Arisetya

Lihat, pahami, rasakan!

aku, kau, dan kita

Hujan di kamar tidurku.

Ada hujan dalam kamarku. Ia membanjiri hampir sebagian ruangan. Tempat tidur, rak

buku, kursi, kardus-kardus dan almari, hampir semuanya tergenang. Aku tak

pernah habis pikir, kenapa ia datang dan menyebarkan kekacauan. Lantaiku sama

sekali kotor. Aku gunakan saja Koran bekas untuk menutupinya, karena memang tak

ada kain pel untuk sekedar mengeringkannya.

Hujan

terus mengalir di kamar. Aku tengok atapnya, sama sekali tak bocor. Lubangnya

pun tak ada yang menganga. Ah, apa gerangan yang membuat hujan betah bersemayam

di sana?


Senja yang enggan tinggal.


Senja itu enggan tinggal lama-lama. Untuk sekedar nongkrong

dan berbagi sapa pun tak mau. Aku pun jadi malas ketika sore menjelang. Seusai

petang aku merenung di taman. Sekedar mengajak malam berdiskusi layaknya para

petinggi di atas sana.

Untuk sementara senja kita pindahkan ke pagi saja, katanya. Atau biar malam

yang bertukar waktu dengannya?

;Aku tak setuju!

Senja tak pernah jujur kenapa sekarang enggan tinggal, ia

Cuma bilang kenapa waktu tak adil menaruhku di waktu yang tak seberapa.

Jam 8 pagi.

Jam 8

pagi. Sudah siang. Tiap harinya aku bangun pada jam ini. Karena bangun pada jam

ini, aku tak pernah lihat matahari nongol. Lihat warnanya yang seksi pun tak

pernah. Lama-lama aku jadi benci terbitnya mentari. Enggan merasakan hangatnya

raja siang di pagi hari, yang kata orang, bisa membuat kulit jadi sehat karena

mengandung vitamin E. Ah, bullshit amat!

Bangun

jam 8 punya nikmat tersendiri. Mimpiku jadi dua ronde. Ketika malam aku mimpi

buruk, maka dini hari mimpiku berubah jadi mimpi indah.

Jam 8

pagi. Sarapan sudah tersaji. Kamar mandi sudah tak ada yang terisi. Tinggal

menenenteng handuk lalu bersihkan diri. Jika ada yang mampu merubah jam 8

menjadi lebih indah, mungkin aku akan memilihnya sebagai waktu bangunku tiap

harinya.


Cerita juli


Juli itu

jahat

Juli itu

pengkhianat

Juli itu tak

mengerti bagaimana rasanya tersakiti

Juli itu

meluap menjadi genangan air mata

Meresap jadi

sesak di dada

Juli itu

beku,

Dinginnnya

serupa dingin hati yang tak tahu balas budi….

25-07-08

Episode Kematian


Jelang hari kematianku. Ku eja satu demi satu.

Nafas yang terengah untuk kesekian waktu

Pengap aku rasakan, sesak aku pun nikmati

Segala-galanya akan sirna bersama air mata

juga tawa jika ada

Di antara hiruk pikuk suasana

Rasa yang bahkan aku kira sama untuk setiap masa

Adakah ini jalan kita?

Yang hidup di tempat dan hawa yang sama

Ku eja kembali setiap jejak kaki yang terbawa entah sampai di mana

Barangkali ada satu atau dua yang terpaksa hilang atau tersapu debu

Aku yakin pasti ada

Episode kematian

Rasanya pekat menyelinap

Terlihat kasat mata dengan mudahnya

Dan tak kan hilang meski sampai kapan

Samar aku melihat ada cahaya di ujung sana

Tapi belum mampu menuntunku

Karena terlalu banyak yang ditangguhkan

Karena barangkali aku yang belum sanggup mengikuti

Malaikat itu di manakah???

Di sini kematianku menjadi saksi semua waktu dan rencanaku….

Solo, 30 November 2008


Seperti pelangi yang hadir tanpa diawali hujan


Untuk Asma di kota yang berkeringat?

Hujan di kota ini terus saja turun, Ma. Barangkali kau masih ingat kapan pertama kali kita berjumpa. Kau tentu ingat wajahku yang masih polos dulu. Saat itu pun hujan turun. Masihkah terbayang ekspresi wajahku ketika pertama aku jabat tanganmu erat-erat? Kita hanya sejenak saling pandang.

Dua tahun bukan waktu yang sebentar, bukan. Kau ingat? Janjimu kala itu terus saja membias luka hingga sekarang. Berhari-hari ku jalani hidup di sini dengan harapan kau kembali di sisi.Begitu banyak orang-orang yang hadir di kehidupanku. Berganti-ganti pula anganku tentangmu hadir di setiap jejak langkah yang aku lalui. Masih saja tentangmu, Ma. Kau tahu kenapa?

Kau tentu ingat ketika ku temui kau saat kepulanganmu yang kedua. Aku sudah sedikit dewasa. Aku tatap wajahmu lekat-lekat. Aku jabat tanganmu lebih erat. Aku bayangkan kau hadir sebagai malaikat. Aku seperti orang yang jatuh cinta saja rasanya. Sayang, kau tak jua mengerti kenapa aku masih menyimpan kenangan-kenanganmu..

Tahun kedua. Aku hubungi lagi nomor telfonmu yang aku simpan di ponselku. Ada balasan, tapi dari seorang wanita. Disuruhnya aku meninggalkan pesan. Aku tanyai siapa dia, dia jawab “tolong tinggalkan pesan seperlunya, nanti aku sampaikan pada Asma secepatnya”. Dia bilang lagi, “Aku kekasih Asma, kalau kau masih mencarinya, nanti aku sampaikan pada dia, dan aku tanyakan pula siapa kau sebenarnya. Jika perlu, aku yang akan mengalah untuk ini”.

Kenapa kau membuat scenario yang rumit seperti ini, Ma? Rasanya tak adil ketika aku yang harus melakoninya. Peran ini memang sulit untuk aku mainkan. Aku berada di bawah pelangi yang turun tanpa diawali hujan. Datang begitu saja. Dan hilang entah kapan.

Tahun keberapa aku lupa untuk menghitungnya. Kau hubungi aku dengar nomor baru. Kau bilang, “Maafkan aku, aku tak sempat menghubungi kawan-kawanku untuk beberapa waktu”. Aku Cuma balas, “Selamat ulang tahun ke 21, hanya itu. Aku tak berani ungkap apa-apa setelahnya.

Asma, kenapa pula kau datang dan hilang tanpa rencana? Bukankah kau tahu, melupakanmu adalah hal yang mustahil buatku. Meski hari berganti, dan berpuluh orang mengisi kehidupanku.

Tahun terakhir ingatanku tentangmu,kita tak jua saling bertemu.

Lebaran tahun ini sepertinya aku tak lagi sendiri. Malaikat itu datang menawarkan hatinya untukku. Mencari celahku, dan mencoba menggantikan posisimu kala itu. Tapi, tiba-tiba kau datang lagi, Ma. Kau ajak aku bertemu. Kau tahu, betapa aku takut bercampur haru.

Kau tentu ingat pertemuan setelah sekian waktu yang tak bisa ku hitung lagi jumlahnya. Masih sama. Hujan masih saja mengganggu kita, Ma. Hingga kita sulit mencari tempat untuk berteduh. Hujan memang tidak pernah pengertian kepada kita. Kenapa pula ia datang ketika ia tahu kita hanya mempunyai waktu yang tak seberapa.

Hari berlalu. Ku maafkan salahmu. Ku berikan sisa-sisa rasa yang dulu untuk kau miliki. Kenapa aku tinggalkan dia? Kau tentu telah tahu jawabannya. Aku memilih bersamamu? Tentu kau pula yang bisa merasakannya.

Bulan November. Hujan mulai turun, tapi tak terjadwal. kau hubungi aku lagi. Kau minta aku datang ke kotamu. Katamu. “Wisudaku besok, akan lebih bermakna ketika kau ada di sana”. Aku kau minta datang sedinirian. Ku tanya, apakah aku boleh bawa teman? Katamu, “jangan, nanti temanmu yang kasihan, bapak ibuku dan semua keluargaku akan datang ke sana. Kau akan ku kenalkan pada semua. Agar mereka tahu, aku sudah dapat seseorang yang nanti bisa menungguku sampai waktu yang tak terhingga”.

Ma, kenapa pula kau selalu memberiku sebuah harapan? Padahal kau tahu, aku paling tidak suka dengan harapan yang pupus di tengah jalan. Aku penuhi permintaanmu, meski dengan sedikit berat hati dan takut. Aku tinggalkan banyak janji yang telah aku buat dengan kawan-kawanku. Banyak yang tak berterima, kenapa pula aku masih saja menerima maafmu dan percaya pada kata-kata yang kau buat.

Tanggal 16 November, ma. Aku penuhi janjiku. Aku beranikan diri untuk tidak takut menghadapi scenario baru yang kau buat. Aku perankan tokoh yang mungkin sama dengan peranku dulu, tapi berbeda seting waktu dan suasananya. Kau memang sedikit berubah,Ma. Kau tampak dewasa dalam beberapa hal. Termasuk dalam membuatku tak takut denganmu, ada rasa nyaman ketika berada di dekatmu.

Hujan turun perlahan, tapi kemudian berhenti ketika ia tahu kita hanya bersama untuk waktu yang tak seberapa. Kau bilang, “malam ini hujan pengertian pada kita.” Ada rasa nyaman ketika bersamamu, Ma. Kau tampak dewasa dan bijaksana. Barangkali waktu yang mengajarimu seperti itu.. Andai saja, Ma. Andai saja, aku dan kau dapat memutar waktu kembali seperti dulu, tentu kita akan banyak belajar tentang banyak hal.

Malam semakin merambat. Kotamu yang berkeringat ternyata ikut menyelimuti keheningan. Kau ingat, Ma. Bersamamu berdua saja cukup membuatku takut. Tapi, bersamamu ada rasa nyaman. Kau bilang “tidurlah di sini, tak ada apa-apa. Nanti aku temani.”

Malam semakin merambat naik. Malam ini pula kau jadi tahu, kalau aku sangat menyukai sosok Soe Hok Gie. Iya, Ma. Aku amat mengagumi sosok Soe. Mahasiswa yang dulu bergelut dengan dunia politik dan pecinta alam itu amat cerdas dan menguasai keadaan negara. Ia amat idealis. Aku tertarik dengan pemikiran-pemikirannya. Tapi aku sendiri sebenarnya juga takut dengan sebuah idealisme, Ma. Kadang idealisme itu justru yang akan membunuh kita. Sayangnya malam itu kita tak sempat memperbincangkan arti sebuah idealisme dalam diri seseorang. Kenapa kita tidak diciptakan untuk menjadi lebih dekat dalam berpikir,Ma. Hingga apa yang yang terpikir olehku dan olehmu terkadang berbeda sekali arahnya. Kita tidak saling sejalan, kau ke utara aku ke selatan. Begitu tampaknya. Tapi aku hargai itu, Ma. Aku sadar, perbedaan memang harus ada. Dan itulah yang membuat sebuah kesempurnaan.

Tontonan selesai. Kita beranjak tidur. Kau rebahkan badanmu di atas tikar tanpa kasur. Terlihat nyaman. Aku rebahkan pula tubuhku di sampingmu. Lebih nyaman lagi ketika ku dengar desah nafasmu di sampingku. Aku seperti bermimpi saja ketika berada di sampingmu. Tiga tahun, Ma. Aku kau hantui dengan perasaan yang tak menentu. Dan kini hadirlah kau di dekatku, dalam jarak yang begitu dekat dan erat. Aku pasang telingaku lebar-lebar, berharap suatu saat kau mengigau atau tak tersadar ketika tidur. Tapi ternyata tidak, kau rebah begitu nyaman. Sebenarnya ingin ku habiskan malam itu untuk memandang seluruh wajahmu ketika tidur. Hanya untuk itu. Karena dengan begitu aku akan lebih bisa memaknai pertemuan kita yang tak lama ini. Karena aku hanya bisa mengabadikan kenangan lewat memori di hati, karena aku lebih suka menyimpan fotomu dalam pikiran dan bayanganku.

Pagi beranjak. Kau mulai bersiap untuk diwisuda pagi ini. Ada yang istimewa di hari itu,Ma. aku bisa mengenal saudara dan orang tuamu. Yang selalu ku ingat saat itu, ayahmu. Ia begitu bijaksana, ia begitu dewasa. Aku ingin kau sebijaksana dia nanti. Ada yang membuatku sakit hati, Ma. teman wanita yang kau perkenalkan padaku itu siapa? kenapa perasaanku tak enak ketika aku melihat kau dengannya. Aku benci dia, Ma. bukankah sudah kau bilang dulu, hanya akulah yang akan kau perkenalkan pada orang tuamu. Tapi ternyata dugaanku salah, Ma. aku benci saat itu. syukurlah aku bisa menjaga emosi kala itu.

Sore merambat. Sehari bersamamu tak terasa,Ma. Saat aku pamit pulang, sebenarnya ada tetes air mata yang mengalir. Tapi kau tak melihatnya. Hingga saat ku cium tanganmu, aku simpan air mata itu dalam-dalam. Adakah peristiwa yang lebih berharga setelah ini, pikirku.

Aku pulang dengan membawa perasaan yang mengharu biru, kau tahu, Ma. aku tak kuasa membendung air mata ketika ku tunaikan shalat lima waktuku. Aku tak mengerti misteri apa yang akan tuhan beri setelah peristiwa itu. Aku tangisi kisah ini. Ada permintaan yang tuhan kabulkan untukmu. Bertemu denganmu merupakan satu anugerah yang tak ternilai harganya. Apalagi hingga peristiwa itu terjadi.

Hatiku tak henti-hentinya bercerita dan berpikir apakah semua ini nyata? Hingga setelah pertemuan hari itu aku tak pernah mendengar lagi suaramu. Tak ku dengar lagi desah nafasmu. Kita kembali terpisah jarak dan waktu.

November. Desember. Januari. Februari. Maret. Hingga hampir April ini sudah berapa air mata yang aku tumpahkan karenamu, Ma? sudah terlalu banyak. Bahkan aku tak berani menghitungnya, apalagi yang harus aku ceritakan, ma? aku bercerita tentang kekecewaanku kepadamu sekarang justru akan membuat luka ini lebih melebar lagi. Aku tak berani lagi mengingat-ingat janjimu padaku tempo hari. Katamu, kita akan kembali lagi seperti dulu. Aku tak kuasa lagi mengingatnya. Tapi apalah dayaku, Ma. aku hanya perempuan biasa. Bisaku hanya menunggu dan menunggu. Yang pasti maafku tak kan habis jika ku berikan untukmu. Rasaku tak kan hilang meski ditelan waktu.

Waktu selalu berputar, Ma. Telah aku musnahkan kenangan yang sempat aku abadikan dalam sebuah bingkai kecil Telah ku ganti namamu dengan nama terburuk dalam ponselku, bahkan sempat aku hapus untuk beberapa waktu. Tapi kenapa selalu ada keinginan untuk berpulang padamu,Ma?

Aku tidak ingin mengiba, tapi kisah ini terlalu menyedihkan buatku. Bukan kuat yang aku dapat, tapi sebuah perasaan putus asa ketika aku membuka kembali kisah kita.

Waktu bergulir. Hanya ada penantian. Hanya ada harapan. Tangisan. Rintihan. Bahkan tawa, masih saja ada bayangmu di sana. Aku ingin bangun dan memulai kisah baru. tapi aku tak jua berani, Ma. Ingin aku kubur dalam-dalam semua kenangan, tapi aku tak jua mampu. Aku caci dirimu dengan perkataan yang amat menyakitkan, tapi itu tak jua bisa membuatku benci kepadamu. Aku ulangi lagi kenangan yang pernah terukir beberapa waktu lalu, tapi kenapa justru tangisku yang terpecah? Rasanya tak ada lagi ruang untuk bersembunyi darimu. Aku ini orang yang bodoh ya, Ma? aku bodoh karena tidak pandai mencari kesempatan lain dan mencari penggantimu. Bukan karena aku tak mau ma! tapi karena aku sendiri tak mampu. Aku benci ketika harus memulai kisah baru. jadi maaf, ma. jika sekarang ini aku masih saja berharap.

“Apakah engkau masih akan berkata

Ku dengar detak jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua

Kecuali dalam cinta”

*Selesai

22 maret 2008


Pengembaraan kecil


Sudut itu samar, selayak awan tersapu hujan

Diam-diam jadi sebuah musim

Aku tak pertanyakan kenapa hujan mesti turun

Taktkala awan biarkan matahari bertengger gagah di kelopaknya

Dan yang ku dapati alam membungkus musim untukku

Aku biarkan ia lukis senja dan fatamorgana

Dalam sebuah pengembaraan kecil

Barangkali ku lancang jadikannya sebuah hiasan

Ia menjelma serpihan asa tak bernyawa

bersama degup yang kian terbata.


Episode Kematian

Jelang hari kematianku. Ku eja satu demi satu.

Nafas yang terengah untuk kesekian waktu

Pengap aku rasakan, sesak aku pun nikmati

Segala-galanya akan sirna bersama air mata

juga tawa jika ada

Di antara hiruk pikuk suasana

Rasa yang bahkan aku kira sama untuk setiap masa

Adakah ini jalan kita?

Yang hidup di tempat dan hawa yang sama

Ku eja kembali setiap jejak kaki yang terbawa entah sampai di mana

Barangkali ada satu atau dua yang terpaksa hilang atau tersapu debu

Aku yakin pasti ada

Episode kematian

Rasanya pekat menyelinap

Terlihat kasat mata dengan mudahnya

Dan tak kan hilang meski sampai kapan

Samar aku melihat ada cahaya di ujung sana

Tapi belum mampu menuntunku

Karena terlalu banyak yang ditangguhkan

Karena barangkali aku yang belum sanggup mengikuti

Malaikat itu di manakah???

Di sini kematianku menjadi saksi semua waktu dan rencanaku….

Solo, 30 November 2008

Mimpi kita lebur jadi genangan air mata.

Entah kenapa?

Barangkali karena kita tak pernah mau tahu dan mencoba mencari tahu

Sepi kita pernah jadi senjata yang ampuh tuk melepaskan jeratan itu

Namun keramaian itu membunuhnya

Kita terpasung dalam kata-kata, ruang dan waktu

Serangkaian ucap yang tak berujung pangkal;

Serta jejak kaki yang terlalu goyah, membuat kita semakin tak tahu arah

Kita hanya butuh satu ’keyakinan’

Kita hanya perlu satu ’kenyamanan’

Dan itu adalah dari diri kita

Bukan dari siapa-siapa

Karena kita adalah milik kita masing-masing

Jikalau waktu boleh bicara

Sepertinya ia akan bilang ini ’salah siapa?’


1.

Teman dalam Komputer

Kau berlari-lari dalam monitor yang tak lagi bening

Bergumul dengan ribuan mimpi-mimpi yang tercecer

Dari sekian panjang perjalanan yang kau lalui

Aku mencoba memaknai segala prasangka yang coba kau eja dengan kata

Kau bilang “iya, jarak dan waktu bukan variabel yang membuat dunia kita sunyi”

Kau ini sekumpulan reranting yang ku coba kumpulkan demi sebuah perapian

dan bakal ku sulut di suatu ketika

Lalu kita terjebak kata-kata, berjejalan dalam file-file yang suatu saat nanti tersimpan dan akan kita buka.

2.

Fragmen Menunggu

Panjang. Kian dekat aku kian terperanjat

Inikah cerita perjalanan kita?

Kau berhenti pada suatu pemberhentian, aku pun begitu

Dan di hadapan kita lelehan besi panjang itu akan sama-sama kita lalui

Gerbong itu, kotak-kotak seakan memisahkan perjalanan kita

yang sampai suatu waktu entah kapan akan sama-sama bertemu di ujungnya

di suatu pemberhentian dan kita akan sama-sama bilang

“kita sama-sama lelah!”

3.

Memoar Pepohonan

Pohon sukun itu, Bapak, menancap erat pada wewangian tanah kita

Tanah yang Bapak gempur dengan lelehan di dahi sekujur dada serta punggung mu

Teduhnya, yang buat kita terkantuk-kantuk dalam sunyi

Dan buahnya, seperti yang kau katakan “tak ada biji, dank au tak dapat menanamnya kembali esok hari”

Tapi bu guru bilang, akarnya bisa kita ambil dan pendam untuk menjadi sebuah pohon.

Mana yang benar, Bapak?

Jika salah satunya benar, kenapa tak ada lagi barang sepotong untuk kita goreng sore ini?

Apa tanah kita tak lagi wangi?

4.

Kisah kita

Zaman merajut cerita pada kita tertunduk lemas tak berdaya

Jalanan kita tak lagi berbatu

Kini ditopang serpihan baja yangh kita sendiri sulit tuk lampauinya

Mana Si Ahmad yang dulu pandai memancing?

Mana Si Abu yang dulu senang bersarang dengan cericit burungnya?

Zaman tak lagi berkawan dengan kita kini

Karena asap bekas dari para penguasa barangkali

Atau karna wewangian dari cerobong televisi yang hadir tanpa henti

Sudahlah, tak perlu tangisi kepergian kawan kita

Yang pulang dengan arak-arak polisi dan tak perlulah kau menjerit-jerit tatkala adik-adik kita bermain – main dalam monitor tak berkabel.

5.

Pada Sebuah Rindu

Langit merah, mengusung bongkahan rindu yang kian menghimpit

Ia yang sediakala kelam dan menghitam melegam

Disongsong cahya memerah pada fajar pagi yang menyergap

Darahmu yang panas bergemuruh, meski sesekali angin menyusup di sela-sela pori kulitmu yang hampir sama dengan poriku

Kita tiada mengenal, tapi mengapa saling mencinta?

Adakah bonglahan rindu itu adalah dosa?

Bukan, ricik angan kita tercipta pada suatu ketika yang kita sendiri tak menyadarinya?

Maka songsonglah cahya memerah itu, pada kesunyian pagimu yang tak kan terenggut oleh siapapun.

6.

Yang tak kau beri tahu

_Untuk Djokja_

Bahkan aku pun tiada kau beri tahu mengapa langitmu kian membiru

Bukan karena awanmu yang berganti

Melainkan asap penghunimu yang buatku semakin pengap

Kau bahkan tak akan pernah beri tahu aku kenapa airmu kau biarkan asyik bermain dengan warna-warni jajanan kaleng yang dimainkan adik-adik kita

Dan kenapa pula kau biarkan kokoh jalanan bercengkerama bersama riuhnya deretan panjang mesin-mesin pemanja manusia;

Langitku, langitmu tak lagi riuh

Ia riuh hanya untuk menyenangkan kita, bahwa dunia masih bisa tertawa

hanya dengan celoteh yang kita buat bersama-sama.

Rumah, Februari 2009

malam ada yang ingin aku katakan padaku

tentang cerita yang tak akan pernah berakhir

terasa penat jika mengingat apa yang terjadi

jika waktu dapat aku putar, mungkin kenyataan akan berbeda

malamku tak lagi malam, hanya lolongan hati yang sesekali menikam

menikam perih sekali

tapi kenapa aku tak jua sadar bahwa aku hanya punya satu malam

satu malam sudah cukup

satu malam di tempat yang sama itu lebih baik

tapi aku kini hilang bentuk

hilang bentuk, hilang bentuk

lusa… apakah malam akan aku kuasai lagi???

aku ingin kembali mengulang malam yang telah lama aku jama

telah lama aku jelajahi isi jiwanya

juga sahabat…aku Tak Punya kini!!!

7 maret 2009

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: