Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

Analisis Naskah Tripama

Analisis Naskah Tripama

(Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra)

  1. Deskripsi Data

Membaca naskah/serat tripama adalah membaca keteladanan dari sikap luhur para tokoh/manusia di masa lalu. Dalam naskah tersebut tersirat pesan moral yang amat kompleks dan jelas. Peneliti telah membaca naskah ini, terutama dari segi sifat dan sikap para tokoh di dalamnya. Di antara sifat-sifat tersebut ada beberapa yang merupakan kelebihan dan kelemahan para tokoh yang tampaknya jarang kita temui saat ini. Wujud keteladanan dan sikap para tokoh dalam naskah Tripama dalam naskah antara lain:

  1. Seyogyanya para prajurit, bila dapat engkau meneladan cerita pada masa lalu, andalan Sang prabu, Sasrabahu di Maespati, bernama patih Suwanda, jasanya ialah, yang terangkum dalam tiga hal, pandai, mampu dan berani yang diyakini, gagal layaknya keturunan mulia
    1. Yang dimaksud tiga amal baktinya, ia dapat menyelesaikan tugas, berusaha untuk dapat unggul mampu, maksudnya, ketika membantu perang negeri Magada, memboyong delapan ratus putri, dipersembahkan kepada rajanya, keberaniannya sudah jelas, berperang melawan raja Alengka, Suwanda gugur di medan perang.
    2. Ada lagi teladan yang baik, satria besar di negeri Alengka, sang kumbakarna namanya, walaupun berkecamuk perang di Alengka, dia mengajukan usul/saran kepada kandanya demi keselamatan, Dasamuka tidak terpengaruh usul itu, karena hanya melawan pasukan kera.
    3. Kumbakarna ditugaskan untuk berperang, kepada kakaknya dia tidak menolak, karena sebagai satria, dalam tekadnya tidak setuju /, hanya berpikir dan teringat ayah ibunya, dan segenap leluhurnya merasa sejahtera di Alengka, kini akan diserang oleh pasukan kera, bersumpah mati di depan laga.
    4. Ada lagi contoh lainnya, Suryaputra raja Awangga, dan dia adalah saudara pandawa lain ayah satu ibu, mengabdi pada raja kurupati, di negeri Hastina, dijadikan penglima perang, memimpin regu tempur peperangan, baratayuda dijadikan senapati, bala pasukan kurawa.
    5. Dimasukkan dengan saudaranya sendiri, berperang tanding melawan Danajaya, Sri karma sangat senang hatinya, karena mendapat jalan untuk membalas budi, kepada sang kurupati/duryudana, maka dia berusaha mati-matian,mengeluarkan segala kesaktiannya, berperang ramai dia mati terkena panah, sebagai satria yang gagah berani.
    6. Ketiga itu patut diteladani orang jawa, khususnya semua para perwira, perhatikanlah sekadarnya, terhadap jasa pengabdiannya, jangan sampai mengabaikan teladan, bila nanti akan memiliki keinginan walau tekad raksasa, tidak berbeda dengan budi makhluk lain, untuk mencapai keutamaan/kemuliaan.

Sifat-sifat luhur yang dapat dipetik dari naskah tersebut, antara lain:

a. Sumantri

Sifat mulia yang dimiliki:

1. menempuh jalan yang benar

2. taat perintah dan sadar kewajiban

3. penghayat budi luhur

4. menjunjung tinggi moral prajurit

5. tetap siaga bela Negara

6. rela berkorban jiwa raga

Kelemahannya:

  1. Belum mencapai kemandirian sejati
  2. tinggi hati
  3. buta hati tak tahu budi

b. Kumbakarna

Sifat mulia yang dimiliki:

  1. pembela kebenaran dan keadilan
  2. penyelamat lingkungan
  3. cinta bangsa dan tanah air
  4. taat perintah

kelemahannya:

  1. prajurit tidak cepat tanggap
  2. penakut yang egoistis, ragu-ragu, tidak gigih
  3. kurang pendekatan diri dengan penguasa agung

C. Basukarna

Sifat luhur yang dimiliki:

  1. membalas budi kebaikan
  2. ksatria cinta tanah air
  3. teguh dalam pendirian
  4. setia menepati janji
  5. berjuang menegakkan kebenaran dan melumpuhkan kemunkaran

Sikap tegasnya dilandasi tujuan luhur (tata luhur: menjadi kepercayaan), (tata batin: menegakkan kebenaran untuk melumpuhkan kemunkaran)

Kelemahannya:

1. Tinggi hati dan gila hormat

Sikap tidak terpuji tersebut ditampilkan dalam (1) dalam segala urusan kekeluargaan, kemanusiaan. Karna sukar diajak temu-pendapat sehingga tidak terjadi hubungan timbal balik antara dia dengan pihak lain. (1) Adipati karma tergolong tokoh yang sukar menerima pendapat orang lain termasuk sahabat, saudara, dan keluarganya. Sebaliknya semua pendiriannya tidak dapat dikalahkan dan sikap pribadinya harus dihormati pihak lain.

2. Pendendam dan pahlawan kebencian

Sifat jantan dan sikap tegas Adipati Karna tidak dilandasi cinta kasih yang manusiawi

3. Kesetiaan membuta

Kesetiaannya tidak disertai kearifan, kebijakan, dan kebajikan.

  1. Pembahasan

Sebelum mengarah ke pembahasan yang lebih dalam, kita sebaiknya melihat sekelumit tentang profil manusia Indonesia saat ini. Dampak dari sikap mental itu nantinya akan terakumulasi dan menjadi satu rangkaian potret kehidupan manusia Indonesua seluruhnya. Penulis berusaha mencoba mengungkapkan beberapa ciri masyarakat Indonesia saat ini yang diambil dari buku ”Manusia Indonesia” yang ditulis oleh Mochtar Lubis (2001).

Dimulai dari ciri pertama manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah Hipokratis alias Munafik. Berpura-berpura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah cirri utama manusia Indonesia yang sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya. Sikap ini telah mendorong terjadinya pengkhianatan intelektual di negeri kita. Jika direpresentasikan dengan keteladanan tokoh-tokoh dalam serat Tripama, maka sikap ini bertentangan dengan sikap Kumbakarna yang berani membela kebenaran dan keadilan. Ia berani karena benar, dan takut karena salah. Segala sesuatu yang baik ia ungkapkan dan yang buruk juga diungkapkan. Apabila terjadi kesalahan, maka ada kemauan untuk memperbaikinya.

Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. “Bukan Saya” adalah kalimat yang cukup populer pula di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab  tentang sesuatu kesalahan, sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak baik, satu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.  Dalam sejarah kita dapat hitung dengan jari pemimpin-pemimpin yang punya keberanian dan moralita untuk tampil ke depan memikul tanggung jawab terhadap sesuatu keburukan yang terjadi di dalam lingkungan tanggung jawabnya.

Ciri ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tata upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya, jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi istri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan istri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Istri komandan, istri menteri otomatis menjadi ketua, bukan berdasarkan kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya, atau perhatian dan pengabdiannya. Keadaan seperti ini sangat mempersulit proses-proses perkembangan manusia dan masyarakat dalam dunia kita kini, di mana keselamatan satu bangsa atau satu masyarakat tergantung sekali pada lamban atau derasnya arus informasi yang dapat diterimanya mengenai keadaan dan perkembangan ekonomi, politik, pengtahuan, teknologi, dan sebagainya di dunia ini.

Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua.

Ciri kelima utama manusia Indonesia adalah artistik. Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah, dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat dengan alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasaan-perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan dayaartistik yang besar dalam dirinya yang dituankan dalam segala rupa ciptaan artistic dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serba aneka maamnya, variasinya, warna-warninya.

Ciri keenam manusia Indonesia adalah punya watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk “survive” bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektual amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia. Kegoyahan watak serupa ini merupakan akibat dari cirri masyarakat dan manusai feodal pula. Dia merupakan akibat dari cirri masyarakat dan manusia feodal pula. Dia merupakan segi lain dari sikap ABS (asal bapak senang)-untuk menyenangkan atasan dan menyelamatkan diri.

Ciri lainnya adalah dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau tepaksa. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang amerika membuat instant tea. Manusia Indonesia sekarang jadi orang kurang sabar. Ciri lain adalah manusia Indonesia kini tukang menggerutu. Tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.

Manusia Indonesia juga cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia. Orang kurang senang melihat orang lebih maju, lebih kaya, lebih berpangkat, lebih berkuasa, lebih pintar, lebih terkenal dari dirinya. Gampang senang dan bangga, pada yang hampa-hampa merupakan juga sebagian dari kesenangan kita pada segala rupa lambing dan semboyan yang tidak diisi. Kata-kata mutiara dalam nilai-nilai yang bijaksana, tetapi sayang sekali tidak diamalkan, dihayati, dahulu maupun sekarang.

Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia-sok. Kalau berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk –harta jadi rakus. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru. Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang memesonakan kita. Sifat manusia yang lain adalah juga bahwa kita cenderung bermalas-malasan, akibat alam kita yang begini murah hati, untuk hidup dan memerhitungkan hidup hanya dari hari ke hari. Kita masih kurang rajin menyimpan untuk hari depan, dan berhitung jauh ke depan.

Masyarakat kita hari ini,masih dipengaruhi oleh sisa-sisa sikap serupa itu, maka juga manusia Indonesia masih lemah dalam mengaitkan antara sebab dan akibat. Ditambah pula dengan sikap nrima, percaya pada takdir, pada kismet, semua ini sudah begitu ditakdirkan Tuhan, maka tambah kendorlah proses logika manusia Indonesia. Ciri lain dari masyarakat kita adalah sikap tidak atau kurang peduli dengan nasib orang, selama tidak mengenai dirinya sendiri.

Era globalisasi yang sedang melanda masyarakat dunia, cenderung melebur semua identitas menjadi satu, yaitu tatanan dunia baru. Masyarakat Indonesia ditantang untuk makin memperkokoh jati dirinya. Bangsa Indonesia pun dihadapkan pada problem krisis identitas, atau upaya pengaburan (eliminasi) identitas. Hal ini didukung dengan fakta sering dijumpai masyarakat Indonesia yang dari segi perilaku sama sekali tidak menampakkan identitas mereka sebagai masyarakat Indonesia. Padahal bangsa ini mempunyai identitas yang jelas, yang berbeda dengan kapitalis dan komunis, yaitu Pancasila.

Bangsa Indonesia menetapkan Pancasila sebagai azas. Maka, seluruh perilaku, sikap, dan kepribadian adalah pelaksanaan dari nilai-nilai Pancasila. Perilaku, sikap, dan kepribadian yang tidak sesuai dengan Pancasila berarti bukan perilaku, sikap, dan kepribadian masyarakat Indonesia.

Masyarakat yang melaksanakan perbuatan bertentangan dengan Pancasila, seperti korupsi, KKN, nepotisme, merampok, mempermasalahkan poligami tapi membiarkan perselingkuhan, melakukan perjudian, berzina, minum-minuman keras, dan lain-lain, baik yang dilaksanakan oleh individu maupun gerombolan (jamaah). Semua itu perbuatan yang sangat bertentangan dan tidak berpihak kepada Pancasila. Dengan kata lain, Pancasilanya lepas saat mereka sedang melakukan perbuatan terlarang itu.

Penetapan Pancasila sebagai azas selayaknya didukung oleh masyarakat Indonesia dengan menampilkan jati dirinya yang khas, yaitu identitas bangsa. Manakala masyarakat tidak menampilkan identitas ini sesungguhnya berarti Pancasila tidak dilaksanakan dalam berkehidupan di masyarakat. Sebenarnya Pancasila akan mengangkat bangsa ini sebagai salah satu warna dari berbagai identitas yang ada di masyarakat dunia, baik dalam bermasyarakat maupun bernegara. Bangsa ini malah bangga mempunyai identitas “baru” yang bila diperhatikan merupakan perwujudan antara identitas kapitalis dan komunis. Di bidang perekonomian, misalnya, banyak pergeseran ke arah kapitalis dimana swastanisasi dari sektor usaha yang melayani hajat hidup masyarakat kini sudah banyak. Atau, pengalihan sektor informasi ke swasta, yang merupakan pergeseran identitas Pancasila ke Kapitalis/Liberalis.

Di era reformasi Pancasila tenggelam, baik dalam tataran pelaksanaan maupun pembicaraan di kedai-kedai kopi pinggir jalan. Para pemimpin tidak bangga membawa/membicarakan Pancasila. Bahkan, membawa/membicarakan Pancasila dianggap menjadi beban psikologis dalam pentas reformasi yang hingga kini belum menunjukkan perubahan jelas seperti yang diinginkan masyarakat. Maka, lahirlah istilah-istilah orde baru, orde reformasi, dan sebagainya, di masyarakat. Bagi sebagian pemimpin, masyarakat yang membicarakan Pancasila takut dijuluki pengikut/penerus orde baru.

Pemimpin besar Bung Karno pernah mengatakan, bangsa Indonesia harus mandiri dan tidak ikut-ikutan pada budaya bangsa lain. Sekarang justru masyarakat kita telah berperilaku kapitalis/liberalis, yang artinya telah mengubah budaya kita sendiri. Lihat saja, kontes ratu kecantikan dengan dalih macam-macam. Serta, penafsiran yang salah terhadap perempuan dan poligami, pornografi yang dianggap seni, dan lain-lain. Itu semua menjauhkan gagasan suatu negeri dari cita-cita masyarakat madani atau masyarakat adil dan makmur, adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.

Apalagi, untuk menuju masyarakat ini kita harus membangun masyarakat yang rabbani, insani, akhlaqi, dan tawazun. Hablumminannas wa hablumminallah. Masyarakat yang jauh dari keempat hal diatas berarti jauh pula dari perwujudan cita-citanya, serta akan kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia. Kaum kapitalis/liberalis gencar mengekspor tatanan yang menjadi identitasnya, melalui bantuan-bantuan dan pinjaman, baik program pembangunan masyarakat, pendidikan, kesehatan. Dengan isu demokrasi gender, dan lain-lain. Di sini, bukan berarti pancasila paham yang tertutup. Justru Pancasila mengajarkan sikap supel, luwes, dan saling menghargai kemerdekaan bangsa lain. Dalam pergaulan dunia pun paham Pancasila menganut sistem politik bebas aktif. Ini menujukkan Indonesia memiliki identitas sendiri dalam percaturan dunia.

Guna mewujudkan identitas yang khas, masyarakat Indonesia hendaknya berupaya sungguh-sungguh dalam mengarahkan akal pikiran dan kecenderungan dengan satu arah yang dibangun di atas satu azas, yaitu Pancasila. “Azas tunggal” yang digunakan dalam pembentukan identitas merupakan hal yang penting diperhatikan. Kelalaian dalam hal ini akan menghasilkan identitas yang tidak jelas warnanya.

Mengembangkan identitas ini bisa dilakukan dengan cara membakar semangat masyarakat untuk serius dan sungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan nilai-nilai Pancasila, serta mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dan, awas propaganda kapitalisg dekat padanya.

Kita juga telah membaca dan mendengar bahwa Indonesia termasuk negara terkorup di dunia. Dan ketika kita melihat sendiri kenyataan yang ada di depan kita, ternyata korupsi telah melibatkan banyak kalangan, baik di pusat maupun di daerah, di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan tokoh masyarakat. Kita pun jadi makin prihatin dan cemas, adakah pengusutan dapat dilakukan dengan tuntas dan adil? Cukup tersediakah aparat penegak hukum yang bersih untuk mengusutnya dengan adil, tepat, dan benar? Dan sampai kapan akan selesai?

Penegakan hukum serta pengusutan secara tuntas dan adil terhadap tindak korupsi memang harus dilaksanakan dan ditegakkan tanpa pandang bulu. Akan tetapi, kita pun harus memahami persoalannya secara lebih fundamental, agar menumbuhkan sikap arif untuk bersama-sama tak mengulang dan membudayakan korupsi dalam berbagai aspek kehidupan kita, sehingga tidak terjadi apa yang dikatakan “patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu” seperti sel kanker ganas karena akarnya yang telah meluas, maka semakin dibabat semakin cepat penyebarannya.

Indonesia adalah negara yang kaya, tetapi pemerintahnya banyak utang dan rakyatnya pun terlilit dalam kemiskinan permanen. Sejak zaman pemerintahan kerajaan, kemudian zaman penjajahan, dan hingga zaman modern dalam pemerintahan NKRI dewasa ini, kehidupan rakyatnya tetap saja miskin. Akibatnya, kemiskinan yang berkepanjangan telah menderanya bertubi-tubi sehingga menumpulkan kecerdasannya dan masuk terjerembap dalam kurungan keyakinan mistik, fatalisme, dan selalu ingin mencari jalan pintas.

Kepercayaan terhadap pentingnya kerja keras, kejujuran, dan kepandaian semakin memudar karena kenyataan dalam kehidupan masyarakat menunjukkan yang sebaliknya, banyak mereka yang kerja keras, jujur dan pandai, tetapi ternyata bernasib buruk hanya karena mereka datang dari kelompok yang tak beruntung, seperti para petani, kaum buruh, dan guru. Sementara itu, banyak yang dengan mudahnya mendapatkan kekayaan hanya karena mereka datang dari kelompok elite atau berhubungan dekat dengan para pejabat, penguasa, dan para tokoh masyarakat.

Akibatnya, kepercayaan rakyat terhadap rasionalitas intelektual menurun karena hanya dipakai para elite untuk membodohi kehidupan mereka saja. Sebaliknya, mereka lebih percaya adanya peruntungan yang digerakkan oleh nasib sehingga perdukunan dan perjudian dalam berbagai bentuknya semakin marak di mana-mana. Mereka memuja dan selalu mencari jalan pintas untuk mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat, baik kekuasaan maupun kekayaan. Korupsi lalu menjadi budaya jalan pintas dan masyarakat pun menganggap wajar memperoleh kekayaan dengan mudah dan cepat.

Budaya korupsi seakan memperoleh lahan yang subur karena sifat masyarakat kita sendiri yang lunak sehingga permisif terhadap berbagai penyimpangan moral dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, korupsi dianggap sebagai perkara biasa yang wajar terjadi dalam kehidupan para penguasa dan pengelola kekuasaan yang ada. Sejak dahulu kala, para penguasa dan pengelola kekuasaan selalu cenderung korup karena bisnisnya ya kekuasaan itu sendiri. Penguasa bukanlah pekerja profesional, yang harus pintar, cerdas, dan rajin, tidak digaji pun mereka mau asal mendapatkan kekuasaan karena kekuasaan akan mendatangkan kekayaan dengan sendirinya.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada tekad presiden pilihan rakyat yang hendak melakukan percepatan pemberantasan korupsi, kita perlu merenungkan kembali dengan jernih apakah pemberantasan korupsi dapat dilakukan tanpa dekonstruksi sosial? Jangan sampai upaya pemberantasan korupsi seperti terperosok dalam sumur tanpa dasar yang tidak pernah dapat menyentuh landasannya dengan tepat dan benar. Jangan sampai kita terperosok dalam kebencian dan konflik tanpa ujung pangkal. Semua proses hukum memang perlu ditegakkan tanpa pandang bulu, tetapi tak akan pernah cukup karena kompleksnya persoalan korupsi itu sendiri. Semua orang tahu korupsi ada dan besar, tetapi betapa sulitnya mencari bukti dan definisi, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Korupsi bukanlah hanya persoalan hukum saja, tetapi juga merupakan persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama. Realitas sosial yang timpang, kemiskinan rakyat yang meluas serta tidak memadainya gaji dan upah yang diterima seorang pekerja, merebaknya nafsu politik kekuasaan, budaya jalan pintas dalam mental suka menerabas aturan, serta depolitisasi agama yang makin mendangkalkan iman, semuanya itu telah membuat korupsi semakin subur dan sulit diberantas, di samping karena banyaknya lapisan masyarakat dan komponen bangsa yang terlibat dalam tindak korupsi. Karena itu, dekonstruksi sosial tak bisa diabaikan begitu saja dan kita perlu merancang dan mewujudkannya dalam masyarakat baru yang antikorupsi.

Dekonstruksi sosial memerlukan tekad masyarakat sendiri untuk keluar dari jalur kehidupan yang selama ini telah menyengsarakannya. Perlu ada tobat nasional untuk memperbarui sikap hidup masyarakat yang antikorupsi karena ko- rupsi ternyata telah menyengsarakan bangsa ini secara keseluruhan. Tobat dalam agama adalah kesadaran total untuk tak mengulangi lagi perbuatannya karena memang perbuatan itu telah mencelakakan dirinya dalam dosa. Dengan tobat, dia akan menjadi manusia baru yang bebas dari pengulangan dosa-dosa lama yang telah diperbuatnya.

Tobat bukanlah basa-basi, tetapi komitmen transendental untuk menembus dan memasuki kehidupan baru yang lebih baik. Dan tanpa tobat nasional, rasanya pemberantasan korupsi seperti benang kusut yang sulit mengurainya. Tobat nasional diperlukan untuk memotong budaya korupsi yang selama ini telah menjadi cara hidup, berpikir, dan berperilaku masyarakat untuk mendapatkan kekayaan. Tobat nasional harus dimulai dari imamnya, yaitu para pemimpin yang berada di puncak kekuasaan. Pemimpin yang bersih dan berketeladanan dapat menjadi rujukan perilaku rakyatnya. Pemimpin yang satunya kata dengan perbuatan, yang dengan rendah hati bersedia melayani rakyatnya, karena sesungguhnya seorang pemimpin adalah pelayan rakyatnya. Pemimpin yang cerdas, yang mampu membaca tanda-tanda zaman untuk membawa rakyatnya ke arah masa depan yang lebih baik, jelas, dan terukur. Pemimpin yang tidak bertopeng atas kekuasaannya sehingga denyut dan jeritan rakyatnya segera tertangkap oleh hati nuraninya yang tidak bertopeng.

Topeng kekuasaan harus dibuka melalui mekanisme sistemik yang inheren dalam kehidupan masyarakat baru yang sudah bertobat, yang dibangun dan dikawal oleh kepemimpinan yang berkeladanan dan visioner. Mekanisme sistemik yang menyerap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kesejahteraan, kebebasan, dan kemandirian menjadi kekuatan spiritual yang akan bekerja secara otomatis untuk melakukan kontrol atas keseimbangan mekanisme internalnya sendiri. Sesungguhnya kehidupan masyarakat adalah suatu mesin hidup yang mekanismenya otonom dan sistemik. Kehidupan masyarakat akan sehat jika mekanisme internalnya terkendali oleh spiritualitas kemanusiaan universal yang melandasi kehidupan manusia itu sendiri.

Dekonstruksi sosial bukanlah antitesis dari tesis yang ada, tetapi suatu sintesis dari keunggulan-keunggulan kemanusiaan dan bersifat dinamis melalui proses dialektik yang akan terus-menerus memperbarui dirinya. Sebagai sintesis, dekonstruksi sosial merupakan rajutan-rajutan baru yang terbuka secara terus-menerus, dan keterbukaan merupakan prasyarat utama dalam proses pembaruan itu sendiri. Dekonstruksi sosial harus melahirkan sistem kehidupan masyarakat baru yang terbuka dan semua urusan publik tidak lagi bertopeng. Rasanya korupsi hanya bisa dikendalikan jika semua urusan publik dilepaskan dari pemujaan atas topeng-topeng kekuasaan yang ada.

Dari banyak kasus tersebut kita tentu telah mampu menyimpulkan betapa rendahnya sikap mental manusia Indonesia, namun terkadang kita tidak menyadarinya. Berkaca dari sikap-sikap buruk yang dimiliki masyarakat Indonesia dan adanya keteladanan dari para tokoh dalam naskah Tripama, maka masyarakat Indonesia diharapkan mampu:

  1. selalu menyadari dan dengan penuh kesadaran mengurangi sifat-sifat kita yang buruk, dan mengembangkan yang baik-baik
  2. menciptakan kondisi masyarakat yang dapat mendewasakan diri dan melepaskan diri dan melepaskan dirinya dari lingkungan masyarakat semi atau neofeodalistis
  3. belajar memakai bahasa Indonesia secara lebih murni, lebih tepat dalam hubungan kata dengan makna, yang mengandung pengertian kita harus belajar menyesuaikan perbuatan kita dengan perkataan kita.
  4. meneladani sikap para tokoh yang terdapat dalam serat Tripama, terutama dari sifat-sifat yang baik.

Diharapkan pula naskah Tripama ini bukan hanya sekadar bacaan ringan bagi segelintir orang yang mengerti maknanya, namun lebih ditekankan pada para pemuda Indonesia yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Dalam dunia pendidikan khususnya, naskah ini patut diajarkan dan diterapkan dalam keseharian siswa. Paling tidak nantinya siswa akan menemukan dan membedakan antara sifat yang baik dan buruk. Ini akan menjadi langkah awal mengubah sikap mental manusia Indonesia yang buruk menjadi lebih baik.

Bahan Referensi:

Mochtar Lubis. 2001. Manusia Indonesia. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta

Budaya Korupsi dan Dekonstruksi Sosial oleh Musa Asyárie. Kompas, Jumat, 28/1/05. http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=1135. Diakses 9 April 2008, pukul 0:56

Identitas Khas Bangsa Indonesia. http://www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp?mid=1605&catid=2&. Diakses 9 April 2008, pukul 1: 02

Mei 19, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: