Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

Cerpen Saya….

MIMPI KITA TERTUNDA DISAPU PAGI

Sudut kampus itu sepi. Halaman kotor karena timbunan daun-daun yang gugur semalam tadi. Beberapa burung tampak asyik bertengger di kelopak daun-daun muda yang mulai tumbuh. Suasana masih lengang. Ku sengajakan datang pagi-pagi sekadar untuk melihat sekawanan pekerja yang mulai giat membersihkan dedaunan di halaman kampus. Ah, betapa bersemangatnya mereka. Bahkan seorang tua renta pun tak mau kalah dengan kaum muda. Begitu trengginasnya ia mengayunkan kumpulan lidi itu hingga dedaunan nyaris tak terlihat lagi.

Pagi yang lengang, batinku. Tak ku dapati siapa-siapa. Siang beranjak. Satu per satu orang datang. Ada yang berjalan kaki, tak sedikit pula yang menaiki sepeda motor. Aku termangu di balik tembok dekat parkir. Seorang wanita menghampiriku. Matanya sayu, parasnya seperti paras dewi dari timur tengah, semampai, namun satu hal yang tak ku suka darinya. Wajahnya sendu, matanya sembab, dan tak ku lihat sesungging senyum di wajahnya. Wanita itu tak lain adalah kawan sekelasku. Mayuti namanya. Wanita kelahiran tanah Sunda itu adalah kesekian wanita yang membuatku tergetar tatkala bercakap dengannya. Mayuti, aku kenal dia lima tahun yang lalu. Kami berkenalan sejak pertama kali memasuki kampus ini. Entah apa yang membuat kami akrab, padahal jelas sudah perbedaan kami. Aku terlahir dari keluarga Jawa Timur, hampir berbatasan dengan pulau Bali. Aku ingat sekali ketika pertama kali bertemu dengannya, aku tak paham apa yang ia katakan, begitu pula dengan ia. Tapi latar belakang tak pernah menyurutkan kami untuk berbagi, bahkan untuk sebuah mimpi.

Aku dan Mayuti punya satu idealisme yang sama-sama kuat., membahagiakan keluarga dan orang-orang tercinta Aku kagum pada satu sosok wanita sepertinya. Sejak menjadi mahasiswa, mayuti tak pernah absen ikut kegiatan kampus. Yang membuatku heran darinya adalah keseriusuannya dalam membagi waktu dengan kuliah. Aku yang tak lain adalah mahasiswa sejati yang selalu bergelut dengan buku-buku tebal pun heran kenapa wanita sepertinya bisa melakukan hal-hal demikian. Mayuti tak pernah tahu kalau sebenarnya ada perasaan berbeda yang ku taruh padanya. Aku selalu menantikan saat yang tepat untuk ungkapkan persaaan hatiku. Mayuti bukan wanita kebanyakan yang agresif dan pandai merubah penampilan sebagai kamuflase diri, namun hatinya amat sulit aku tebak.

Mayuti selalu bercertia padaku, tentang suasana kampung halamannya, yang saat ia tinggalkan, telah tergilas modernisasi dan kebiadaban zaman. Anak-anak tak lagi senang berjemur di bawah matahari dan berbasah dalam lumpur. Mereka duduk tenang di atas sofa sambil memegang benda-benda yang dialiri listrik. Mereka berteriak-teriak, kegirangan, lalu menghabiskan lelahnya di atas kasur, dan paginya mereka berangkat ke sekolah dengan mata terkatup karena semalaman begadang. Mayuti juga tak lagi menjupai kaum muda memikul cangkul ke sawah dan ladang. Mereka lebih suka duduk-duduk di atas jembatan sambil menuntun sepeda motor barunya. Tak ia dapati lagi mereka meminum jejamuan guna memulihkan tubuh, tapi yang ada adalah kumpulan botol beralkohol dan racun. Mayuti selalu bercerita tentang kekecewaan hatinya pada tanah kelahirannya. Ia benci dengan leluhur yang telah melahirkannya di daerah itu. Dari sikapnya aku tahu, Mayuti ingin berontak, ia ingin kalahkan semua orang di desanya demi sebuah kebaikan. Tapi, aku tahu, mayuti belum kuat. Banyak hal yang perlu ia pelajari.

”Ia duduk lemas di sampingku, matanya mencoba menyimpan kebohongan bahwa hatinya sedang berkecamuk dengan bimbang.

“Kenapa? Tanyaku pelan.

“Tak ada apa-apa. Kapan kau selesaikan skripsi? Bagaimana pembimbingmu? Ia berbalik tanya, namun aku tahu, kalimat itu terlontar hanya untuk menutupi air mukanya.

“Barangkali setengah tahun lagi, Yut! Aku masih menyelesaikan tawaran kerja dari teman. Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja bukan? Tanyaku serabutan

“Tak tahu, sepertinya tak sebaik nasibmu, kawan? Matanya menerawang ke mentari yang mulai menyembul dari tempat tidurnya.

“Kau berhenti di tengah jalan? Kau urungkan cita-citamu, Yut? Tanyaku menggebu

“Waktu menjawab lain. Aku telah berkeputusan lain, dan aku tahu apa yang terbaik untuk diriku. Untuk kehidupanku.”

Mayuti beringsut pergi. Tubuhnya hilang ditelan kabut pagi yang beranjak hilang karena sinar matahari. Kata-katanya tadi membuatku merinding. Bagaimana mungkin seorang mayuti, kawan seperjuanganku yang telah bersatu janji denganku, kini menyerah pada keadaan. Mayuti tentu tahu, kenapa aku selalu membelanya ketika dulu ia sering sekali gagal ikut ujian hanya karena jarang mengikuti kuliah. Aku tahu, mayuti seorang pekerja keras, proses belajar yang ia lakoni amat berbeda dengan orang cerdas kebanyakan.  Mayuti selalu belajar dari pengalaman. Tak jarang ia melanglang buana entah kemana.

Hampir satu bulan ini mayuti tak pernah ku temui lagi. ia memilih berdiam atau menjauh dariku. Nomor ponselnya tak pernah aktif. Aku kunjungi asramanya namun tak jua kutemui dirinya. Aku hampir saja kehilangan pegangan, satu orang pergi dari sisiku, biasanya aku selalu yakin kalau ia akan kembali, tapi tidak untuk mayuti. Hati kecilku berkata, ia tak akan kembali. Aku tepis perasaan itu berulang kali, namun yang terjadi justru sebaliknya. Mayuti hilang ditelan bumi. Alamat rumah yang pernah ia beri dulu pun tak sanggup menjawab keberadaanya. Berulang kali aku kirimi surat sekedar untuk mencari tahu bagaimana keadaanya, namun surat itu kembali lagi ke tangan.

Waktu terus beranjak, ujian skripsiku terlewat sudah. Rasanya lega sekali ketika semua sudah dipersiapkan matang oleh seorang yang amat mencintai diriku. Rima, wanita inilah yang selalu memberiku semangat. Ia tak henti-hentinya berjuang untuk menggapai hatiku. Tentu dapat dibayangkan betapa beruntungnya aku. Rima tak pernah marah ataupun lelah mendampingi aku yang berwatak keras. Sering aku maki dia, sering pula aku acuhkan dirinya ketika pikiranku diliputi kacau. Tapi Rima adalah wanita Jawa yang sabar, lembut, dan mau menerima apa adanya diriku. Ia juga berasal dari keluarga berkedudukan, orang tuanya selalu memberikan apa yang ia pinta, bahkan untuk seorang yang ia cintai. Aku sendiri heran ketika ia katakan bahwa ayahnya telah menyiapakan kedudukan untukku selepas aku wisuda nanti. Rima lah yang membangunkan aku dari mimpi-mimpiku. Dari harapan hampa dan lamunan kosong yang dulu selalu berdengung di dada. Juga tentang Mayuti, gadis ku yang hilang ditelan ruang dan waktu.

“Kenapa? Kau tampak kusut masau hari ini? Rima membangunkan aku dari lamunan

“Tidak, hanya teringat seseorang”, jawabku kacau

“Laki-laki atau perempuan?”, Rima mencoba menggoda

“Perempuan. Kau ingat Mayuti?” tanyaku datar

“Iya, wanita itu selalu menganggu pikiranmu, bukan? Nada bicaranya mulai sinis dan meninggi. Tak ku jawab pertanyaan terakhir Rima. Aku tak berani katakan bahwa diam-diam aku masih mencari Mayutiku. Bahwa diam-diam aku berencara mencari Mayuti sehabis wisuda nanti. Aku tahu itu akan menyakitkan sekali jika terdengar oleh Rima. Maka aku biarkan rencana ini tak diketahui siapapun, termasuk oleh orang tua Rima.

***

Kereta itu melaju menembus rerimbunan hutan tropis di daerah Jawa bagian barat. Jurang-jurang berdiri tegak. Ada kengerian tersendiri saat kereta melintasinya. Angin menyusup perlahan lewat celah-celah jendela. Aku raba suasana di luar sana, ada sedikit bintang, dan rembulan cekung bertengger di dekatnya. Aku jadi teringat Rima, wajah Rima mirip rembulan. Matanya cekung, putih wajahnya selalu memberikan kerinduan tersendiri bagi orang yang melihatnya. Khas gadis Jawa, rambutnya terurai sebahu. Sayang, Rima tak diajari berjilbab oleh keluarganya. Lain dengan Mayuti, tubuhnya tak pernah dipamerkan pada siapapun. Meski aku tahu, dibalik pakaian itu Mayuti menyimpan keindahan yang lebih dari wanita kebanyakan. Aku mencoba kembali mengingat-ingat tentang wajahnya yang putih terlindung kerudung hitam yang selalu ia kenakan jika bertemu denganku.

Kereta itu tiba di sebuah stasiun kecil. Hanya ada beberapa orang yang turun di situ. Kedatanganku disambut riuh oleh tukang ojek dan becak yang sedari tadi nampaknya menantikan penumpang. Aku tunjukkan alamat lengkap Mayuti, lengkap dengan fotonya.

“Tahu alamat ini, Pak? Saya dari Jogja, mau cari alamat teman kuliah saya dulu.”

iye teh awewekna nyak? Logat bahasa Sunda tukang ojek ini membuatku bingung.

“Pak maaf, saya tidak paham bahasa bapak”, timpalku rikuh

“Oh maaf, sayah terbiasah keceplosan kalau samah penumpang. Benar kamu mau ke tempat ini? Tanyanya heran

“Iya, pak. Saya sudah hampir setahun tidak bertemu kawan saya. Dulu kami sama-sama kuliah di Jogja. Bapak kenal dengan wanita ini, tidak?

“Tidak kenal, tapih kalau boleh sayah tahu, kamu ke sanah samah siapah? kalau sendirian mending tidak usah sajah. Soalnya tempatnyah sepih. Malam-malam beginih mending tidur sajah dulu di sinih samah sayah.

“Kenapa harus begitu, pak? Ini kan juga masih sore. Kalau boleh saya tahu, ada apa dengan daerah ini, pak? Sepi, atau banyak perampok?

“Ah sudah, tidak usah banyak tanya lah kamu. Besok pagih sajah saya anter, separuh harga gak papah”, lelaki itu kemudian berlalu dan kembali ke kursi panjang di pinggir stasiun.

Dingin pagi membuatku menggigil. Aku ambil handuk dan bergegas ke kamar mandi dekat stasiun. Kamar mandinya kecil tak terurus. Hanya ada satu buah ember dan gayung itu pun nampaknya sudah lama tak diganti. Aku harus membayar dua ribu rupiah untuk itu. Tukang ojek yang semalam berbincang denganku telah bangun, aku hampiri dia dan memintanya untuk mengantarkan ke alamat yang akan ku tuju.

Jalanan yang ditempuh cukup jauh, sawah-sawah masih tertutup basahan embun. Kabut pun masih betah menyelimuti ruangan. Aku dekatkan tubuhku pada tukang ojek itu. Lima kilometer dari stasiun ada sebuah daerah yang berbeda dengan daerah sebelumnya. Jantungku berdegup keras, inikah rumah Mayuti? Inikah daerah yang sering ia sebut-sebut daerah bencana?

Orang-orang sudah terbangun, sedikit dari mereka sudah ada yang beraktifitas. Berbeda sekali dengan yang diceritakan Mayuti. Orang muda sudah banyak yang memanggul cangkul ke ladang, anak-anak kecil sudah mulai bergegas ke sekolah. Berkebalikan sekali dengan cerita mayuti dulu padaku.

“Pak, saya mau tanya alamat ini, bapak tahu tidak? Mayuti ini teman kuliah saya, Pak!”, tanyaku pada seorang bapak tua yang ku temui di ujung jalan desa Mayuti.

“Oh, ya Mayuti? Kamu teman Mayuti? Kok Bapak tidak pernah melihat?”

”Iya, Pak! Saya teman kuliah dia waktu di Solo dulu. Sekarang dimana Mayuti, Pak?”

”Mayuti ada di rumah Bapak. Tengoklah dia!”

Aku segera bergegas mengikuti langkah bapak tua itu. Langkahku terhenti di sebuah rumah tua. Rerimbunan pohon mangga manalagi menutupi halaman itu. Aku segera masuk dan menyalami istri bapak tua itu. Tak banyak yang mereka katakan padaku.

”Kapan kau terakhir bertemu Mayuti, Nak?”, tanya bapak tua itu sembari menghisap pipa rokoknya.

”Sudah hampir satu setengah tahun, Pak!”

”Mayuti punya banyak teman, tapi semenjak keadaannya yang sekarang, tak ada lagi yang mau bergaul dengan dia.”

”Ada apa dengan Mayuti, Pak? Dan siapa bapak ini sebenarnya?”. Aku semakin terheran dengannya.

Tak sepatah katapun ia ucapkan padaku. Diseretnya aku ke sebuah kamar yang berada paling depan dari rumah itu. Sebuah kamar, tak terlalu besar, bercat putih agak kusam. Kupandangi isi di dalamnya. Ku sapu semua ruangan, dan kudapati seonggok tubuh terduduk di ujung kamar. Matanya menerawang jauh ke luar. Wajahnya putih pucat. Lamat-lamat ku amati dia. Mayuti. Benar! Wanita itu benar-benar Mayuti. Matanya yang bulat sayu tak pernah aku lupa.

”Mayuti telah hampir setengah tahun terpenjara di sini. Bapak tak mengerti kenapa orang-orang begitu kejam pada gadis baik seperti dia”. Bapak itu bercerita sambil mengusap air matanya yang menetes perlahan di kedua matanya.

”Mayuti tak tahan dengan perlakuan orang-orang yang tak suka dengannya. Ia lelah menghadapi kenyataan hidup yang tak sesuai dengan impiannya.”, tambahnya.

”Mayuti salah apa, Pak? Apa yang ia lakukan sampai semua jadi seperti ini?”

Aku hampir tak kuasa menahan tangisku.

”Mayuti banyak berjuang untuk desa ini. Mayuti tahu apa yang diharapkan oleh desa yang hampir mati ini!”

Bapak itu terus bercerita sambil sesekali menyeka air matanya. Mayuti benar-benar telah melakukan apa yang ia cita-citakan. Bahkan lebih dari yang aku bayangkan. Mayuti telah berhasil membuat pemuda sadar sebagai manusia. Mayuti banyak melakukan perubahan di desa. Ia dirikan taman bacaan, ia adakan perkumpulan kegiatan untuk para pemuda.

Kebaikan memang sulit untuk diperjuangkan. Mayuti dianggap menghasut pemuda untuk memboikot pemimpin desa yang tak suka dengan perubahan. Mayuti sering difitnah, sering diancam. Bahkan, ayah Mayuti yang sudah berpenyakit paru-paru sejak lama pun akhirnya tak kuat menahan terpaan anacaman dan cerca dari masyarakat. Ayah Mayuti meninggal dan disusul ibunya yang juga tak kuat menahan kepergian suaminya dua bulan kemudian.

Aku benar-benar tak mempercayai kenyataan yang menimpa Mayuti, seseorang yang telah lama bersemayam di hatiku. Mayuti yang ku kenal gigih sekarang hanya meratapi hidupnya yang kosong. Bapak tua itulah yang masih mau mengurus Mayuti dan memperbolehkannya tinggal di rumahya. Bapak tua itu tahu, Mayuti hanya seorang gadis polos tapi berpendidikan, yang berusaha mengembalikan desanya seperti sedia kala, meskipun dengan tentangan dari berbagai pihak.

Hampir satu bulan aku sengaja tinggal di rumah bapak tua. Untuk apa? Aku berharap Mayuti sadar bahwa aku telah datang untukya. Tapi kenyataan lain. Mayuti tak jua sadar. Ia tak lagi mau makan. Badannya kian kurus. Hingga akhirnya, ia tak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya. Mayuti menghadap ilahi.

Aku pun pulang dengan membawa mimpiku yang aku titipkan untuk Mayuti. Aku memang tak bisa memiliki Mayuti, tapi aku bangga bisa menyaksikan saat-saat terakhir hidupnya. Mimpi Mayuti benar-benar terwujud. Orang-orang desanya telah ia buat sadar, meski dengan taruhan nyawa Mayuti sendiri. Kepulanganku dari rumah Mayuti benar-benar membuatku sadar, betapa cinta itu memang benar adanya. Aku telah merelakan kepergiannya. Sekarang tibalah aku melanjutkan hidupku, bersama Rima, seseorang yang tentu telah menantiku sekian lama.

Rupanya takdir juga berkata lain terhadapku. Rima telah menikah dengan seseorang yang ia pilih. Rima tak tahan dengan segala perlakuanku yang selalu mengacuhkan dirinya. Ia menikah denga persetujuan orang tua. Aku tak bisa menyalahkan atau mencaci Rima karena akulah yang pertama kali memulai. Aku tak pernah mencintai dia seperti aku mencintai Mayuti. Aku selalu membadingkan Rima dengan Mayuti.

Kutatap pagi yang berkabut hari ini. Ada yang lain. Mimpiku telah hilang disapu pagi. Semalam aku bermimpi apa sebenarnya?

*******

Solo, 18 Mei 2009

April 12, 2010 - Posted by | Bahasa

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: