Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA DI MEDIA MASA

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA DI MEDIA MASA

Keberadaan media masa memang sangat pesat saat ini. Media masa, terutama cetak, menjadi pilihan yang tepat untuk menemukan informasi dan kabar pada suatu waktu. Surat kabar atau yang lebih dikenal dengan koran beredar setiap hari dan dikonsumsi masyarakat dari berbagai golongan/ tingkatan. Dari surat kabar tersebut akan diperoleh segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan baik yang berskala lokal, nasional, maupun internasional.

Di Indonesia, koran mulai bermunculan mulai dari tingkat provinsi. Saat ini, di setiap provinsi atau kotamadya sudah memiliki surat kabar tersendiri. Hal ini dimaksudkan agar berita yang dimuat juga lebih dapat menjangkau sekitar daerah tersebut. Surat kabar tersebut biasanya memiliki kekhasan tersendiri, tergantung dari ciri daerah atau komunitas yang bersangkutan. Perbedaan itu biasanya terletak pada isi/materi, bahasa, seta tampilan atau lay out-nya. Surat kabar yang berskala lokal biasanya lebih sederhana, berisi berita sekitar daerah tersebut, dan bahasanya tidak terlalu rumit.

Surat kabar sebagai sarana penyampaian inforamasi mempunyai dampak yang baik bagi perkembangan pola piker masayarakat. Dengan bertambahnya wawasan setiap harinya, mereka akan semakin kritis terhadap kondisi yang terjadi di sekitar mereka. Seperti halnya dalam surat kabar yang menyediakan kolom tersendiri untuk pembaca. Kolom tersebut biasanya dikenal dengan kolom Surat Pembaca yang biasanya berisi opini, keluhan, tanggapan, ataupun pesan yang ingin disampaikan kepada redaksi atau seseorang. Format surat tersebut sama halnya dengan surat pribadi dan dikirimkan oleh para pembaca dari berbagai kalangan dan tingkat pendidikan.

Perbedaan tingkat pendidikan ataupun golongan ternyata juga berpengaruh terhadap gaya penulisan surat. Pembaca dari kalangan pendidikan menengah cenderung bersikap mengacuhkan gaya penulisan dan sturuktur kalimat karena yang dipentingkan oleh mereka adalah pesan yang ingin disampaikan. Lain halnya dengan para akademisi ataupun golongan terpelajar. Gaya penulisan mereka sedikit berbeda, terutama dalam segi kebakuan dan ketidakbakuan kata/kalimat. Akan tetapi, dalam realitanya masih terdapat juga kesalahan-kesalahan yang ditemukan dalam hal penulisannya.

Kesalahan-kesalahan berbahasa yang tejadi itu merupakan indikasi dari kurangnya pemahaman terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia selalu berkembang dari waktu ke waktu dan mau tidak mau harus dapat diikuti dengan baik oleh masyarakat. Surat kabar sebagai media informasi bagi masyarakat sudah tentu harus dapat memberi contoh bahasa Indonesia yang baik dan benar. Editor dapat menampilkan format surat pembaca yang tepat penulisannya dengan meng-edit atau memperbaiki kesalahan yang terdapat dalam surat-surat tersebut. Dengan demikian, akan diperoleh pula pemahaman tentang bahasa yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia.

Berawal dari ketertarikan penulis pada bentuk surat pembaca yang mengandung banyak sekali kesalahan-kesalahan berbahasa ini, penulis berusaha mendeskripsikan kesalahan yang banyak terjadi dalam surat-surat pembaca. Dalam hal ini penulis mengambil sampel dari Harian Suara Merdeka yang wilayah penyebarannya berada di sekitar provinsi Jawa tengah dan sebagian daerah Yogyakarta. Penulis bersaha mendeskripsikan serta memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi, terutama pada bentuk bahasa dan penulisannya.

1. Suara Merdeka, 29 November 2007

Pengirim: H. Erlangga Chandra (EI), Bantulan RT 1/RW 1, Banyudono

  • Beberapa waktu lalu Kejaksaan Agung mengumumkan ada 7 Kajari yang melanggar PP. 30/1980, termasuk Kajari Sukoharjo Pak Usman SH.

Penulisan gelar yang tepat untuk Sarjana Hukum adalah S.H.

  • Tetapi yang mengherankan saya, justru beliau kini malah mendapat promosi jabatan sebagai jaksa fungsional di Kejati NTB. (tidak tepat)

Tetapi yang mengherankan Saya, beliau kini justru mendapat promosi jabatan sebagai jaksa fungsional di Kejati NTB. (tepat)

Huruf s pada kata Saya seharusnya kapital karena Saya merupakan kata sapaan. Klausa justru beliau kini malah mendapatkan promosi…seharusnya diubah menjadi beliau kini justru mendapat promosi… Kata justru maknanya hampir sama dengan malah yang cenderung mengarah kepada dialek Jawa.

  • Kalau begitu apa tidak berdampak negatif. (tidak tepat)

Kalau begitu, apakah tidak berdampak negatif? (tepat)

(paragraf 2)

Kalimat tersebut merupakan kalimat tanya karena mengandung kata tanya apa. Kata apa lebih lengkap jika ditulis dengan apakah, dan tanda koma (,) sebaiknya diletakkan di belakang konjungsi kalau begitu agar tidak menimbulkan kerancuan.

  • Kalau kemudian ternyata malah dapat promosi ya nggak akan jera.(tidak tepat)

Kalau kemudian ternyata justru mendapat promosi, ya tidak akan jera. (tepat)

Kata malah terpengaruh dari bahasa Jawa sehingga lebih tepat jika diubah menjadi justru. Sementara dapat dalam konteks kalimat tersebut merupakan kata kerja/ verba sehingga harus lengkap ditulis mendapat. Peletakkan tanda koma (,) setelah kata ya akan menghilangkan kerancuan. Sedangkan kata nggak merupakan kata yang tidak baku sehingga diubah menjadi tidak.

  • Kalau demikian, saya yakin yang menang pihak kejaksaan sebab punya kuasa. (tidak tepat)

Kalau demikian, Saya yakin yang menang adalah pihak kejaksaan sebab ia mempunyai kuasa. (tepat)

Kata tugas adalah berfungsi untuk memperjelas kalimat. Sedangkan kata ganti ia ditambahkan sebagai subjek klausa kedua . Verba punya lebih lengkap jika ditulis mempunyai.

Surat Pembaca, 28 November 2007.

Pengirim: H. Nashicin S. Pd, Jln. Pintu Air 3 RT 2/RW 2 Saripan, Jepara

  • Segi ekstrinsik, kehadiran Suara Merdeka tiap pagi sudah tepat waktu, hampir semua kantor di Jepara menjadi pelanggannya namun harga langganannya agak mahalan sedikit. (tidak tepat)

Segi ekstrinsik, kehadiran Suara Merdeka setiap pagi sudah tepat waktu. Hampir semua kantor di Jepara menjadi pelanggannya, namun harga langganannya sedikit agak mahal. (tepat)

Kata tiap lebih tepat ditulis setiap. Klausa ketiga kalimat tersebut seharusnya dipisah sehingga menjadi kalimat baru. Setelah konjingsi namun harus diletakkan tanda koma (,) dan klausa sedikit agak mahalan tidak baku karena terpengaruh unsur dialek Betawi/ Jakarta.

  • Yang perlu mendapat perhatian adalah peningkatan muatan artikel. (tidak tepat)

Hal yang perlu mendapat perhatian adalah peningkatan muatan artikel. (tepat)

Penulisan konjungi yang pada kalimat tersebut menimbulkan ketidakefektifan kalimat. Untuk membangun kalimat yang tepat ditambahkan kata hal yang berkedudukan sebagai subjek kalimat.

  • Upaya menemukan mutu memang terus dilakukan, karena kita dapat menemukan jawaban berbagai masalah yang timbul dan beredar di masyarakat. (tidak tepat)

Upaya menemukan mutu memang terus dilakukan karena kita dapat menemukan jawaban berbagai masalah yang timbul dan beredar di masyarakat. (tepat)

Setelah konjungsi karena seharusnya tidak dituliskan tanda koma (,). Kalimat tersebut merupakan kalimat majemuk setara hubungan kausalitas.

  • Upayakan penambahan artikel yang sifatnya informasi dan analisa serta harapan penyelesaian, sehingga Koran ini bisa bertahan dibaca minimal 40 menit, syukur meningkat. (tidak tepat)

Upayakan penambahan artikel yang informatif dan analitis serta harapan penyelesaian koran ini bisa bertahan dibaca minimal 40 menit, syukur meningkat. (tepat)

Kata informatif sama artinya dengan bersifat informasi dan analitis juga bermakna bersifat analisis. Dengan penggantian kata seperti itu maka akan muncul kalimat yang efektif. Jika kata analisa berdiri sendiri kata yang baku adalah analisis. Penggunaan konjungsi sehingga lebih tepat jika diganti menjadi agar karena kalimat tersebut tidak mengandung kesatuan gagasan. Konjungsi agar tepat digunakan untuk kalimat majemuk setara hubungan syarat.

3. Suara Pembaca 23 November 2007

Pengirim: A. B. Kusumo S. Kom, Beringin Putih D II/ 14 Ngaliyan, Semarang

  • Orang yang jelas memakai narkoba, eh jadi duta dan dijadikan ikon antinarkoba yang duduk semeja dengan Kapolri dan ketua BNN. Bingung aku. (tidak tepat)

Orang yang jelas memakai narkoba, eh, menjadi duta dan dijadikan ikon antinarkoba yang duduk semeja dengan Kapolri dan ketua BNN. Bingung Aku. (tepat)

Kata kerja jadi lebih lengkap ditulis dengan lengkap, yaitu menjadi. Sedangkan setelah eh seharusnya diberi tanda koma (,) karena merupakan kata seru. Huruf a pada kata aku harus kapital (A).

  • Ingat 2 Februari 2006?. (tidak tepat)

Ingat 2 Febuari 2006? (tepat)

Penulisan tanda tanya (?) tidak perlu ditambahi tanda titik (.) cukup dengan satu tanda baca saja.

  • Aktingnya, dia melakukan tobat, minta maaf kepada semuanya seakan secara jantan menjalani semuanya sebagai konsekuensi pilihan hidup. (tidak tepat)

Aktingnya, dia melakukan tobat, minta maaf kepada semuanya seakan secara jantan menjalani semuanya sebagai konsekuensi pilihan hidup. (tepat)

Kata kerja minta seharusnya ditulis lengkap meminta.

  • Roy kembali main film bahkan jadi jubir Persatuan Napi se-Indonesia. (tidak tepat)

Roy kembali bermain film bahkan menjadi jubir Persatuan Napi se-Indonesia. (tepat)

Kata kerja main seharusnya ditulis lengkap bermain. Demikian pula dengan kata jadi lebih lengkap ditulis menjadi.

  • Kegiatan selanjutnya dia menghadiri peringatan Hari Narkoba Internasional. Bicara tentang bahaya narkoba di depan 2.000 prajurit TBI AD di Jakarta. (tidak tepat)

Kegiatan selanjutnya, dia menghadiri peringatan Hari Narkoba Internasional dan berbicara tentang bahaya narkoba di depan 2000 prajurit TBI AD di Jakarta. (tepat)

Kedua kalimat tersebut lebih tepat jika digabungkan menjadi satu kalimat karena mempunyai satu kesatuan gagasan. Kata bicara seharusnya ditulis lengkap berbicara. Sedangkan penulisan bilangan 2.000 untuk menyebutkan jumlah, lebih tepatnya ditulis tanpa menggunakan titik, tidak seperti penulisan jumlah uang/ nominal rupiah.

  • 10 November 2007, dia memberi testimoni antinarkoba dihadiri Kapolri di Surabaya. (tidak tepat)

Pada Tanggal 10 November 2007, dia memberi testimoni antinarkoba yang dihadiri Kapolri di Surabaya. (tepat)

Atau

Dia memberi testimoni antinarkoba yang dihadiri Kapolri di Surabaya pada tanggal 10 November 2007. (tepat)

Awal kalimat tidak boleh didahului dengan angka atau bilangan sehingga penambahan klausa pada tanggal dapat membantu mengefektifkan kalimat. Sedangkan kata tugas yang ditambahkan guna menghindari kerancuan kalimat.

  • Artinya, masyarakat sudah menerima Roy ke jalan yang benar. Menjadikannya sebagai panutan agar diri dan keluarga tak terjerat narkoba. (tidak tepat)

Artinya, masyarakat sudah menerima Roy ke jalan yang benar dan menjadikannya sebagai anutan agar diri dan keluarga tak terjerat narkoba. (tepat)

Kedua kalimat tersebut lebih padu jika digabung karena masing-masing mempunyai kesatuan gagasan. Kata panutan tidak baku, kata bakunya adalah anutan.

  • Tapi 13 November 2007 dia digrebek polisi ketika sedang pesta sabu di hotel Novotel Surabaya. (tidak tepat)

Tetapi, 13 November 2007 dia digrebek polisi ketika sedang berpesta sabu di hotel Novotel Surabaya. (tepat)

Konjungsi tapi lebih tepat diganti dengan tetapi, dan setelahnya diberi tanda koma (,). Kata kerja pesta seharusnya ditulis lengkap berpesta.

  • Pembelaan keluarganya bahwa dia sedang dalam masa penyembuhan hingga masih boleh mengonsumsi sabu dalam jumlah terbatas atas pengawasan dokter. (tidak tepat)

Keluarganya membela bahwa dia sedang dalam masa penyembuhan sehingga masih diperbolehkan mengkonsumsi sabu dalam jumlah terbatas atas pengawasan dokter. (tepat)

Klausa pembelaan keluarganya menyebabkan kalimat menjadi rancu serta tidak jelas unsur-unsurnya. Klausa tersebut akan lebih jelas jika diubah menjadi klausa verba bukan klausa nomina Kata boleh lebih tepat ditulis lengkap menjadi diperbolehkan, dan kata mengonsumsi seharusnya menjadi mengkonsumsi karena berasal dari kata konsumsi yang berasal dari unsur serapan asing.

  • Sebagai orang awam, aku nggak mau tahu alasan membela itu. (tidak tepat)

Sebagai orang awam, Aku tidak mau mengetahui alasan pembelaan itu. (tepat)

Kata tahu harus ditulis lengkap menjadi mengetahui, dan verba membela seharusnya diubah menjadi nomina pembelaan karena dalam kalimat itu ia berkedudukan sebagai objek.

  • Yang jelas, Roy tertangkap memakai. (tidak tepat)

Yang jelas, Roy tertangkap sebagai pemakai. (tepat)

Kata tertangkap dan memakai merupakan kata yang berjenis kata kerja sehingga harus diubah salah satu unsurnya dan diperjelas maknanya dengan kata tugas sebagai.

  • Sebagai ikon antinarkoba, harusnya orang yang benar-benar bersih dari narkoba (Ade Ray, Chris John). (tidak tepat)

Orang yang dijadikan ikon antinarkoba seharusnya orang yang benar-benar bersih dari narkoba (Ade Ray, Chris John). (tepat)

Ketidaktepatan kalimat tersebut adalah pada kata sebagai yang menimbulkan kalimat tidak jelas unsur-unsurnya. Dengan menambahkan kata orang maka akan jelas letak subjek kalimatnya.

  • Kalau sudah demikian, mau dibawa kemana generasi muda kita. (tidak tepat)

Kalau sudah demikian, akan dibawa ke mana generasi muda kita? (tepat)

Kata mau bukan kata baku, yang tepat adalah akan. Sedangkan peletakkan kata tanya kemana seharusnya dipisah, dan kalimat diakhiri dengan tanda tanya (?).

  • Orang tua cuma bisa ngomong, tanpa memberi contoh yang baik. (tidak tepat)

Orang tua hanya bisa berbicara tanpa memberi contoh yang baik. (tepat)

Kata hanya merupakan bentuk baku dari cuma, dan kata berbicara merupakan bentuk baku dari ngomong. Peletakkan tanda koma sebelum kata tanpa tidak tepat karena kalimat tersebut masih dalam satu kesatuan gagasan yang setara.

  • Hanya bisa melarang tapi mereka sendiri memakai. (tidak tepat)

Mereka hanya bisa melarang tetapi memakai juga. (tepat)

Ketidaktepatan penempatan kata hanya di awal kalimat menimbulkan kalimat tidak jelas unsur-unsurnya. Dengan menambahkan kata mereka maka akan jelas letak subjeknya.

  • Dampak terhadap generasi muda? Capeek deh. (tidak tepat)

Dampak terhadap generasi muda? Capeek deh! (tepat)

Pengguaan jargon capek deh merupakan imbas dari merebaknya dialek-dialek terutama dialek betawi yang sering muncul dalam sinetron-sinetron televisi. Apabila diangkat dalam bentuk bahasa tulis maka jargon tersebut tidaklah tepat. Untuk mengantisipasinya, dalam bahasa tulis hendaknya ditulis dengan cetak miring/garis bawah dan diakhiri dengan tanda seru (!).

November 30, 2008 - Posted by | Bahasa

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: