebentar karena waktu salat Duhur. Siang hari pukul 14.00-15.00 berhenti karena salat asar. Sore hari pada pukul 16.30-17.30 diberi jeda untuk salat magrib, dan malam hari pada pukul 20.00-23.00. Gamelan kembali dibunyikan pada pukul 09.00 di pagi berikutnya. Khusus untuk malam jumat gamelan tidak boleh dibunyikan, hal ini dimaksudkan untuk menghormati umat yang menunaikan Jumatan pada hari jumat. Pembunyian gamelan dilakukan secara bergilir dari gamelan sebelah utara menuju ke bagian selatan dan begitu juga seterusnya. Yang menarik sebelum pembunyian gamelan adalah iriing-iringan gunungan yang diarak dari keraton melewati alun-alun keraton Surakarta. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat sekitar yang percaya bahwa makanan yang ada dalam gunungan akan dapat memberikan keberuntungan.

Tradisi Sekaten sebenarnya merupakan terobosan yang dilakukan oleh para wali pada masa kerajaan Demak, yang merupakan kerajaan islam di pulau jawa. Para wali menggunakan gamelan sebagai sarana untuk menarik masyarakat yang pada umumnya mempunyai banyak aliran atau kepercayaan (animisme dan dinamisme). Ayat-ayat suci dimodifikasikan dengan irama-irama gamelan sehingga menarik perhatian masyarakat. Gamelan itu diletakkan di depan Masjid Agung, dengan maksud agar masyarakat mau memasuki masjid agung. Barang siapa yang ingin melihat gamelan itu dibunyikan maka mereka harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan demikian secara sah mereka masuk ke dalam agama islam dan berkewajiban mengikuti syariat yang diajarkan para wali.

Upacara sekaten mempunyai ciri khas sendiri karena pada saat perayaan berlangsung selama satu minggu, halaman masjid agung dan alun-alun keraton utara surakarta dibanjiri oleh para pedagang. Para pedagang tersebut pada umumnya berjualan berbagai jenis makanan dan barang-barang yang menjadi kebutuhan masyarakat sekitar. Khusus di halaman masjid agung hanya diperbolehkan beberapa jenis barang dan makanan yang menurut mitos masyarakat dapat dijadikan sarana untuk ngalap berkah atau mencari peruntungan. Penjual yang boleh masuk di halaman masjid adalah penjual kinang, telor asin / endhog amal, pecut, gangsingan, cambuk rambak, dan wedang ronde. Masyarakat meyakini dengan mengkonsumsi barang-barang tersebut, maka akan didapat sebuah keberuntungan, awet muda, dan naik pangkat. Hal ini bertentangan dengan ajaran agama islam yang mempunyai keyakinan hanya ada satu Tuhan yang dapat memberikan kemurahan bagi setiap pemeluknya

Menurut para wali terdahulu, barang-barang tersebut dijadikan kiasan. Kinang yang terdiri dari lima macam bahan, yaitu daun sirih, tembakau, buah pinang, kapur, dan buah gambir yang menyimbolkan rukun islam yang bejumlah lima, yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji. Telor asin atau endhog amal mengkiaskan harapan kaum ulama agar manusia harus banyak beramal dalam hidupnya. Gangsing mengkiaskan manusia tidak akan mungkin hidup selamanya, pada waktunya nanti setiap manusia akan mati seperti halnya gangsing yang berputar juga akan berhenti. Pecut mengkiaskan alat pengendali hawa nafsu manusia untuk menjadi manusia yang mencapai hidup sempurna maka ia harus menghindari hawa nafsu yang buruk.

 

Refleksi

Upacara Sekaten merupakan upacara tradisi keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon yang dilaksanakan satu tahun sekali dalam rangka memperingati hari lahir nabi Muhammad SAW. Upacara sekaten di Surakarta banyak dikaitkan dengan mitos jawa kuno yang masih berbau mistis. Padahal sekaten dalam arti yang sebenarnya adalah suatu cara yang ditempuh para wali terdahulu agar masyarakat mau masuk menjadi agama Islam. Pengaitan upacara Sekaten ini terutama pada setiap benda-benda yang sering ada dalam sekaten. Benda-benda tersebut dianggap mempunyai kekuatan gaib yang mampu memberikan keberuntungan bagi kehidupan. Hal ini bertentangan dengan ajaran agama islam namun sampai sekarang masih banyak dipercaya oleh masyarakat terutama pada yang sudah tua.

Pada dasarnya, Sekaten hanya berupa perayaan hari lahir nabi Muhammad SAW, bukan suatu ritual secara besar-besaran sebagai simbol kemenangan atau perayaan atas kelahiran junjungan nabi umat Islam. Hal-hal yang berbau mistis/mitos maka itu hanya sebuah kepercayaan yang keliru dan tidak tepat jika ditiru karena bertentangan dengan ajaran agama Islam.

 

 

 

April 12, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Bali, ada apakah??

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) MAHASISWA BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH SEMESTER V

Hari/tanggal                  : Minggu-Kamis/28-1 November 2007

Tempat             : Pulau Bali

Objek kunjungan          : Objek studi dan objek wisata

1. Pendahuluan

A. Latar Belakang

Tingkat kemajuan suatu bangsa bergantung pada kualitas pendidikan bangsa tersebut. Peran dunia pendidikan sangat berperan dalam perkembangan suatu bangsa untuk menciptakan kehidupan yang modern, damai, serta untuk menciptakan suasana yang kondusif.  Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan zaman, dunia pendidikan pun mulai menyejajarkan dirinya agar dapat berjalan seiring dengan bergolaknya arus globalisasi yang menuntut bangsa untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa tersebut.

Usaha peningkatan pendidikan ini dilakukan secara menyeluruh dari berbagai aspek, mulai dari perubahan kurikulum, hingga sistem atau metode pengajaran yang meliputi seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Peningkatan ini dilakukan secara universal, bertahap, berkelanjutan, dan fleksibel. Pemerintah perlu melakukan pembaharuan penataan sistem pendidikan yang ada untuk mendapatkan mutu pendidikan yang berkualitas.

Berangkat dari fenomena pendidikan di atas, FKIP UNS menyelenggarakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). KKL merupakan salah satu mata kuliah umum semester V. Kuliah ini diadakan sebagai usaha untuk mengatasi permasalahan di bidang pendidikan, khususnya permasalahan yang akan dihadapi para calon guru, yaitu untuk mengetahui perkembangan dan tangtangan yang ada di dunia kerja yang sesungguhnya. Melalui mata kuliah ini mahasiswa dipersiapkan praktik di lingkungan yang nyata, terlepas dari teori-teori yang diberikan dosen di kelas.

KKL yang dilaksanakan tersebut dimaksudkan agar mahasiswa mempunyai wawasan tentang realita dari sedemikian banyak teori yang didapat di bangku kuliah sehingga nantinya mahasiswa tersebut akan cakap dalam menerapkan teori yang telah ia dapatkan selama mengikuti perkuliahan.

Berdasarkan fungsi dan tujuan mata kuliah ini maka mahasiswa program Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah angkatan 2005 mengadakan KKL dengan tujuan Pulau Bali. Objek yang dikunjungi dalam KKL ini adalah objek kunjungan studi dan objek kunjungan wisata. Khusus untuk objek kunjungan studi, kami mengambil Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dalam rangka studi banding, perpustakaan UPTD Gedong Kirtya Singaraja, dan Balai Bahasa Denpasar.

B. Tujuan

Kuliah Kerja Lapangan yang dilaksanakan oleh mahasiswa program Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah FKIP UNS mempunyai beberapa tujuan, antara lain:

  1. Mengetahui berbagai koleksi yang terdapat di perpustakaan UOTD Gedong Kirtya Singaraja
  2. Mengetahui sistem perkuliahan yang diadakan di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)
  3. Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan dan perkembangan bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa daerah, khususnya Bahasa Bali yang dikelola oleh Balai Bahasa Denpasar
  4. Mengetahui berbagai hal yang berkaitan dengan peradaban budaya Pulau Bali perkembangan  serta eksistensinya di dunia pariwisata di Indonesia.

2.  Deskripsi kegiatan

Pemberangkatan rombongan dimulai pada pukul 13.30 WIB, berangkat dari gedung E FKIP UNS dengan didampingi oleh dua orang dosen pembimbing. Rombongan berjumlah 34 orang dengan menggunakan 1 buah bus. Selama di Bali, rombingan menginap di Penginapan Made, Denpasar.

a) Kunjungan Hari Pertama

a. Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA)

Rombongan sampai di tujuan sekitar pukul 11.00 WITA. Kunjungan disambut oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMP) Pendidikan Bahasa Indonesia Undiksha dilanjutkan dengan diskusi yang membahas tentang Sistem kurikulum sekolah oleh perwakilan mahasiswa bahasa Indonesia Undiksha dan UNS. Selain itu, rombongan KKL kami juga mempersembahkan tarian Gambyong, tarian asli dari Jawa Tengah. Acara kemudian dilanjutkan dengan studi banding antara Undiksha dengan UNS khususnya pada jurusan bahasa Indonesia. Kegiatan inti yang dilakukan oleh mahasiswa adalah pembedahan makalah tentang cara memotivasi mahasiswa dalam meraih sukses dengan bahasa, saling melontarkan pendapat, serta bertukar informasi.

Undiksa merupakan satu-satunya Universitas Pendidikan berstatus Negeri di Bali, tepatnya di kota Singaraja. Undiksha yang dahulu bernama IKIP Negeri Singaraja ini mempunyai beberapa fakultas ilmu pendidikan yang tersebar di dua daerah di kota Singaraja, yaitu:

  1. Fakultas Bahasa dan Seni (FBS)
  2. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA),
  3. Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
  4. Fakultas Ilmu Pendidikan (IP), Fakultas Teknologi Pendidikan
  5. Fakultas  Pendidikan Keolahragaan (POK).

Jadi, selain memiliki fakultas keguruan, Undiksha juga memiliki Fakultas non-keguruan/murni.

Objek studi yang kami kunjungi adalah Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Fakultas ini sama halnya dengan jurusan PBS di UNS dan merupakan fakultas tertua di Undiksha. Di Undiksha sendiri terdapat empat jurusan, yaitu Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Bali, dan Pendidikan Seni Rupa. Selain itu, fakultas juga mempunyai program D3 Bahasa Indonesia, D3 Bahasa Inggris, D3 Bahasa Bali, dan Seni rupa murni.

Sama halnya dengan FKIP UNS, Undiksha juga mempunyai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berfungsi untuk mengembangkan minat dan bakat serta pusat kegiatan di luar bidang akademik di Undiksha. Undiksha sendiri sering mengikuti kejuaraan-kejuaraan baik di tingkat provinsi maupun nasional. Pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional Undiksha memenangi beberapa kejuaraan, di antaranya meraih medali emas melalui lomba penulisan cerpen (Jurusan Bahasa Inggris), dan medali perak  lomba melalui lomba penulisan drama pendek (Jurusan Bahasa Indonesia). Selain itu, Undiksha juga menghasilkan banyak penulis baik sastra maupun non-sastra. Hal ini didukung oleh adanya mata kuliah jurnalistik yang menunjang mahasiswa untuk melatih keterampilan menulis. Undiksha mempunyai sarana pendukung/penunjang perkuliahan, diantaranya perpustakaan yang terletak di kampus tengah Universitas Udayana khususnya untuk Fakultas Bahasa Seni.

Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di Undiksha juga mempunyai Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) seperti halnya HIMPROPSI di UNS. HMJ ini digunakan sebagai sarana pendukung kegiatan mahasiswa jurusan bahasa Indonesia dari berbagai angkatan. Bidang kegiatan HMJ ini antara lain adalah pembuatan mading yang diserahkan pada setiap angkatan jurusan bahasa Indonesia.

b. Gedung Kirtya

Tidak jauh dari Undiksha terdapat museum Kirtya. Museum ini dirikan pada tahun 1928 dan diperuntukkan bagi semua pihak khususnya para pelajar dan masyarakat umum.  Museum ini dahulu adalah milik Karon, presiden Belanda, yang kemudian dikelola oleh pemerintah kabupaten Singaraja. Di museum ini dapat kita temui koleksi buku-buku serta naskah sastra Bali kuno yang masih ditulis dalam daun lontar. Naskah ini dahulu ditulis dengan menggunakan penggubrak/pengupil, yaitu semacam pisau kecil yang dilapisi kemiri dan fungsinya sama halnya dengan pensil. Naskah-naskah tersebut disimpan di lorong tersendiri dalam sebuah kotak kayu dan pisahkan menurut tahun dan jenis karya sastranya. Sebagian kotak naskah tersebut kini masih terdapat di Belanda.

Gedung Kirtya ini merupakan museum manuscript, yaitu naskah-naskah yang bertuliskan tangan khusus untuk sastra Bali. Di museum ini bisa ditemui berbagai macam jenis tulisan Bali yang hampir sama jenisnya dengan tulisan Jawa. Huruf Bali ituberjumlah 18 buah, sedangkan huruf Jawa berjumlah 20 buah (ha, na, ca, ra ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga). Huruf bali hanya berjumlah 18 buah karena huruf dha dan ta digabungkan menjadi satu huruf. Naskah yang ada dalam museum ini, antara lain serat Mahabarata V, serat Ramayana yang ditulis oleh Guming, dan serat Baratayuda yang ditulis oleh Karon.

Selain menyimpan naskah-naskah sastra kuno Bali, museum Kirtya juga menyimpan foto kuno dan patung Ken Dedes yang disumbangkan oleh mahasiswa seni rupa Universitas Denpasar. Museum Kirtya juga menyimpan buku-buku kuno dari tahun 1930- sekarang yang diperbolehkan untuk dibaca atau dikopi oleh pengunjung. Museum Kirtya saat ini dikelola oleh I Gusti Bagus Sudiasta.

c. Bedugul

Menempuh perjalanan dengan kendaraan bus sambil menikmati pegunungan, jurang, dan tebing merupakan suguhan tersendiri yang diberikan oleh Pulau Bali dalam perjalanan menuju Bedugul. Danau dengan panorama yang indah ditambah dengan udara yang sejuk ini membawa kenikmatan tersendiri bagi pengunjung. Hanya dengan menaiki Speed Boat seharga 15 ribu, pengujung dapat menikmati kesejukan danau bedugul sekaligus melihat vila yang dikelilingi oleh berbagai macam tumbuhan tropis dan pegunungan di sekelilingnya.

d. Sangeh

Orang mengatakan, jika pergi ke Bali janganlah lupa menengok saudara tuamu. Sangeh, sebuah desa keramat di Bali yang mempunyai ribuan kera dan ribuan pohon pala. Tak sembarang orang bisa masuk ke tempat ini. Wanita yang sedang mengalami haid atau datang bulan tak boleh masuk ke tempat ini. Konon, sang penunggu atau leluhur amat menyukai hal-hal yang suci dan bersih. Satu hal menarik sekaligus aneh yang bisa ditemukan di tempat ini adalah adanya pohon lanang dan pohon wadon. Mengapa bisa dinamakan demikian? Pohon ini memang sangat aneh. Bentuknya menyerupai tubuh laki-laki dan tubuh perempuan. Kedua pohon ini menyatu dan saling membelakangi satu sama lain. Masyarakat mempercayai pohon ini sebagai pohon keramat.

b. Kunjungan Hari ke-2

a. Balai Bahasa Denpasar

Perjalanan menuju ke Balai Bahasa Denpasar menempuh waktu sekitar setengah jam dari penginapan. Di sana rombongan disambut langsung oleh Kepala Balai Bahasa Denpasar dilanjutkan dengan diskusi mengenai profil dan peran serta balai bahasa di Bali. Balai Bahasa Denpasar merupakan 4 dari pusat bahasa tertua di Indonesia. Kantor ini dibangun bersamaan dengan pusat bahasa di Jakarta. Pusat Bahasa merupakan lembaga pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Akan tetapi, saat ini pusat bahasa menjadi lembaga pembinaan dan pengembangan bahasa secara umum tidak terkhusus pada bahasa Indonesia saja.

Pusat Bahasa mempunyai dua bidang kegiatan, yaitu bidang pembinaan dan pengembangan. Bidang pembinaan bertugas untuk meningkatkan pemakaian bahasa. Programnya antara lain:

  1. penyuluhan bahasa
  2. pelatihan karya ilmiah
  3. penyebaran informasi dengan tujuan agar wawasan kebahasaan meningkat melalui penerbitan penyiaran.

Pembinaan bahasa indonesia direalisasikan dengan kegiatan seminar dan lokakarya baik secara langsung maupun melalui media massa dan elektronik. Bidang pengembangan bertugas melakukan penelitian dan pengembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kegiatannya antara lain berurusan dengan korpus bahasa, pengkajian bahasa, sastra, dan pemakaian bahasa.

Tugas utama balai bahasa Denpasar adalah penelitian (pengembangan bahasa, sastra Indonesia, dan bahasa daerah). Kegiatannya meliputi:

1. Bidang Pengembangan

  1. penelitian (masalah bahasa daerah sastra Indonesia dan daerah)
  2. Penyusunan kamus dwibahasa
  3. Pengkajian penyusunan materi ajar untuk BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing)
  4. Uji Kemahiran Berhasa (UKBI)

2. Bidang Pembinaan

a. sesuai masalah yang dihadapi pada saat itu

b. porsinya sama untuk bahasa Indonesia dan daerah

c. jika ada masalah tentang bahasa Daerah dilakukan pembinaan.

Kendala yang dihadapi pusat bahasa dewasa ini semakin besar. Hal ini disebabkan oleh arus globalisasi yang semakin cepat mengalir jika dibandingkan dengan kecepatan melakukan sosialisasi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia juga semakin tergerus peradaban, hal ini diindikasikan dengan banyaknya bahasa asing yang diadopsi maupun diadaptasi oleh bahasa Indonesia sehingga fungsi dari bahasa Indonesia itu semakin kabur.

Rombongan KKL disuguhi pula dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Teater Angin dari SMA N 1 Denpasar. Suguhan dua buah lagu yang dibawakan 7 siswa Bali ini akan dipentaskan dalam festival musikalisasi puisi antarprovinsi di Jakarta.

b. Pantai Tanjung Benoa

Tanjung Benoa terletak di antara pulau Bali dan pulau Lombok. Pantai Tanjung Benoa berbeda dengan pantai-pantai lain di pulau Bali. Di pantai ini pengunjung bisa menikmati berbagai macam permainan pantai, seperti banana boat, motor boat, paraselling, dan lain-lain. Selain itu, pengujung dapat pula melihat taman laut dengan menaiki glass bottom boat menuju ke Teluk penyu (turtle island). Di Teluk penyu pengujung dapat melihat puluhan penyu dan berbagai macam satwa yang dilindungi, seperti burung gagak, ular, dan lain sebagainya.

c. Garuda Wisnu Kencana (GWK)

Patung raksasa Garuda Wisnu Kencana terletak di Denpasar tepatnya di sebelah barat Universitas Udayana. Patung ini dibangun di antara gugusan batu kapur yang tingginya mancapai puluhan meter di atas permukaan laut. Patung ini dibuat dari bahan tembaga dan berbetuk burung garuda yang dinaiki oleh dewa Wisnu. Pembuatan patung raksasa ini memakan waktu bertahun-tahun secara bertahap dan saat ini baru sampai pada bentuk separuh tubuh dewa Wisnu dan separuh tubuh burung garuda. Patung ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2010 dan akan menjadi patung tertinggi di Asia Tenggara. GWK sering digunakan sebagai tempat pertemuan baik acara berskala nasional maupun internasional.

d. Joger

Joger merupakan pusat perbelanjaan barang-barang bermerek Joger khas pulau Bali dan tidak dapat ditemui di kota-kota lain. Untuk menuju tempat ini pengunjung yang menaiki bus besar dan kendaraan yang berukuran lebih dari 5 meter harus berhenti sejenak di parking central area dan dilanjutkan dengan menaiki kendaraan umum yang juga mengantarkan pengujung ke pantai Kuta. Barang-barang merek Joger yang banyak diserbu pengunjung, antara lain kaos, tas, sandal, souvenir, dan pernak-pernik. Joger lebih terkenal juga karena memiliki kekhasan tulisan bernada ironi, aneh, dan lucu yang tertera pada setiap barang merek Joger.

e. Pantai Kuta

Setelah mengunjungi Joger, pengunjung biasanya melanjutkan perjalanan ke pantai Kuta dengan kendaraan umum. Di pantai ini pengunjung dapat menikmati keindahan tenggelamnya matahari (sun set) sekitar pukul empat sampai lima sore. Di sepanjang pantai ini berjejer berbagai macam hotel berbintang dan club/dikotik yang dikunjungi oleh turis mancanegara.

c. Kunjungan Hari Ketiga

a. Pantai Sanur

Pantai Sanur terletak di pulau Bali sebelah utara. Di pantai ini pengunjung dapat menikmati keindahan terbitnya matahari (Sun Raise). Pantai ini memiliki bebatuan karang yang mengelilinginya.

b. Museum La Mayer

Tidak jauh dari pantai ini pengunjung dapat mengunjungi Museum La Mayer. Museum ini berisi lukisan-lukisan karya La mayer, seorang pelukis berkebangsaan Belgia yang tinggal di Indonesia dan menikah dengan seorang gadis Bali yang bernama Ni Nyoman Polok atau Ni Polok. Museum ini dahulu merupakan tempat tinggal La Mayer bersama istrinya. Ia dan istrinya pada waktu itu juga menggunakan rumahnya sebagai galeri lukisan yang banyak dikunjungi wisatawan asing. La Mayer meninggal karena penyakit kanker telinga, kemudian jenazahnya dijemput ke negara Belgia oleh Ratu Belgi. Setelah kepergian La Mayer, istrinyalah yang mengelola kembali galeri lukisan itu. Akan tetapi, setelah istrinya meninggal lukisan tersebut banyak yang hilang dan tersebar di sekitar kota Denpasar. Karena lukisan-lukisan karyanya dianggap sangat berkualitas seni tinggi, presiden Soekarno dan Dinas Pariwisata Denpasar mencari dan mengumpulkan kembali lukisan-lukisan tersebut dan mengabadikan rumah La mayer menjadi sebuah museum lukisan. Di museum tersebut kini terdapat puluhan lukisan asli karya La Mayer dari awal pembuatan hingga akhir hayatnya.

b. Pusat Perbelanjaan Galuh

Tempat ini merupakan pusat perbelanjaan terkenal di Bali  yang menjual berbagai jenis barang, seperti pakaian, kerajinan tangan, souvenir, pernak-pernik, dan lain-lain. Barang- barang yang dijual di sini adalah barang-barang dengan tingkat orisinalitas yang tidak diragukan lagi. Harga yang ditawarkan di sini memang lumayan tinggi. Pengunjung domestik, khususnya pelajar dan mahasiswa akan mendapatkan diskon 50% dari setiap pembelian barang-barang, sedangkan pengunjung mancanegara diberi harga dua kali lipatnya.

b. Pasar Sukowati

Pasar ini merupakan satu-satunya pasar yang paling banyak dikunjungi wisatawan, terutama wisatawan domestik. Di sini dijual berbagai macam pakaian dan kerajinan Bali. Hal yang paling menarik di pasar ini adalah proses tawar-menawar yang disuguhkan oleh penjual. Pembeli yang pandai menawar akan mendapatkan harga yang serendah-rendahnya. Bermacam-macam barang yang dijual di sini adalah barang kerajinan atau souvenir yang dapat dijadikan oleh-oleh. Pengunjung dapat membeli barang dengan jumlah yang banyak karena harga yang ditawarkan tidak terlalu tinggi. Harganya barang berkisar dari Rp.500,- hingga puluhan ribu rupiah.

C. Analisis Hasil Kunjungan

a. Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)

Kunjungan ke Undiksha memberikan banyak manfaat kepada mahasiswa, antara lain:

  1. Kami dapat mendapat banyak pengetahuan tambahan tentang sistem perkuliahan yang ada di Undiksha Singaraja dan mata kuliah apa saja yang diajarkan di Univesitas tersebut
  2. Kami dapat melihat peran mahasiswa untuk meningkatkan kemauan mahasiswa dalam mempelajari bahasa
  3. Kami dapat melihat apresiasi mahasiswa terhadap bahasa
  4. Adanya diskusi antarmahasiswa mengenai kesuksesan yang dapat diraih melalui bahasa.

Meskipun banyak pengalaman menyenangkan, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

  1. setelah diskusi berakhir, kami tidak diajak untuk mengetahui secara langsung kondisi sarana prasarana yang terdapat di Undiksha
  2. Kurangnya tanggapan dan peran serta mahasiswa Undiksha dalam menanggapi makalah dari kami tentang cara meraih sukses dengan bahasa.

b. Perpustakaan UPTD Gedong Kirtya Singaraja

Kunjungan yang kami lakukan di perpustakaan UPTD Gedong Kirtya Singaraja ini berjalan sangat lancar. Akan tetapi, terdapat banyak koleksi yang dapat menambah wawasan kita terhadap sastra Bali. Ternyata masih banyak sekali naskah yang ditulis dalam daun lontar. Usaha yang dilakukan petugas untuk tetap mempertahankan kekhasannya ini adalah dengan menyalin tulisan-tulisan yang ada dalam buku ke dalam daun lontar.

c. Balai Bahasa Denpasar

Kegiatan yang dilakukan di balai bahasa secara umum berlangsung lancar. Pengkondisian yang cukup baik memperlancar kegiatan kami.

D. Penutup

a. Simpulan

Dari laporan yang telah dideskripsikan di atas maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

  1. Mahasiswa melakukan kunjungan di objek wisata dan objek studi. Objek studi tersebut adalah Universitas Pendidikan Ganesha, Gedung Kirtya, dan Balai Bahasa Denpasar
  2. Dari beberapa objek yang kami kunjungi itu banyak sekali hal yang didapat terutama mengenai eksistensi bahasa Indonesia di Indonesia saat ini
  3. Peradaban budaya Bali sangat bagus dan diikuti pula dengan perkembangan pariwisata yang ada
  4. Mahasiswa mendapatkan banyak bertukar pengalaman dengan mahasiswa Undiksha terutama dalam hal mata kuliah Bahasa Sastra Indonesia.

b. Saran

Dari Kuliah Kerja Lapangan yang telah kami laksanakan maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

  1. Kunjungan yang dilaksanakan hendaknya didasarkan atas adanya rasa ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang objek studi, terutama yang berkaitan dengan bahasa Indonesia
  2. Mahasiswa diharapkan dapat berperan aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan pada saat kunjungan sedang beralngsung
  3. Mahasiswa mampu mendapatkan manfaat baik secara teori maupun praktik dari hasil kunjungan yang telah dilaksanakan
  4. Dosen dan mahasiswa lebih dapat saling bekerja sama dalam setiap kegiatan yang dilakukan.

April 12, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.