Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

pedoman penulisan tanda baca

Pedoman Penulisan Tanda Baca

Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan

contoh: Saya suka makan nasi.

Sebuah kalimat diakhiri dengan titik. Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan. Cara ini dilakukan dalam penulisan karya ilmiah.

2. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.

contoh:

• Irwan S. Gatot

• George W. Bush

Tetapi apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.

Contoh: Anthony Tumiwa

3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.

Contoh:

• Dr. (Doktor)

• Ny. (Nyonya)

• S.E. (Sarjana Ekonomi)

4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.

Contoh:

• dll. (dan lain-lain)

• dsb. (dan sebagainya)

• tgl. (tanggal)

Dalam karya ilmiah seperti skripsi, makalah, laporan, tesis, dan disertasi, dianjurkan tidak mempergunakan singkatan.

5. Tanda titik dibelakang huruf dalam suatu bagian ikhtisar atau daftar.

contoh:

I. Penyiapan Ulangan Umum.

A. Peraturan.

B. Syarat.

Jika berupa angka, maka urutan angka itu dapat disusun sebagai berikut dan tanda titik tidak dipakai pada akhir sistem desimal.

Contoh:

• 1.1

• 1.2

• 1.2.1

6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Contoh: Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)

7. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.

contoh:

• Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.

• Nomor Giro 033983 telah saya kasih kepada Michael.

8. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga- lembaga nasional di dalam akronomi yang sudah diterima oleh masyarakat.

contoh:

• Sekjen : (Sekretaris Jenderal)

• UUD : (Undang-Undang Dasar)

• SMA : (Sekolah Menengah Atas)

• WHO : (World Health Organization)

9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.

contoh:

• Cu (Kuprum)

• 52 cm

• l (liter)

• Rp 350,00

10. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya.

contoh:

• Latar Belakang Pembentukan

• Sistem Acara

11. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.

contoh:

• Jalan Kebayoran 32

• Jakarta, 3 Mei 1997

• Yth.Sdr.Ivan

Jalan Istana 30

Surabaya

Tanda Koma (,)

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.

contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan.

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.

contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.

3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.

contoh:

• Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

• Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.

contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.

contoh:

• Oleh karena itu, kamu harus datang.

• Jadi, saya tidak jadi datang.

5. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.

contoh:

• O, begitu.

• Wah, bukan main.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

contoh: Kata adik, “Saya sedih sekali”.

7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan tanggal, (ii) bagian-bagian kalimat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

contoh:

• Medan, 18 Juni 1984

• Medan, Indonesia.

8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.

9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.

10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

contoh: Rinto Jiang,S.E.

11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

contoh:

• 33,5 m

• Rp 10,50

12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.

Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.

13. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

contoh: dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.

Bandingkan dengan: Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

contoh: “Di mana Rex tinggal?” tanya Stepheen.

Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

contoh: malam makin larut; kami belum selesai juga.

2. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

contoh: Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur, adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.

Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.

contoh:

• yang kita perlukan, sekarang ialah barang-barang yang berikut: kursi, meja, dan lemari.

• Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.

2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

contoh:

Ketua : Borgx

Wakil Ketua : Hayabuse

Sekretaris : Ivan Lanin

Wakil Sekretaris : Irwan Gatot

Bendahara : Rinto Jiang

Wakil bendahara : Rex

3. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

contoh:

Borgx : “Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!”

Rex : “Siap, Boss!”

4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan.

contoh:

(i) Tempo, I (1971), 34:7

(ii) Surah Yasin:9

(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi sudah terbit.

5. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.

contoh:

….dia beli ba-

ru juga.

-Suku kata yang terdiri atas satu huruf tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris.

contoh:

…. masalah i-

tu akan diproses.

2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dan belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya ada pergantian baris.

contoh:

…. cara baru meng-

ukur panas

akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

contoh:

………mengharga-

i pendapat.

3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

contoh: anak-anak

tanda ulang singkatan (seperti pangkat 2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.

4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

contoh: p-e-n-g-u-r-u-s

5. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.

bandingkan:

• ber-evolusi dengan be-revolusi

• dua puluh lima-ribuan (20×5000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (1×25000).

• Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah

• PN dengan di-PN-kan.

6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, dan (d) singkatan huruf kapital dengan imbulan atau kata.

contoh:

• se-Indonesia

• hadiah ke-2

• tahun 50-an

• ber-SMA

• KTP-nya nomor 11111

• bom-V2

• sinar-X.

7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Contoh:

• di-charter

• pen-tackle-an

Sebagai lambang matematika untuk pengurangan (tanda kurang).

Tanda Pisah (—)

1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di luar bangun kalimat.

contoh: Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar

-Dalam pengetikan karangan ilmiah, tanda pisah dinyatakan dengan 2 tanda hubung tanpa jarak.

contoh: Medan—Ibu kota Sumut—terletak di Sumatera

2. Tanda pisah menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih tegas.

contoh:

Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau di antara dua nama kota yang berarti ‘ke’, atau ‘sampai’.

contoh:

• 1919—1921

• Medan—Jakarta

• 10—13 Desember 1999

Tanda Garis Bawah (_)

Tanda Elipsis (….)

Tanda Tanya (?)

Tanda Seru (!)

Tanda Kurung ((…))

Tanda Kurung Siku ([…])

Digunakan untuk tambahan komentar yang bukan berasal dari penulis asli. Contoh:

• Katanya, “[Adam] tidak datang ke sekolah hari ini”.

Tanda Kurung Lancip (<…>)

Biasa digunakan di bahasa komputer HTML

Tanda Kurung Kurawal ({…})

Tanda Kurung Ganda («…»)

Biasa digunakan di bahasa pemrograman komputer

Tanda Petik (“…”)

1. Tanda petik digunakan untuk menyatakan suatu kalimat langsung atau kadang juga sebagai penegasan.

contoh: kata Ketua, “Kita akan segera berangkat besok.”

Tanda Petik Tunggal (‘…’)

Tanda petik tunggal biasa digunakan untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain. Misalnya, seperti di bawah ini.

“Aku mendengar seseorang memanggil, ‘Nori, Nori’, dari hutan itu,” ujar Ramon.

Tanda petik tunggal juga digunakan untuk mengapit terjemahan, ungkapan asing, atau penjelasan kata. Kalau dalam linguistik, tanda petik itu disebutkan mengapit makna.

Tanda Ulang (…2)

Ditulis dengan menambahkan angka 2 (atau 2) di akhir kata yang seharusnya diulang, menandakan kata tersebut diulang dua kali. Tanda penyingkatan ini tidak resmi. Kata yang berulang harus ditulis penuh. Contoh:

• Buku-buku (bukan “buku2”)

• Saudara-saudara (bukan “saudara2”)

Tanda Garis Miring (/)

Biasa digunakan untuk menyatakan “atau”, biasanya untuk dua kata yang bersinonim. Contoh:

• Membuat / melakukan. (dibaca: membuat atau melakukan)

Untuk dua hal yang hampir serupa bunyinya, dalam hal ini tanda “/” tidak dibaca. Contoh:

• RT/RW

• AC/DC

Sebagai lambang matematika untuk pembagian (tanda bagi).

Tanda Garis Miring Terbalik (\)

Tanda Penyingkat (Apostrof)(`)(‘)

Bagaimana Memakai Konjungsi (2 habis)

Konjungsi atau kata hubung adalah kata yang mempunyai fungsi menghubungkan kalimat dengan kalimat lain. Contohnya kalimat berikut:

– Saya bertemu dia ketika kami belajar di Wisma Bahasa.

Kata ketika adalah kata hubung yang menghubungkan kalimat pertama dengan kalimat kedua.

– Kalimat pertama = Saya bertemu dia.

– Kalimat kedua = Kami belajar di Wisma Bahasa.

Dalam bahasa Indonesia ada banyak konjungsi : sementara, sambil, ketika, supaya, sehingga, dan lain-lain. Bagaimana memakai konjungsi itu ?

1. Sementara

– Mempunyai dua subjek yang berbeda.

– Mempunyai aktivitas sama waktu.

Contoh :

Kalimat pertama = Bapak memasak di dapur.

Kalimat kedua = Ibu membaca koran. (pada waktu sama)

Kalimat gabung = Bapak memasak di dapur sementara ibu membaca koran.

2. Sambil

– Mempunyai satu subjek sama.

– Mempunyai aktivitas sama waktu.

Contoh :

Kalimat pertama = Saya membaca koran

Kalimat kedua = Saya medengarkan musik.(pada waktu sama)

Kalimat gabung = Saya membaca koran sambil mendengarkan musik.

3. Ketika

– Mempunyai satu atau dua subjek.

– Mempunyai aktivitas yang tidak sama waktu.

Contoh :

Kalimat pertama = Saya sedang mandi.

Kalimat kedua = Dia datang.(beberapa waktu sesudah saya mulai aktivitas mandi)

Kalimat gabung = Dia datang ketika saya sedang mandi.

4. Supaya

– Mempunyai satu atau dua subjek.

– Kalimat kedua adalah tujuan (goal/aims) kalimat pertama.

Contoh :

Kalimat pertama = Saya belajar keras.

Kalimat kedua = Saya bisa berbicara dalam bahasa Indonesia (kalimat ini adalah tujuan dari ‘ Saya belajar keras ‘, pada saat sekarang saya belum bisa berbicara dalam bahasa Indonesia)

Kalimat gabung = Saya belajar keras supaya saya bisa berbicara dalam bahasa Indonesia.

5. Sehingga

– Mempunyai satu atau dua subjek.

– Kalimat kedua adalah hasil/akibat (effect/result) kalimat pertama.

Contoh :

Kalimat pertama = Tadi malam saya menonton tv sampai jam 12 malam.

Kalimat kedua = Saya terlambat bangun pagi.(kalimat ini adalah akibat atau hasil ‘Tadi malam saya menonton tv sampai jam 12 malam’)

Kalimat gabung = Tadi malam saya menonton tv sampai jam 12 malam sehingga terlambat bangun pagi.

Latihan

Gabungkan dua kalimat ini dengan memakai kata hubung yang tepat !

1.Guru saya menjelaskan tatabahasa. Saya menulis.

2.Saya menyanyi. Saya bermain gitar.

3.Tadi pagi saya tidak makan pagi. Sekarang saya merasa lapar sekali.

4.Saya mau tidur lebih awal. Besok pagi saya bisa bangun pagi-pagi.

5.Dia berolah raga setiap pagi. Dia mau menjadi sehat.

6.Ibu menonton tv. Bapak membersihkan rumah.

7.Saya sedang jalan-jalan di Malioboro. Saya bertemu teman saya.

8.Pieter bekerja keras sekali hari ini. Sekarang dia merasa capai sekali.

9.Dia membaca koran. Dia makan pagi.

10. Saya bekerja di Indonesia. Saya belajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa

Posted on 17 September, 2007 by wismabahasa

Sebelum menjelaskan konjungsi yang lainnya, di bawah ini adalah kunci jawaban latihan tatabahasa untuk edisi yang lalu.

1.Guru saya menjelaskan tatabahasa sementara saya menulis.

2.Saya menyanyi sambil bermain gitar.

3.Tadi pagi saya tidak makan pagi sehingga sekarang saya merasa lapar sekali.

4.Saya mau tidur lebih awal supaya besok pagi saya bisa bangun pagi-pagi.

5.Dia berolah raga setiap pagi supaya menjadi sehat.

6.Ibu menonton tv sementara bapak membersihkan rumah.

7.Ketika saya sedang jalan-jalan di Malioboro saya bertemu teman saya.

8.Pieter bekerja keras sekali hari ini sehingga sekarang dia merasa capai sekali.

9.Dia membaca koran sambil makan pagi.

10. Ketika saya bekerja di Indonesia saya belajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa.

Sekarang perhatikan konjungsi di bawah ini:

1. Karena

Kata hubung ”karena” mempunyai arti alasan (reason).

Contoh:

Kalimat pertama : Hari ini dia tidak belajar di kelas.

Kalimat kedua : Dia sakit perut. (kalimat ini adalah alasan bahwa Hari ini dia tidak

belajar di kelas)

Kalimat gabung : Hari ini dia tidak belajar di kelas karena sakit perut.

2. Kalau, seandainya

Kata hubung ”kalau” dan ”seandainya” mempunyai arti syarat (condition).

Contoh:

Kalimat pertama : Saya akan datang di pestamu nanti malam.

Kalimat kedua : Nanti malam tidak ada hujan. (kalimat ini adalah syarat bahwa Saya

akan datang di pestamu nanti malam)

Kalimat gabung : Saya akan datang di pestamu nanti malam kalau nanti malam tidak

ada hujan.

Kata hubung ”seandainya” kadang-kadang mempunyai makna bahwa syarat dalam kalimat kedua hampir tidak mungkin (imposible) terjadi.

Contoh:

Kalimat pertama: Saya akan terbang ke semua tempat di dunia.

Kalimat kedua: Saya punya sayap. (kalimat kedua adalah syarat (yang tidak mungkin

terjadi) bahwa Saya akan terbang ke semua tempat bagus di dunia)

Kalimat gabung: Saya akan terbang ke semua tempat bagus di dunia seandainya

saya punya sayap.

3. Tetapi

Kata hubung ”tetapi” mempunyai arti pertentangan (contrastif).

Contoh:

Kalimat pertama : Dia memang bodoh

Kalimat kedua : Dia rajin.

Kalimat gabung : Dia memang bodoh, tetapi rajin.

4. Sejak

Kata hubung ”sejak” mempunyai arti ”awal waktu mulai aktivitas”

Contoh:

Kalimat pertama : Dia belajar bahasa Indonesia.

Kalimat kedua : Dia bekerja di perusahaan Indonesia. (aktitivitas dalam kalimat kedua

adalah awal dia mulai belajar bahasa Indonesia)

Kalimat gabung: Dia belajar bahasa Indonesia sejak dia bekerja di perusahaan

Indonesia.

5. Meskipun

Kata hubung ”meskipun” mempunyai arti ”ada kesungguhan”

Contoh:

Kalimat pertama: Dia belum sembuh dari sakitnya.

Kalimat kedua: Dia sudah minum banyak obat. (kalimat kedua menyatakan bahwa dia

sungguh-sungguh dengan usaha keras sudah minum obat)

Kalimat gabung: Dia belum sembuh dari sakitnya meskipun sudah minum banyak obat)

penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.

1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.

2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola [1].

2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi

3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.

4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.

5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.

3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur mayur).

4. Gabungan kata atau kata majemuk

1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.

3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.

5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.

6. Kata depan atau preposisi (di [1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.

7. Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.

8. Partikel

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.

2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.

3. Partikel per- yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.

9. Singkatan dan akronim. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan singkatan dan akronim.

10. Angka dan bilangan. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan tanggal dan angka.

Kata turunan

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.

1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-

2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya

2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.

1. ber-an dan ber-i

2. di-kan dan di-i

3. diper-kan dan diper-i

4. ke-an dan ke-i

5. me-kan dan me-i

6. memper-kan dan memper-i

7. pe-an dan pe-i

8. per-an dan per-i

9. se-nya

10. ter-kan dan ter-i

3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).

1. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.

2. Sisipan: -en-, -el-, dan -er-.

[sunting] Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.

2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.

4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.

5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.

6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.

2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.

3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Aturan khusus

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:

1. ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)

2. ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)

Konsensus penggunaan kata

Tiongkok dan tionghoa

Cina adalah bentuk dan penggunaan baku menurut KBBI. Ada himbauan untuk menghindari kata ini atas pertimbangan kesensitifan penafsiran. Sebagai alternatifnya diusulkan menggunakan kata China. Ini sebuah argumen yang tidak bisa didiskripsikan dan dijelaskan secara ilmiah bahasa, apalagi bunyi ujaran China – Cina adalah hampir sama (China dibaca dengan ejaan Inggris). Padanan untuk kata Cina yaitu Tiongkok (negara), Tionghoa (bahasa dan orang).

Mayat dan mati

mati: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata wafat, meninggal, gugur, atau tewas (tergantung konteks).

mayat: hindari penggunaannya dalam biografi. Gunakan kata jasad atau jenazah.

Pranala ke situs luar

Sebisa mungkin hindari penggunaan kalimat seperti “Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi situs ini.” pada artikel yang belum lengkap. Sebaiknya pranala ke situs tersebut dimasukkan ke bagian Pranala luar dan menambahkan Templat:Stub dengan mengetik:

{{stub}}

atau

{{rintisan}}

di bagian akhir artikel.

Penggunaan “di mana” sebagai penghubung dua klausa

Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia TIDAK mengenal bentuk “di mana” (padanan dalam bahasa Inggris adalah “who”, “whom”, “which”, atau “where”) atau variasinya (“dalam mana”, dengan mana”, dan sebagainya). Penggunaan “di mana” sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata “yang” sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, HINDARI PENGGUNAAN BENTUK “DI MANA”, apalagi “dimana”, termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Sebenarnya selalu dapat dicari struktur yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia.

Contoh-contoh:

(1) Dari artikel Kantin: … kantine adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para pengunjung dapat makan … .

Usul perbaikan: … kantine adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan … .

(2) Dari artikel Tegangan permukaan: Teganganpermukaan = F / L dimana :

F = gaya (newton)

L = panjang m).[sic]

Usul perbaikan: Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), tegangan permukaan S dapat ditulis sebagai S = F / L.

Di sini tampak bahwa “apabila” menggantikan posisi “di mana” (ditulis di kalimat asli sebagai “dimana”).

(3) Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice … .

Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja … .

Contoh-contoh lain silakan ditambahkan.

[sunting] Kata penghubung “sedangkan”

Kesalahan penggunaan kata penghubung yang juga sering kali terjadi adalah yang melibatkan kata “sedangkan”. “Sedangkan” adalah kata penghubung dua klausa berderajat sama, sama seperti “dan”, “atau”, serta “sementara”. Dengan demikian secara tata bahasa ia TIDAK PERNAH bisa mengawali suatu kalimat (tentu saja lain halnya dalam susastra!). Namun justru di sini sering terjadi kesalahan dalam penggunaannya. “Sedangkan” digunakan untuk mengawali kalimat, padahal untuk posisi itu dapat dipakai kata “sementara itu”.

Contoh: Dari harian Jawa Pos:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini, 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

Usulan perbaikan 1:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

Usulan perbaikan 2:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sementara itu, jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

[sunting] Daftar kata

Untuk daftar yang lebih lengkap, lihat pula halaman utamanya.

Gabungan kata yang ditulis serangkai

1. acapkali

2. adakalanya

3. akhirulkalam

4. alhamdulillah

5. astagfirullah

6. bagaimana

7. barangkali

8. bilamana

9. bismillah

10. beasiswa

11. belasungkawa

12. bumiputra

13. daripada

14. darmabakti

15. darmasiswa

16. dukacita

17. halalbihalal

18. hulubalang

19. kacamata

20. kasatmata

21. kepada

22. keratabasa

23. kilometer

24. manakala

25. manasuka

26. mangkubumi

27. matahari

28. olahraga

29. padahal

30. paramasastra

31. peribahasa

32. puspawarna

33. radioaktif

34. sastramarga

35. saputangan

36. saripati

37. sebagaimana

38. sediakala

39. segitiga

40. sekalipun

41. silaturahmi

42. sukacita

43. sukarela

44. sukaria

45. syahbandar

46. titimangsa

47. wasalam

[sunting] Kata yang sering salah dieja

Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI (kecuali ada keterangan lain) dan dianjurkan digunakan, sedangkan kata-kata selanjutnya adalah variasi ejaan lain yang kadang-kadang juga digunakan.

1. aktif, aktip

2. aktivitas, aktifitas

3. al Quran, alquran

4. analisis, analisa

5. Anda, anda

6. apotek, apotik (ingat: apoteker, bukan apotiker)

7. asas, azas

8. atlet, atlit (ingat: atletik, bukan atlitik)

9. bus, bis

10. besok, esok

11. diagnosis, diagnosa

12. ekstrem, ekstrim

13. embus, hembus

14. Februari, Pebruari

15. frekuensi, frekwensi

16. foto, Photo

17. gladi, geladi

18. hierarki, hirarki

19. hipnosis (nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva)

20. ibu kota, ibukota

21. ijazah, ijasah

22. imbau, himbau

23. indera, indra

24. indragiri, inderagiri

25. istri, isteri

26. izin, ijin

27. jadwal, jadual

28. jenderal, jendral

29. Jumat, Jum’at

30. kanker, kangker

31. karier, karir

32. Katolik, Katholik

33. kendaraan, kenderaan

34. komoditi, komoditas [2]

35. komplet, komplit

36. konkret, konkrit, kongkrit

37. kosa kata, kosakata

38. kualitas, kwalitas, kwalitet [2]

39. kuantitas, kwantitas [2]

40. kuitansi, kwitansi

41. kuno, kuna [3]

42. lokakarya, loka karya

43. maaf, ma’af

44. makhluk, mahluk, mahkluk (salah satu yang paling sering salah)

45. mazhab, mahzab

46. metode, metoda

47. mungkir, pungkir (Ingat!)

48. nakhoda, nahkoda, nakoda

49. narasumber, nara sumber (berlaku juga untuk kata belakang lain)

50. nasihat, nasehat

51. negatif, negatip (juga kata-kata lainnya yang serupa)

52. November, Nopember

53. objek, obyek

54. objektif, obyektif/p

55. olahraga, olah raga

56. orang tua, orangtua

57. paham, faham

58. persen, prosen

59. pelepasan, penglepasan

60. penglihatan, pelihatan; pengecualian

61. permukiman, pemukiman

62. perumahan, pengrumahan; baik untuk arti housing maupun PHK

63. pikir, fikir

64. Prancis, Perancis [4]

65. praktik, praktek (Ingat: praktikum, bukan praktekum)

66. provinsi, propinsi

67. putra, putera

68. putri, puteri

69. realitas, realita

70. risiko, resiko

71. saksama, seksama (Ingat!)

72. samudra, samudera

73. sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah)

74. saraf, syaraf

75. sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi)

76. sekretaris, sekertaris

77. sekuriti, sekuritas [2]

78. segitiga, segi tiga

79. selebritas, selebriti

80. sepak bola, sepakbola

81. silakan, silahkan (Ingat!)

82. sintesis, sintesa

83. sistem, sistim

84. sorga, surga, syurga

85. subjek, subyek

86. subjektif, subyektif/p

87. Sumatra, Sumatera

88. standar, standard

89. standardisasi, standarisasi [5]

90. tanda tangan, tandatangan

91. tahta, takhta

92. teknik, tehnik

93. telepon, tel(f/p)on, telefon, tilpon

94. teoretis, teoritis (diserap dari: theoretical)

95. terampil, trampil

96. ubah (=mengganti), rubah (=serigala) — sepertinya kedua-duanya berlaku

97. utang, hutang (Ingat: piutang, bukan pihutang)

98. wali kota, walikota

99. Yogyakarta, Jogjakarta

100. zaman, jaman

Lihat pula

Diskusi komunitas Wikipedia mengenai penggunaan bahasa Indonesia – sudah tidak aktif, namun masih bisa diakses.

Wikipedia:Pedoman alihaksara Arab ke Latin

Wikipedia:Pedoman alihaksara Sirilik ke Latin

Catatan kaki

1. ^ a b di dapat juga berfungsi baik sebagai imbuhan yang harus dirangkai penulisannya maupun kata depan yang harus dipisah penulisannya. Kesalahan penulisan di merupakan salah satu kesalahan yang sangat umum ditemukan.

2. ^ a b c d Tidak semua akhiran -ty dalam bahasa Inggris dialih-bahasakan menjadi -tas walaupun tak dimungkiri bahwa mayoritasnya demikian, dalam hal ini berlaku kata-kata seperti sekuriti dan komoditi yang menggunakan sistem kedua (-ti bukan -tas), hal yang sama berlaku pada kata properti (bukan propertas). Kata-kata lainnya misalnya kuantitas memang menggunakan penerjemahan -tas. Lihat Wikipedia:Pedoman penyerapan istilah.

3. ^ Lihat bagian diskusi halaman ini

4. ^ Walaupun “Prancis” lebih dianjurkan, Wikipedia bahasa Indonesia menggunakan ejaan “Perancis” sesuai konsensus.

5. ^ Kata standardisasi memang dieja tanpa mengesampingkan huruf d antara standar dan -isasi, seperti halnya di kata implemen yang menjadi implementasi.

Pedoman penulisan huruf kapital

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Berikut adalah pedoman penulisan tanda baca sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Huruf kapital atau huruf besar sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Dia mengantuk

Kita harus bekerja keras

Apa maksudnya?

Selamat pagi.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

Bapak menasihati, “Berhati-hatilah, Nak!”

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.;

Allah

Yang Maha Pengasih

..dan Kami turunkan kepadamu..

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dari nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Haji Agus Salim

Presiden Soekarno

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, instansi, atau nama tempat.

Gubernur Ali Sadikin

Menteri Hari Sabarno

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

“Siapakah gubernur yang baru saja dilantik itu?”

Brigadir Jendral Sugiarto baru dilantik menjadi mayor jendral.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama orang.

Ricky Setiawan

Vieta Fitria Diani

Muhammad Alif Atma Ain Azza

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

suku Sasak

bangsa Indonesia

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

mengindonesiakan kata asing

keinggris-inggrisan.

Catatan: Huruf kapital tidak dipakai untuk kata ‘bangsa’, ‘suku’, dan ‘bahasa’ yang mengawali sebuah nama.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Bandung Lautan Api

Proklamasi Kemerdekaan

hari Minggu

Iedul Fitri.

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

memproklamasikan kemerdekaan

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi

Asia Tenggara

Jazirah Arab

Selat Sunda

Kota Bogor.

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

Berlayar ke teluk.

Pada hari minggu ku turut ayah ke kota.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama negara, badan, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali konjungsi.

Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

Tetapi perhatikan juga penulisan berikut!

Menurut undang-undang dasar kita

Menjadi sebuah republik

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel, seperti: di, ke, dari, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.

Dari Ave Maria ke Jalan Lain Menuju Roma

Pelajaran Ekonomi untuk Sekolah Menengah Umum

Huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Dr. = Doktor

dr. = Dokter

Sdr. = Saudara

S.Sos. = Sarjana Sosial

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.

Kapan Bapak berangkat?

Surat Saudara sudah saya terima.

Catatan: Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Huruf kapital dipakai untuk menyebutkan judul karya ilmiah (bukan judul buku).

PENELITIAN BAWANG GORENG

Catatan: Jika judul karya ilmiah itu memiliki kata konjungsi (kata penghubung), maka huruf kapital hanya diberikan di huruf pertama setiap kata, sementara huruf pertama kata konjungsi tetap menggunakan huruf kecil.

Penelitian Tentang Gempa Aceh dan Yogyakarta.

Penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.

1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.

2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola [1].

2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi

3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.

4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.

5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.

3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur mayur).

4. Gabungan kata atau kata majemuk

1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.

3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.

5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.

6. Kata depan atau preposisi (di [1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.

7. Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.

8. Partikel

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.

2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.

3. Partikel per- yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.

[sunting] Kata turunan

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

[sunting] Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.

1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-

2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya

2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.

1. ber-an dan ber-i

2. di-kan dan di-i

3. diper-kan dan diper-i

4. ke-an dan ke-i

5. me-kan dan me-i

6. memper-kan dan memper-i

7. pe-an dan pe-i

8. per-an dan per-i

9. se-nya

10. ter-kan dan ter-i

3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).

1. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.

2. Sisipan: -en-, -el-, dan -er-.

[sunting] Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.

2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.

3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.

4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.

5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.

6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.

2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.

3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

November 17, 2008 - Posted by | Bahasa

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: