Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

Sekaten, Solo bangetttttt!!!

Laporan Observasi Upacara Sekaten di Surakarta

 

Pengamat                     : Ari Setyaningsih

NIM                            : K 1205007

Informan                       : Muhammad Alif (Kepala TU Masjid Agung Surakarta)

Tempat Observasi        : Masjid Agung Surakarta dan sekitarnya

Hari/tanggal                  : Kamis/ 13 Maret 2008

Pukul                            : 13.30- 15.30

 

Sejarah Perayaan Sekaten dan Tabuh Gamelan Sekaten

Upacara Sekaten merupakan upacara yang diadakan dalam rangka memperingati maulud lahir Nabi Muhammad SAW yang terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun1 Gajah atau tepatnya pada tanggal 13 sampai dengan 20 Maret 2008. Dilihat dari asal katanya, Sekaten berasal dari kata “Shahadat Taen” yang kemudian diucapkan dengan kata sekaten oleh masyarakat Jawa. Upacara ini diselenggarakan di tiga kota sekaligus, masing-masing di kota Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon.

Upacara Sekaten dibuka secara simbolis dengan dibunyikannya Gamelan Sekaten. Gamelan ini diberi nama Kiai Guntur Madu yang diletakkan di bangsal selatan dan Kiai Guntur Sari yang diletakkan di bangsal utara. Gamelan dibunyikan tepat pada pukul 14.00 WIB setelah mendapat perintah dari pihak Keraton Surakarta, demikian halnya dengan gamelan di Jogjakarta dan Cirebon. Gamelan dibunyikan dalam waktu yang bersamaan.

Gamelan dimainkan oleh 13 orang abdi dalem keraton Surakarta dengan lagu wajib sekaligus lagu pembuka yang berjudul “Rambu Rangkung”. Rambu berarti “Rabbuna” artinya Allah yang Aku sembah, “Rangkung” berasal dari bahasa Arab “Raukhun” artinya jiwa yang agung. Gamelan boleh berbunyi hanya pada jam-jam tertentu. Pagi hari pukul 09.00-12.00, berhenti sebentar karena waktu salat Duhur. Siang hari pukul 14.00-15.00 berhenti karena salat asar. Sore hari pada pukul 16.30-17.30 diberi jeda untuk salat magrib, dan malam hari pada pukul 20.00-23.00. Gamelan kembali dibunyikan pada pukul 09.00 di pagi berikutnya. Khusus untuk malam jumat gamelan tidak boleh dibunyikan, hal ini dimaksudkan untuk menghormati umat yang menunaikan Jumatan pada hari jumat. Pembunyian gamelan dilakukan secara bergilir dari gamelan sebelah utara menuju ke bagian selatan dan begitu juga seterusnya. Yang menarik sebelum pembunyian gamelan adalah iriing-iringan gunungan yang diarak dari keraton melewati alun-alun keraton Surakarta. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat sekitar yang percaya bahwa makanan yang ada dalam gunungan akan dapat memberikan keberuntungan.

Tradisi Sekaten sebenarnya merupakan terobosan yang dilakukan oleh para wali pada masa kerajaan Demak, yang merupakan kerajaan islam di pulau jawa. Para wali menggunakan gamelan sebagai sarana untuk menarik masyarakat yang pada umumnya mempunyai banyak aliran atau kepercayaan (animisme dan dinamisme). Ayat-ayat suci dimodifikasikan dengan irama-irama gamelan sehingga menarik perhatian masyarakat. Gamelan itu diletakkan di depan Masjid Agung, dengan maksud agar masyarakat mau memasuki masjid agung. Barang siapa yang ingin melihat gamelan itu dibunyikan maka mereka harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan demikian secara sah mereka masuk ke dalam agama islam dan berkewajiban mengikuti syariat yang diajarkan para wali.

Upacara sekaten mempunyai ciri khas sendiri karena pada saat perayaan berlangsung selama satu minggu, halaman masjid agung dan alun-alun keraton utara surakarta dibanjiri oleh para pedagang. Para pedagang tersebut pada umumnya berjualan berbagai jenis makanan dan barang-barang yang menjadi kebutuhan masyarakat sekitar. Khusus di halaman masjid agung hanya diperbolehkan beberapa jenis barang dan makanan yang menurut mitos masyarakat dapat dijadikan sarana untuk ngalap berkah atau mencari peruntungan. Penjual yang boleh masuk di halaman masjid adalah penjual kinang, telor asin / endhog amal, pecut, gangsingan, cambuk rambak, dan wedang ronde. Masyarakat meyakini dengan mengkonsumsi barang-barang tersebut, maka akan didapat sebuah keberuntungan, awet muda, dan naik pangkat. Hal ini bertentangan dengan ajaran agama islam yang mempunyai keyakinan hanya ada satu Tuhan yang dapat memberikan kemurahan bagi setiap pemeluknya

Menurut para wali terdahulu, barang-barang tersebut dijadikan kiasan. Kinang yang terdiri dari lima macam bahan, yaitu daun sirih, tembakau, buah pinang, kapur, dan buah gambir yang menyimbolkan rukun islam yang bejumlah lima, yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji. Telor asin atau endhog amal mengkiaskan harapan kaum ulama agar manusia harus banyak beramal dalam hidupnya. Gangsing mengkiaskan manusia tidak akan mungkin hidup selamanya, pada waktunya nanti setiap manusia akan mati seperti halnya gangsing yang berputar juga akan berhenti. Pecut mengkiaskan alat pengendali hawa nafsu manusia untuk menjadi manusia yang mencapai hidup sempurna maka ia harus menghindari hawa nafsu yang buruk.

 

Refleksi

Upacara Sekaten merupakan upacara tradisi keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon yang dilaksanakan satu tahun sekali dalam rangka memperingati hari lahir nabi Muhammad SAW. Upacara sekaten di Surakarta banyak dikaitkan dengan mitos jawa kuno yang masih berbau mistis. Padahal sekaten dalam arti yang sebenarnya adalah suatu cara yang ditempuh para wali terdahulu agar masyarakat mau masuk menjadi agama Islam. Pengaitan upacara Sekaten ini terutama pada setiap benda-benda yang sering ada dalam sekaten. Benda-benda tersebut dianggap mempunyai kekuatan gaib yang mampu memberikan keberuntungan bagi kehidupan. Hal ini bertentangan dengan ajaran agama islam namun sampai sekarang masih banyak dipercaya oleh masyarakat terutama pada yang sudah tua.

Pada dasarnya, Sekaten hanya berupa perayaan hari lahir nabi Muhammad SAW, bukan suatu ritual secara besar-besaran sebagai simbol kemenangan atau perayaan atas kelahiran junjungan nabi umat Islam. Hal-hal yang berbau mistis/mitos maka itu hanya sebuah kepercayaan yang keliru dan tidak tepat jika ditiru karena bertentangan dengan ajaran agama Islam.

 

 

 

April 12, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: